Nasib PT INTI di Ujung Tanduk: Antara Likuidasi dan Babak Baru di Bawah Naungan Danantara
RadarLokal — Kabar mengejutkan datang dari panggung industri strategis nasional. PT Industri Telekomunikasi Indonesia, atau yang lebih akrab dikenal sebagai PT INTI, kini berada di persimpangan jalan yang sangat krusial. Perusahaan pelat merah yang berbasis di Bandung tersebut dilaporkan tengah menghadapi ancaman penutupan permanen menyusul berbagai permasalahan fundamental yang membelit operasional dan finansialnya selama beberapa tahun terakhir.
Sinyal keras mengenai kemungkinan likuidasi ini dilemparkan langsung oleh Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara (Danantara), Dony Oskaria. Dalam pernyataannya di hadapan publik, ia secara gamblang menyebutkan bahwa PT INTI merupakan salah satu contoh permasalahan BUMN yang cukup pelik. Langkah drastis berupa penutupan perusahaan kini menjadi opsi yang sangat nyata di meja manajemen Danantara.
Kisah Jatuhnya Sang Pionir Telekomunikasi dari Bandung
Bagi mereka yang tumbuh di era kejayaan industri komunikasi dalam negeri, nama PT INTI bukan sekadar nama perusahaan. Ia adalah simbol kebanggaan teknologi Indonesia. Berpusat di Kota Kembang, Bandung, PT INTI dahulu dikenal sebagai raksasa yang memasok berbagai perangkat telekomunikasi untuk kebutuhan nasional. Namun, seiring berjalannya waktu dan pesatnya kompetisi teknologi global, posisi perusahaan ini kian tergerus.
Menurut Dony Oskaria dalam acara Jogja Financial Festival, Sabtu (23/5/2026), perusahaan yang dulunya sangat mentereng ini kini harus berhadapan dengan realita pahit. Krisis yang dialami PT INTI tidak terjadi dalam semalam. Ini adalah akumulasi dari pengelolaan yang selama ini dianggap berjalan sendiri-sendiri tanpa integrasi yang kuat dengan ekosistem BUMN lainnya.
“Mungkin kita mengenal dulu banyak BUMN-BUMN terkenal, kalau di Bandung itu ada PT INTI yang sangat terkenal sekarang menghadapi permasalahan mungkin akan kita tutup juga,” ujar Dony dengan nada serius, yang seketika memicu diskusi hangat di kalangan pengamat ekonomi dan industri.
Fragmentasi Pengelolaan: Mengapa BUMN Sulit Saling Membantu?
Salah satu poin krusial yang diangkat dalam diskusi tersebut adalah struktur kepemilikan dan kuasa kelola BUMN di masa lalu. Dony menjelaskan bahwa sebelumnya, Kementerian BUMN hanya memiliki kuasa kelola, bukan bertindak sebagai pemilik langsung dari perusahaan-perusahaan tersebut. Perbedaan status hukum ini memiliki dampak yang signifikan terhadap fleksibilitas finansial dan operasional.
Akibat struktur yang terfragmentasi ini, terjadi jurang pemisah antar perusahaan negara. Ketika sebuah entitas seperti PT INTI mengalami kesulitan likuiditas atau krisis bisnis, perusahaan BUMN lain yang lebih sehat secara finansial tidak memiliki mekanisme legal yang mudah untuk memberikan bantuan. Tidak ada ekosistem “gotong royong” yang terintegrasi secara hukum karena masing-masing entitas berdiri sebagai pulau-pulau kecil yang terpisah.
Kondisi ini menyebabkan proses penyehatan BUMN menjadi sangat lamban dan birokratis. Dana bantuan harus melalui berbagai pintu persetujuan yang rumit, yang seringkali terlambat datang saat perusahaan sudah di ambang kolaps. Fenomena inilah yang coba didobrak melalui kehadiran Danantara sebagai solusi masa depan.
Danantara: Harapan Baru Melalui Konsep Sovereign Wealth Fund
Daya Anagata Nusantara atau Danantara hadir dengan misi besar untuk melakukan transformasi total terhadap wajah perusahaan milik negara. Dengan format sovereign wealth fund (SWF) berbasis BUMN, Danantara kini memegang peran sebagai holding company raksasa yang mengonsolidasikan seluruh aset strategis dalam satu atap pengelolaan.
Dengan model baru ini, perusahaan-perusahaan besar seperti Bank Mandiri, BRI, Krakatau Steel, Garuda Indonesia, Pertamina, hingga PLN kini berada dalam satu komando terintegrasi. Tujuannya jelas: menciptakan sinergi yang efisien. Integrasi ini memungkinkan Danantara untuk mengalokasikan sumber daya secara lebih cerdas, melakukan efisiensi operasional, dan yang terpenting, mempermudah proses intervensi bagi perusahaan yang sedang mengalami krisis.
“Nah dengan disatukannya terkonsolidasi menyebabkan mudah bagi kita dalam pengelolaan BUMN-BUMN kita. Jadi sekarang itu antara Bank Mandiri, Bank BRI, kemudian juga Krakatau Steel, Garuda, Pertamina, PLN itu menjadi satu holding company,” jelas Dony Oskaria lebih lanjut. Ia optimis bahwa konsolidasi ini akan memperkuat daya saing BUMN Indonesia di kancah global.
Nasib Karyawan dan Aset PT INTI Jika Ditutup
Meskipun opsi penutupan telah disebut secara terbuka, masyarakat dan para pemangku kepentingan tentu bertanya-tanya mengenai nasib aset dan sumber daya manusia di PT INTI. Likuidasi sebuah BUMN bersejarah bukanlah perkara sederhana. Terdapat kewajiban terhadap karyawan, utang piutang kepada pihak ketiga, serta kelanjutan dari proyek-proyek strategis yang mungkin masih berjalan.
Penutupan PT INTI jika benar-benar direalisasikan, akan menjadi preseden penting dalam era kepemimpinan Danantara. Ini menunjukkan keberanian pemerintah untuk tidak lagi “memelihara” perusahaan yang sudah tidak kompetitif atau membebani keuangan negara secara terus-menerus. Di sisi lain, hal ini juga bisa menjadi restrukturisasi industri di mana aset-aset potensial PT INTI mungkin akan dilebur ke dalam divisi telekomunikasi di bawah naungan BUMN lain yang lebih sehat.
Langkah Strategis Danantara di Masa Depan
Transformasi yang dibawa Danantara diharapkan dapat mencegah terjadinya “PT INTI baru” di masa depan. Dengan pengawasan yang lebih ketat dan sistem pelaporan keuangan yang terpusat, tanda-tanda kegagalan sebuah perusahaan dapat dideteksi lebih dini. Danantara memiliki mandat untuk memastikan bahwa setiap rupiah investasi yang ditempatkan negara dalam BUMN harus memberikan imbal hasil yang maksimal atau setidaknya menjalankan fungsi layanan publik secara efisien.
Pengamat ekonomi berpendapat bahwa langkah Danantara untuk melakukan kurasi ketat terhadap portofolio BUMN adalah langkah yang menyakitkan namun perlu. Dalam dunia bisnis yang kompetitif, sentimentalitas terhadap sejarah perusahaan seringkali harus dikesampingkan demi kesehatan ekonomi nasional yang lebih luas.
Sebagai informasi tambahan, masyarakat dapat memantau perkembangan terbaru mengenai kebijakan ekonomi pemerintah melalui kanal investasi nasional untuk memahami bagaimana langkah Danantara akan mempengaruhi pasar modal dan iklim bisnis di Indonesia ke depannya. Keputusan mengenai PT INTI ini akan menjadi ujian pertama bagi efektivitas Danantara dalam mengelola krisis perusahaan negara.
Kesimpulan: Akhir dari Sebuah Era?
Dunia usaha memang dinamis. Apa yang dahulu menjadi pionir, belum tentu bisa bertahan di masa depan tanpa adaptasi yang radikal. PT INTI saat ini tengah menjadi potret nyata dari tantangan industri telekomunikasi dalam negeri. Apakah mereka akan benar-benar menutup buku sejarahnya, ataukah ada keajaiban restrukturisasi di menit-menit terakhir di bawah kendali Danantara? Waktulah yang akan menjawab.
Satu hal yang pasti, publik berharap bahwa apapun keputusan yang diambil oleh Danantara dan pemerintah, kepentingan nasional dan kesejahteraan para pekerja tetap menjadi prioritas utama. Penutupan sebuah perusahaan mungkin adalah akhir dari satu babak, namun transformasi BUMN secara keseluruhan diharapkan menjadi awal dari kebangkitan ekonomi Indonesia yang lebih tangguh dan terintegrasi.