Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
07 Jun 2026, 20:13 WIB
Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi

RadarLokal — Kondisi pasar domestik tengah menunjukkan dinamika yang cukup kontras menjelang pertengahan tahun 2026. Berdasarkan laporan terbaru yang dihimpun dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) Bank Indonesia, terlihat adanya tren pergeseran nilai jual pada sejumlah komoditas utama. Meski secara umum mayoritas harga pangan menunjukkan grafik penurunan, namun konsumen tetap harus waspada terhadap lonjakan harga pada sektor bumbu dapur dan minyak goreng yang mulai merangkak naik secara perlahan namun pasti.

Memasuki periode akhir Mei hingga awal Juni 2026, fluktuasi harga ini menjadi perhatian serius bagi para pelaku usaha mikro dan ibu rumah tangga. Fenomena ini mencerminkan betapa sensitifnya rantai pasok pangan kita terhadap perubahan musim dan pola distribusi di berbagai wilayah Indonesia. RadarLokal mencatat bahwa kenaikan yang terjadi pada minyak goreng dan bawang merah memberikan tekanan tambahan pada daya beli masyarakat, mengingat keduanya adalah komponen fundamental dalam pengolahan pangan harian.

Baca Juga Guncangan di Pasar Logam Mulia: Harga Emas Antam Hari Ini Terperosok Rp 50.000 per Gram
Guncangan di Pasar Logam Mulia: Harga Emas Antam Hari Ini Terperosok Rp 50.000 per Gram

Komoditas Bumbu Dapur: Bawang Merah Makin “Pedas” di Kantong

Salah satu sorotan utama dalam pantauan harga kali ini adalah kenaikan signifikan pada komoditas harga bawang merah. Berdasarkan data yang dirilis pada Minggu (24/5/2026), bawang merah ukuran sedang mengalami kenaikan harga sebesar 6,99 persen. Jika sebelumnya harga masih berada di level yang lebih rendah, kini konsumen harus merogoh kocek hingga Rp 54.350 per kilogram. Kenaikan ini dinilai cukup tajam untuk skala mingguan, mengingat bawang merah merupakan salah satu penyumbang inflasi yang cukup konsisten di pasar tradisional.

Tidak hanya bawang merah, bawang putih pun ikut terseret dalam arus kenaikan meskipun dalam persentase yang lebih kecil. Harga bawang putih ukuran sedang terpantau naik 0,52 persen menjadi Rp 38.850 per kilogram. Para pedagang di pasar tradisional menyebutkan bahwa terbatasnya stok dari daerah penghasil serta kendala logistik menjadi pemicu utama harga bumbu-bumbuan ini sulit ditekan ke level normal.

Baca Juga VKTR Menggebrak Kuartal I-2026: Laba Melonjak 823% Hingga Pasokan Bus Listrik Transjakarta yang Kian Dominan
VKTR Menggebrak Kuartal I-2026: Laba Melonjak 823% Hingga Pasokan Bus Listrik Transjakarta yang Kian Dominan

Sektor Minyak Goreng: Tren Kenaikan yang Terus Berlanjut

Beralih ke sektor kebutuhan cair, harga minyak goreng di seluruh jenis juga terpantau kompak mengalami apresiasi harga. Minyak goreng curah, yang biasanya menjadi tumpuan masyarakat menengah ke bawah, naik sebesar 0,73 persen menjadi Rp 20.700 per kilogram. Kondisi ini tentu menjadi tantangan tersendiri bagi para pengusaha kuliner kecil yang sangat bergantung pada stabilitas harga minyak curah.

Sementara itu, bagi mereka yang lebih memilih produk kemasan, harga minyak goreng kemasan bermerek 1 kini dibanderol di angka Rp 24.050 per kilogram, mengalami kenaikan sebesar 0,21 persen. Minyak goreng kemasan bermerek 2 pun tidak mau kalah dengan kenaikan 0,22 persen ke angka Rp 23.200 per kilogram. Tren kenaikan harga minyak ini seolah mempertegas bahwa komoditas ini tetap menjadi salah satu faktor yang membuat biaya hidup di perkotaan semakin meningkat secara bertahap.

Baca Juga Revolusi Tata Kelola Tambang: ESDM Godok Skema Gross Split dan Cost Recovery untuk Maksimalkan Pendapatan Negara
Revolusi Tata Kelola Tambang: ESDM Godok Skema Gross Split dan Cost Recovery untuk Maksimalkan Pendapatan Negara

Dilema Harga Cabai: Turun Persentase, Tetap Tinggi Nominal

Kabar yang sedikit melegakan datang dari komoditas cabai-cabaian. Namun, istilah “turun harga” di sini nampaknya masih terasa semu bagi sebagian besar konsumen. Mengapa demikian? Karena meskipun persentase penurunannya cukup drastis, harga nominalnya masih bertengger di atas angka psikologis Rp 50.000 per kilogram. Sebagai contoh, harga cabai rawit merah hari ini tercatat turun sebesar 8,19 persen. Namun, harga akhirnya tetap berada di angka Rp 75.700 per kilogram—sebuah harga yang masih dianggap sangat tinggi untuk ukuran normal.

Kondisi serupa terjadi pada cabai merah keriting yang mengalami terjun bebas sebesar 12,61 persen. Sayangnya, penurunan besar ini hanya membawa harganya ke level Rp 61.000 per kilogram. Begitu pula dengan cabai merah besar yang turun 11,64 persen menjadi Rp 64.550 per kilogram. Fenomena ini menunjukkan bahwa meskipun pasokan mulai masuk ke pasar, harga dasar cabai di tingkat petani mungkin masih tinggi akibat biaya produksi yang membengkak di tengah perubahan iklim yang tidak menentu di tahun 2026 ini.

Baca Juga Inovasi QORD TECH Pertamina EP: Terobosan Teknologi yang Berhasil Mengantongi Cuan Tambahan Rp 23,8 Miliar
Inovasi QORD TECH Pertamina EP: Terobosan Teknologi yang Berhasil Mengantongi Cuan Tambahan Rp 23,8 Miliar

Stabilitas Harga Beras: Pondasi Ketahanan Pangan Nasional

Beras, sebagai komoditas paling strategis, menunjukkan pergerakan yang lebih stabil namun tetap ada sedikit kenaikan pada kualitas tertentu. Harga beras kualitas medium I terpantau tetap di angka Rp 16.200 per kilogram. Hal ini memberikan sedikit kepastian bagi mayoritas penduduk yang mengandalkan beras kualitas ini untuk konsumsi harian. Namun, untuk beras kualitas premium, trennya masih menunjukkan kenaikan tipis.

Beras kualitas super I misalnya, naik 0,29 persen menjadi Rp 17.500 per kilogram. Bahkan beras kualitas bawah I juga ikut naik 0,34 persen menjadi Rp 14.650 per kilogram. Kenaikan tipis pada beras ini seringkali dianggap wajar akibat pengaruh siklus panen raya yang belum merata di seluruh sentra produksi nasional. RadarLokal melihat bahwa kebijakan pemerintah dalam mengelola cadangan beras nasional akan sangat menentukan apakah stabilitas ini bisa bertahan hingga akhir tahun nanti.

Baca Juga Horor di Perbatasan: Kala Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh dan Ribuan Pekerja Terjebak dalam Ketidakpastian
Horor di Perbatasan: Kala Sistem Imigrasi Malaysia Lumpuh dan Ribuan Pekerja Terjebak dalam Ketidakpastian

Rincian Lengkap Harga Pangan Nasional per Juni 2026

Untuk memudahkan Anda merencanakan belanja bulanan, berikut adalah daftar lengkap rincian harga pangan berdasarkan data PIHPS per Minggu, 7 Juni 2026:

  • Beras Kualitas Super I: Rp 17.500/kg (Naik 0,29%)
  • Beras Kualitas Super II: Rp 16.950/kg (Harga Tetap)
  • Beras Kualitas Bawah I: Rp 14.650/kg (Naik 0,34%)
  • Beras Kualitas Bawah II: Rp 14.450/kg (Harga Tetap)
  • Beras Medium I: Rp 16.200/kg (Harga Tetap)
  • Beras Medium II: Rp 16.050/kg (Harga Tetap)
  • Gula Pasir Lokal: Rp 19.100/kg (Turun 0,26%)
  • Minyak Goreng Curah: Rp 20.700/kg (Naik 0,73%)
  • Minyak Goreng Kemasan Bermerek 1: Rp 24.050/kg (Naik 0,21%)
  • Minyak Goreng Bermerek 2: Rp 23.200/kg (Naik 0,22%)
  • Telur Ayam Ras Segar: Rp 30.400/kg (Turun 0,33%)
  • Cabai Merah Besar: Rp 64.550/kg (Turun 11,64%)
  • Cabai Merah Keriting: Rp 61.000/kg (Turun 12,61%)
  • Cabai Rawit Hijau: Rp 55.350/kg (Turun 7,21%)
  • Cabai Rawit Merah: Rp 75.700/kg (Turun 8,19%)
  • Daging Ayam Ras Segar: Rp 38.150/kg (Turun 2,68%)
  • Daging Sapi Kualitas 1: Rp 148.500/kg (Turun 1,46%)
  • Daging Sapi Kualitas 2: Rp 140.100/kg (Turun 0,74%)
  • Bawang Merah Ukuran Sedang: Rp 54.350/kg (Naik 6,99%)
  • Bawang Putih Ukuran Sedang: Rp 38.850/kg (Naik 0,52%)
  • Gula Pasir Kualitas Premium: Rp 20.250/kg (Harga Tetap)

Tinjauan Ekonomi: Menimbang Dampak Inflasi Pangan

Melihat fluktuasi yang terjadi, para ahli ekonomi menyarankan agar pemerintah terus melakukan intervensi pasar, terutama pada komoditas minyak goreng dan bawang merah yang trennya sedang menanjak. Inflasi pangan merupakan salah satu musuh utama stabilitas ekonomi makro karena berdampak langsung pada daya beli masyarakat paling bawah. Penurunan harga daging sapi dan ayam mungkin bisa sedikit memberikan nafas lega, namun kenaikan pada bumbu dasar dan minyak goreng tetap akan dirasakan dampaknya saat ibu rumah tangga memasak di dapur.

Kita semua berharap bahwa distribusi pangan di bulan-bulan mendatang akan semakin lancar. Dengan perbaikan infrastruktur logistik yang terus digalakkan, diharapkan disparitas harga antar wilayah di Indonesia dapat diminimalisir. Tetap pantau perkembangan harga kebutuhan pokok Anda hanya di RadarLokal untuk mendapatkan informasi yang akurat dan terpercaya langsung dari sumbernya.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *