Paradoks Inklusi Keuangan Indonesia: Antara Lonjakan Akses 90 Persen dan Tantangan Literasi yang Menghadang

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
18 Jun 2026, 16:12 WIB
Paradoks Inklusi Keuangan Indonesia: Antara Lonjakan Akses 90 Persen dan Tantangan Literasi yang Menghadang

RadarLokal — Panggung ekonomi digital Indonesia tengah berada di persimpangan jalan yang krusial. Di satu sisi, angka inklusi keuangan telah meroket hingga menyentuh level 90 persen, sebuah pencapaian yang menandakan bahwa mayoritas masyarakat kini memiliki akses ke layanan perbankan maupun tekfin. Namun, di sisi lain, tingginya angka tersebut justru menyingkap sebuah paradoks yang mengkhawatirkan: literasi keuangan masyarakat masih tertinggal jauh di belakang.

Persoalan mendasar ini menjadi sorotan utama dalam diskusi bertajuk ‘Infrastructure, Investment, Impact: Building Inclusive Financial Ecosystems’ yang digelar pada ajang bergengsi The 2026 Asia Grassroots Forum di Jakarta. Di hadapan para pemangku kepentingan, terlihat jelas bahwa sekadar memiliki rekening bank atau aplikasi dompet digital tidaklah cukup untuk menjamin kesejahteraan ekonomi jika tidak dibarengi dengan pemahaman yang mendalam mengenai pengelolaan dana.

Baca Juga Jadwal MPL ID S17 Week 8: Pertarungan Sengit Dewa United Esports Tantang Sang Raja Onic
Jadwal MPL ID S17 Week 8: Pertarungan Sengit Dewa United Esports Tantang Sang Raja Onic

Melampaui Angka Statistik: Inklusi Bukan Sekadar Akses

Komisaris Utama Amartha yang juga merupakan mantan Menteri Komunikasi dan Informatika periode 2014-2019, Rudiantara, memberikan pandangan kritisnya mengenai fenomena ini. Menurutnya, keberhasilan transformasi digital di sektor keuangan tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak orang yang terhubung dengan sistem, melainkan seberapa bijak mereka menggunakan sistem tersebut untuk meningkatkan taraf hidup.

“Inklusi keuangan saja tidak cukup. Masyarakat perlu memahami cara mengelola keuangan secara bijak, bukan sekadar memiliki akses terhadap produk keuangan,” tegas Rudiantara dalam diskusi tersebut. Ia menekankan bahwa tanpa literasi keuangan yang mumpuni, akses yang luas justru bisa menjadi bumerang bagi masyarakat yang belum siap secara pengetahuan.

Baca Juga Tragedi di Balik Layar ‘3 Body Problem’: Ambisi, Pengkhianatan, dan Akhir Hidup Sang Eksekutor Xu Yao
Tragedi di Balik Layar ‘3 Body Problem’: Ambisi, Pengkhianatan, dan Akhir Hidup Sang Eksekutor Xu Yao

Kesenjangan ini menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi pemerintah dan pelaku industri. Data menunjukkan bahwa meskipun masyarakat desa hingga kota kini bisa dengan mudah mengajukan pinjaman atau membuka tabungan lewat ponsel, banyak dari mereka yang belum memahami mekanisme bunga, risiko investasi, hingga perencanaan keuangan jangka panjang. Hal ini sering kali berujung pada terjebaknya masyarakat dalam jeratan utang yang tidak sehat atau penggunaan produk keuangan yang tidak sesuai kebutuhan.

Risiko di Balik Pesatnya Perkembangan Fintech

Dunia keuangan digital atau fintech terus berkembang dengan kecepatan yang luar biasa. Berbagai kemudahan yang ditawarkan, mulai dari paylater hingga pinjaman cepat, memang membantu likuiditas masyarakat. Namun, Rudiantara memperingatkan bahwa tanpa edukasi, masyarakat berisiko menggunakan layanan ini secara tidak optimal atau bahkan terjerumus ke dalam keputusan finansial yang fatal.

Baca Juga Menelusuri Jejak iPhone Layar Lipat di Balik Tabir iOS 27: Revolusi Baru Apple Segera Tiba?
Menelusuri Jejak iPhone Layar Lipat di Balik Tabir iOS 27: Revolusi Baru Apple Segera Tiba?

Pria yang akrab disapa Chief RA ini menilai bahwa pendekatan literasi keuangan tidak bisa dilakukan dengan metode one-size-fits-all. Strategi edukasi harus disesuaikan dengan profil dan karakteristik masyarakat yang dilayani. Bagi masyarakat di perkotaan, literasi mungkin bisa dilakukan melalui kampanye digital. Namun, bagi masyarakat pedesaan dan pelaku usaha ultra mikro, ceritanya sangat berbeda.

Strategi Pendampingan Langsung di Akar Rumput

Amartha, sebagai salah satu pemain kunci dalam pembiayaan mikro, telah lama menyadari pentingnya sentuhan manusia dalam membangun ekosistem keuangan yang inklusif. Rudiantara mengungkapkan bahwa fokus utama mereka adalah memberdayakan perempuan pelaku usaha mikro di wilayah pedesaan yang sering kali terabaikan oleh sistem perbankan konvensional.

Baca Juga Fenomena Ikan Sapu-Sapu Berjalan di Daratan: Ancaman Invasif yang Lebih Tangguh dari Dugaan
Fenomena Ikan Sapu-Sapu Berjalan di Daratan: Ancaman Invasif yang Lebih Tangguh dari Dugaan

Saat ini, sekitar 70% mitra Amartha berada di luar Pulau Jawa. Untuk memastikan para mitra ini tidak hanya mendapatkan modal tetapi juga tumbuh secara finansial, Amartha mengerahkan lebih dari 9.000 tenaga lapangan. Para petugas ini bukan sekadar penagih, melainkan mentor yang memberikan edukasi serta pendampingan secara langsung secara tatap muka.

  • Edukasi Pengelolaan Usaha: Membantu pelaku usaha memisahkan keuangan pribadi dan modal usaha.
  • Perencanaan Keuangan: Memberikan pemahaman mengenai pentingnya menabung untuk masa depan.
  • Pemanfaatan Teknologi: Memandu masyarakat desa agar terbiasa dengan transaksi digital yang aman.

Pendampingan semacam ini dianggap sebagai kunci untuk mengubah kebiasaan keuangan masyarakat dari sekadar konsumtif menjadi produktif. Tanpa adanya pendampingan, modal yang disalurkan berisiko habis untuk kebutuhan jangka pendek tanpa memberikan dampak pada pertumbuhan usaha.

Baca Juga Revolusi Penyimpanan Samsung: Mengupas Kecanggihan MicroSD T7 dan T9 untuk Era Kreator Digital
Revolusi Penyimpanan Samsung: Mengupas Kecanggihan MicroSD T7 dan T9 untuk Era Kreator Digital

Konektivitas Digital sebagai Tulang Punggung Ekonomi

Dalam forum yang sama, Director and Chief Information Technology Officer XLSmart, Yessie D. Yosetya, turut memberikan perspektif dari sisi infrastruktur. Ia menekankan bahwa layanan keuangan digital mustahil berjalan optimal tanpa dukungan konektivitas yang stabil dan merata.

Meskipun Indonesia telah membuat kemajuan besar dalam pembangunan jaringan, tantangan di daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) masih terasa nyata. Yessie menegaskan bahwa konektivitas jangan hanya dilihat sebagai sarana hiburan atau akses internet semata, melainkan sebagai alat produksi ekonomi.

“Konektivitas perlu dilihat bukan hanya sebagai akses internet, tetapi bagaimana akses tersebut dapat diterjemahkan menjadi pertumbuhan ekonomi dan peningkatan produktivitas masyarakat,” ungkapnya. Dengan internet yang merata, pelaku usaha di pelosok daerah dapat mengakses pasar yang lebih luas dan menggunakan platform transformasi digital untuk memperkuat bisnis mereka.

Sandiaga Uno: Akses Pasar Lebih Mendesak dari Modal

Mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno, yang juga hadir sebagai pembicara, memberikan sudut pandang menarik mengenai pertumbuhan UMKM. Menurutnya, pembiayaan memang penting, namun ada hal lain yang sering kali lebih dibutuhkan oleh pelaku usaha kecil di tahap awal.

Sandiaga menyebutkan tiga pilar utama perkembangan UMKM: akses pendidikan, akses pasar, dan akses pembiayaan. “Tahap awal, akses pasar sering kali menjadi kebutuhan yang lebih mendesak dibandingkan pembiayaan, karena pelaku usaha kecil perlu memastikan produknya dapat terserap oleh pasar,” ujar Sandiaga.

Ia juga menambahkan bahwa edukasi keuangan berperan vital dalam menjaga keberlanjutan usaha. Jika seorang pengusaha kecil memiliki akses modal tetapi tidak memiliki akses pasar, modal tersebut hanya akan menjadi beban utang. Oleh karena itu, sinergi antara ketersediaan modal, kemampuan memasarkan produk, dan kecerdasan mengelola uang adalah trilogi yang tidak bisa dipisahkan dalam pemberdayaan UMKM.

Membangun Sinergi Lintas Sektor untuk Dampak Nyata

Diskusi panel yang dimoderatori oleh Eddi Danusaputro dari BNI Ventures ini menghadirkan beragam narasumber berpengaruh, termasuk Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, serta President Director Superbank, Tigor M. Siahaan. Kehadiran para tokoh ini menegaskan bahwa masalah inklusi dan literasi keuangan adalah isu multisektoral yang membutuhkan kolaborasi erat antara pemerintah, penyedia layanan telekomunikasi, perbankan, dan perusahaan teknologi keuangan.

Indonesia memiliki potensi ekonomi yang luar biasa besar di tingkat akar rumput. Namun, untuk melepaskan potensi tersebut secara maksimal, angka 90 persen inklusi tidak boleh membuat kita berpuas diri. Upaya masif untuk meningkatkan literasi harus terus digalakkan agar setiap rupiah yang mengalir dalam ekosistem digital benar-benar menjadi motor penggerak kesejahteraan bagi seluruh lapisan masyarakat, tanpa terkecuali.

Dengan infrastruktur yang kuat, akses pembiayaan yang mudah, literasi yang mumpuni, dan keterbukaan pasar, Indonesia dapat memastikan bahwa transformasi keuangan digital bukan sekadar tren sesaat, melainkan fondasi kokoh bagi kedaulatan ekonomi nasional di masa depan.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *