Misteri Truk Maut Cikupa Terungkap: Jejak Pelarian Sang Sopir dan Duka Mendalam Dunia Pramuka

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
12 Jun 2026, 16:10 WIB
Misteri Truk Maut Cikupa Terungkap: Jejak Pelarian Sang Sopir dan Duka Mendalam Dunia Pramuka

RadarLokal — Tabir gelap yang menyelimuti kasus tabrak lari tragis di kawasan Cikupa akhirnya tersingkap. Setelah melakukan pengejaran intensif lintas kota, aparat kepolisian berhasil mengamankan pelaku sekaligus kendaraan besar yang menjadi saksi bisu tewasnya tokoh pramuka legendaris, Herman Sulistyo. Penangkapan ini mengakhiri spekulasi publik dan memberikan titik terang bagi keluarga serta ribuan anggota pramuka yang merasa kehilangan sosok panutan.

Peristiwa memilukan yang terjadi pada Minggu dini hari itu sempat menyisakan tanda tanya besar. Namun, berkat kerja keras tim penyidik, sebuah truk Fuso berwarna hijau yang diduga kuat sebagai kendaraan maut tersebut kini telah berada di bawah pengawasan pihak berwenang. Kendaraan logistik dengan nomor polisi D 8319 GL itu ditemukan dalam kondisi yang menjadi bukti kunci atas insiden yang merenggut nyawa pria yang akrab disapa Kak Herman tersebut.

Baca Juga Diplomasi Budaya di Kraton Jogja: Megawati dan Sultan HB X Gelar Pertemuan Tertutup Selama 3,5 Jam
Diplomasi Budaya di Kraton Jogja: Megawati dan Sultan HB X Gelar Pertemuan Tertutup Selama 3,5 Jam

Kronologi Penangkapan Pelaku di Bandung

Pengejaran terhadap pelaku tidak memakan waktu lama setelah polisi berhasil mengidentifikasi identitas kendaraan melalui rekaman CCTV dan keterangan sejumlah saksi di lokasi kejadian. Pelaku yang berinisial AD (21) ditangkap tanpa perlawanan di kediamannya yang berlokasi di Kecamatan Cikalongwetan, Kabupaten Bandung, pada Kamis malam.

Kapolresta Tangerang, Kombes Andi Muhammad Indra Waspada Amirullah, dalam keterangan resminya menyatakan bahwa penangkapan ini merupakan hasil koordinasi cepat antar wilayah. “Kami tidak hanya mengamankan tersangka AD, tetapi juga menyita satu unit kendaraan roda enam jenis Fuso sebagai barang bukti utama,” ujar Indra pada Jumat (12/6/2026). Penangkapan ini menjadi penegasan bahwa hukum akan tetap mengejar siapa pun yang mencoba lari dari tanggung jawab setelah terlibat dalam tabrak lari.

Baca Juga Tragedi Dini Hari di Pamulang: Si Jago Merah Lahap Dua Rumah, Enam Warga Alami Luka Bakar Serius
Tragedi Dini Hari di Pamulang: Si Jago Merah Lahap Dua Rumah, Enam Warga Alami Luka Bakar Serius

AD saat ini tengah menjalani pemeriksaan intensif untuk mendalami motif dan alasan mengapa ia memilih untuk meninggalkan korban yang tergeletak di jalan raya tanpa memberikan pertolongan. Polisi menduga ada unsur kelalaian yang sangat fatal dalam insiden tersebut, mengingat besarnya ukuran kendaraan yang dikemudikan oleh pemuda berusia 21 tahun tersebut.

Malam Kelabu di Desa Bitung Jaya

Insiden maut ini bermula pada Minggu (7/6) sekitar pukul 01.00 WIB. Saat sebagian besar warga Tangerang tengah terlelap, Kak Herman, yang dikenal sangat aktif meski telah menginjak usia 71 tahun, sedang menjalani kegemarannya bersepeda (gowes) di kawasan Desa Bitung Jaya, Kecamatan Cikupa. Kawasan ini memang dikenal sebagai jalur padat logistik yang sering dilalui truk-truk besar menuju kawasan industri.

Baca Juga Revolusi SPMB Surabaya 2026: Sinergi Adminduk dan Jalur Prestasi yang Lebih Transparan
Revolusi SPMB Surabaya 2026: Sinergi Adminduk dan Jalur Prestasi yang Lebih Transparan

Naas, saat melintasi jalur tersebut, sepeda yang dikayuh Kak Herman dihantam oleh truk Fuso yang dikemudikan AD. Benturan keras tersebut membuat korban terpental dan mengalami luka yang sangat serius. Ironisnya, alih-alih berhenti untuk membantu, sopir truk justru memacu kendaraannya meninggalkan lokasi kejadian dalam kegelapan malam. Warga dan petugas yang kemudian tiba di lokasi segera mengevakuasi korban ke RSUD Balaraja, namun nyawa sang tokoh pramuka tidak dapat terselamatkan.

Kejadian ini kembali memicu diskusi publik mengenai keamanan bersepeda di jalan raya, terutama pada jam-jam rawan dan di jalur yang didominasi oleh kendaraan berat. Masyarakat berharap adanya pengawasan yang lebih ketat terhadap keamanan jalan raya di wilayah Tangerang agar tragedi serupa tidak terulang kembali.

Baca Juga Jejak WNA dalam Isu Prostitusi Anak di Jakarta-Bekasi: Polda Metro Jaya Ungkap Fakta Mengejutkan
Jejak WNA dalam Isu Prostitusi Anak di Jakarta-Bekasi: Polda Metro Jaya Ungkap Fakta Mengejutkan

Sosok Kak Herman: Dedikasi Tanpa Batas untuk Pramuka

Kehilangan Herman Sulistyo bukan sekadar kehilangan seorang warga biasa bagi masyarakat Tangerang Raya dan Banten. Beliau adalah ikon dedikasi. Di kalangan Gerakan Pramuka, nama Kak Herman sangat disegani karena prinsip hidupnya yang memegang teguh Dasa Darma dan Tri Satya dalam setiap langkahnya. Ia bukan sekadar pengurus, melainkan ruh dari gerakan kepanduan itu sendiri.

Salah satu ciri khas yang paling diingat oleh rekan-rekan dan anak didiknya adalah konsistensi Kak Herman dalam mengenakan seragam lengkap Pramuka. Baik itu acara formal pemerintahan, pertemuan tingkat daerah, hingga kegiatan sehari-hari, seragam cokelat kebanggaan itu hampir selalu melekat di tubuhnya. Baginya, seragam tersebut bukan sekadar pakaian, melainkan identitas dan janji untuk terus mengabdi.

Baca Juga Rahasia di Balik Secangkir Kesempurnaan: Dedikasi Menjaga Kualitas Teh dari Pucuk Hingga Botol
Rahasia di Balik Secangkir Kesempurnaan: Dedikasi Menjaga Kualitas Teh dari Pucuk Hingga Botol

Selain itu, hobinya bersepeda juga menjadi inspirasi bagi banyak orang. Di usianya yang sudah senja, ia tetap memilih bersepeda untuk menghadiri berbagai kegiatan kepramukaan di seantero Tangerang. Semangat pantang menyerah dan pola hidup sehat inilah yang membuat berita kepergiannya melalui kecelakaan saat bersepeda terasa begitu menyesakkan dada bagi siapa saja yang mengenalnya.

Penghormatan Terakhir yang Penuh Haru

Duka mendalam menyelimuti prosesi pemakaman Kak Herman. Sebelum diantarkan ke peristirahatannya yang terakhir, jenazah disalatkan di Masjid Raya Al-A’zhom, pusat religi Kota Tangerang, pada Minggu siang. Ratusan pelayat, mulai dari pejabat daerah, tokoh masyarakat, hingga ribuan anggota Pramuka dari berbagai tingkatan di Banten, hadir untuk memberikan penghormatan terakhir.

Suasana haru pecah saat jenazah dibawa menuju TPU Rawa Kucing, Kecamatan Neglasari. Pemakaman dilakukan dengan prosesi khusus kepramukaan, sebuah penghormatan tertinggi bagi anggota yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk organisasi. Isak tangis dari para anggota pramuka muda yang merasa kehilangan mentor terbaik mereka mengiringi setiap taburan bunga di atas pusara sang legenda.

Keluarga besar tokoh pramuka ini berharap agar proses hukum terhadap pelaku berjalan dengan adil dan transparan. Meskipun pelaku telah ditangkap, luka batin yang ditinggalkan tentu akan membekas lama bagi komunitas kepramukaan yang kini harus kehilangan salah satu pilar utamanya.

Pelajaran dari Tragedi Cikupa

Kasus yang menimpa Kak Herman ini menjadi pengingat keras bagi semua pihak tentang pentingnya etika berkendara dan tanggung jawab sosial di jalan raya. Seorang sopir truk logistik memegang tanggung jawab besar atas nyawa pengguna jalan lain. Kasus kecelakaan truk di jalur-jalur utama Tangerang memang kerap terjadi, namun aksi tabrak lari adalah sebuah tindakan yang melanggar nilai kemanusiaan.

Pihak kepolisian mengimbau kepada seluruh pengemudi kendaraan besar untuk lebih waspada dan mematuhi batas kecepatan, terutama saat melintasi pemukiman warga atau jalur yang juga digunakan oleh pejalan kaki dan pesepeda. Di sisi lain, komunitas bersepeda juga diingatkan untuk selalu menggunakan perlengkapan keselamatan yang memadai, terutama saat berkendara di malam hari atau dini hari.

Kini, AD harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di balik jeruji besi. Ia terancam pasal berlapis terkait kecelakaan lalu lintas yang mengakibatkan hilangnya nyawa seseorang serta tindakan sengaja melarikan diri dari tempat kejadian perkara. Sementara itu, warisan nilai-nilai kepramukaan yang ditinggalkan oleh Kak Herman akan terus hidup di sanubari setiap anggota pramuka di Tangerang dan Banten, sebagai pengingat akan pengabdian sejati yang tak lekang oleh waktu.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *