Polemik Makan Bergizi Gratis: Tommy Kurniawan Soroti Perjalanan Negara Maju dan Pentingnya Objektivitas

Nadia Safira | RADAR LOKAL
20 Jun 2026, 20:11 WIB
Polemik Makan Bergizi Gratis: Tommy Kurniawan Soroti Perjalanan Negara Maju dan Pentingnya Objektivitas

RadarLokal — Riuh rendah perbincangan mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG) tampaknya belum akan surut dalam waktu dekat. Sebagai salah satu pilar utama dalam visi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, kebijakan ini terus menuai beragam reaksi, mulai dari dukungan penuh hingga kritik tajam yang menghujani ruang publik. Di tengah pusaran opini tersebut, suara dari kalangan praktisi politik sekaligus figur publik mulai bermunculan untuk memberikan perspektif yang lebih jernih.

Aktor yang kini mendedikasikan dirinya di panggung politik, Tommy Kurniawan, menjadi salah satu sosok yang vokal dalam menyikapi fenomena ini. Pria yang akrab disapa Tomkur ini secara tegas meminta masyarakat untuk tidak terburu-buru menghakimi program tersebut secara negatif. Ia mengajak publik untuk melihat Makan Bergizi Gratis dengan kacamata yang lebih objektif dan komprehensif, mengingat dampaknya yang bersifat jangka panjang bagi generasi mendatang.

Baca Juga Dilema Etika dan Kontrak: Mengapa Ratu Sofya Disomasi HAS Pictures Terkait Film ‘Dosa Penebusan’?
Dilema Etika dan Kontrak: Mengapa Ratu Sofya Disomasi HAS Pictures Terkait Film ‘Dosa Penebusan’?

Investasi Nyata bagi Akar Rumput

Menurut Tommy, program MBG bukanlah sekadar bagi-bagi makanan cuma-cuma. Baginya, ini adalah langkah strategis dan mulia yang memiliki efek domino terhadap ekonomi kerakyatan sekaligus upaya konkret dalam mencerdaskan anak bangsa. Pengalamannya terjun langsung ke lapangan, terutama di wilayah Kabupaten Bogor, memberikan gambaran nyata betapa program ini sangat dinantikan oleh masyarakat kecil.

“Saya melihat sendiri di lapangan, banyak keluarga petani, pedagang keliling, kuli bangunan, hingga pekerja serabutan yang benar-benar membutuhkan bantuan ini. Dengan adanya makanan bergizi yang terjamin bagi anak-anak mereka, beban ekonomi keluarga tersebut bisa sedikit diringankan,” ungkap Tommy saat memberikan keterangan resmi baru-baru ini. Ia menekankan bahwa intervensi gizi di usia sekolah adalah kunci utama agar anak-anak Indonesia mampu tumbuh sehat dan memiliki daya saing yang kompetitif di masa depan.

Baca Juga Mencari Celah Keadilan: Sidang PK Nikita Mirzani Tertunda Akibat Absennya Jaksa Tanpa Keterangan
Mencari Celah Keadilan: Sidang PK Nikita Mirzani Tertunda Akibat Absennya Jaksa Tanpa Keterangan

Bagi Ketua Umum Dewan Koordinasi Nasional (DKN) Garda Bangsa ini, ketepatan sasaran adalah hal yang krusial. Ketika anak-anak dari keluarga kurang mampu mendapatkan asupan protein dan vitamin yang cukup, maka risiko stunting dan masalah kesehatan lainnya dapat ditekan secara signifikan. Inilah yang ia sebut sebagai investasi sumber daya manusia yang tidak bisa dinilai hanya dari angka anggaran semata.

Belajar dari Sejarah Negara-Negara Maju

Menanggapi berbagai kendala teknis dan kritik yang muncul di tahap awal implementasi, Tommy Kurniawan menilai hal tersebut sebagai dinamika yang sangat wajar. Ia mengingatkan bahwa Indonesia baru saja memulai langkah besar ini, sehingga proses adaptasi dan perbaikan sistem pasti akan terjadi. Untuk memperkuat argumennya, ia memberikan komparasi menarik dengan sejarah negara-negara maju yang kini sukses menjalankan program serupa.

Baca Juga Polemik Hak Asuh Anak Ruben Onsu dan Sarwendah: Antara Kewajiban Hukum dan Retorika ‘Kebesaran Hati’
Polemik Hak Asuh Anak Ruben Onsu dan Sarwendah: Antara Kewajiban Hukum dan Retorika ‘Kebesaran Hati’

Tommy mencontohkan Jepang, yang kini menjadi kiblat tata kelola gizi sekolah dunia. Namun, siapa sangka jika di masa lalu, Jepang pernah menghadapi situasi darurat pangan pasca-perang hingga kasus keracunan massal yang mengguncang kepercayaan publik. Perlu waktu puluhan tahun bagi Negeri Sakura untuk menyempurnakan sistem mereka hingga menjadi sesolid sekarang.

Tak hanya Jepang, Tommy juga menyoroti perjalanan Finlandia dan India. Di Finlandia, program makan siang sekolah sempat ditolak karena dianggap membebani anggaran negara secara berlebihan. Sementara di India, isu korupsi dan kualitas bahan pangan sempat menjadi kerikil tajam dalam perjalanannya. Namun, kedua negara tersebut tidak menyerah dan terus melakukan reformasi hingga akhirnya berhasil menurunkan angka kekurangan gizi secara drastis.

Baca Juga Bukti Persahabatan Sejati: Irfan Hakim Rela Lawan Kantuk Demi Antar Raffi Ahmad Berangkat Ibadah Haji
Bukti Persahabatan Sejati: Irfan Hakim Rela Lawan Kantuk Demi Antar Raffi Ahmad Berangkat Ibadah Haji

Reformasi Gizi di Inggris sebagai Cermin

Kisah inspiratif lainnya datang dari Inggris di era 2000-an. Tommy menceritakan bagaimana kualitas makanan sekolah di sana sempat berada di titik nadir karena didominasi oleh makanan olahan murah yang tidak sehat. Hal ini memicu gerakan besar-besaran untuk mereformasi standar gizi nasional yang kini dikenal sebagai School Food Standards.

“Hampir semua negara percontohan memiliki masa-masa sulit di tahap awal. Ada masalah anggaran, masalah distribusi, hingga kualitas makanan. Saya yakin Indonesia pun akan terus berbenah dan melakukan perbaikan berkelanjutan hingga tujuan mulia ini benar-benar tercapai,” tutur Anggota DPR RI dari fraksi PKB tersebut dengan nada optimis.

Baca Juga Seni Mendidik Ala Hanung Bramantyo: Tanpa Kemewahan Instan, Prestasi Jadi Syarat Mutlak Hadiah
Seni Mendidik Ala Hanung Bramantyo: Tanpa Kemewahan Instan, Prestasi Jadi Syarat Mutlak Hadiah

Kritik Konstruktif: Vitamin bagi Pemerintah

Sebagai sosok yang dibesarkan dalam iklim demokrasi, Tommy Kurniawan menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti-kritik. Ia menyadari sepenuhnya bahwa kritik adalah bagian sah dari pengawasan publik yang dilindungi undang-undang. Namun, ia menyayangkan jika ada pihak-pihak yang menggunakan kritik hanya sebagai alat untuk menjatuhkan atau menciptakan kegaduhan yang tidak produktif.

“Kritik itu boleh, bahkan perlu. Tapi jangan hanya menghina atau mencari-cari kesalahan untuk membuat situasi menjadi gaduh. Apalagi jika kritik tersebut digunakan sebagai proksi untuk mengadu domba masyarakat,” tegasnya. Ia mendorong agar para pengamat dan masyarakat luas memberikan solusi konkret daripada sekadar narasi negatif yang destruktif.

Baginya, kritik yang sehat seharusnya berfungsi seperti ‘vitamin’ bagi pemerintah. Masukan mengenai tata kelola, transparansi anggaran, hingga pemilihan menu yang lebih lokal harus terus disuarakan agar program ini semakin sempurna. Dengan begitu, kebijakan publik yang dijalankan pemerintah benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat tanpa ada celah penyimpangan.

Visi Masa Depan dan Pesan untuk Generasi Muda

Di akhir penyampaiannya, Tommy memberikan pesan khusus bagi anak-anak muda Indonesia. Ia berharap generasi muda memiliki visi yang jauh ke depan dan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang memecah belah bangsa. Menurutnya, perpecahan hanya akan merugikan citra negara dan menghambat pencapaian cita-cita Indonesia Maju.

“Justru dalam kegaduhan itu, banyak pihak oportunis yang memanfaatkan situasi agar Indonesia tidak pernah mencapai potensinya. Sejatinya, negara kita memiliki potensi yang luar biasa besar untuk menjadi pemimpin ekonomi dunia jika kita bersatu dan fokus pada pembangunan kualitas manusianya,” pungkas suami dari Lisya Nurrahmi tersebut.

Melalui pandangannya ini, Tommy Kurniawan mengajak seluruh elemen bangsa untuk mendukung ekonomi kerakyatan melalui program MBG. Dukungan tersebut diharapkan bisa menjadi modal sosial yang kuat bagi pemerintah untuk terus mengawal keberlangsungan program demi masa depan anak-anak Indonesia yang lebih sehat, cerdas, dan bermartabat.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *