Langkah Besar Kedaulatan Ekonomi: Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Tahap II Senilai Rp 116 Triliun

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
30 Apr 2026, 14:18 WIB
Langkah Besar Kedaulatan Ekonomi: Presiden Prabowo Resmikan 13 Proyek Hilirisasi Tahap II Senilai Rp 116 Triliun

RadarLokal — Sebuah babak baru dalam sejarah transformasi ekonomi Indonesia resmi dimulai. Di tengah hembusan angin pesisir selatan Jawa Tengah, Presiden Prabowo Subianto secara simbolis melakukan groundbreaking atau peletakan batu pertama untuk Proyek Hilirisasi Nasional Tahap II. Bertempat di kawasan strategis Refinery Unit IV Cilacap pada Rabu (29/4/2026), momen ini menandai komitmen besar pemerintah dalam mengubah wajah industri tanah air dari sekadar pengekspor bahan mentah menjadi raksasa manufaktur yang berdaya saing global.

Acara yang berlangsung khidmat ini diawali dengan kumandang lagu kebangsaan Indonesia Raya yang menggetarkan seluruh area kilang. Doa bersama pun dipanjatkan, memohon kelancaran bagi proyek yang digadang-gadang akan menjadi tulang punggung ekonomi masa depan. Dalam kesempatan tersebut, sebuah tayangan video diputar, memperlihatkan peta jalan ambisius dan cakupan luas dari 13 proyek strategis yang akan tersebar dari ujung barat hingga ujung timur nusantara.

Baca Juga Strategi Efisiensi Energi: Pemerintah Perpanjang Kebijakan WFH Satu Hari Sepekan Demi Tekan Konsumsi BBM
Strategi Efisiensi Energi: Pemerintah Perpanjang Kebijakan WFH Satu Hari Sepekan Demi Tekan Konsumsi BBM

Visi Besar Hilirisasi: Menuju Kedaulatan Ekonomi Sejati

Dalam pidato arahannya yang penuh semangat, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi industri bukanlah sekadar tren ekonomi semata, melainkan kunci utama untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam (SDA) Indonesia. Bagi sang Presiden, hilirisasi adalah jalan mutlak menuju kebangkitan bangsa yang mandiri dan berdaulat.

“Hari ini, kita memulai groundbreaking hilirisasi tahap kedua yang mencakup 13 proyek strategis. Nilai investasinya mencapai angka yang fantastis, yakni kurang lebih Rp 116 triliun. Ini mencakup lima proyek di sektor energi, lima proyek di sektor mineral, dan tiga proyek di sektor pertanian. Kita tidak ingin lagi melihat kekayaan alam kita mengalir keluar tanpa memberikan manfaat maksimal bagi rakyat di dalam negeri,” tegas Prabowo di hadapan para menteri dan pelaku industri.

Baca Juga Nasib PT INTI di Ujung Tanduk: Antara Likuidasi dan Babak Baru di Bawah Naungan Danantara
Nasib PT INTI di Ujung Tanduk: Antara Likuidasi dan Babak Baru di Bawah Naungan Danantara

Presiden juga menekankan bahwa setiap rupiah yang diinvestasikan dalam proyek ini harus memberikan dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat. Ia mengingatkan bahwa hilirisasi harus mampu menciptakan lapangan kerja seluas-luasnya dan memperkuat fundamental ekonomi nasional agar tahan terhadap guncangan global.

Rincian 13 Proyek Strategis: Membedah Investasi Rp 116 Triliun

Menteri Investasi dan Hilirisasi, yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), Rosan Roeslani, memberikan rincian mendalam mengenai proyek-proyek tersebut. Menurut Rosan, pengelolaan aset negara melalui skema ini merupakan katalisator utama untuk melakukan lompatan besar. Indonesia tidak lagi hanya dikenal sebagai negara yang kaya SDA, tetapi juga sebagai bangsa yang unggul dalam pengolahan dan produksi.

Baca Juga Bocoran Aturan Baru E-Commerce: RadarLokal Kupas Tuntas Regulasi Anti-Biaya Admin Nakal untuk Lindungi UMKM
Bocoran Aturan Baru E-Commerce: RadarLokal Kupas Tuntas Regulasi Anti-Biaya Admin Nakal untuk Lindungi UMKM

Adapun rincian 13 proyek tersebut dibagi ke dalam tiga pilar utama industri nasional:

1. Sektor Energi: Penguatan Ketahanan Bahan Bakar

  • Proyek 1 dan 2: Pembangunan fasilitas kilang gasoline di Dumai (Riau) dan Cilacap (Jawa Tengah). Langkah ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor BBM dan menjaga stabilitas pasokan energi domestik.
  • Proyek 3, 4, dan 5: Pembangunan tangki operasional BBM di lokasi-lokasi strategis yang menjangkau wilayah pelosok, yakni Palaran (Kalimantan Timur), Biak (Papua), dan Maumere (Nusa Tenggara Timur).
  • Proyek 6: Pengembangan fasilitas produksi Dimethyl Ether (DME) berkapasitas 1,4 juta ton per tahun di Tanjung Enim (Sumatera Selatan). Proyek ini diharapkan dapat menjadi alternatif pengganti LPG yang sebagian besar masih diimpor.

2. Sektor Mineral: Mengolah Kekayaan Bumi untuk Industri Tinggi

  • Proyek 7: Pengembangan fasilitas manufaktur baja nirkarat (stainless steel) yang berbasis nikel di Indonesia Morowali Industrial Park (Sulawesi Tengah).
  • Proyek 8: Fasilitas produksi slab baja karbon yang memanfaatkan bijih besi lokal di Cilegon (Banten), memperkuat ekosistem baja nasional untuk pembangunan infrastruktur.
  • Proyek 9: Pembangunan ekosistem dan fasilitas produksi Aspal Buton di Karawang (Jawa Barat), sebuah langkah strategis untuk mengoptimalkan potensi aspal alami Indonesia.
  • Proyek 10: Hilirisasi tembaga dan emas di Gresik (Jawa Timur), yang akan mengintegrasikan pertambangan dengan industri pemurnian tingkat lanjut.

3. Sektor Pertanian dan Perkebunan: Hilirisasi untuk Kesejahteraan Petani

  • Proyek 11: Pengolahan kelapa sawit menjadi produk turunan bernilai tinggi seperti oleofood dan biodiesel di Sei Mangkei (Sumatera Utara).
  • Proyek 12: Fasilitas pengolahan pala menjadi oleoresin di Maluku Tengah, memberikan nilai tambah bagi rempah khas nusantara.
  • Proyek 13: Fasilitas terpadu pengolahan kelapa di Maluku Tengah yang menghasilkan MCT, coconut flour, dan activated carbon, memperkuat posisi Indonesia di pasar produk kelapa global.

Dampak Ekonomi dan Sosial: Bukan Sekadar Angka

Kehadiran proyek senilai Rp 116 triliun ini bukan hanya soal statistik di atas kertas. Pemerintah memproyeksikan bahwa hilirisasi tahap II ini akan menjadi motor penggerak ekonomi di daerah-daerah tempat proyek tersebut berdiri. Dengan adanya investasi dan modal domestik yang besar, ekosistem bisnis lokal mulai dari UMKM hingga jasa logistik dipastikan akan ikut tumbuh.

Baca Juga Jakarta Mendadak Lumpuh: ESDM Pastikan Pemulihan Total Pasokan Listrik Usai Gangguan Sistem Masif
Jakarta Mendadak Lumpuh: ESDM Pastikan Pemulihan Total Pasokan Listrik Usai Gangguan Sistem Masif

Rosan Roeslani menjelaskan bahwa sinergi lintas sektor ini adalah kunci. “Kami melakukan ini sebagai awal dari lompatan besar. Kita ingin menjadi bangsa yang berdaulat dalam pengolahan, unggul dalam produksi, dan tentu saja sejahtera dalam hasilnya. Pembangunan ini dilakukan secara terintegrasi untuk memperkuat rantai pasok industri nasional,” ujarnya dalam keterangan resmi.

Selain itu, pengembangan proyek di wilayah Indonesia Timur seperti Biak, Maumere, dan Maluku Tengah menunjukkan komitmen pemerintah dalam mewujudkan pemerataan ekonomi. Hilirisasi tidak lagi berpusat di Pulau Jawa, melainkan menyebar ke seluruh pelosok untuk memastikan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Menuju Indonesia yang Mandiri dan Berdaya Saing

Hilirisasi tahap II ini juga mencerminkan strategi jangka panjang untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di kancah internasional. Dengan memproduksi barang jadi atau setengah jadi, Indonesia memiliki kendali lebih besar atas harga komoditas dan tidak lagi bergantung pada fluktuasi harga bahan mentah global yang tidak menentu. Hal ini sangat krusial untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan neraca perdagangan nasional.

Baca Juga Rupiah Mengamuk! Kejutan Kenaikan BI Rate Sukses Tekuk Dolar AS Hingga ke Level Terendah
Rupiah Mengamuk! Kejutan Kenaikan BI Rate Sukses Tekuk Dolar AS Hingga ke Level Terendah

Di sisi lain, penggunaan teknologi terbaru dalam proyek-proyek ini juga mendorong terjadinya transfer teknologi kepada tenaga kerja lokal. Ini adalah investasi jangka panjang dalam sumber daya manusia, yang akan membentuk generasi teknokrat dan ahli industri yang mampu bersaing di level global.

Menutup rangkaian acara tersebut, Presiden Prabowo mengingatkan semua pihak, baik birokrasi maupun sektor swasta, untuk bekerja sama dengan jujur dan efisien. Integritas dalam menjalankan proyek strategis nasional ini adalah harga mati demi tercapainya target Indonesia Emas 2045.

Dengan dukungan investasi yang masif, regulasi yang tepat, dan semangat kedaulatan yang dikobarkan oleh pemerintah, Indonesia kini berada di jalur yang benar untuk bertransformasi menjadi negara industri maju. Hilirisasi bukan lagi sekadar wacana, melainkan kenyataan yang sedang dikerjakan dengan penuh optimisme.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *