Aksi Heroik Bersihkan Sungai Cibanten: Mengangkat 15 Ton Sampah Demi Cegah Banjir di Kota Serang

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
07 Jun 2026, 00:11 WIB
Aksi Heroik Bersihkan Sungai Cibanten: Mengangkat 15 Ton Sampah Demi Cegah Banjir di Kota Serang

RadarLokal — Aliran Sungai Cibanten yang membelah jantung Kota Serang kembali menjadi sorotan. Bukan karena keindahan panoramanya, melainkan karena kondisi darurat sampah yang sempat menyumbat nadinya. Selama dua hari penuh, sebuah aksi kolaboratif skala besar digelar untuk menyelamatkan ekosistem sungai ini dari kepungan limbah rumah tangga yang menggunung. Kerja keras ini membuahkan hasil yang mencengangkan: sebanyak 15 ton sampah berhasil dievakuasi dari dasar dan permukaan sungai guna mengembalikan kelancaran arus air.

Pemandangan memprihatinkan sebelumnya terlihat jelas di wilayah Kelurahan Unyur, Kota Serang. Sungai yang seharusnya menjadi sumber kehidupan, justru nampak seperti daratan buatan yang tersusun dari plastik dan styrofoam. Tumpukan sampah tersebut begitu padat hingga mampu menutupi sebagian besar permukaan air, menciptakan pemandangan kumuh yang mengancam kesehatan masyarakat sekitar. Kondisi ini memicu kekhawatiran mendalam akan potensi banjir besar, terutama mengingat cuaca yang kian tidak menentu.

Baca Juga Tuntutan 18 Tahun Penjara, Nadiem Makarim: Saya Tidak Pernah Menyesal Mengabdi untuk Bangsa
Tuntutan 18 Tahun Penjara, Nadiem Makarim: Saya Tidak Pernah Menyesal Mengabdi untuk Bangsa

Krisis Limbah di Kelurahan Unyur: Lautan Plastik yang Menyumbat Arus

Penyebab utama penumpukan masif ini ternyata diawali oleh kejadian alam sederhana yang berdampak fatal. Sebuah pohon besar tumbang dan melintang di tengah aliran sungai. Batang pohon tersebut kemudian berfungsi layaknya jaring raksasa yang menangkap setiap benda padat yang terbawa arus. Dalam waktu kurang dari sepekan, sampah rumah tangga yang dibuang sembarangan oleh oknum tidak bertanggung jawab mulai tersangkut dan terus menumpuk hingga membentuk hamparan limbah yang kokoh.

Dominasi sampah plastik dan styrofoam menunjukkan betapa rendahnya kesadaran akan pengelolaan sampah mandiri di tingkat rumah tangga. Material-material non-organik ini tidak hanya mencemari air secara kimiawi, tetapi secara fisik menghambat laju air (debit) sungai. Jika dibiarkan lebih lama, tekanan air yang tertahan bisa menjebol tanggul atau meluap ke pemukiman warga di sepanjang bantaran Sungai Cibanten.

Baca Juga Aksi Begal di Danau Sunter: Niat Hati Memancing, Pemancing Malah Ditodong Pisau dan Motor Dirampas
Aksi Begal di Danau Sunter: Niat Hati Memancing, Pemancing Malah Ditodong Pisau dan Motor Dirampas

Kolaborasi Lintas Sektor: Dua Hari Bergelut dengan Lumpur dan Bau

Menyadari ancaman yang kian nyata, Pemerintah Provinsi Banten melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) segera mengambil langkah taktis. Tidak sendirian, aksi bersih-bersih ini melibatkan berbagai elemen penting, mulai dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau-Ciujung-Cidurian (BBWS C3), hingga para relawan dari Komunitas Peduli Sungai Banten dan anggota Pramuka. Sinergi ini menunjukkan bahwa urusan lingkungan hidup adalah tanggung jawab kolektif.

Selama dua hari operasi pembersihan, para petugas dan relawan harus berjibaku dengan aroma tidak sedap dan lumpur hitam yang pekat. Menggunakan peralatan manual dan bantuan alat angkut, satu per satu tumpukan sampah diurai. Kerja keras ini bukan sekadar memindahkan sampah, melainkan upaya memulihkan kembali fungsi hidrologis sungai yang selama ini terabaikan oleh perilaku buruk membuang sampah ke aliran air.

Baca Juga Misi Kemanusiaan Berdarah: Total 9 WNI Ditahan Militer Israel dalam Pelayaran Sumud Flotilla 2026
Misi Kemanusiaan Berdarah: Total 9 WNI Ditahan Militer Israel dalam Pelayaran Sumud Flotilla 2026

Tantangan Medan: Ketika Teknologi Terbentur Lokasi yang Sulit

Salah satu kendala terbesar dalam proses evakuasi sampah di Sungai Cibanten adalah aksesibilitas. Lulu Jamaludin, Ketua Komunitas Peduli Sungai Banten, mengungkapkan bahwa banyak titik penumpukan sampah berada di area yang tidak terjangkau oleh alat berat seperti ekskavator. Hal ini memaksa tim di lapangan untuk bekerja lebih ekstra menggunakan metode manual.

“Karena berada di titik yang tidak bisa dilalui kendaraan berat, sampah harus diurai secara manual dan dipindahkan terlebih dahulu ke lokasi yang memungkinkan untuk dilakukan pengangkutan ke daratan,” jelas Lulu saat ditemui di lokasi kegiatan. Proses estafet sampah ini memakan waktu dan energi yang cukup besar. Setelah berhasil dikumpulkan di pinggir jalan yang memadai, barulah armada dump truck dari pemerintah dikerahkan untuk membawa limbah tersebut menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cilowong.

Baca Juga Misi Damai di Tengah Bara: Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama Tiga Pekan
Misi Damai di Tengah Bara: Trump Umumkan Perpanjangan Gencatan Senjata Israel-Lebanon Selama Tiga Pekan

Total sampah yang diangkut mencapai 15 ton, yang setara dengan lima rit perjalanan dump truck. Setiap kendaraan tercatat mengangkut kurang lebih tiga ton sampah. Angka ini menjadi alarm keras bagi warga Kota Serang bahwa volume sampah yang masuk ke sungai sudah dalam tahap yang sangat mengkhawatirkan.

Pesan dari Pemerintah: Sungai Bukan Tempat Sampah Raksasa

Kepala Dinas PUPR Provinsi Banten, Arlan Marzan, menegaskan bahwa kegiatan ini tidak boleh berhenti hanya pada pengangkutan fisik saja. Baginya, aspek edukasi jauh lebih krusial untuk mencegah kejadian serupa terulang kembali di masa depan. Pemerintah ingin mengubah pola pikir masyarakat yang selama ini menganggap sungai sebagai tempat pembuangan sampah paling praktis dan murah.

Baca Juga Kontroversi Tudingan Amien Rais Terhadap Prabowo dan Teddy: Antara Kebebasan Berpendapat dan Fitnah Digital
Kontroversi Tudingan Amien Rais Terhadap Prabowo dan Teddy: Antara Kebebasan Berpendapat dan Fitnah Digital

“Pemerintah Provinsi Banten bersama para relawan dan adik-adik Pramuka melakukan aksi ini bukan hanya untuk membersihkan, tetapi sebagai simbol edukasi. Kami memohon dengan sangat agar masyarakat berhenti membuang sampah ke sungai,” tegas Arlan. Ia menambahkan bahwa hasil monitoring relawan menjadi kunci deteksi dini sebelum tumpukan sampah menjadi terlalu besar untuk ditangani.

Arlan juga mengingatkan dampak jangka panjang dari kebiasaan buruk ini. Selain merusak estetika kota, sampah yang menumpuk mempersempit penampang sungai. Saat intensitas hujan tinggi, sungai tidak lagi mampu menampung debit air yang meningkat, sehingga luapan air ke pemukiman atau banjir bandang menjadi konsekuensi logis yang harus ditanggung oleh masyarakat itu sendiri.

Layanan Pelaporan: Peran Aktif Masyarakat Sangat Dibutuhkan

Sebagai langkah preventif ke depan, Pemerintah Provinsi Banten mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk lebih proaktif. Warga diminta tidak ragu melaporkan jika melihat adanya titik-titik penumpukan sampah baru atau adanya aktivitas pembuangan sampah ilegal ke sungai. Laporan bisa disampaikan melalui perangkat lingkungan terkecil seperti Ketua RT, hingga ke tingkat Kelurahan, Kecamatan, maupun melalui kanal resmi pemerintah kota dan provinsi.

“Kami berharap masyarakat ikut menjaga sungai. Jika ada kendala terkait penanganan sampah di lingkungan masing-masing, segera informasikan agar dapat kita tangani bersama secara cepat sebelum dampaknya meluas,” tutup Arlan. Kesadaran untuk menjaga kebersihan lingkungan harus dimulai dari diri sendiri, keluarga, hingga menjadi budaya komunal yang kuat.

Menatap Masa Depan Sungai Cibanten yang Lebih Sehat

Upaya yang dilakukan oleh tim gabungan di Sungai Cibanten ini merupakan pengingat bagi kita semua bahwa alam memiliki batas toleransi. 15 ton sampah yang berhasil diangkat hanyalah sebagian kecil dari potret besar tantangan pengelolaan limbah di perkotaan. Diperlukan konsistensi dalam penegakan aturan serta penyediaan sarana prasarana pembuangan sampah yang memadai agar sungai tidak lagi menjadi korban.

Sungai Cibanten memiliki potensi besar untuk menjadi ruang publik yang asri jika dikelola dengan baik. Namun, impian tersebut hanya bisa terwujud jika ada kolaborasi harmonis antara kebijakan pemerintah yang tegas dan partisipasi aktif masyarakat dalam menjaga kelestarian alam. Mari jadikan momentum bersih-bersih ini sebagai titik balik untuk mewujudkan Kota Serang yang lebih bersih, sehat, dan bebas dari ancaman banjir akibat sampah.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *