Skandal Kebohongan Muse Model: Mengaku Dibegal Padahal Hanya Bisul, Bagaimana Kronologinya?
RadarLokal — Dunia maya kembali diguncang oleh sebuah narasi kontroversial yang melibatkan seorang publik figur dari industri kreatif. Belakangan ini, jagat media sosial dipenuhi dengan simpati publik terhadap seorang muse model berinisial AJDV alias AWS, yang mengaku menjadi korban aksi kriminalitas jalanan yang brutal di kawasan Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Namun, tabir gelap di balik pengakuan tersebut akhirnya tersingkap di hadapan penyidik kepolisian, mengungkap fakta yang jauh dari kesan heroik maupun tragis.
Setelah melalui serangkaian proses penyelidikan intensif, pihak kepolisian memastikan bahwa pengakuan tersebut hanyalah sebuah rekayasa atau berita hoax yang sengaja disebarluaskan. Luka yang diklaim sebagai akibat dari sabetan senjata tajam pelaku begal, ternyata memiliki asal-usul medis yang sangat berbeda dari apa yang digambarkan oleh AJDV dalam unggahannya yang viral tersebut.
Gempar di Media Sosial: Awal Mula Narasi Pembegalan
Segalanya bermula ketika sebuah unggahan di platform media sosial menunjukkan foto-foto luka di bagian kepala AJDV. Dalam keterangan fotonya, ia menarasikan bahwa dirinya telah menjadi korban begal yang beringas. Sontak saja, unggahan tersebut memicu reaksi keras dari netizen yang merasa khawatir dengan tingkat keamanan di ibu kota, khususnya di wilayah Jakarta Barat.
Narasi yang dibangun AJDV sangat meyakinkan, membuat banyak orang percaya bahwa ia adalah korban kejahatan yang traumatis. Tekanan publik pun meningkat, menuntut kepolisian segera bertindak menangkap pelaku. Namun, di balik hiruk-pikuk simpati tersebut, tim dari Polda Metro Jaya mulai mencium adanya ketidakkonsistenan dalam laporan dan bukti fisik yang ada di lapangan.
Investigasi Mendalam Polda Metro Jaya: Menguak Tabir Kebenaran
Menyikapi keresahan masyarakat, aparat kepolisian tidak tinggal diam. Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, menjelaskan bahwa pihaknya segera mengerahkan tim gabungan untuk mendalami kasus ini. Keterlibatan berbagai unit, mulai dari Direktorat PPA-PPO, Subdit PPA-PPO Jakarta Barat, Polsek Kebon Jeruk, hingga Bidang Kedokteran dan Kesehatan (Dokkes) Polda Metro Jaya, menunjukkan betapa seriusnya aparat dalam menangani laporan kriminalitas.
“Kami melakukan langkah-langkah prosedural, termasuk mengundang AJDV untuk memberikan klarifikasi secara resmi di Direktorat Siber Polda Metro Jaya. Tujuannya adalah untuk mendalami apa sebenarnya motif di balik unggahan yang meresahkan tersebut,” ujar Kombes Pol Budi Hermanto dalam sebuah konferensi pers resmi yang digelar pada Jumat (22/5/2026).
Hasil Visum yang Mengejutkan: Bukan Sajam, Tapi Bisul
Salah satu kunci utama dalam mematahkan kebohongan ini adalah hasil medis. Polisi tidak hanya mengandalkan keterangan saksi, tetapi juga melakukan tindakan medis formal berupa visum et repertum terhadap luka yang diklaim sebagai luka bacok tersebut. Hasilnya sangat mengejutkan dan memutarbalikkan seluruh narasi yang telah dibangun sebelumnya.
“Ini sudah didalami secara medis. Berdasarkan hasil visum, kami perlu meluruskan kembali kepada masyarakat bahwa luka tersebut sebenarnya adalah bisul yang meletus. Jadi, kami tegaskan, itu bukan karena bacokan atau serangan dari pelaku begal sebagaimana yang dicitrakan di media sosial,” ungkap Budi Hermanto dengan tegas di hadapan awak media.
Penjelasan ini tentu saja mengubah arah penyelidikan. Jika sebelumnya polisi mencari pelaku begal, kini fokus beralih pada motif di balik penyebaran informasi palsu yang dilakukan oleh AJDV. Tindakan ini dinilai telah menciptakan kondisi yang tidak kondusif dan ketakutan yang tidak beralasan di tengah masyarakat.
Isak Tangis di Balik Masker: AJDV Usai Diperiksa Intensif
Setelah kebohongannya terendus, AJDV menjalani pemeriksaan panjang di gedung Polda Metro Jaya. Pantauan tim di lapangan menunjukkan bahwa proses klarifikasi tersebut berlangsung hingga larut malam. AJDV baru terlihat keluar dari ruang pemeriksaan Direktorat Siber pada Kamis malam sekitar pukul 20.26 WIB dengan pengawalan ketat.
Penampilannya saat itu sangat kontras dengan citranya sebagai seorang model profesional. Mengenakan jaket biru dengan penutup kepala (hoodie) dan wajah yang tertutup masker medis, AJDV hanya bisa tertunduk lesu. Suasana berubah menjadi emosional ketika ia tampak menangis tersedu-sedu sambil didampingi oleh seorang rekan wanita dan petugas kepolisian.
Upaya awak media untuk mendapatkan pernyataan langsung darinya pun nihil. AJDV memilih untuk bungkam dan terus berjalan cepat menuju kendaraan yang menjemputnya, meninggalkan tanda tanya besar mengenai beban psikologis maupun hukum yang kini harus ia tanggung akibat perbuatannya sendiri.
Bahaya ‘Glorifikasi’ Kriminalitas demi Konten Viral
Kasus yang menimpa AJDV ini membuka diskusi lebih luas mengenai fenomena sosial di era digital. Polisi mensinyalir adanya upaya untuk membangun opini publik melalui narasi sebagai korban kriminalitas. Fenomena ini seringkali dipicu oleh keinginan untuk mendapatkan perhatian instan atau apa yang sering disebut sebagai clout chasing.
“Kami sedang mengklarifikasi apakah ada upaya dari pihak-pihak tertentu untuk melakukan ‘cipta kondisi’ dengan mengunggah narasi sebagai korban. Hal ini sangat berbahaya karena dapat merusak citra keamanan suatu wilayah demi kepentingan popularitas pribadi,” tambah Kombes Budi. Pihak kepolisian juga menggarisbawahi bahwa tindakan seperti ini bukan hanya merugikan diri sendiri, tetapi juga membuang-buang sumber daya aparat yang seharusnya bisa digunakan untuk menangani kasus kriminal yang nyata.
Implikasi Hukum Penyebaran Berita Hoaks
Penyebaran berita bohong atau hoaks di Indonesia bukanlah perkara sepele. Tindakan mengunggah informasi palsu yang memicu kegaduhan dapat dijerat dengan Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE). Meskipun dalam kasus ini AJDV baru dalam tahap klarifikasi, bayang-bayang konsekuensi hukum tetap mengintai.
Masyarakat diingatkan untuk lebih bijak dalam menyerap informasi dari media sosial. Kasus ‘bisul meletus’ yang dipoles menjadi ‘pembegalan’ ini menjadi pelajaran berharga bahwa apa yang tampak di layar ponsel tidak selamanya sesuai dengan kenyataan di lapangan. Polisi pun menghimbau para influencer dan tokoh publik untuk memiliki tanggung jawab moral yang lebih tinggi dalam setiap konten yang mereka bagikan kepada khalayak luas.
Hingga saat ini, penyelidikan terhadap AJDV masih terus berkembang. Pihak kepolisian akan menentukan langkah hukum selanjutnya setelah semua bukti dan keterangan saksi ahli terpenuhi. Satu hal yang pasti, drama begal rekayasa ini telah berakhir dengan antiklimaks yang memalukan bagi sang muse model.