Gunungan Sampah di TPS Tanah Baru Beji Viral, DLHK Depok Ungkap Akar Masalah dan Langkah Penanganan
RadarLokal — Pemandangan memprihatinkan kembali menghiasi sudut Kota Depok, tepatnya di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Tanah Baru, Kecamatan Beji. Baru-baru ini, sebuah rekaman video yang memperlihatkan tumpukan sampah setinggi tembok pembatas mendadak viral di berbagai platform media sosial. Tidak hanya pemandangan yang mengganggu mata, aroma menyengat yang menusuk hidung juga dilaporkan mulai meresahkan warga sekitar serta pengguna jalan yang melintas di kawasan padat penduduk tersebut.
Menanggapi keresahan publik yang kian meluas, Pemerintah Kota Depok melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) bergerak cepat melakukan langkah evakuasi. Kendati demikian, fenomena sampah menumpuk ini mengungkap tabir permasalahan yang lebih kompleks dalam sistem manajemen limbah di kota penyangga Jakarta ini. Bukan sekadar masalah pembersihan, namun ada rantai masalah yang harus segera diurai dari hulu hingga ke hilir.
Intervensi DLHK Depok di Tengah Keluhan Warga
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok, Reni Nuraeni, memberikan klarifikasi resmi terkait kondisi di lapangan. Menurutnya, tim dari DLHK telah dikerahkan untuk mulai mengangkut tumpukan sampah tersebut secara bertahap sejak Senin lalu. Penanganan ini dilakukan sebagai respons langsung atas video yang viral dan laporan masyarakat yang masuk ke meja dinas.
“Petugas kami sudah bergerak di lapangan. Proses pembersihan dan pengangkutan sudah dilakukan sejak awal pekan ini untuk meminimalisir dampak lingkungan yang ditimbulkan,” ujar Reni saat memberikan keterangan resmi kepada awak media. Ia menegaskan bahwa pihak pemerintah tidak tinggal diam melihat kondisi tersebut, namun ia juga mengakui adanya sejumlah hambatan teknis yang membuat pengangkutan tidak bisa dilakukan secepat yang diharapkan oleh warga.
Keterbatasan Armada Menjadi Kendala Utama
Dalam penelusuran lebih lanjut, terungkap bahwa salah satu penyebab utama di balik lambatnya proses pengosongan TPS adalah masalah infrastruktur. Reni menjelaskan bahwa keterbatasan armada pengangkut menjadi ganjalan serius. Dengan jumlah truk sampah yang tidak sebanding dengan volume produksi sampah harian warga, DLHK terpaksa menerapkan sistem pengangkutan terjadwal.
“Kendala utamanya adalah armada. Kami harus mengatur jadwal sedemikian rupa, terutama untuk penggunaan alat berat yang sangat krusial dalam memindahkan sampah dari TPS ke truk pengangkut. Tanpa alat berat yang prima, proses evakuasi sampah akan memakan waktu jauh lebih lama,” tambahnya. Hal ini diperparah dengan beberapa unit armada yang kerap mengalami kerusakan teknis akibat usia pakai, sehingga frekuensi pengangkutan menjadi berkurang.
Lonjakan Volume Sampah di Titik Strategis
TPS Tanah Baru bukan sekadar tempat penampungan sampah biasa. Lokasinya yang berada di perlintasan jalan utama dan dikelilingi oleh pemukiman warga yang sangat padat membuatnya menjadi magnet bagi produksi limbah domestik. Volume sampah di titik ini cenderung melonjak drastis, terutama setelah hari libur atau akhir pekan (weekend).
Kapasitas TPS yang ada saat ini dianggap sudah tidak lagi memadai untuk menampung aliran sampah yang masuk setiap harinya. Fenomena over kapasitas ini menjadi pemandangan yang berulang. Ketika volume sampah yang masuk jauh lebih besar daripada kemampuan angkut keluar menuju Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Cipayung, maka penumpukan menjadi konsekuensi logis yang sulit dihindari. Ketidakseimbangan ini menuntut adanya perluasan lahan atau modernisasi sistem pengelolaan sampah di tingkat kelurahan.
Menuju Solusi Berkelanjutan: Memilah dari Rumah
Menyadari bahwa penambahan armada dan tenaga kebersihan bukan satu-satunya solusi jangka panjang, DLHK Kota Depok mulai menggencarkan kampanye kesadaran masyarakat. Reni menekankan bahwa kunci utama dalam memutus rantai masalah sampah di Depok adalah kolaborasi aktif dari seluruh lapisan masyarakat. Langkah awal yang paling krusial adalah dengan melakukan pemilahan sampah organik dan anorganik dari tingkat rumah tangga.
“Kami mendorong warga untuk mulai memilah sampah organiknya sendiri. Jika sampah organik bisa dikelola di tingkat RT atau RW melalui komposting atau metode lainnya, maka beban sampah yang masuk ke TPS dan TPA akan berkurang secara signifikan,” jelasnya. Dengan berkurangnya volume sampah yang harus diangkut, maka masalah limbah domestik yang meluap tidak perlu terjadi lagi di masa mendatang.
Sinergi Antar-Lembaga dan Harapan Warga
Selain edukasi kepada warga, DLHK juga berkoordinasi erat dengan pihak Kelurahan serta pengurus RT dan RW setempat. Tujuannya adalah untuk menciptakan sistem pengawasan dan tata kelola pembuangan sampah yang lebih tertib. Sinergi ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi warga Depok, khususnya di wilayah Beji yang menjadi salah satu jantung aktivitas kota.
Warga berharap langkah pengangkutan yang dilakukan saat ini tidak hanya menjadi aksi sesaat akibat viralnya sebuah video. Masyarakat menginginkan adanya konsistensi dalam jadwal pengangkutan serta pemeliharaan fasilitas TPS agar tidak menimbulkan bau menyengat yang bisa berdampak pada kesehatan pernapasan. Ke depannya, perbaikan sistem logistik dan penambahan armada yang lebih modern diharapkan menjadi prioritas dalam anggaran pembangunan kota demi mewujudkan Depok yang bersih dan nyaman bagi semua.
Persoalan sampah memang menjadi tantangan besar bagi kota-kota besar yang sedang berkembang pesat. Namun, dengan transparansi dari pemerintah seperti yang ditunjukkan DLHK dan kesadaran kolektif dari masyarakat, gunungan sampah di Tanah Baru diharapkan segera menjadi cerita lama yang tidak akan terulang kembali. Mari kita mulai peduli dari hal kecil, yakni dengan tidak membuang sampah sembarangan dan mulai memilahnya dari rumah masing-masing.