Misteri di Balik Kata ‘Anda’: Kisah Letnan Sabirin yang Merevolusi Cara Bangsa Indonesia Bertegur Sapa

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
23 Mei 2026, 10:12 WIB
Misteri di Balik Kata 'Anda': Kisah Letnan Sabirin yang Merevolusi Cara Bangsa Indonesia Bertegur Sapa

RadarLokal — Pernahkah Anda membayangkan bagaimana jadinya jika dalam percakapan sehari-hari kita tidak memiliki kata ganti yang netral namun tetap sopan? Bayangkan sebuah masa di mana kita terjebak dalam dilema antara menggunakan kata ‘Kamu’ yang terasa terlalu akrab, atau ‘Tuan’ yang terdengar terlalu kaku dan berbau kolonial. Di sinilah sejarah mencatat sebuah revolusi kecil namun berdampak besar dalam bahasa Indonesia, yang lahir bukan dari meja diplomat, melainkan dari buah pikir seorang prajurit Angkatan Udara bernama Sabirin.

Akar Kegelisahan: Potret Lingustik di Masa Transisi

Lahir di Bukittinggi pada 5 Agustus 1917, Sabirin tumbuh di era di mana identitas bangsa tengah mencari bentuknya yang paling murni. Sejak usia sekolah dasar, Sabirin kecil sudah menunjukkan ketertarikan yang luar biasa pada dunia literasi. Berbeda dengan anak-anak sebayanya, ia menghabiskan waktu dengan melahap majalah mingguan Pandji Poestaka, sebuah terbitan dari Balai Pustaka yang menjadi jendela wawasan bagi kaum terpelajar kala itu. Ketajaman analisisnya mulai terasah saat ia mengamati fenomena bahasa di sekitarnya.

Baca Juga Badai di Tengah Gencatan Senjata: Israel Lancarkan Serangan Masif ke Lebanon Selatan
Badai di Tengah Gencatan Senjata: Israel Lancarkan Serangan Masif ke Lebanon Selatan

Pada dekade 1930-an, masyarakat pribumi berada dalam situasi ‘krisis identitas’ bahasa. Sabirin melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana orang-orang di lingkungannya lebih bangga menggunakan serpihan bahasa Belanda daripada bahasa Melayu yang menjadi akar sejarah nusantara. Ada semacam prestise semu ketika seseorang menyelipkan kata ‘ikke’ untuk mengganti kata ‘saya’, atau ‘ij’ (yang sering dilafalkan ‘i’) untuk menggantikan kata ‘kamu’. Bagi Sabirin, ini adalah sebuah ironi yang menyakitkan. Bagaimana mungkin sebuah bangsa yang memimpikan kemerdekaan justru masih terbelenggu secara linguistik oleh bahasa penjajahnya?

Pendidikan dan Kecintaan pada Sastra Jawi

Kepekaan Sabirin terhadap bahasa tidak datang begitu saja. Di sekolahnya di Sumatera Barat, ia mendapatkan pelajaran bahasa Melayu yang ditulis menggunakan aksara Arab-Melayu atau Jawi. Sabirin bukan sekadar murid biasa; ia adalah bintang di kelasnya, terutama dalam urusan tata bahasa. Kemampuannya memahami struktur kalimat dan etimologi kata menjadikannya sosok yang sangat teliti dalam memilih diksi.

Baca Juga Pesona Mahkota Binokasih di Bogor: Merayakan Milangkala Tatar Sunda dengan Kemegahan Budaya yang Memukau
Pesona Mahkota Binokasih di Bogor: Merayakan Milangkala Tatar Sunda dengan Kemegahan Budaya yang Memukau

Kegemaran membaca yang dipupuk oleh ayahnya—yang rutin berlangganan terbitan Balai Pustaka—membuat Sabirin memiliki perbendaharaan kata yang luas. Ia menyadari bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, melainkan cermin martabat sebuah bangsa. Setelah bergabung dengan Jeughd Organisatie Minangkabau pada tahun 1939 di Padang, semangat nasionalismenya semakin berkobar. Ia mulai berpikir keras: bagaimana cara menciptakan sebuah kata ganti yang bisa merangkul semua kalangan tanpa sekat kelas sosial, namun tetap menjunjung tinggi rasa hormat?

Misi Sang Letnan di Tengah Tugas Militer

Waktu berlalu, dan Sabirin meniti karier di dunia militer sebagai anggota TNI Angkatan Udara dengan pangkat Letnan Dua (Letda). Namun, seragam militer tidak memadamkan gairah intelektualnya. Pada tahun 1953, saat bertugas di Padang, ia menghadiri sebuah ceramah tentang sastra Indonesia yang kembali memicu keresahan lamanya. Ia melihat bahwa bahasa Indonesia masih kekurangan kata ganti orang kedua tunggal yang bersifat universal.

Baca Juga Menebar Kebaikan di Bumi Lancang Kuning: Polda Riau Distribusikan 195 Hewan Kurban Hingga Pelosok Desa
Menebar Kebaikan di Bumi Lancang Kuning: Polda Riau Distribusikan 195 Hewan Kurban Hingga Pelosok Desa

Dalam bahasa Inggris, ada kata ‘You’ yang bisa digunakan kepada siapa saja. Sementara dalam bahasa Belanda, terdapat kata ‘U’ yang sangat praktis. Indonesia saat itu hanya punya ‘Kamu’, ‘Kau’, ‘Engkau’, atau sebutan berdasarkan kekerabatan seperti ‘Bapak’ dan ‘Ibu’. Masalahnya, ‘Kamu’ atau ‘Kau’ sering dianggap kasar jika digunakan kepada orang yang lebih tua atau orang asing, sementara sebutan kekerabatan seringkali tidak tepat dalam situasi formal yang setara.

Pencarian Sabirin mencapai titik terang pada 14 Desember 1955. Hari itu, ia membeli sebuah Kamus Modern Bahasa Indonesia karya Sutan Muhammad Zaid. Di halaman 36 kamus tersebut, matanya terpaku pada sebuah kata: ‘Anakanda’. Keterangan dalam kamus tersebut menjelaskan bahwa kata ‘anda’, ‘nda’, atau ‘d’ berasal dari bahasa Kawi purba yang berarti ‘yang mulia’.

Baca Juga Ketegangan di Timur Tengah: Teheran Tuduh Amerika Serikat Sengaja Sabotase Diplomasi Demi ‘Petualangan Militer’
Ketegangan di Timur Tengah: Teheran Tuduh Amerika Serikat Sengaja Sabotase Diplomasi Demi ‘Petualangan Militer’

Lahirnya ‘Anda’: Dari Bahasa Kawi ke Lembar Surat Kabar

Sabirin menemukan ‘permata’ yang dicarinya. Jika ‘Anakanda’ berarti anak yang mulia, mengapa kata ‘Anda’ tidak berdiri sendiri saja sebagai kata ganti orang kedua yang bermakna ‘yang mulia’ atau setidaknya memberikan penghormatan kepada lawan bicara? Selama berhari-hari, Sabirin melakukan eksperimen. Ia mencoba menulis berbagai kalimat menggunakan kata ‘Anda’ untuk melihat apakah kata tersebut terasa luwes dan tidak janggal.

Setelah merasa yakin dengan konsepnya, pada 21 Februari 1957, Sabirin mengambil langkah berani. Ia mengirimkan sebuah naskah artikel ke redaksi surat kabar Pedoman di Jakarta. Tak tanggung-tanggung, ia juga mengirimkan tembusan kepada tokoh-tokoh besar tokoh inspiratif dan pakar bahasa kala itu, termasuk Moh. Yamin dan Prof. Sutan Takdir Alisjahbana. Ia ingin idenya ini diuji secara akademis dan publik.

Baca Juga Duka Mendalam di Garis Depan: Empat Prajurit Terbaik TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon
Duka Mendalam di Garis Depan: Empat Prajurit Terbaik TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon

Tepat pada 28 Februari 1957, surat kabar Pedoman menerbitkan tulisan Sabirin yang berjudul: “Memperkenalkan Kata Baru ‘ANDA'”. Dalam artikel tersebut, Sabirin menjelaskan secara gamblang bahwa ‘Anda’ diposisikan sebagai padanan kata ‘You’ dalam bahasa Inggris. Kata ini dirancang untuk menggantikan ‘Kamu’ atau ‘Kau’ yang sering terasa terlalu akrab atau bahkan merendahkan dalam konteks tertentu.

Penerimaan Publik dan Warisan Abadi

Meski awalnya memicu perdebatan di kalangan ahli bahasa, kata ‘Anda’ dengan cepat merasuk ke dalam sanubari masyarakat. Kepraktisannya membuat kata ini segera diadopsi dalam dunia periklanan, siaran radio, dan percakapan formal. Kata ‘Anda’ berhasil meruntuhkan tembok kaku birokrasi bahasa yang sebelumnya sangat feodal. Ia menjadi simbol kesetaraan warga negara di republik yang baru seumur jagung tersebut.

Ironisnya, banyak dari kita saat ini yang menggunakan kata ‘Anda’ berkali-kali dalam sehari tanpa mengetahui siapa sosok di baliknya. Sabirin adalah bukti nyata bahwa kontribusi terhadap bangsa tidak selalu harus lewat desing peluru di medan perang. Melalui ketajaman pena dan kecintaannya pada kosakata nasional, ia telah memberikan salah satu warisan paling berharga bagi identitas bangsa Indonesia.

Hingga akhir hayatnya, Sabirin mungkin tidak pernah meminta penghargaan atas ciptaannya tersebut. Namun, setiap kali kita menyapa rekan kerja, membaca iklan di pinggir jalan, atau menyapa penonton lewat layar kaca dengan kata ‘Anda’, kita sebenarnya sedang merayakan kemenangan intelektual seorang prajurit dari Bukittinggi. Kisah ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa bahasa adalah entitas yang hidup, dan setiap individu memiliki peluang untuk membentuk wajah masa depan bangsa melalui tutur kata yang baik dan bermartabat.

Kesimpulan: Belajar dari Semangat Literasi Sabirin

Dari kisah Sabirin, kita belajar bahwa literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan untuk melihat masalah dalam masyarakat dan menawarkan solusi yang visioner. Di tengah gempuran istilah asing di era digital saat ini, semangat Sabirin untuk memuliakan bahasa nasional harus tetap kita jaga. Jangan sampai kita kembali ke masa 1930-an, di mana kita merasa lebih hebat dengan bahasa asing sementara mengabaikan kekayaan bahasa kita sendiri.

Mari kita terus merawat budaya literasi ini, agar muncul Sabirin-Sabirin baru yang mampu memberikan inovasi bagi perkembangan peradaban Indonesia. Kata ‘Anda’ bukan hanya sekadar diksi, ia adalah jembatan rasa hormat yang menyatukan keberagaman kita dari Sabang sampai Merauke.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *