Polemik Hak Asuh Anak Ruben Onsu dan Sarwendah: Antara Kewajiban Hukum dan Retorika ‘Kebesaran Hati’

Nadia Safira | RADAR LOKAL
26 Jun 2026, 10:14 WIB
Polemik Hak Asuh Anak Ruben Onsu dan Sarwendah: Antara Kewajiban Hukum dan Retorika 'Kebesaran Hati'

RadarLokal — Dinamika hubungan pasca-perceraian antara dua pesohor tanah air, Ruben Onsu dan Sarwendah, tampaknya masih jauh dari kata damai. Alih-alih mereda setelah putusan cerai, hubungan keduanya justru kembali memanas akibat perbedaan sudut pandang dalam memaknai akses pertemuan dengan buah hati mereka. Baru-baru ini, pihak Ruben Onsu melontarkan kritik pedas terhadap narasi yang dibangun oleh pihak Sarwendah terkait momen pertemuan sang ayah dengan anak-anaknya di bandara beberapa waktu lalu.

Melalui kuasa hukumnya, Minola Sebayang, pihak Ruben Onsu secara tegas menolak klaim yang menyebutkan bahwa pertemuan tersebut terjadi karena ‘kebesaran hati’ sang mantan istri. Bagi Minola, penggunaan istilah tersebut tidak hanya tidak tepat secara terminologi, tetapi juga berpotensi mengaburkan hakikat dari sebuah tanggung jawab orang tua terhadap anak-anak mereka. Perselisihan ini menjadi sorotan tajam publik yang mengikuti perkembangan perceraian artis papan atas ini.

Baca Juga Aksi Dermawan Dewi Perssik di Idul Adha: Kurban Serentak di 4 Kota dengan Sapi Raksasa 2,4 Ton
Aksi Dermawan Dewi Perssik di Idul Adha: Kurban Serentak di 4 Kota dengan Sapi Raksasa 2,4 Ton

Meluruskan Definisi Antara Kebaikan Hati dan Kewajiban

Konflik terbaru ini bermula ketika kuasa hukum Sarwendah memberikan pernyataan kepada media bahwa kliennya telah berbesar hati meluangkan waktu dan menunggu di bandara agar Thalia dan Thania bisa bertemu dengan Ruben Onsu sesaat sebelum sang presenter berangkat menjalankan ibadah umrah. Pernyataan inilah yang kemudian memicu reaksi keras dari kubu Ruben Onsu.

Minola Sebayang meminta semua pihak untuk menggunakan logika sehat dalam memandang perkara ini. Menurutnya, mempertemukan anak kandung dengan ayahnya bukanlah sebuah bentuk kemurahan hati atau ‘hadiah’ yang diberikan oleh seorang ibu, melainkan sebuah amanah dan kewajiban hukum yang telah disepakati dan diatur oleh negara.

Baca Juga Momen Epik Keluarga Hermansyah: Azriel, Anang, dan Ashanty Siap Wisuda Bersama di Unair Surabaya
Momen Epik Keluarga Hermansyah: Azriel, Anang, dan Ashanty Siap Wisuda Bersama di Unair Surabaya

“Tidak ada itu kebesaran hati. Itu adalah kewajiban. Kalau kita bicara kebesaran hati, artinya sesuatu yang sifatnya sukarela atau pemberian (given). Padahal, dalam konteks ini, merupakan tanggung jawab dia sebagai ibu untuk memastikan anak-anaknya tetap bisa menjalin hubungan dengan ayahnya,” ujar Minola dalam sebuah wawancara virtual yang dipantau oleh tim RadarLokal.

Kesepakatan Pasca-Cerai: Bukan Sekadar Pertemuan Singkat

Salah satu poin krusial yang ditekankan oleh pihak Ruben adalah adanya dokumen kesepakatan pasca-cerai yang telah ditandatangani oleh kedua belah pihak. Dalam dokumen tersebut, diatur secara mendetail mengenai pembagian waktu pengasuhan anak. Minola mengungkapkan bahwa presenter Ruben Onsu sebenarnya memiliki hak untuk berkumpul bersama anak-anaknya selama dua hingga tiga hari dalam satu minggu.

Baca Juga Ruben Onsu Buka Suara: Menguak Tabir Konflik, Nafkah 200 Juta, Hingga Pesan Haru untuk Buah Hati
Ruben Onsu Buka Suara: Menguak Tabir Konflik, Nafkah 200 Juta, Hingga Pesan Haru untuk Buah Hati

Pertemuan singkat di bandara yang terjadi beberapa waktu lalu dianggap jauh dari standar kualitas pertemuan yang seharusnya didapatkan oleh sang ayah. Pihak Ruben merasa pertemuan yang hanya berlangsung sesaat di tempat umum tidak bisa menggantikan hak waktu berkualitas (quality time) yang telah disepakati secara hukum.

“Pertemuan itu harus berkualitas. Itulah mengapa selalu ada istilah quality time. Bukan sekadar bertemu pas-pasan saat mau berangkat umrah. Meski kami tetap menghargai momen tersebut karena bagaimanapun Ruben bisa melepas rindu dengan anaknya setelah sekian lama, namun janganlah hal itu dibungkus dengan narasi yang seolah-olah merupakan sebuah kebaikan hati yang luar biasa,” tambah Minola dengan nada tegas.

Baca Juga Ketangguhan Rumah Tangga Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian: Menepis Isu Miring dengan Prestasi dan Ketenangan
Ketangguhan Rumah Tangga Fairuz A Rafiq dan Sonny Septian: Menepis Isu Miring dengan Prestasi dan Ketenangan

Analogi Nafkah: Kewajiban vs Retorika

Untuk memperkuat argumennya, Minola Sebayang menarik sebuah analogi yang cukup menohok mengenai tanggung jawab finansial. Ia membandingkan klaim ‘kebesaran hati’ tersebut dengan kewajiban memberikan nafkah yang selama ini dipenuhi oleh Ruben Onsu tanpa banyak bicara.

Menurut Minola, jika setiap tindakan yang merupakan tanggung jawab orang tua diklaim sebagai bentuk kebesaran hati, maka publik bisa saja menganggap uang nafkah sebesar Rp200 juta yang diberikan Ruben kepada anak-anaknya sebagai ‘kebesaran hati’ Ruben. Namun, Ruben tidak pernah menggunakan narasi tersebut karena ia sadar bahwa hal itu adalah kewajibannya sebagai kepala keluarga.

“Jadi, apakah logis jika Ruben memberikan uang 200 juta rupiah lalu kita sebut itu kebesaran hati Ruben? Tentu tidak. Itu adalah kewajiban hukum dan moral. Janganlah kita bermain dengan retorika kata-kata karena hukum itu dibangun atas dasar logika. Sangat aneh jika seorang ibu mempertemukan anak dengan ayah kandungnya sendiri harus dilabeli sebagai kebesaran hati,” cetus pengacara senior tersebut.

Baca Juga Janji Suci Justin Hubner untuk Kamari: Lembaran Baru Sang Bek Timnas Bersama Jennifer Coppen di Bali
Janji Suci Justin Hubner untuk Kamari: Lembaran Baru Sang Bek Timnas Bersama Jennifer Coppen di Bali

Potensi Bumerang Bagi Pihak Sarwendah

Pihak Ruben Onsu juga memberikan peringatan keras bahwa narasi ‘kebesaran hati’ ini bisa menjadi bumerang bagi reputasi Sarwendah sendiri. Secara implisit, menyebut pertemuan tersebut sebagai bukti kebesaran hati seolah-olah memberikan pengakuan bahwa selama ini pihak ibu tidak memiliki itikad baik atau mempersulit akses pertemuan anak.

Minola menjelaskan bahwa jika seseorang baru merasa ‘berbesar hati’ untuk memberikan akses sekarang, berarti selama ini ada sikap yang sebaliknya. Hal ini dikhawatirkan akan memperburuk citra komunikasi kedua belah pihak di mata publik maupun di mata hukum jika persengketaan ini terus berlanjut ke ranah yang lebih serius.

“Hati-hati dengan pilihan kata. Jika dibilang ini bukti kebesaran hati, berarti selama ini tidak besar hati dong? Berarti selama ini sengaja tidak mempertemukan anak dengan ayahnya? Ini bukan hal yang bisa dimain-mainkan. Ini menyangkut hak anak untuk mendapatkan kasih sayang dari kedua orang tuanya secara utuh,” pungkas Minola.

Menanti Mediasi 11 Juli: Tuntutan Hak Menginap

Perseteruan ini diprediksi akan terus bergulir hingga tercapainya titik temu dalam agenda mediasi yang direncanakan berlangsung pada 11 Juli mendatang. Fokus utama dari pihak Ruben Onsu dalam mediasi tersebut adalah realisasi penuh dari kesepakatan pengasuhan yang telah ada. Mereka menuntut agar Ruben mendapatkan waktu yang lebih fleksibel, termasuk hak untuk membawa anak-anak menginap tanpa perlu pengawasan ketat dari pihak ketiga atau pihak Sarwendah.

Masalah hak asuh anak memang selalu menjadi isu sensitif dalam setiap perceraian figur publik. Di satu sisi, ada kebutuhan untuk menjaga privasi anak, namun di sisi lain, transparansi mengenai hak-hak hukum orang tua juga menjadi hal yang tak terelakkan untuk diperjuangkan. Publik kini hanya bisa berharap agar kedua belah pihak bisa menurunkan ego masing-masing demi kepentingan terbaik Thalia dan Thania.

Konflik yang kian meruncing ini menjadi pengingat bahwa perceraian bukanlah akhir dari tanggung jawab, melainkan awal dari fase baru dalam berkomunikasi sebagai mitra dalam mengasuh anak (co-parenting). Tanpa komunikasi yang sehat dan penghormatan terhadap kesepakatan hukum, anak-anaklah yang paling rentan menjadi korban dalam pusaran konflik keluarga yang tak berkesudahan.

Tim RadarLokal akan terus memantau perkembangan mediasi yang akan datang untuk melihat apakah Ruben dan Sarwendah mampu mencapai kesepakatan damai demi masa depan buah hati mereka yang masih membutuhkan figur ayah dan ibu secara seimbang dalam tumbuh kembangnya.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *