Tragedi Ular Weling di Bogor: Satu Pemuda Meninggal Dunia Setelah Menganggap Remeh Gigitan Si ‘Maut Berbisa’

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
14 Mei 2026, 00:10 WIB
Tragedi Ular Weling di Bogor: Satu Pemuda Meninggal Dunia Setelah Menganggap Remeh Gigitan Si 'Maut Berbisa'

RadarLokal — Suasana tenang di kawasan Pasir Jaya, Bogor Barat, mendadak berubah menjadi duka yang mendalam setelah sebuah insiden fatal merenggut nyawa seorang pemuda akibat gigitan ular berbisa. Peristiwa tragis ini melibatkan dua orang pemuda yang tengah asyik menghabiskan waktu malam bersama, namun tak menyangka bahwa kehadiran tamu tak diundang berupa ular jenis weling akan berakhir dengan maut dan kondisi kritis.

Kronologi Kejadian: Berawal dari Nongkrong Santai

Insiden memilukan ini bermula pada Selasa malam, sekitar pukul 19.00 WIB, di kawasan land bow, Kota Bogor. Dua pemuda, yakni Umarzein Syifalah (18) dan rekannya Hendra (21), sedang duduk-duduk santai menikmati suasana malam sebagaimana anak muda pada umumnya. Namun, di tengah kegelapan malam, seekor ular dengan corak hitam-putih yang khas muncul di sekitar mereka.

Baca Juga Strategi Baru Urai Kemacetan: Kakorlantas Beri Lampu Hijau Penggunaan Sirine PJR di Jalur Tol
Strategi Baru Urai Kemacetan: Kakorlantas Beri Lampu Hijau Penggunaan Sirine PJR di Jalur Tol

Berdasarkan informasi yang dihimpun oleh tim RadarLokal, kedua korban diduga kuat tidak menyadari bahaya besar yang mengintai di balik tubuh kecil ular tersebut. Ular weling (Bungarus candidus) memang dikenal memiliki karakter yang cenderung tenang dan tidak agresif, namun menyimpan salah satu bisa paling mematikan di dunia. Ketidaktahuan akan jenis satwa ini disinyalir menjadi pemicu awal jatuhnya korban.

Lurah Pasir Jaya, Rizky Dwi Nugraha, menjelaskan bahwa saat ular tersebut muncul, salah satu korban secara tidak sengaja tergigit. Alih-alih segera menjauh dan mencari pertolongan medis, situasi justru menjadi semakin berbahaya ketika rekan korban lainnya mencoba menangkap ular tersebut secara spontan. Sayangnya, tindakan refleks ini justru berujung pada gigitan kedua yang menimpa Hendra.

Baca Juga Gebrakan Besar Modernisasi TNI: Presiden Prabowo Resmi Serahkan Jet Tempur Rafale dan Rudal Canggih Meteor untuk Perkuat Langit Nusantara
Gebrakan Besar Modernisasi TNI: Presiden Prabowo Resmi Serahkan Jet Tempur Rafale dan Rudal Canggih Meteor untuk Perkuat Langit Nusantara

Bahaya Fatal Menganggap Remeh Ular Weling

Satu hal yang sangat disayangkan dalam peristiwa ini adalah adanya laporan bahwa setelah ditangkap, ular tersebut sempat dijadikan bahan permainan. Kurangnya edukasi mengenai bahaya satwa liar berbisa membuat para pemuda ini tidak segera mengambil tindakan darurat yang tepat. Dalam dunia herpetologi, gigitan ular weling sering kali tidak menimbulkan rasa sakit yang hebat di awal, sehingga korban sering merasa “baik-baik saja” hingga racun mulai menyerang sistem saraf pusat.

“Pada saat kejadian, salah satu korban ada yang tergigit oleh ular. Motifnya hitam dengan putih. Mungkin korban tidak tahu itu ular berbisa tinggi,” ungkap Rizky. Informasi yang beredar menyebutkan bahwa interaksi yang terlalu berisiko dengan ular tersebut setelah gigitan pertama memperparah keadaan. Korban tidak menyadari bahwa setiap detik sangat berharga untuk menghambat penyebaran neurotoksin ke seluruh tubuh.

Baca Juga Duka Mendalam di Gunungkidul: Rudi Indratna, Petugas Damkar yang Viral Pingsan di Jalan, Berpulang ke Rahmatullah
Duka Mendalam di Gunungkidul: Rudi Indratna, Petugas Damkar yang Viral Pingsan di Jalan, Berpulang ke Rahmatullah

Penelusuran lebih lanjut melalui ular weling mengungkapkan bahwa bisa jenis ini bekerja dengan cara melumpuhkan sistem pernapasan. Tanpa penanganan medis yang cepat menggunakan antibisa yang sesuai, tingkat kematian akibat gigitan ular ini sangatlah tinggi.

Satu Nyawa Melayang, Satu Lainnya Berjuang di ICU

Kapolsek Bogor Barat, AKP Didin Komarudin, mengonfirmasi kebenaran peristiwa yang merenggut nyawa warga tersebut. Ia menyatakan bahwa pihak kepolisian telah melakukan koordinasi pasca kejadian. Kedua korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit UMMI Kota Bogor menggunakan ambulans untuk mendapatkan perawatan intensif.

Namun takdir berkata lain, Umarzein Syifalah (18), yang juga merupakan anggota aktif Karang Taruna di wilayah Pasir Jaya, dinyatakan meninggal dunia. Jenazahnya telah dimakamkan oleh pihak keluarga pada Rabu siang. Kepergian Umar meninggalkan duka mendalam bagi rekan-rekan organisasinya dan warga sekitar yang mengenal sosoknya sebagai pemuda yang aktif bermasyarakat.

Baca Juga Panduan Lengkap Upacara Hardiknas 2 Mei 2026: Aturan Pakaian Adat, Jadwal, dan Susunan Acara Resmi
Panduan Lengkap Upacara Hardiknas 2 Mei 2026: Aturan Pakaian Adat, Jadwal, dan Susunan Acara Resmi

Sementara itu, kondisi Hendra (21) dilaporkan masih dalam keadaan kritis. Hingga berita ini diturunkan, Hendra masih mendapatkan penanganan medis secara intensif di ruang ICU RS UMMI. Keluarga dan kerabat terus memberikan dukungan serta doa agar pemuda tersebut dapat melewati masa kritisnya. Peristiwa di Bogor Barat ini menjadi pengingat keras bagi warga untuk selalu waspada terhadap lingkungan sekitar, terutama saat beraktivitas di malam hari.

Mengenal Karakteristik Ular Weling dan Pencegahannya

Ular weling adalah salah satu jenis ular berbisa tinggi yang banyak ditemukan di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Secara fisik, ular ini mudah dikenali dari pola belang hitam dan putih (atau kuning) yang melingkar di seluruh tubuhnya hingga ke bagian perut. Berbeda dengan ular welang yang memiliki pola belang hingga ke ekor dengan penampang tubuh berbentuk segitiga, ular weling memiliki penampang tubuh yang lebih bulat.

Baca Juga Kedok Panas Aplikasi Hot51 Terbongkar: Polda Metro Ringkus Host yang Promosikan Judi Online Lewat Konten Dewasa
Kedok Panas Aplikasi Hot51 Terbongkar: Polda Metro Ringkus Host yang Promosikan Judi Online Lewat Konten Dewasa

Ular ini bersifat nokturnal atau aktif di malam hari. Mereka sering ditemukan di area yang lembap, dekat dengan sumber air, persawahan, bahkan masuk ke pemukiman warga untuk mencari mangsa seperti tikus atau katak. Bagi warga yang tinggal di wilayah yang masih asri seperti beberapa titik di Kota Bogor, pengetahuan tentang ular berbisa sangatlah krusial untuk mencegah jatuhnya korban jiwa di masa depan.

Para ahli menyarankan agar masyarakat tidak mencoba menangkap atau bermain-main dengan ular jenis apa pun jika tidak memiliki keahlian khusus. Jika melihat ular masuk ke area pemukiman, sangat disarankan untuk segera menghubungi pihak pemadam kebakaran atau komunitas pecinta reptil yang berpengalaman dalam penanganan konflik satwa.

Pentingnya Edukasi Pertolongan Pertama

Kasus yang terjadi di Pasir Jaya ini menekankan pentingnya pemahaman mengenai pertolongan pertama pada gigitan ular. Langkah awal yang paling benar bukanlah mengikat bagian yang tergigit dengan kencang (tourniquet) atau menghisap darahnya, melainkan melakukan imobilisasi atau membuat bagian tubuh yang tergigit tidak bergerak sama sekali.

Metode imobilisasi bertujuan untuk memperlambat penyebaran bisa melalui kelenjar getah bening. Semakin banyak bagian tubuh digerakkan, maka semakin cepat bisa tersebut menyebar ke organ vital. Setelah dilakukan imobilisasi sederhana menggunakan bidai atau kayu, korban harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan terdekat yang menyediakan serum anti bisa ular (SABU).

Tragedi yang menimpa Umar dan Hendra di Bogor ini diharapkan menjadi pelajaran berharga bagi seluruh lapisan masyarakat. Bahwa alam memiliki sisi liar yang harus dihormati, dan pengetahuan dasar mengenai mitigasi konflik dengan satwa bisa menjadi pembeda antara hidup dan mati. Mari kita lebih peduli terhadap keamanan diri dan lingkungan agar kejadian serupa tidak terulang kembali di kemudian hari.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *