Melampaui Sekadar Penunjuk Waktu: Bagaimana AI Smartwatch Diam-diam Mendikte Hidup dan Identitas Kita

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
27 Mei 2026, 10:12 WIB
Melampaui Sekadar Penunjuk Waktu: Bagaimana AI Smartwatch Diam-diam Mendikte Hidup dan Identitas Kita

RadarLokal — Di tengah hiruk-pikuk gaya hidup urban modern, sebuah lingkaran kecil di pergelangan tangan telah bermutasi menjadi lebih dari sekadar perhiasan fungsional. Perangkat wearable, khususnya jam tangan pintar atau smartwatch, kini telah mendarah daging dalam rutinitas harian masyarakat Indonesia. Namun, di balik kemampuannya menghitung langkah kaki dan memantau detak jantung, tersimpan sebuah kekuatan besar yang jarang disadari oleh para penggunanya: kemampuan untuk membentuk ulang identitas dan perilaku manusia melalui algoritma.

Pasar perangkat wearable di tanah air memang tidak menunjukkan tanda-tanda perlambatan. Sebaliknya, tren ini terus meroket seiring dengan meningkatnya kesadaran akan gaya hidup sehat yang terintegrasi dengan teknologi. Namun, sebuah riset mendalam mengungkapkan sisi lain yang lebih filosofis sekaligus sosiologis. Jam tangan pintar berbasis kecerdasan buatan (AI) ternyata bukan sekadar alat pemantau kesehatan pasif, melainkan entitas yang aktif berinteraksi dan memengaruhi psikologi penggunanya.

Baca Juga Solusi Rumah Sehat Bebas Tungau, Reiwa Resmi Luncurkan Stick Vacuum Cleaner VS-2501STBZ dengan Teknologi Sinar UV
Solusi Rumah Sehat Bebas Tungau, Reiwa Resmi Luncurkan Stick Vacuum Cleaner VS-2501STBZ dengan Teknologi Sinar UV

Pergeseran Paradigma: Smartwatch sebagai ‘Co-Author’ Kehidupan

Sebuah temuan menarik datang dari Dr. Ressa Uli Patrissia, seorang peneliti yang baru saja mempertahankan disertasinya di Sekolah Pascasarjana Universitas Sahid. Dalam pernyataannya yang diterima oleh tim redaksi, Ressa menekankan bahwa smartwatch bukan lagi sekadar alat bantu. Perangkat ini telah berevolusi menjadi semacam pendamping pribadi atau ‘co-author’ yang turut serta menuliskan narasi kehidupan penggunanya.

Melalui penelitian berjudul ‘AI-Powered Smartwatches as a Driving Force of Individuation Communication Transformation Across Indonesian Generations’, Ressa membedah bagaimana teknologi ini masuk ke relung terdalam komunikasi individu. “Ia telah menjadi sesuatu yang memiliki kekuatan yang memengaruhi penggunanya,” tutur Ressa. Menurutnya, ada proses transformasi komunikasi individu yang sedang berlangsung secara masif, di mana manusia mulai berbagi otoritas diri dengan mesin.

Baca Juga Menembus Batas Pegunungan: Community Gateway Wamena Jadi Jantung Baru Konektivitas Digital Papua
Menembus Batas Pegunungan: Community Gateway Wamena Jadi Jantung Baru Konektivitas Digital Papua

Dalam konteks gaya hidup digital, smartwatch tidak hanya menyajikan data mentah. Ia memberikan interpretasi, saran, bahkan peringatan yang secara perlahan mengubah cara seseorang memandang dirinya sendiri. Ketika jam tangan mengatakan Anda kurang tidur atau stres, Anda cenderung mempercayainya lebih dari perasaan subjektif Anda sendiri. Inilah awal mula di mana identitas mulai dibentuk oleh input digital.

Potret Lintas Generasi: Dari Gen X hingga Gen Z

Penelitian ini menjadi semakin relevan karena melibatkan spektrum usia yang luas, mencakup 30 partisipan dari tiga generasi utama: Gen X, Milenial, dan Gen Z. Pilihan ini didasarkan pada data tahun 2024 yang menunjukkan dominasi pengguna smartwatch di Indonesia dipegang oleh Gen Z sebesar 51%, disusul ketat oleh Milenial sebanyak 49%. Pertumbuhan ini terkonsentrasi di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya.

Baca Juga Ambisi Indonesia Jadi Raksasa AI Dunia: Kolaborasi Strategis Blaize dan Datacomm Siap Ubah Lanskap Teknologi Nasional
Ambisi Indonesia Jadi Raksasa AI Dunia: Kolaborasi Strategis Blaize dan Datacomm Siap Ubah Lanskap Teknologi Nasional

Bagi Gen X, penggunaan teknologi AI dalam smartwatch mungkin dimulai sebagai alat bantu kesehatan yang praktis. Namun, bagi Gen Z yang merupakan digital native, perangkat ini adalah ekstensi dari diri mereka. Ressa menyimpulkan adanya fenomena menarik: pengguna lintas generasi di Indonesia saat ini sedang mengalami pergeseran menuju pribadi yang secara tidak sadar dikendalikan oleh algoritma.

Fenomena ini disebut sebagai transformasi komunikasi individu. Komunikasi tidak lagi hanya terjadi antara manusia dengan manusia, tetapi antara data tubuh manusia dengan mesin yang kemudian memberikan feedback balik. Lingkaran komunikasi ini menciptakan ketergantungan baru yang mendikte aktivitas harian, mulai dari jam tidur hingga target kalori yang harus dibakar.

Baca Juga Menembus Awan Papua: Community Gateway Wamena Jadi Tulang Punggung Baru Konektivitas Digital di Pegunungan
Menembus Awan Papua: Community Gateway Wamena Jadi Tulang Punggung Baru Konektivitas Digital di Pegunungan

Ancaman Dominasi Algoritma dalam Keseharian

Meskipun kecerdasan buatan menawarkan kemudahan luar biasa dalam memantau kesehatan emosional dan fisik, Ressa memberikan peringatan keras. Teknologi memang mampu mengakses data paling intim dari tubuh kita, mulai dari frekuensi tidur, detak jantung, hingga fluktuasi emosi melalui sensor canggih. Namun, otoritas tertinggi atas diri sendiri tidak boleh diserahkan sepenuhnya kepada perangkat tersebut.

“Jangan tergantung sepenuhnya pada teknologi, apalagi diarahkan oleh teknologi,” tegas Ressa. Pesan ini menjadi pengingat bahwa di balik kenyamanan fitur kesehatan yang ditawarkan, ada risiko hilangnya intuisi manusiawi. Manusia cenderung menjadi objek yang patuh pada perintah algoritma, melakukan sesuatu hanya karena diperintahkan oleh notifikasi di pergelangan tangan, bukan karena kesadaran organik dari dalam diri.

Baca Juga Revolusi Kamar Mandi Modern: Ariston Andris 3 Ubah Ritual Mandi Menjadi Pengalaman Relaksasi Pintar
Revolusi Kamar Mandi Modern: Ariston Andris 3 Ubah Ritual Mandi Menjadi Pengalaman Relaksasi Pintar

Hal ini menciptakan sebuah tantangan baru dalam kesehatan mental. Ketergantungan pada validasi data digital seringkali memicu kecemasan jika target-target yang ditetapkan oleh aplikasi tidak tercapai. Di sinilah pentingnya menjaga jarak aman antara penggunaan teknologi dan kendali atas kesadaran diri.

Masa Depan Ilmu Komunikasi di Era AI

Temuan Dr. Ressa ini juga mendapatkan apresiasi tinggi dari para akademisi, termasuk Dr. Prasetya Yoga Santosa selaku Ketua Program Studi Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Sahid. Menurut Yoga, riset ini membuka cakrawala baru dalam pengembangan ilmu komunikasi di masa depan. Ilmu komunikasi klasik yang hanya mempelajari relasi antarmanusia kini dirasa tidak lagi cukup untuk memotret realitas zaman sekarang.

“Temuan disertasi Ressa Uli Patrissia memperlihatkan bahwa ilmu komunikasi hari ini harus mampu membaca hubungan yang semakin kompleks antara manusia, data, algoritma, kecerdasan buatan, perangkat digital, dan struktur sosial masyarakat,” papar Yoga. Kita sedang memasuki era di mana batas antara subjek (manusia) dan objek (perangkat) semakin kabur.

Dalam ekosistem masyarakat digital, data bukan lagi sekadar angka statis. Data adalah bahasa baru yang menghubungkan biologis manusia dengan infrastruktur teknologi. Hal ini menuntut adanya etika komunikasi baru yang memastikan manusia tetap memiliki kedaulatan atas data dan keputusan hidupnya sendiri.

Menjaga Keseimbangan di Tengah Gempuran Inovasi

Sebagai pengguna, kita memang tidak bisa menghindari arus inovasi. Kehadiran fitur-fitur seperti pemantau risiko diabetes atau analisis pola tidur yang lebih akurat memang sangat bermanfaat untuk pencegahan penyakit sejak dini. Namun, edukasi mengenai literasi digital menjadi kunci agar kita tidak menjadi budak dari alat yang kita ciptakan sendiri.

Penting bagi setiap individu untuk kembali mendengarkan tubuh secara alami. Smartwatch seharusnya berfungsi sebagai instrumen pendukung, bukan penentu tunggal dalam pengambilan keputusan gaya hidup. Dengan memahami dampak psikologis dan sosiologis dari penggunaan AI smartwatch, diharapkan masyarakat Indonesia dapat lebih bijak dalam memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan esensi kemanusiaannya.

Pada akhirnya, teknologi adalah pelayan yang luar biasa, namun merupakan majikan yang berbahaya. Melalui kesadaran akan pengaruh algoritma ini, kita diajak untuk tetap menempatkan diri sebagai pemegang kendali utama di kursi kemudi kehidupan, sembari memanfaatkan kecanggihan di pergelangan tangan untuk meningkatkan kualitas hidup secara holistik.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *