Fenomena Kerbau Albino ‘Donald Trump’ di Bangladesh: Keajaiban Alam yang Mengguncang Dunia Maya

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
27 Mei 2026, 06:10 WIB
Fenomena Kerbau Albino 'Donald Trump' di Bangladesh: Keajaiban Alam yang Mengguncang Dunia Maya

RadarLokal — Jagat media sosial baru-baru ini diguncang oleh sebuah fenomena unik yang datang dari pinggiran kota Dhaka, Bangladesh. Seekor kerbau albino langka mendadak menjadi pusat perhatian global bukan hanya karena kelangkaan genetiknya, melainkan karena kemiripan visualnya yang mencolok dengan tokoh politik kenamaan Amerika Serikat, Donald Trump. Hewan mamalia besar ini memiliki ciri khas rambut pirang panjang yang menjuntai di bagian dahi, sebuah anomali alam yang jarang ditemukan pada spesiesnya.

Seiring mendekatnya hari raya Idul Adha, kerbau ini telah bertransformasi menjadi selebriti lokal yang tak terduga. Kehadirannya tidak hanya memicu rasa penasaran warga sekitar, tetapi juga menarik perhatian media internasional yang ingin mengabadikan sosok hewan unik ini dari dekat. Fenomena ini membuktikan bagaimana karakteristik fisik yang tidak biasa dapat menciptakan narasi yang melintasi batas negara dan budaya.

Baca Juga Respon Tegas Presiden Prabowo Soal Pelemahan Rupiah: Indonesia Tetap Kokoh dan Menjadi Penopang Pangan Dunia
Respon Tegas Presiden Prabowo Soal Pelemahan Rupiah: Indonesia Tetap Kokoh dan Menjadi Penopang Pangan Dunia

Fenomena ‘Donald Trump’ di Tanah Bangladesh

Terletak di distrik Narayanganj, tak jauh dari hiruk-pikuk ibu kota Dhaka, sebuah peternakan sederhana mendadak menjadi destinasi wisata dadakan. Kerbau albino seberat hampir 700 kilogram ini berdiri dengan gagah, memamerkan bulu pirang keemasannya yang kontras dengan kulit kemerahannya. Para pengunjung yang datang dari berbagai penjuru wilayah mengaku terpana dengan penampilan hewan tersebut yang dianggap membawa aura berbeda dibandingkan ternak pada umumnya.

Kemiripan dengan Donald Trump sebenarnya bermula dari rambut di dahi kerbau tersebut yang tumbuh lebat dan berwarna pirang terang. Gaya rambut alami ini secara kebetulan menyerupai tatanan rambut ikonik mantan Presiden AS tersebut. Tak butuh waktu lama bagi warga net untuk memberikan julukan ‘Donald Trump’ kepada sang kerbau, menjadikannya perbincangan hangat dalam indeks pencarian viral media sosial belakangan ini.

Baca Juga Terkuak! Motif di Balik Video Viral Pria Bersimbah Darah di Grogol Petamburan, Polisi: Dendam Asmara, Bukan Begal
Terkuak! Motif di Balik Video Viral Pria Bersimbah Darah di Grogol Petamburan, Polisi: Dendam Asmara, Bukan Begal

Alasan di Balik Nama yang Kontroversial

Pemilik peternakan, Ziauddin Mridha, menjelaskan bahwa pemberian nama tersebut bukanlah sebuah agenda politik, melainkan murni karena kemiripan fisik yang dilihat oleh adiknya. “Adik laki-laki saya yang pertama kali menyadari kemiripan itu. Ia menamai kerbau itu Donald Trump karena rambut pirang di bagian depan kepalanya benar-benar menyerupai gaya rambut Donald Trump yang sering kami lihat di televisi,” ungkap Mridha kepada tim liputan.

Meski memiliki nama yang identik dengan sosok yang sering memicu kontroversi, kerbau ini justru memiliki kepribadian yang sangat bertolak belakang. Mridha menegaskan bahwa kerbau albino ini adalah salah satu hewan peliharaan yang paling lembut di peternakannya. Karakteristik ini sejalan dengan sifat umum kerbau albino yang cenderung lebih tenang dan tidak agresif dibandingkan varietas kerbau hitam biasa, asalkan tidak mendapatkan provokasi yang berlebihan.

Baca Juga Visi Progresif Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo: Mengatur Penempatan Jabatan Sipil dengan Prinsip Resiprokal dan Transparansi
Visi Progresif Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo: Mengatur Penempatan Jabatan Sipil dengan Prinsip Resiprokal dan Transparansi

Perawatan Ekstra di Balik Kilau Rambut Pirang

Menjaga penampilan ‘Donald Trump’ agar tetap prima bukanlah perkara mudah. Hewan ini memerlukan dedikasi dan perhatian khusus yang jauh lebih intens dibandingkan hewan kurban lainnya. Menurut penuturan Ziauddin Mridha, kerbau istimewa ini harus dimandikan sebanyak empat kali dalam sehari. Hal ini dilakukan bukan sekadar untuk menjaga kebersihan, tetapi juga untuk mendinginkan suhu tubuhnya yang sensitif karena kondisi albinisme.

Selain rutinitas mandi yang ketat, pola makannya pun diatur sedemikian rupa. Pemberian pakan berkualitas tinggi dilakukan empat kali sehari untuk memastikan bobot tubuhnya tetap stabil dan kesehatannya terjaga menjelang momen penting hari raya kurban. “Hewan ini membutuhkan perhatian ekstra setiap hari. Kami ingin memastikan dia dalam kondisi terbaik sebelum diserahkan kepada pemilik barunya,” tambahnya.

Baca Juga Fenomena ‘Gunung Uang’ di Kejagung: Rp 10,2 Triliun Hasil Penertiban Hutan Diserahkan ke Negara
Fenomena ‘Gunung Uang’ di Kejagung: Rp 10,2 Triliun Hasil Penertiban Hutan Diserahkan ke Negara

Kerumunan Warga dan Demam Selfie

Daya tarik sang kerbau pirang ini telah menciptakan gelombang massa yang datang setiap hari ke peternakan Mridha. Bukan hanya warga lokal, banyak orang dari distrik yang jauh rela menempuh perjalanan berjam-jam hanya demi sebuah foto selfie atau video pendek untuk diunggah ke platform TikTok dan Instagram. Keramaian ini menciptakan suasana meriah yang jarang terlihat di lingkungan peternakan tradisional tersebut.

Fenomena ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh konten visual di era digital. Foto-foto kerbau ‘Donald Trump’ yang beredar di internet telah mengubah sebuah peternakan biasa menjadi panggung hiburan masyarakat. Banyak pengunjung yang merasa terhibur dengan keunikan ini di tengah persiapan mereka menyambut Idul Adha yang biasanya penuh dengan rutinitas belanja ternak yang monoton.

Baca Juga Kedok Panas Aplikasi Hot51 Terbongkar: Polda Metro Ringkus Host yang Promosikan Judi Online Lewat Konten Dewasa
Kedok Panas Aplikasi Hot51 Terbongkar: Polda Metro Ringkus Host yang Promosikan Judi Online Lewat Konten Dewasa

Tren Nama Selebriti pada Hewan Kurban

Bangladesh, sebagai negara dengan mayoritas penduduk Muslim, memiliki tradisi unik setiap tahunnya menjelang Idul Adha. Munculnya hewan-hewan kurban dengan ukuran raksasa atau penampilan eksentrik sering kali menjadi daya tarik utama di pasar ternak. Memberi nama hewan dengan nama-nama selebriti atau tokoh dunia telah menjadi strategi pemasaran yang efektif bagi para peternak untuk menarik minat pembeli kelas atas.

Pemberian nama ‘Donald Trump’ pada kerbau albino ini adalah contoh terbaru dari tren tersebut. Sebelumnya, sempat viral juga sapi-sapi besar yang diberi nama aktor Bollywood atau atlet sepak bola terkenal. Strategi ini terbukti ampuh dalam meningkatkan nilai jual hewan, sekaligus memberikan hiburan tersendiri bagi masyarakat yang memantau perkembangan berita dunia hewan di media massa.

Kelangkaan Genetik dan Nilai Keunikan

Secara biologis, kerbau albino merupakan sebuah fenomena langka di Bangladesh. Mayoritas kerbau di kawasan Asia Selatan memiliki pigmentasi kulit yang gelap atau hitam legam. Munculnya individu dengan tubuh berwarna krem, hidung merah muda, dan rambut pirang adalah sebuah anomali genetik yang menarik bagi para pengamat fauna.

Keunikan fisik ini membuat kerbau ‘Donald Trump’ berdiri menonjol di antara ribuan hewan ternak lainnya yang dipersiapkan untuk disembelih. Warna kulitnya yang terang memberikan kesan bersih dan elegan, yang sering kali diasosiasikan dengan kemurnian dalam beberapa konteks budaya lokal. Tak heran jika kerbau ini menjadi primadona dan salah satu aset paling berharga di wilayah Narayanganj tahun ini.

Takdir Akhir Sang Selebriti Berkaki Empat

Meskipun telah menjadi selebriti dan sangat dicintai oleh pengunjung, takdir kerbau ‘Donald Trump’ sudah ditentukan sejak awal. Sebagai hewan yang dipersiapkan untuk hari raya kurban, ia telah dibeli oleh seorang pelanggan yang beruntung. Mridha mengonfirmasi bahwa kesepakatan penjualan telah tercapai, dan hewan tersebut akan segera dikirimkan untuk prosesi penyembelihan saat Idul Adha tiba.

Bagi banyak orang, kisah ini menyisakan kesan mendalam tentang bagaimana alam bisa memberikan kejutan-kejutan kecil yang menghibur di tengah rutinitas manusia. Kerbau ‘Donald Trump’ mungkin tidak akan lagi menghiasi laman berita tahun depan, namun kehadirannya telah memberikan warna tersendiri dalam perayaan kurban di Bangladesh tahun ini. Cerita tentang si kerbau pirang ini akan terus dikenang sebagai salah satu anomali paling menarik dalam sejarah peternakan modern di Dhaka.

Penulis: Tim Redaksi RadarLokal
Editor: Gaya Penulisan Jurnalistik Profesional

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *