Revolusi Jalur Hijau: Strategi Masif KAI Atasi Lonjakan Penumpang KRL Tanah Abang-Rangkasbitung

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
07 Jun 2026, 16:11 WIB
Revolusi Jalur Hijau: Strategi Masif KAI Atasi Lonjakan Penumpang KRL Tanah Abang-Rangkasbitung

RadarLokal — Menjadi andalan utama bagi ribuan pelaju setiap harinya, lintasan KRL Green Line yang menghubungkan Tanah Abang hingga Rangkasbitung kini bersiap memasuki babak baru dalam transformasi infrastruktur. PT Kereta Api Indonesia (Persero) bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian (DJKA) Kementerian Perhubungan tengah menggodok rencana besar untuk melakukan pemutakhiran fitur pada jalur yang dikenal sebagai salah satu rute paling padat di wilayah Jabodetabek ini. Langkah ini bukan sekadar pemeliharaan rutin, melainkan sebuah upaya sistematis untuk memperkuat sistem kelistrikan dan memodernisasi persinyalan guna menampung volume penumpang yang terus membengkak.

Tantangan Mobilitas di Jalur Penyangga Barat

Lintas KRL Green Line telah lama menjadi urat nadi bagi masyarakat yang bermukim di pinggiran Jakarta, khususnya wilayah Barat. Kawasan ini merupakan titik pertemuan antara zona pemukiman yang berkembang pesat dengan pusat-pusat ekonomi, pendidikan, hingga layanan publik di ibu kota. Namun, pertumbuhan jumlah penduduk yang bermigrasi ke area penyangga seperti Serpong, Parung Panjang, hingga Rangkasbitung tidak serta merta dibarengi dengan kapasitas infrastruktur kereta yang mencukupi.

Baca Juga Rupiah Terpuruk di Level Rp 17.300: Mengurai Dilema Bank Indonesia di Tengah Badai Global dan Beban Fiskal
Rupiah Terpuruk di Level Rp 17.300: Mengurai Dilema Bank Indonesia di Tengah Badai Global dan Beban Fiskal

Direktur Utama PT Kereta Api Indonesia (Persero), Bobby Rasyidin, mengungkapkan bahwa kepadatan yang terjadi di lintas ini dipicu oleh keterbatasan sarana teknis yang ada saat ini. Dengan permintaan masyarakat terhadap layanan KRL Commuter Line rute Rangkasbitung yang terus melesat, KAI merasa perlu mengambil langkah progresif. Upaya ini dilakukan agar perjalanan pelanggan tidak hanya sekadar sampai tujuan, tetapi juga memberikan aspek kenyamanan dan frekuensi keberangkatan yang lebih banyak.

Angka yang Berbicara: Lonjakan Penumpang yang Tak Terbendung

Jika menilik data statistik yang dirilis oleh KAI, terlihat jelas betapa krusialnya jalur ini bagi mobilitas warga. Pada tahun 2022, jumlah pengguna tercatat di angka 43,3 juta orang. Namun, angka ini melonjak drastis menjadi 62 juta pada 2023, dan terus merangkak naik hingga menyentuh hampir 70 juta pelanggan pada tahun 2024. Puncaknya, pada tahun 2025, volume penumpang mencapai 77,5 juta jiwa. Memasuki pertengahan tahun 2026, tren kenaikan ini masih sulit diredam, di mana dalam lima bulan pertama saja sudah ada 33,3 juta orang yang menggunakan jasa kereta api di lintas ini.

Baca Juga Diplomasi Tanpa Henti: Menakar Hasil Nyata Lawatan Luar Negeri Prabowo yang Tembus Investasi Rp 2.430 Triliun
Diplomasi Tanpa Henti: Menakar Hasil Nyata Lawatan Luar Negeri Prabowo yang Tembus Investasi Rp 2.430 Triliun

Kondisi ini menciptakan fenomena okupansi yang cukup mencengangkan. Pada jam sibuk, tingkat keterisian atau okupansi di Rangkasbitung Line mencapai angka 161%. Sebagai gambaran, angka ini jauh melampaui lintas Bogor yang berada di kisaran 130% atau lintas Bekasi/Cikarang yang menyentuh 140%. Tingginya angka ini menunjukkan bahwa dalam setiap gerbong, jumlah penumpang sudah jauh melebihi kapasitas ideal, sebuah tantangan nyata bagi transportasi publik di kota metropolitan.

Memperkuat Otot Kelistrikan: Solusi untuk Rangkaian 12 Kereta

Salah satu hambatan teknis utama yang dihadapi saat ini adalah kapasitas daya listrik. Saat ini, sistem Listrik Aliran Atas (LAA) di lintas Tanah Abang-Rangkasbitung masih berada pada level 3.000 volt. Angka ini tertinggal dibandingkan dengan jalur Bogor atau Bekasi yang sudah ditopang oleh daya sebesar 4.000 volt. Perbedaan daya ini menjadi alasan mengapa rangkaian kereta dengan stamformasi 12 (SF12) belum bisa dioperasikan secara maksimal di jalur ini.

Baca Juga Waspada Jeratan Asmara Digital: OJK Ungkap Love Scam Berbasis AI Kuras Triliunan Rupiah dari Dompet Masyarakat
Waspada Jeratan Asmara Digital: OJK Ungkap Love Scam Berbasis AI Kuras Triliunan Rupiah dari Dompet Masyarakat

Untuk mengatasi kebuntuan tersebut, KAI berencana menambah 11 unit gardu traksi baru di sepanjang lintasan. Penambahan gardu ini bertujuan untuk memperkuat pasokan listrik sehingga mampu menyokong operasional kereta yang lebih panjang. Dengan adanya dukungan daya yang stabil, operasional rangkaian 12 kereta bukan lagi sekadar impian. Hal ini akan secara otomatis meningkatkan kapasitas angkut dalam sekali perjalanan, memberikan ruang gerak yang lebih lega bagi penumpang, dan mengurangi penumpukan di peron stasiun selama jam sibuk KRL.

Modernisasi Persinyalan: Menghapus Antrean Panjang

Selain urusan kelistrikan, sistem persinyalan juga menjadi fokus utama dalam proyek pembaruan ini. Selama ini, sebagian besar lintas Rangkasbitung masih mengandalkan sistem blok tertutup. Sistem konvensional ini memiliki keterbatasan di mana satu blok perjalanan hanya boleh diisi oleh satu rangkaian kereta dalam satu waktu. Akibatnya, jarak antar kereta atau headway menjadi cukup lebar, yakni sekitar 10 menit.

Baca Juga Masa Depan Manajer Kopdes Merah Putih: Transformasi Status Pegawai BUMN Menuju Profesionalisme Koperasi
Masa Depan Manajer Kopdes Merah Putih: Transformasi Status Pegawai BUMN Menuju Profesionalisme Koperasi

Dibandingkan dengan lintas Bekasi atau Bogor yang sudah memiliki headway 3 hingga 4 menit, pengguna Jalur Hijau tentu merasa waktu tunggu mereka jauh lebih lama. Melalui program modernisasi yang dicanangkan bersama Direktorat Jenderal Perkeretaapian, sistem persinyalan akan ditingkatkan untuk memungkinkan frekuensi perjalanan yang lebih rapat. Modernisasi ini diharapkan mampu memangkas waktu tunggu penumpang secara signifikan dan mendistribusikan beban penumpang secara lebih merata ke berbagai jadwal keberangkatan.

Sinergi Menuju Standar Layanan Internasional

Proyek ambisius ini tidak dijalankan sendirian oleh KAI. Diperlukan koordinasi yang erat dengan DJKA Kementerian Perhubungan sebagai regulator utama. Kolaborasi ini mencakup perencanaan strategis, mulai dari aspek teknis penguatan daya, pengembangan kapasitas lintas, hingga implementasi teknologi operasi yang paling mutakhir. Semua ini dilakukan demi menjawab pertumbuhan kebutuhan mobilitas masyarakat yang dinamis di koridor Tanah Abang-Rangkasbitung.

Baca Juga Menepis Bayang Krisis 1998: Purbaya Yudhi Sadewa Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh di Tengah Sentimen Pasar
Menepis Bayang Krisis 1998: Purbaya Yudhi Sadewa Pastikan Fundamental Ekonomi Indonesia Tetap Kokoh di Tengah Sentimen Pasar

Bobby Rasyidin menegaskan bahwa peningkatan kapasitas harus dilakukan secara holistik. Tidak bisa hanya memperbaiki satu sisi saja. Sarana, daya listrik, hingga sistem persinyalan harus ditingkatkan secara bersamaan agar ekosistem perkeretaapian bisa berjalan harmonis. Dengan langkah-langkah konkret ini, KAI optimis dapat menghadirkan layanan yang tidak hanya handal secara operasional, tetapi juga manusiawi bagi para penggunanya.

Harapan Baru bagi Penglaju Green Line

Bagi para pejuang transportasi umum yang setiap hari berdesakan di lintas Rangkasbitung, rencana ini membawa angin segar. Dengan kapasitas angkut yang lebih besar dan waktu tunggu yang lebih singkat, kualitas hidup para pelaju diharapkan akan meningkat. Mereka tidak perlu lagi khawatir tertinggal kereta yang berujung pada keterlambatan masuk kantor atau pulang ke rumah.

Pemerintah dan KAI tampaknya sadar betul bahwa investasi pada infrastruktur kereta api adalah investasi jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi nasional. Jalur kereta yang efisien akan mengurangi ketergantungan masyarakat pada kendaraan pribadi, yang pada gilirannya akan membantu menekan angka kemacetan dan polusi udara di Jakarta dan sekitarnya. Transformasi Green Line ini adalah langkah awal menuju sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan modern, sejajar dengan kota-kota besar lainnya di dunia.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *