Mengintai di Balik Layar: Bahaya Sharenting dan Strategi Melindungi Privasi Anak di Era Digital

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
19 Mei 2026, 06:11 WIB
Mengintai di Balik Layar: Bahaya Sharenting dan Strategi Melindungi Privasi Anak di Era Digital

RadarLokal — Di balik gemasnya senyuman balita yang menghiasi lini masa media sosial, tersimpan sebuah risiko besar yang sering kali luput dari pandangan mata orang tua. Fenomena ini dikenal dengan istilah sharenting—sebuah gabungan kata dari sharing (berbagi) dan parenting (pengasuhan). Meskipun niat awalnya adalah untuk mengabadikan memori atau berbagi kebahagiaan dengan kerabat, kebiasaan ini kini bertransformasi menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan masa depan digital sang buah hati.

Fenomena Sharenting: Antara Kebanggaan Orang Tua dan Ancaman Nyata

Saat ini, hampir tidak ada momen pertumbuhan anak yang tidak terabadikan di internet. Mulai dari USG pertama, langkah kaki pertama, hingga hari pertama sekolah, semuanya diunggah dengan antusiasme tinggi. Namun, laporan terbaru yang dihimpun oleh tim RadarLokal menunjukkan bahwa setiap unggahan tersebut meninggalkan jejak digital yang permanen. Jejak ini tidak hanya menjadi konsumsi publik, tetapi juga bahan bagi pelaku kejahatan siber untuk melakukan profiling digital secara mendalam.

Baca Juga Dolar AS Kian Perkasa, Mengapa Gairah Belanja Gadget Masyarakat Justru Tak Terbendung?
Dolar AS Kian Perkasa, Mengapa Gairah Belanja Gadget Masyarakat Justru Tak Terbendung?

Studi bertajuk Small Shares, Big Risks: How Parents Assess Threats and Cope with Sharing of Children’s Data yang dilakukan oleh perusahaan keamanan siber Kaspersky bekerja sama dengan Singapore Institute of Technology (SIT), memberikan peringatan keras. Penelitian ini melibatkan ratusan responden dari berbagai negara, termasuk Indonesia, yang menunjukkan bahwa banyak orang tua yang belum sepenuhnya menyadari betapa rentannya data pribadi anak-anak mereka di dunia maya.

Risiko Tersembunyi: Dari Pelacakan Lokasi hingga Pencurian Identitas

Salah satu bahaya utama yang diungkap dalam riset tersebut adalah penyalahgunaan data pribadi anak untuk kepentingan kriminal. Informasi yang tampak sepele, seperti nama panggilan, lokasi sekolah yang terlihat dari seragam, atau hobi anak, dapat digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab untuk melakukan pelacakan lokasi. Hal ini tentu saja meningkatkan risiko penculikan atau pelecehan di dunia nyata.

Baca Juga Melampaui Sekadar Penunjuk Waktu: Bagaimana AI Smartwatch Diam-diam Mendikte Hidup dan Identitas Kita
Melampaui Sekadar Penunjuk Waktu: Bagaimana AI Smartwatch Diam-diam Mendikte Hidup dan Identitas Kita

Lebih jauh lagi, pencurian identitas menjadi ancaman jangka panjang. Foto-foto yang diunggah saat ini bisa saja dimanipulasi menggunakan teknologi artificial intelligence (AI) di masa depan untuk penipuan finansial atau pembuatan akun palsu. Bayangkan jika data anak Anda sudah tersebar luas bahkan sebelum mereka cukup umur untuk memiliki kartu identitas sendiri. Ini adalah bom waktu digital yang harus segera diwaspadai oleh setiap orang tua.

Temuan Menarik: Ibu Lebih Protektif dalam Urusan Privasi Digital

Ada temuan menarik dalam penelitian yang melibatkan responden dari sembilan negara ini. Terungkap bahwa para ibu cenderung memiliki naluri protektif yang lebih kuat tidak hanya di dunia nyata, tetapi juga di ruang siber. Dibandingkan dengan ayah, ibu lebih berhati-hati dalam memilih konten apa yang layak dibagikan dan siapa saja yang boleh melihatnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan privasi anak sering kali didorong oleh intuisi perlindungan yang mendasar.

Baca Juga Ketajaman Lidah Giorgia Meloni Hadapi Teror Deepfake: Saat Teknologi AI Menjadi Senjata Pelecehan Digital
Ketajaman Lidah Giorgia Meloni Hadapi Teror Deepfake: Saat Teknologi AI Menjadi Senjata Pelecehan Digital

Trisha Octaviano, Senior Manager Cyber Safety Education Asia Pasifik di Kaspersky, mencatat bahwa seiring bertambahnya usia dan pengalaman, orang tua biasanya menjadi lebih peka terhadap ancaman. Mereka mulai menyadari bahwa media sosial bukan sekadar tempat berbagi, melainkan ekosistem kompleks yang menuntut kewaspadaan tinggi. Sebanyak 85% orang tua dalam studi ini mengaku sudah mulai menghindari pengunggahan informasi sensitif seperti alamat rumah atau tanggal lahir anak.

Langkah Nyata Mengamankan Jejak Digital Buah Hati

Melindungi anak di era digital bukan berarti harus berhenti total menggunakan media sosial. Kuncinya terletak pada keamanan digital yang ketat dan kebijaksanaan dalam mengunggah. Berdasarkan rekomendasi para ahli, berikut adalah beberapa langkah preventif yang dapat dilakukan oleh orang tua:

Baca Juga Linus Torvalds ‘Gerah’: Banjir Laporan Bug Hasil AI Bikin Tim Pengembang Linux Kelabakan
Linus Torvalds ‘Gerah’: Banjir Laporan Bug Hasil AI Bikin Tim Pengembang Linux Kelabakan
  • Aktifkan Pengaturan Privasi: Pastikan akun media sosial Anda dalam mode privat sehingga hanya orang-orang yang Anda kenal yang dapat melihat unggahan tentang anak.
  • Hapus Metadata dan Geotagging: Setiap foto digital menyimpan informasi lokasi dan waktu (metadata). Pastikan fitur ini dinonaktifkan sebelum mengunggah foto agar lokasi anak tidak terlacak.
  • Batasi Izin Berbagi (Resharing): Nonaktifkan fitur yang memungkinkan orang lain membagikan ulang unggahan Anda untuk mencegah konten anak tersebar ke lingkaran yang tidak terkontrol.
  • Hindari Identitas Visual yang Jelas: Cobalah untuk tidak memperlihatkan wajah anak secara frontal, atau tutupi atribut sekolah dan lokasi rutin mereka.

Jiow Hee Jhee, Wakil Direktur Academy of Learning and Teaching SIT, menekankan bahwa perlindungan terhadap jejak digital anak dimulai dari keputusan-keputusan kecil yang kita ambil setiap hari. “Sering kali orang tua lupa bahwa apa yang mereka unggah hari ini akan tetap ada di sana hingga puluhan tahun mendatang, yang mungkin saja bisa berdampak pada reputasi atau keamanan anak saat mereka dewasa nanti,” ungkapnya.

Baca Juga Ambisi Besar Indonesia: Menapak Jalan Menuju Episentrum Kekuatan Satelit di Asia Pasifik
Ambisi Besar Indonesia: Menapak Jalan Menuju Episentrum Kekuatan Satelit di Asia Pasifik

Membangun Budaya Digital yang Sehat dalam Keluarga

Selain langkah teknis, edukasi di lingkungan keluarga memegang peranan krusial. Orang tua harus mulai mengajak anak berdiskusi—jika mereka sudah cukup umur—mengenai apa yang boleh dan tidak boleh dibagikan secara daring. Menanamkan pemahaman tentang etika internet sejak dini akan membantu mereka menjadi pengguna digital yang bertanggung jawab di masa depan.

Kita harus menyadari bahwa anak-anak belum memiliki kemampuan untuk memberikan persetujuan (consent) atas data pribadi mereka yang diunggah oleh orang tua. Oleh karena itu, tanggung jawab moral sepenuhnya ada di tangan kita sebagai orang tua untuk menjaga martabat dan keamanan mereka. Jangan sampai keinginan untuk mendapatkan ‘likes’ atau validasi sosial mengorbankan privasi anak yang tidak ternilai harganya.

Kesimpulan: Bijak Sebelum Mengklik ‘Post’

Fenomena sharenting memang sulit dihindari di tengah arus teknologi yang begitu masif. Namun, menjadi orang tua yang cerdas digital adalah sebuah keharusan. Dengan memahami risiko yang ada dan menerapkan protokol keamanan yang tepat, kita tetap bisa merayakan momen-momen indah pertumbuhan anak tanpa harus mempertaruhkan keselamatan mereka.

Ingatlah bahwa internet tidak pernah benar-benar melupakan. Setiap foto, setiap video, dan setiap status yang kita buat hari ini adalah bagian dari sejarah digital anak kita kelak. Mari kita pastikan bahwa sejarah yang kita tuliskan untuk mereka adalah sejarah yang aman, terlindungi, dan penuh pertimbangan. Lindungi anak Anda dari bahaya yang mengintai di balik layar, mulai dari sekarang.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *