Dilema Rupiah di Ambang Rp 17.600: Mengapa Warga Desa Tetap Tercekik Meski Tak Pegang Dolar?

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
18 Mei 2026, 06:16 WIB
Dilema Rupiah di Ambang Rp 17.600: Mengapa Warga Desa Tetap Tercekik Meski Tak Pegang Dolar?

RadarLokal — Gejolak nilai tukar mata uang Garuda tengah menjadi sorotan tajam di panggung ekonomi nasional. Di tengah merosotnya nilai tukar rupiah yang kini menembus angka psikologis baru terhadap dolar Amerika Serikat (AS), sebuah narasi menarik muncul dari Istana. Presiden Prabowo Subianto sempat melontarkan pandangan bahwa masyarakat di tingkat pedesaan relatif aman dari badai depresiasi ini karena mereka tidak bertransaksi menggunakan mata uang asing dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, realita di lapangan seringkali jauh lebih kompleks daripada sekadar hitung-hitungan transaksi fisik. Saat ini, dolar AS telah melambung hingga menyentuh angka Rp 17.600, sebuah lompatan drastis yang melampaui asumsi makro dalam APBN 2026 yang sebelumnya dipatok di level Rp 16.500. Angka ini bukan sekadar statistik di layar bursa saham, melainkan sinyal bahaya yang bisa merambat hingga ke dapur-dapur rumah tangga di pelosok desa.

Baca Juga Menakar Ketahanan Perbankan Nasional: Mengapa Isu Bank Rush Akibat Konflik Timur Tengah Hanya Isapan Jempol?
Menakar Ketahanan Perbankan Nasional: Mengapa Isu Bank Rush Akibat Konflik Timur Tengah Hanya Isapan Jempol?

Ilusi Jarak Antara Dolar dan Ekonomi Desa

Banyak yang beranggapan bahwa selama seseorang tidak bepergian ke luar negeri atau berinvestasi di pasar valas, maka naik-turunnya kurs tidak akan berpengaruh. Padahal, menurut Direktur Eksekutif Center of Economic and Law Studies (Celios), Bhima Yudhistira, anggapan tersebut adalah sebuah kekeliruan fatal dalam melihat keterhubungan sistem global saat ini. Ekonomi Indonesia telah terintegrasi sedemikian rupa sehingga nyaris tidak ada sektor yang benar-benar steril dari pengaruh kurs dolar.

“Jangan dikira pelemahan nilai rupiah terhadap dolar yang sudah menyentuh Rp 17.600 itu tidak akan menjalar ke biaya hidup di level desa,” tegas Bhima. Ia menekankan bahwa meskipun warga desa tidak memegang lembaran dolar hijau, barang-barang yang mereka konsumsi setiap hari memiliki ‘jejak kaki’ impor yang sangat kuat. Mulai dari teknologi komunikasi hingga sarana transportasi, semuanya terikat pada harga global.

Baca Juga Langkah Besar Kedaulatan Ekonomi: Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Tahap II Senilai Rp 116 Triliun
Langkah Besar Kedaulatan Ekonomi: Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Tahap II Senilai Rp 116 Triliun

Rantai Pasok yang Terinfeksi Kurs

Mari kita bedah lebih dalam. Seorang petani di pelosok mungkin tidak peduli dengan kebijakan The Fed di Amerika. Namun, ketika ia harus membeli pupuk, ia akan terkejut dengan kenaikan harganya. Mengapa? Karena sebagian besar bahan baku pupuk masih harus didatangkan dari luar negeri. Begitu juga dengan alat mesin pertanian (alsintan), kendaraan bermotor yang digunakan untuk mengangkut hasil panen, hingga komponen elektronik pada ponsel pintar yang kini menjadi alat kerja utama di desa.

Efek domino ini juga menyasar sektor energi. LPG dan bahan bakar minyak (BBM) adalah komponen vital yang harganya sangat sensitif terhadap nilai tukar. Jika rupiah terus melemah, biaya distribusi barang ke wilayah terpencil akan membengkak, yang ujung-ujungnya dibebankan kepada konsumen akhir di pedesaan. Inilah yang disebut sebagai inflasi yang diimpor (imported inflation).

Baca Juga Menyelami Cuan di Balik Akuarium: Kisah Rizki Fauzi Besarkan Pesona Aquarium Lewat Dukungan KUR BRI
Menyelami Cuan di Balik Akuarium: Kisah Rizki Fauzi Besarkan Pesona Aquarium Lewat Dukungan KUR BRI

Ancaman De-urbanisasi dan Beban Sosial Desa

Satu aspek yang sering luput dari perhatian adalah dampak pelemahan rupiah terhadap sektor industri di perkotaan yang kemudian berimbas ke desa. Bhima Yudhistira memperingatkan bahwa pelemahan rupiah yang mencapai sekitar 7% dalam setahun terakhir merupakan alarm keras bagi sektor manufaktur. Banyak pabrik yang mengandalkan bahan baku impor akan tertekan margin keuntungannya.

“Ini semua tinggal menunggu waktu saja sampai gelombang PHK massal terjadi di kota. Jika itu terjadi, para pekerja akan kembali ke kampung halaman mereka. Fenomena de-urbanisasi ini akan mengubah mereka dari penyumbang kiriman uang (remitansi) menjadi beban baru bagi ekonomi desa karena mereka pulang tanpa pekerjaan dan penghasilan,” jelas Bhima. Desa yang awalnya diharapkan menjadi benteng pertahanan ekonomi justru berisiko lumpuh karena tekanan sosial yang meningkat.

Baca Juga Terobosan Baru Karir BUMN: Kini Daftar Lowongan Kerja Pertamina Patra Niaga Bisa Melalui Aplikasi MyPertamina
Terobosan Baru Karir BUMN: Kini Daftar Lowongan Kerja Pertamina Patra Niaga Bisa Melalui Aplikasi MyPertamina

Transmisi Harga: Bom Waktu yang Mengintai

Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, juga menyuarakan kekhawatiran serupa. Ia menjelaskan bahwa pelemahan rupiah ke kisaran Rp 17.600 per dolar AS akan merembes ke ekonomi pedesaan melalui berbagai jalur transmisi harga. Salah satu jalur yang paling krusial adalah pakan ternak. Industri pakan ternak nasional masih sangat bergantung pada jagung dan bungkil kedelai impor.

Ketika harga pakan naik, maka harga daging ayam dan telur di pasar-pasar desa pun ikut meroket. Tidak berhenti di situ, sektor kesehatan di desa juga terancam. Bahan baku obat-obatan di Puskesmas sebagian besar masih diimpor. Begitu pula dengan bahan pangan olahan yang menggunakan gandum atau kedelai sebagai bahan dasar.

Baca Juga Navigasi Cerdas Investasi Kripto: OJK Ingatkan Pentingnya ‘Uang Dingin’ di Balik Lonjakan Harga Bitcoin
Navigasi Cerdas Investasi Kripto: OJK Ingatkan Pentingnya ‘Uang Dingin’ di Balik Lonjakan Harga Bitcoin

“Persoalannya bukan apakah dampak itu akan sampai ke desa atau tidak, melainkan seberapa cepat transmisi itu muncul. Biasanya, efek depresiasi kurs ini akan mulai terasa secara nyata dalam satu hingga dua kuartal ke depan,” ujar Yusuf Rendy. Ini berarti, ketenangan yang dirasakan saat ini mungkin hanya merupakan ‘tenang sebelum badai’.

Psikologi Pasar dan Risiko Self-Fulfilling Depreciation

Dari kacamata makroekonomi, Yusuf menyoroti hal yang lebih dalam: kepercayaan pasar. Narasi pemerintah yang cenderung meremehkan dampak pelemahan rupiah dianggap berisiko karena pasar valas sangat bergantung pada persepsi stabilitas. Jika otoritas dianggap tidak serius atau kurang waspada, investor akan cenderung menarik modalnya keluar (capital outflow).

Kondisi ini dapat memicu fenomena self-fulfilling depreciation, di mana ekspektasi bahwa rupiah akan terus melemah justru membuat mata uang tersebut benar-benar jatuh lebih dalam karena semua orang berebut mengamankan aset dalam dolar. “Narasi yang terlalu menenangkan justru berisiko menurunkan rasa urgensi publik dan pengambil kebijakan terhadap kebutuhan reformasi struktural,” tambahnya.

Mendesaknya Reformasi Struktural

Ketergantungan Indonesia pada impor pangan dan energi, pasar keuangan domestik yang masih dangkal, hingga disiplin fiskal yang terus diuji adalah masalah-masalah fundamental yang belum tuntas. Ekonomi Indonesia memerlukan lebih dari sekadar kata-kata penenang; diperlukan strategi mitigasi yang konkret untuk melindungi masyarakat kelas bawah, terutama di pedesaan.

Pemerintah diharapkan segera menyiapkan skenario terburuk untuk menjaga daya beli masyarakat desa. Hal ini bisa dilakukan melalui penguatan jaring pengaman sosial, subsidi input pertanian yang tepat sasaran, serta percepatan program substitusi impor. Tanpa langkah nyata, jargon bahwa ‘warga desa tidak pakai dolar’ hanya akan menjadi penghibur sementara sebelum kenaikan harga barang pokok mengetuk pintu rumah mereka.

Pada akhirnya, ekonomi adalah sebuah ekosistem yang saling terhubung. Apa yang terjadi di gedung-gedung pencakar langit di Wall Street atau di pusat keuangan Jakarta, pada waktunya akan dirasakan oleh seorang buruh tani di lereng gunung. Kewaspadaan dan persiapan matang adalah kunci agar gejolak rupiah tidak berubah menjadi krisis sosial yang mendalam di tingkat akar rumput.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *