Kurs Rupiah Terkapar, Petani Menjerit: Ironi Dolar yang Merampas Kesejahteraan di Pelosok Desa

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
18 Mei 2026, 16:10 WIB
Kurs Rupiah Terkapar, Petani Menjerit: Ironi Dolar yang Merampas Kesejahteraan di Pelosok Desa

RadarLokal — Gelombang pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kini bukan lagi sekadar angka-angka dingin yang terpampang di layar bursa saham Jakarta. Dampaknya telah merayap jauh melampaui gedung-gedung pencakar langit, menembus batas-batas pematang sawah, dan memukul telak dapur-dapur para petani di pelosok nusantara. Meski mereka tidak pernah memegang lembaran uang hijau tersebut, efek domino dari penguatan mata uang Paman Sam telah menciptakan distorsi ekonomi yang nyata di tingkat akar rumput.

Paradoks Ekonomi: Bertransaksi Rupiah, Terdampak Dolar

Fenomena ini memicu kekhawatiran serius di kalangan pelaku sektor agraris. Ekonomi Indonesia yang masih sangat bergantung pada bahan baku impor di sektor hulu pertanian membuat para petani menjadi kelompok yang paling rentan. Ketika rupiah terdepresiasi, biaya hidup dan ongkos produksi otomatis melonjak, menciptakan jurang ketimpangan yang semakin lebar.

Baca Juga Skandal Manipulasi Harga CPO: Mendag Budi Santoso Tegaskan Batasan Wewenang di Tengah Sorotan 10 Eksportir Raksasa
Skandal Manipulasi Harga CPO: Mendag Budi Santoso Tegaskan Batasan Wewenang di Tengah Sorotan 10 Eksportir Raksasa

Ketua Umum Serikat Petani Indonesia (SPI), Henry Saragih, memberikan perspektif yang tajam mengenai situasi ini. Ia menegaskan bahwa anggapan masyarakat desa aman dari guncangan kurs adalah sebuah kekeliruan besar. Faktanya, masyarakat pedesaan, khususnya petani kecil, berada di garis depan yang paling terdampak oleh inflasi barang pokok dan kenaikan harga sarana produksi pertanian (saprodi).

“Mengatakan bahwa masyarakat desa tidak terdampak pelemahan rupiah adalah kurang tepat. Justru masyarakat pedesaan, khususnya petani kecil, adalah kelompok yang paling rentan terhadap guncangan ekonomi,” tutur Henry dengan nada prihatin. Menurutnya, meskipun transaksi di pasar desa menggunakan rupiah, harga barang-barang tersebut telah terinfeksi oleh kenaikan biaya logistik dan bahan baku yang berbasis dolar.

Baca Juga Pasokan Hewan Kurban 2026 Melimpah, Surplus 891 Ribu Ekor Jadi Angin Segar bagi Masyarakat
Pasokan Hewan Kurban 2026 Melimpah, Surplus 891 Ribu Ekor Jadi Angin Segar bagi Masyarakat

Tsunami Harga Pupuk dan Saprodi

Salah satu sektor yang paling terdampak langsung adalah komponen input pertanian. Sektor pertanian kita saat ini masih memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan kimia dan teknologi dari luar negeri. Mulai dari bahan aktif pestisida hingga bahan baku pembuatan pupuk kimia, sebagian besar masih harus didatangkan melalui skema impor.

Henry memaparkan data yang cukup mencengangkan terkait lonjakan harga di lapangan. Pupuk urea non-subsidi, yang menjadi tumpuan banyak petani, kini harganya telah meroket ke angka Rp 580.000 per sak (50 kg). Padahal, sebelumnya petani masih bisa membelinya di kisaran Rp 380.000. Artinya, terjadi lonjakan lebih dari 50 persen dalam waktu yang relatif singkat. Kondisi serupa terjadi pada pupuk NPK Mutiara yang kini dibanderol sekitar Rp 800.000 per sak, naik dari harga sebelumnya yang berada di angka Rp 600.000.

Baca Juga Ekspansi Raksasa China di Kendal: PT Hoi Fu Suntik Investasi Rp 1,12 Triliun, Ribuan Lapangan Kerja Baru Menanti
Ekspansi Raksasa China di Kendal: PT Hoi Fu Suntik Investasi Rp 1,12 Triliun, Ribuan Lapangan Kerja Baru Menanti

Kenaikan ini tidak berhenti di pupuk saja. Komponen perlindungan tanaman seperti insektisida, fungisida, dan herbisida rata-rata mengalami kenaikan harga hingga 30 persen. Bahkan, bagi petani yang sudah mulai mekanisasi, tantangan bertambah berat dengan naiknya harga suku cadang mesin pertanian seperti traktor dan mesin giling hingga 40 persen. Hal ini tentu menjadi pukulan telak bagi modernisasi pertanian yang sedang digalakkan pemerintah.

Terjepit di Antara Biaya Tinggi dan Harga Jual Rendah

Ironi yang dialami petani tidak berhenti pada mahalnya modal tanam. Masalah klasik yang terus berulang adalah fluktuasi harga jual komoditas saat panen tiba. Saat rupiah melemah dan biaya produksi melambung, harga jual gabah atau palawija di tingkat petani seringkali justru stagnan atau bahkan jatuh saat panen raya karena permainan rantai distribusi yang terlalu panjang.

Baca Juga Strategi Hulu Bakti BCA: Lawan Stunting Lewat Deteksi Dini Preeklamsia dan Inovasi Teknologi Kesehatan
Strategi Hulu Bakti BCA: Lawan Stunting Lewat Deteksi Dini Preeklamsia dan Inovasi Teknologi Kesehatan

“Ketika biaya modal melonjak tinggi, namun harga jual panen di tingkat petani cenderung fluktuatif, petani terpaksa mengambil langkah berisiko. Mereka seringkali mengurangi penggunaan input, seperti takaran pupuk atau frekuensi penyemprotan hama,” jelas Henry. Kebijakan darurat dari petani ini, meski logis secara finansial jangka pendek, memiliki konsekuensi jangka panjang yang berbahaya: penurunan produktivitas pangan nasional secara signifikan.

Situasi ini semakin diperparah dengan kondisi alam yang tidak menentu. Kesejahteraan petani kini berada di bawah ancaman ganda. Di satu sisi, ada tekanan makroekonomi berupa depresiasi rupiah, dan di sisi lain, anomali cuaca akibat dampak El Niño masih terus membayangi pola tanam mereka. Kombinasi faktor ekonomi dan alam ini menciptakan situasi yang sangat berat di lapangan.

Baca Juga Purbaya Yudhi Sadewa Tepis Isu ‘Lumpuh’ dan Pemecatan: Tertawa di Balik Lelahnya Menjaga Kas Negara
Purbaya Yudhi Sadewa Tepis Isu ‘Lumpuh’ dan Pemecatan: Tertawa di Balik Lelahnya Menjaga Kas Negara

Agroekologi: Jalur Perlawanan dan Kemandirian

Di tengah impitan ekonomi tersebut, muncul sebuah gerakan dari bawah sebagai upaya bertahan hidup. Sebagian petani yang tergabung dalam serikat-serikat tani mulai menyiasati keadaan dengan beralih ke praktik agroekologi. Ini adalah sebuah pendekatan pertanian yang lebih ramah lingkungan dan, yang terpenting, mengurangi ketergantungan pada input kimia impor.

Melalui agroekologi, petani didorong untuk membuat pupuk organik secara mandiri dan memuliakan benih lokal. Dengan memanfaatkan sumber daya yang ada di sekitar mereka, petani mencoba memutus rantai ketergantungan terhadap dolar. Namun, Henry Saragih menekankan bahwa inisiatif ini membutuhkan dukungan masif dari pemerintah untuk bisa diimplementasikan dalam skala yang lebih besar.

Kemandirian benih dan pupuk organik bukan hanya soal ramah lingkungan, tetapi merupakan strategi kedaulatan pangan yang sangat strategis saat mata uang kita sedang tidak berdaya di hadapan dolar. Kedaulatan pangan tidak akan pernah tercapai jika sarana produksinya masih sangat tergantung pada kebijakan ekonomi luar negeri.

Mendesak Intervensi Pemerintah

Melihat kondisi yang semakin kritis, RadarLokal mencatat perlunya langkah konkret dari pemerintah. Stabilisasi harga komponen pertanian harus menjadi prioritas utama untuk mencegah krisis pangan di masa depan. Jika harga input tidak segera dikendalikan, dikhawatirkan akan banyak petani yang memutuskan untuk berhenti menanam atau beralih profesi, yang pada akhirnya akan mengancam stok pangan nasional.

Henry Saragih menyerukan agar pemerintah segera turun tangan melalui pemberian insentif yang tepat sasaran atau subsidi yang lebih efektif untuk komponen-komponen vital pertanian. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa rantai distribusi hasil tani diperpendek agar petani mendapatkan harga yang adil saat panen.

Pada akhirnya, nasib kedaulatan pangan kita berada di tangan para petani yang kini sedang berjuang melawan badai dolar. Tanpa keberpihakan kebijakan yang nyata, jeritan mereka di pematang sawah hanya akan menjadi angin lalu, sementara harga-harga di meja makan masyarakat perkotaan akan terus merangkak naik mengikuti jejak kurs dolar yang perkasa.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *