Rahasia Bugar Mpok Atiek di Usia 70 Tahun: Filosofi “Hati Lempeng” dan Kekuatan Minta Maaf Lebih Dulu
RadarLokal — Sosok legendaris dunia komedi Indonesia, Mpok Atiek, kembali mencuri perhatian publik bukan hanya karena eksistensinya yang tak lekang oleh waktu, melainkan karena aura positif yang terpancar di usianya yang kini menyentuh angka 70 tahun. Di tengah maraknya tren kecantikan modern dan berbagai prosedur medis untuk awet muda, pemilik nama asli Atiek Riwayati ini justru memiliki resep yang jauh lebih sederhana namun mendalam: menjaga kebersihan hati dan kejernihan pikiran.
Bertemu dengan awak media di kawasan Sudirman, Jakarta Pusat baru-baru ini, Mpok Atiek tampak begitu energik. Tak terlihat gurat kelelahan yang berarti di wajahnya, meski jadwal aktivitasnya masih terbilang padat untuk seseorang di usia senja. Baginya, rahasia kesehatan fisik yang prima tidak melulu soal apa yang dikonsumsi oleh mulut, melainkan apa yang diproses oleh perasaan dan logika.
Kesehatan Fisik yang Berawal dari Kedamaian Pikiran
Dalam bincang-bincang hangat tersebut, Mpok Atiek menekankan bahwa musuh terbesar kesehatan sebenarnya adalah beban mental yang tidak terkelola dengan baik. Ia membagikan pandangannya mengenai korelasi antara kesehatan mental dan kondisi fisik. Menurutnya, tubuh hanyalah pelaksana dari apa yang diperintahkan oleh pikiran.
“Pikiran itu nomor satu. Karena kesehatan itu semua datangnya dari pikiran. Sama hati, itu yang benar-benar harus diatur,” ungkap Mpok Atiek dengan gaya bicaranya yang khas dan ceplas-ceplos. Ia meyakini bahwa ketika seseorang mampu mengendalikan stres dan menjaga emosinya tetap stabil, maka organ-organ tubuh lainnya akan mengikuti ritme positif tersebut.
Ia menyadari bahwa banyak orang terlalu fokus pada tips kesehatan fisik seperti olahraga jalan kaki atau mengatur porsi makan secara ketat, namun melupakan aspek internal. Mpok Atiek tidak menampik pentingnya aktivitas fisik, namun ia menempatkan manajemen hati sebagai fondasi utama yang paling krusial dalam gaya hidup sehat versinya.
Membuang Racun Hati: Iri dan Dengki
Salah satu poin utama yang ditekankan oleh komedian senior ini adalah pentingnya menjauhkan diri dari penyakit hati seperti iri dan dengki. Di industri hiburan yang penuh dengan persaingan, godaan untuk membandingkan diri dengan orang lain tentu sangat besar. Namun, Mpok Atiek memilih jalan yang berbeda dengan mengedepankan sikap syukur.
“Jangan pernah merasa iri, dengki, dan segala macam yang jelek-jelek itu. Buang semuanya ya. Hidup itu harus lempeng, apa adanya. Insyaallah kalau hidup kita lempeng, hatinya juga ikut tenang atau lempeng,” tuturnya. Istilah “lempeng” yang ia gunakan merujuk pada sikap hidup yang jujur, lurus, dan tidak neko-neko dalam mengejar ambisi duniawi.
Menerima takdir dan rezeki yang sudah digariskan oleh Sang Pencipta menjadi kunci agar hidup terasa lebih ringan. Dengan tidak memiliki perasaan dengki, Mpok Atiek merasa terhindar dari stres kronis yang sering kali menjadi pemicu berbagai penyakit degeneratif. Ia percaya bahwa pola pikir positif terhadap kesuksesan orang lain justru akan membawa keberkahan bagi diri sendiri.
Budaya Minta Maaf: Menurunkan Ego Demi Ketenangan
Hal yang cukup mengejutkan sekaligus inspiratif dari prinsip hidup Mpok Atiek adalah kerendahhatiannya dalam berinteraksi sosial. Ia memiliki prinsip untuk tidak membiarkan konflik berlarut-larut. Baginya, meminta maaf bukan berarti menunjukkan kelemahan, melainkan sebuah bentuk kekuatan mental dan kematangan emosi.
“Kite salah, wajib minta maaf. Tapi kalau kite nggak salah dan misalnya dia nggak mau negur kite, ya kite minta maaf duluan aja. Legawa saja jadi orang,” jelasnya dengan dialek Betawi yang kental. Sikap legawa atau berlapang dada ini diakuinya membuat hidup terasa jauh lebih nikmat karena tidak ada beban permusuhan yang mengganjal di dalam dada.
Prinsip ini sangat relevan di tengah dinamika sosial saat ini, di mana ego sering kali menjadi penghalang dalam komunikasi. Dengan berani mengulurkan tangan terlebih dahulu untuk berdamai, Mpok Atiek merasa jiwanya lebih merdeka. Ia tidak ingin menghabiskan sisa usianya hanya untuk menyimpan dendam atau memikirkan siapa yang benar dan siapa yang salah dalam sebuah perselisihan kecil.
Senyuman Sebagai Ibadah dan Obat Mujarab
Sebagai seorang muslim yang taat, Mpok Atiek juga mengaitkan kebahagiaannya dengan nilai-nilai religius yang sederhana. Salah satunya adalah kekuatan sebuah senyuman. Ia meyakini bahwa menyapa dunia dengan keramahan adalah bagian dari menjalankan perintah agama sekaligus terapi bagi diri sendiri.
“Salah satu ajaran agama kita kan, senyum itu adalah ibadah. Jadi ya senyum saja terus,” tambahnya. Selain sebagai bentuk ibadah harian, senyuman yang tulus terbukti secara ilmiah dapat melepaskan hormon endorfin yang memicu rasa bahagia dan mengurangi persepsi rasa sakit pada tubuh.
Kebiasaan murah senyum ini pulalah yang membuatnya tetap dicintai oleh lintas generasi di panggung hiburan. Mpok Atiek seolah memberikan pesan tersirat bahwa kecantikan sejati di usia tua muncul dari pancaran keikhlasan yang terlihat di wajah, bukan sekadar polesan kosmetik mahal.
Keengganan untuk Pensiun dan Semangat Beraktivitas
Menariknya, meski anak-anaknya sudah meminta Mpok Atiek untuk beristirahat total dan menikmati masa pensiun di rumah, ia justru merasa tubuhnya akan terasa sakit jika hanya berdiam diri. Aktivitas di dunia hiburan bagi Mpok Atiek bukan lagi sekadar mencari nafkah, melainkan sarana untuk menjaga kesehatan mentalnya agar tetap tajam dan terhindar dari rasa kesepian.
Berinteraksi dengan banyak orang, tertawa bersama rekan sejawat, dan tetap berkarya memberikannya alasan untuk terus bersemangat bangun di pagi hari. Namun, ia tetap menyeimbangkan itu semua dengan istirahat yang cukup dan tidak memaksakan diri di luar batas kemampuannya. Keseimbangan antara aktivitas dan ketenangan batin inilah yang menjadikannya role model bagi banyak orang yang ingin menua dengan indah.
Pada akhirnya, perjalanan hidup Mpok Atiek mengajarkan kita bahwa rahasia bahagia di usia 70 tahun bukanlah sesuatu yang rumit atau mahal. Cukup dengan pikiran yang jernih, hati yang bersih dari rasa iri, keberanian untuk meminta maaf, serta senyuman yang tulus, siapa pun bisa meraih kualitas hidup yang lebih baik. Filosofi “hidup lempeng” ala Mpok Atiek ini menjadi pengingat berharga bagi kita semua untuk kembali fokus pada kedamaian batin di tengah hiruk-pikuk dunia.