Transformasi Denada: Antara Pelukan Masa Lalu Ressa Rossano dan Kebahagiaan Menjadi ‘Nenek Zumba’
RadarLokal — Kehidupan sering kali menyajikan plot twist yang tidak terduga, bahkan bagi seorang figur publik yang sudah terbiasa dengan sorotan lampu kamera. Itulah yang kini tengah dirasakan oleh diva sekaligus instruktur kebugaran ternama, Denada. Di balik ritme enerjik musik yang biasa ia bawakan, tersimpan sebuah cerita reflektif tentang penerimaan, kedewasaan, dan babak baru dalam hidupnya sebagai seorang nenek. Hubungan Denada dengan putra tercintanya, Ressa Rizky Rossano, kini memasuki fase yang jauh lebih harmonis, meski harus melewati jalan berliku yang penuh dengan dinamika emosional.
Belakangan ini, publik dikejutkan dengan kabar pernikahan kedua Ressa Rizky Rossano. Namun, yang lebih menarik perhatian adalah pengakuan jujur Denada mengenai status barunya. Tanpa banyak yang tahu, dari pernikahan Ressa sebelumnya, Denada ternyata telah resmi menyandang status sebagai seorang nenek. Sebuah peran baru yang menurutnya tidak datang dengan cara yang instan, melainkan melalui proses kontemplasi yang cukup panjang dan mendalam.
Gejolak Batin Sang Diva: Antara Malu, Sedih, dan Takut
Menjadi seorang nenek di usia yang masih terlihat sangat bugar tentu memberikan kejutan tersendiri bagi mentalitas seorang Denada. Saat ditemui oleh tim RadarLokal di kawasan Senopati, Jakarta Selatan, pada Senin (27/4/2026), Denada membuka tabir perasaannya dengan sangat transparan. Ia tidak menampik bahwa pada awalnya, kabar mengenai kehadiran cucu tersebut memicu berbagai spektrum emosi yang campur aduk.
“Iya perasaan… ya itu tadi aku sebenarnya sudah tahu dari lama mengenai semua ini. Tapi kan akhirnya senangnya itu pas semuanya mulai muncul ke permukaan,” ungkap Denada dengan nada bicara yang tenang namun penuh penekanan. Ia mengakui bahwa proses penerimaan diri terhadap realita ini bukanlah perkara mudah. Baginya, ada beban mental yang harus ia urai satu demi satu sebelum akhirnya bisa benar-benar tersenyum tulus.
Denada bercerita secara jujur bahwa ada fase di mana ia merasa diliputi kesedihan dan kebingungan. Bahkan, ia tidak ragu menyebutkan kata ‘malu’ dan ‘takut’ sebagai bagian dari proses awal tersebut. Kondisi ini sangat manusiawi, mengingat ekspektasi masyarakat terhadap kehidupan seorang selebriti sering kali menuntut kesempurnaan. Namun, Denada memilih untuk berdamai dengan rasa takutnya ketimbang terus bersembunyi di balik bayang-bayang masa lalu.
Seni Menerima Kenyataan dan Menanggalkan Ego
Waktu rupanya menjadi obat terbaik bagi Denada. Seiring berjalannya hari, rasa sedih dan bingung yang sempat menghimpit perlahan berubah menjadi rasa syukur yang meluap. Ia mulai menyadari bahwa kehadiran seorang cucu adalah anugerah, terlepas dari bagaimana proses itu terjadi di masa lalu. Perubahan paradigma ini menunjukkan kematangan emosional Denada dalam menghadapi kesehatan mental dan dinamika keluarganya.
“Secara mental gak gampang buat aku. Aku sedih, bingung, takut, awalnya malu, pasti ada,” lanjutnya mengenang masa-masa transisi tersebut. Namun kini, semua perasaan negatif itu telah terkikis habis. Denada justru mulai menikmati setiap momen sebagai seorang nenek. Ia bahkan sudah sibuk memikirkan identitas barunya di mata sang cucu.
Pertanyaan-pertanyaan kecil seperti panggilan apa yang cocok untuknya mulai memenuhi pikirannya. Dari sinilah lahir kreativitas khas Denada yang selalu ceria. Ia tidak ingin menjadi nenek yang konvensional. Ia ingin membawa semangat positif dan energi yang selama ini ia tularkan melalui dunia olahraga ke dalam peran barunya di keluarga besar.
‘Nenek Zumba’: Identitas Baru yang Penuh Energi
Sambil tertawa kecil, Denada menceritakan momen lucunya saat mencari panggilan yang tepat. “Aku sampai mikir, enaknya dipanggil apa ya? Nejum, Oma Zumba atau apa. Jadi se-happy itu,” ungkapnya. Akhirnya, sebuah sebutan unik lahir dan ia proklamasikan dengan penuh kebanggaan: “Nenek Zumba”.
Sebutan ini seolah menjadi simbol bahwa menjadi seorang nenek tidak berarti kehilangan jati diri atau semangat muda. Bagi Denada, status ini adalah sebuah pencapaian hidup yang patut dirayakan. “Aku bisa ngomong dengan happy, ‘Iya aku memang sudah nenek, aku Nenek Zumba’,” ujarnya sambil menyunggingkan senyum lebar yang menunjukkan kelegaan luar biasa. Dengan pola asuh yang positif, ia berharap bisa memberikan pengaruh baik bagi cucunya kelak.
Menyikapi Masa Lalu Sang Putra dengan Kedewasaan
Sebagai ibu, Denada juga harus berhadapan dengan fakta bahwa putranya, Ressa Rossano, pernah mengalami kegagalan dalam membangun rumah tangga. Alih-alih menghakimi atau meratapi nasib, Denada memilih untuk melihatnya dengan sudut pandang yang lebih bijaksana. Ia memahami bahwa setiap manusia memiliki garis hidup dan ujiannya masing-masing.
“Kalau masalah pernah berumah tangga dan gagal, ya itu jalan hidup setiap orang. Siapa sih yang kepingin gagal? Gak ada, tapi ya itu sudah jalannya,” jelasnya dengan nada empati. Denada menekankan bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya, melainkan sebuah pelajaran berharga untuk melangkah lebih baik di masa depan. Dukungannya terhadap pernikahan kedua Ressa adalah bukti nyata bahwa ia telah memberikan restu dan ruang bagi sang putra untuk memperbaiki hubungan keluarga.
Penerimaan Denada terhadap masa lalu Ressa memberikan pesan kuat tentang pentingnya dukungan orang tua dalam situasi sesulit apa pun. Ia tidak ingin terjebak dalam penyesalan, melainkan fokus pada masa depan yang lebih harmonis dan penuh cinta.
Harapan dan Rencana Menuju Banyuwangi
Kini, fokus utama Denada adalah terus menjalin komunikasi yang baik dengan anak, menantu, dan tentu saja sang cucu. Ia menegaskan bahwa tugas terbesarnya sebagai seorang ibu tidak akan pernah berakhir, terutama dalam hal spiritual. Doa-doa tulus selalu ia langitkan demi kebahagiaan dan keselamatan anak cucunya.
“Aku sebagai ibu gak putus mendoakan, itu tugasku, itu kewajibanku,” tegasnya. Keteguhan hati Denada ini memperlihatkan sisi lain dari seorang diva yang selama ini dikenal tangguh di atas panggung. Di balik gemerlap dunia hiburan, ia tetaplah seorang ibu yang mendambakan kedamaian bagi anak-anaknya.
Dalam waktu dekat, Denada sudah menyusun rencana untuk mempererat ikatan kekeluargaan tersebut. Kerinduan untuk memeluk sang cucu secara langsung pun sudah membuncah. Ia merencanakan sebuah perjalanan menuju Jawa Timur untuk mewujudkan keinginan tersebut. “Insyaallah nanti kalau ke Banyuwangi pengin sekalian (bertemu cucu),” tutup Denada dengan penuh harap.
Kisah Denada ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa kebahagiaan sering kali datang setelah kita mampu memaafkan keadaan dan menerima kenyataan dengan lapang dada. Dari seorang ibu yang sempat ragu, kini ia bertransformasi menjadi Nenek Zumba yang siap menyebarkan keceriaan bagi generasi berikutnya.