Krakatau Osaka Steel Gulung Tikar di Cilegon: Antara Krisis IKN dan Gempuran Baja Impor

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
07 Mei 2026, 14:12 WIB
Krakatau Osaka Steel Gulung Tikar di Cilegon: Antara Krisis IKN dan Gempuran Baja Impor

RadarLokal — Awan mendung menyelimuti langit industri manufaktur di Kota Baja, Cilegon. PT Krakatau Osaka Steel (KOS), salah satu pemain besar di sektor baja nasional, resmi mengumumkan penghentian operasional pabriknya. Keputusan pahit ini tidak hanya mengakhiri deru mesin di lantai produksi, tetapi juga membawa konsekuensi logis yang menyakitkan: gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) massal yang merenggut mata pencaharian ratusan buruh.

Badai PHK yang Terus Bertambah di Cilegon

Penutupan pabrik PT Krakatau Osaka Steel bukan sekadar angka di atas kertas, melainkan sebuah realitas sosial yang berat bagi para pekerja di Banten. Berdasarkan laporan terbaru yang diterima dari lapangan, jumlah pekerja yang terdampak kebijakan ini telah melampaui angka 161 orang dan kini diprediksi merangkak naik mendekati angka 200 orang. KOS sendiri merupakan perusahaan patungan atau joint venture strategis antara raksasa baja asal Jepang, Osaka Steel Co., Ltd., dengan emiten baja pelat merah kebanggaan Indonesia, PT Krakatau Steel Tbk (KRAS).

Baca Juga Strategi Bahlil Lahadalia Tekan Impor LPG: Transisi Besar Menuju CNG Demi Selamatkan Devisa Negara
Strategi Bahlil Lahadalia Tekan Impor LPG: Transisi Besar Menuju CNG Demi Selamatkan Devisa Negara

Presiden Partai Buruh sekaligus Ketua Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal, menegaskan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan di lapangan melalui Posko Orange yang telah dibentuk secara khusus untuk menangani krisis ini. Dalam pernyataannya di depan kantor Kementerian Ketenagakerjaan, Said mengungkapkan kekhawatirannya bahwa jumlah ini bisa terus membengkak seiring dengan proses likuidasi aset dan penutupan administrasi perusahaan secara total.

Akar Masalah: Melambatnya Proyek Strategis Nasional

Lantas, apa yang memicu tumbangnya perusahaan hasil kolaborasi internasional ini? Salah satu faktor utama yang menjadi kambing hitam adalah melambatnya serapan industri baja nasional. Selama beberapa tahun terakhir, lini produksi KOS sangat bergantung pada permintaan dari proyek-proyek infrastruktur masif pemerintah, terutama pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN) di Kalimantan Timur dan berbagai ruas jalan tol trans-nasional.

Baca Juga GOTO Pecahkan Rekor: Torehan Laba Bersih Perdana Rp 171 Miliar di Kuartal I-2026 Jadi Tonggak Baru Ekonomi Digital
GOTO Pecahkan Rekor: Torehan Laba Bersih Perdana Rp 171 Miliar di Kuartal I-2026 Jadi Tonggak Baru Ekonomi Digital

Namun, ketika ritme pembangunan di IKN mulai mengalami pergeseran jadwal atau penurunan intensitas, dampak domino langsung terasa di hulu industri. Permintaan terhadap baja konstruksi yang menjadi spesialisasi KOS menurun drastis. Said Iqbal menjelaskan bahwa ketika proyek-proyek besar ini melambat, perusahaan kehilangan pasar utamanya, yang pada akhirnya memaksa manajemen untuk melakukan rasionalisasi besar-besaran demi menghentikan kerugian yang lebih dalam.

Gempuran Baja ‘Banci’ dari Tiongkok

Selain faktor internal pasar domestik, tantangan global juga menjadi paku terakhir di peti mati operasional KOS. Banjir impor baja murah dari Tiongkok telah menciptakan medan persaingan yang tidak sehat bagi produsen lokal. Produk-produk impor ini sering kali dijuluki sebagai baja ‘banci’—sebuah istilah industri untuk baja yang memiliki spesifikasi ukuran atau kualitas sedikit di bawah standar nasional namun dijual dengan harga yang jauh lebih kompetitif.

Baca Juga Konektivitas Tanpa Batas: Mega Proyek Tol Sentul Selatan-Karawang Barat Siap Hubungkan Japek dan Bogor Ring Road
Konektivitas Tanpa Batas: Mega Proyek Tol Sentul Selatan-Karawang Barat Siap Hubungkan Japek dan Bogor Ring Road

Efisiensi skala produksi yang dimiliki oleh pabrik-pabrik di Tiongkok memungkinkan mereka menawarkan harga yang sulit ditandingi oleh produsen di Indonesia yang memiliki biaya energi dan operasional lebih tinggi. Ketidakmampuan bersaing secara harga inilah yang membuat produk-produk berkualitas dari PT KOS menumpuk di gudang tanpa pembeli, sementara pasar dibanjiri oleh produk impor berharga miring.

Kronologi Kejatuhan dan Respons Pemerintah

Keputusan untuk menutup pabrik ini sebenarnya bukan terjadi dalam semalam. Berdasarkan data internal perusahaan, PT Krakatau Osaka Steel dilaporkan telah mengalami kerugian beruntun sejak tahun 2022. Kinerja bisnis yang terus merosot akibat dinamika ekonomi global dan pandemi yang berkepanjangan membuat posisi keuangan perusahaan kian terhimpit. Dewan Direksi akhirnya mengambil keputusan final dalam rapat pada 23 Januari 2026 untuk menghentikan seluruh kegiatan produksi pada akhir April 2026, dengan target penutupan usaha secara total pada Juni 2026.

Baca Juga Waspada! Sindikat Penipuan Akun BCA Palsu di TikTok Incar Korban dengan Iming-Iming Pinjaman Tanpa Jaminan
Waspada! Sindikat Penipuan Akun BCA Palsu di TikTok Incar Korban dengan Iming-Iming Pinjaman Tanpa Jaminan

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) melalui Juru Bicaranya, Febri Hendri Antoni Arief, menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi ini. Pemerintah mengakui bahwa penutupan KOS memberikan dampak ekonomi dan sosial yang signifikan bagi wilayah Cilegon dan sekitarnya. Kemenperin juga terus mendorong agar perusahaan tetap berkomitmen penuh dalam memenuhi hak-hak para pekerja yang terdampak sesuai dengan koridor hukum yang berlaku di Indonesia.

Nasib Buruh dan Janji Pesangon

Di tengah ketidakpastian masa depan, ada sedikit titik terang bagi para buruh yang terkena PHK. Manajemen PT Krakatau Osaka Steel dikabarkan telah berkomitmen untuk memberikan kompensasi yang lebih baik daripada ketentuan minimum yang diatur dalam undang-undang. Kabar yang beredar menyebutkan bahwa perusahaan akan memberikan pesangon sebesar dua kali lipat dari aturan yang berlaku sebagai bentuk tanggung jawab sosial perusahaan kepada karyawan yang telah loyal selama bertahun-tahun.

Baca Juga Gebrakan Washington di Timur Tengah: Penjualan Senjata Rp 149 Triliun dan Strategi Bypass Kongres
Gebrakan Washington di Timur Tengah: Penjualan Senjata Rp 149 Triliun dan Strategi Bypass Kongres

Meskipun uang pesangon dapat menjadi bantalan sementara, namun hilangnya lapangan pekerjaan di sektor formal manufaktur tetap menjadi ancaman serius bagi pertumbuhan ekonomi daerah. Partai Buruh dan KSPI mendesak pemerintah untuk segera melakukan langkah antisipasi agar fenomena penutupan pabrik baja ini tidak menular ke perusahaan lain di kawasan industri Cilegon.

Refleksi Masa Depan Industri Baja Nasional

Kisah jatuhnya PT Krakatau Osaka Steel adalah peringatan keras bagi ketahanan industri nasional. Ketergantungan yang terlalu besar pada satu atau dua proyek besar pemerintah membuat industri rentan terhadap fluktuasi kebijakan politik dan anggaran. Di sisi lain, perlindungan terhadap produk dalam negeri melalui instrumen anti-dumping dan pengetatan standar SNI menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar lagi jika ingin menyelamatkan sisa-sisa kejayaan industri baja di tanah air.

Kini, Cilegon hanya bisa menatap nanar ketika salah satu aset industri terbaiknya harus berhenti berdenyut. Perjalanan KOS yang berakhir di tahun 2026 ini akan menjadi catatan penting dalam sejarah manufaktur Indonesia, tentang bagaimana persaingan global dan dinamika proyek domestik bisa meruntuhkan kerja sama internasional yang semula digadang-gadang akan menjadi pilar pembangunan bangsa.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *