Kebangkitan iPod: Mengapa Gen Z Rela Merogoh Kocek Dalam demi Gadget ‘Purba’ Apple?

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
04 Mei 2026, 18:17 WIB
Kebangkitan iPod: Mengapa Gen Z Rela Merogoh Kocek Dalam demi Gadget 'Purba' Apple?

RadarLokal Di tengah gempuran teknologi kecerdasan buatan (AI) yang semakin canggih dan layar smartphone yang kian jernih, sebuah fenomena unik justru melanda generasi termuda saat ini. Gen Z, yang sering dianggap sebagai penduduk asli dunia digital, kini justru berbondong-bondong kembali ke masa lalu. Mereka tidak lagi memburu ponsel lipat terbaru dengan layar OLED yang fleksibel, melainkan mencari perangkat pemutar musik mungil yang telah lama dinyatakan ‘mati’ oleh penciptanya sendiri: iPod.

Gelombang Nostalgia yang Menjadi Tren Global

Laporan terbaru menunjukkan bahwa gairah terhadap perangkat retro ini bukan sekadar tren sesaat di media sosial. Berdasarkan data yang dihimpun, penelusuran kata kunci ‘iPod Classic’ di platform belanja global eBay mengalami lonjakan drastis sebesar 25% sepanjang periode Januari hingga Oktober 2025 jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Tak hanya model klasik, ‘iPod Nano’ pun ikut kecipratan popularitas dengan kenaikan pencarian sebesar 20%.

Baca Juga Update Terbaru! 3 Kode Redeem Wuthering Waves Ini Berikan Hadiah Astrite dan Item Langka Secara Gratis
Update Terbaru! 3 Kode Redeem Wuthering Waves Ini Berikan Hadiah Astrite dan Item Langka Secara Gratis

Fenomena ini sebenarnya cukup ironis mengingat Apple telah resmi mempensiunkan lini terakhir iPod, yakni iPod Touch, pada tahun 2022 silam. Selama lebih dari dua dekade eksistensinya, raksasa teknologi asal Cupertino itu telah menjual sekitar 450 juta unit di seluruh dunia. Angka yang masif ini memang membuat stok gadget jadul tersebut masih melimpah di pasar barang bekas, namun permintaan yang meledak tiba-tiba telah menciptakan ketidakseimbangan pasar yang signifikan.

Harga Bekas yang Melambung Tinggi: Investasi atau Kegilaan?

Hukum ekonomi dasar berlaku di sini; ketika permintaan tinggi namun barang sudah tidak diproduksi lagi, harga pun meroket. Menurut laporan The New York Times, harga iPod bekas di pasaran global tercatat naik hingga 60% dibandingkan tahun 2023. Beberapa unit iPod dalam kondisi prima atau yang masih tersegel (mint condition) bahkan laku terjual hingga USD 600 atau sekitar Rp 9 jutaan.

Baca Juga Lintasarta Menantang Arus: Strategi Investasi AI di Tengah Gejolak Ekonomi dan Krisis Komponen Global
Lintasarta Menantang Arus: Strategi Investasi AI di Tengah Gejolak Ekonomi dan Krisis Komponen Global

Jika kita membandingkannya dengan teknologi apple masa kini, nominal tersebut setara dengan harga iPhone 17e terbaru yang memiliki spesifikasi jauh lebih mumpuni. Namun, bagi para kolektor dan Gen Z, perbandingan spesifikasi di atas kertas ini sama sekali tidak relevan. Ada nilai sentimental dan estetika yang tidak bisa digantikan oleh sekadar angka pada tabel performa.

Melawan Dominasi Algoritma dan Gangguan Digital

Pertanyaannya kemudian, mengapa mereka memilih perangkat yang fungsinya sangat terbatas? Jawabannya terletak pada keinginan untuk melakukan ‘detoks digital’. Gen Z mulai menyadari bahwa mendengarkan musik melalui smartphone sering kali membawa gangguan yang tidak diinginkan. Notifikasi pesan WhatsApp, godaan untuk melihat linimasa media sosial, hingga interupsi iklan pada platform streaming dianggap sebagai polusi dalam pengalaman menikmati musik.

Baca Juga Fakta Sebenarnya di Balik Viral Teror Pocong: Klarifikasi Rizky Yajibibowo dan Jeratan Hoaks Media Sosial
Fakta Sebenarnya di Balik Viral Teror Pocong: Klarifikasi Rizky Yajibibowo dan Jeratan Hoaks Media Sosial

Dengan menggunakan iPod, seorang pengguna hanya bisa melakukan satu hal: mendengarkan musik. Tidak ada algoritma yang mendikte lagu apa yang harus didengar selanjutnya, tidak ada pemberitahuan email masuk yang merusak suasana hati, dan yang paling penting, tidak ada kebutuhan untuk selalu terhubung ke internet. Pengalaman mendengarkan secara offline ini memberikan rasa kontrol kembali kepada pengguna atas konsumsi konten mereka sendiri.

iPod Sebagai Bentuk Perlawanan Terhadap Aturan Sekolah

Selain alasan filosofis mengenai kesehatan mental, ada alasan praktis yang membuat iPod begitu digemari di kalangan pelajar. Di banyak negara, sekolah-sekolah menerapkan aturan ketat yang melarang penggunaan smartphone di area kelas untuk menjaga fokus siswa. Namun, iPod sering kali berada di ‘zona abu-abu’.

Baca Juga Gebrakan Futuristik! PUBG Mobile x aespa Bawa Demam ‘Whiplash’ dan Koleksi Eksklusif ke Arena Battle Royale
Gebrakan Futuristik! PUBG Mobile x aespa Bawa Demam ‘Whiplash’ dan Koleksi Eksklusif ke Arena Battle Royale

Karena perangkat ini tidak memiliki kamera (pada sebagian besar model) dan tidak memiliki akses internet untuk media sosial, banyak guru yang lebih lunak dalam memberikan izin. iPod dianggap murni sebagai alat bantu belajar atau media relaksasi tanpa potensi distraksi sebesar smartphone. Hal ini menjadikan iPod sebagai gaya hidup baru di sekolah-sekolah menengah, di mana kabel earphone berwarna putih kembali menjadi simbol status yang ‘cool’.

Sentuhan Klasik Click Wheel yang Tak Tergantikan

Ada aspek taktil yang membuat iPod begitu istimewa dibandingkan perangkat layar sentuh modern. Click Wheel atau roda putar yang ikonik memberikan sensasi fisik yang memuaskan saat menelusuri daftar lagu. Bagi Gen Z, hal ini memberikan kesan autentik dan ‘analog’ yang tidak ditemukan pada permukaan layar kaca yang datar.

Baca Juga Berkah Mei 2026! Sony Resmi Bagikan EA Sports FC 26 Gratis untuk Pengguna PlayStation Plus, Cek Detailnya di Sini
Berkah Mei 2026! Sony Resmi Bagikan EA Sports FC 26 Gratis untuk Pengguna PlayStation Plus, Cek Detailnya di Sini

Selain itu, muncul pula komunitas modifikasi (modders) yang membuat iPod lama tetap relevan di masa kini. Banyak pengguna yang sengaja membeli iPod Classic bekas, lalu mengganti hard drive internalnya dengan memori flash (SD Card) yang lebih cepat dan berkapasitas besar, bahkan hingga 1 Terabyte. Mereka juga mengganti baterai lama dengan baterai berkapasitas tinggi, menciptakan sebuah perangkat pemutar musik yang sanggup menyimpan ribuan lagu kualitas tinggi (lossless) tanpa perlu khawatir kehabisan daya dalam hitungan hari.

Masa Depan iPod: Akankah Apple Menghidupkannya Kembali?

Melihat animo yang begitu besar, banyak pihak bertanya-tanya apakah Tim Cook dan kawan-kawan akan tergoda untuk merilis kembali iPod dalam versi modern. Tony Fadell, sosok yang dikenal sebagai ‘Bapak iPod’, sempat menyuarakan pendapatnya bahwa Apple seharusnya mempertimbangkan untuk menghidupkan kembali perangkat ini dengan sentuhan modern namun tetap mempertahankan kesederhanaannya.

Namun, hingga saat ini, Apple tampaknya masih teguh pada pendiriannya untuk memfokuskan seluruh ekosistem musik mereka pada iPhone dan Apple Music. Bagi Apple, iPod adalah bab yang sudah ditutup. Namun bagi para penggemarnya, iPod adalah warisan yang akan terus hidup selama masih ada orang yang menghargai kejernihan suara dan keindahan dalam kesederhanaan.

Kesimpulan: Lebih dari Sekadar Pemutar Musik

Fenomena meroketnya harga iPod bekas di tahun 2025 ini membuktikan bahwa teknologi tidak selalu harus tentang ‘lebih banyak fitur’. Terkadang, ‘lebih sedikit’ justru memberikan nilai lebih bagi penggunanya. iPod bukan lagi sekadar pemutar MP3, melainkan simbol perlawanan terhadap ketergantungan berlebih pada smartphone dan kerinduan akan era di mana teknologi diciptakan untuk membantu manusia menikmati momen, bukan untuk mencuri perhatiannya setiap detik.

Bagi Anda yang masih menyimpan iPod lama di laci meja, mungkin sekarang adalah waktu yang tepat untuk membersihkannya dari debu. Siapa tahu, perangkat mungil itu kini telah berubah menjadi harta karun berharga yang banyak diburu oleh generasi baru.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *