Potret Kelam Pasar Padurenan Baru Bekasi: Pusat Ekonomi yang Kini Tercekik Sampah dan Kesunyian
RadarLokal — Mengiris hati adalah kalimat yang paling tepat untuk menggambarkan kondisi terkini Pasar Padurenan Baru, Kota Bekasi. Kawasan yang seharusnya menjadi denyut nadi ekonomi lokal dan tempat interaksi hangat antara penjual dan pembeli, kini justru bertransformasi menjadi monumen kegagalan tata kelola pasar tradisional yang sangat memprihatinkan.
Bangunan yang dulunya megah dan dipenuhi harapan para pedagang, kini tampak layaknya bangunan berhantu di tengah hiruk-pikuk Jalan Raya Bantar Gebang-Setu. Berdasarkan pantauan mendalam tim di lapangan, suasana muram sudah menyapa siapa saja yang melintas di depan gerbang pasar. Alih-alih aroma bumbu dapur atau segar sayur-mayur, hidung pengunjung justru disambut oleh aroma busuk yang menusuk, menandakan ada yang salah dengan eksistensi pusat niaga ini.
Fasad yang Menipu dan Kesunyian yang Mencekam
Secara administratif, Pasar Padurenan Baru terletak di lokasi yang sangat strategis, tepat di samping SD Padurenan I dan dikelilingi oleh pemukiman warga yang padat. Logikanya, pasar ini seharusnya tidak pernah kekurangan pelanggan. Namun, kenyataan di lapangan berkata lain. Dari tampak depan, kawasan pasar terlihat sangat lesu dan kehilangan gairah hidup. Aktivitas keluar-masuk kendaraan maupun pejalan kaki bisa dihitung dengan jari dalam hitungan jam.
Di area depan, hanya tersisa segelintir pedagang makanan yang masih mencoba bertahan di tengah badai ketidakpastian. Kios-kios mereka yang terbuka tampak seperti oase kecil di tengah gurun, namun jumlah pembeli yang datang sangat minim. Wajah-wajah lesu para pedagang yang menunggu pelanggan menjadi pemandangan sehari-hari yang menambah kesan melankolis di Kota Bekasi ini.
Lorong-Lorong Gelap dan Kios yang Terkunci Rapat
Melangkah lebih dalam ke bagian tengah pasar, struktur bangunan yang memanjang ke samping mulai memperlihatkan luka-lukanya. Masih ada beberapa lapak pedagang sayur yang mencoba menyambung hidup. Mereka menempati meja-meja beton besar yang sebenarnya mampu menampung berbagai komoditas pangan. Namun, pemandangan segar sayuran hijau seolah tenggelam oleh deretan kios di sekelilingnya yang sudah lama tutup permanen.
Pintu-pintu rolling door berwarna hijau tua yang kini telah berkarat dan kusam menjadi saksi bisu hengkangnya para penyewa. Lorong-lorong antarkios terasa sangat kumuh dan mencekam. Minimnya pencahayaan karena instalasi listrik yang mungkin sudah tidak berfungsi optimal, ditambah dengan ketiadaan aktivitas manusia, membuat area ini terasa sangat tidak nyaman. Sulit dibayangkan bagaimana sebuah pasar tradisional yang seharusnya hidup bisa menjadi sekosong ini.
Transformasi Menjadi Tempat Pembuangan Sampah
Kondisi paling memprihatinkan ditemukan pada bangunan pasar di sisi samping. Bagian ini sudah tidak bisa lagi disebut sebagai pasar. Sebagian besar atap bangunan telah sirna, menyisakan kerangka-kerangka besi yang mencuat ke langit seperti tulang belulang. Dinding-dinding kios banyak yang sudah roboh, menyisakan puing-puing bata yang berserakan di lantai yang becek.
Di titik inilah, fungsi pasar telah bergeser secara paksa menjadi tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal. Tumpukan sampah rumah tangga dalam kantong-kantong plastik besar menggunung di sudut-sudut kios yang kosong. Bau busuk yang dihasilkan sangat menyengat, bahkan hembusan angin sepoi-sepoi pun sanggup membawa aroma tidak sedap itu hingga ke area luar pasar. Siapa pun yang berani melintas di area ini dipastikan akan menutup hidung rapat-rapat karena tingkat polusi bau yang sudah di luar batas kewajaran.
Akses Ilegal dan Dampak Sosial Bagi Warga
Menariknya, di tembok pembatas bagian belakang pasar yang berbatasan langsung dengan pemukiman, terdapat banyak lubang berukuran besar. Lubang-lubang ini diduga sengaja dibuat atau dibiarkan sebagai akses jalan pintas bagi warga sekitar. Namun sayangnya, lubang tersebut juga menjadi pintu masuk bagi pembuangan sampah rumah tangga secara sembarangan.
Banyaknya sampah yang menumpuk tepat di bawah lubang-lubang tembok tersebut memperkuat dugaan bahwa pasar ini telah dijadikan tempat pembuangan sampah oleh oknum yang tidak bertanggung jawab. Dampak dari kondisi ini tentu sangat luas, mulai dari masalah kesehatan masyarakat hingga menurunnya nilai estetika lingkungan di kelurahan Padurenan.
Warga sekitar kini cenderung menghindari berbelanja di dalam pasar karena kondisinya yang tidak higienis dan menyeramkan. Kebanyakan warga lebih memilih berbelanja di warung-warung kecil atau pedagang sayur keliling yang masuk ke perumahan mereka. Kehilangan kepercayaan konsumen inilah yang menjadi paku terakhir pada peti mati eksistensi Pasar Padurenan Baru.
Urgensi Revitalisasi dan Harapan Masa Depan
Fenomena matinya Pasar Padurenan Baru ini seharusnya menjadi alarm keras bagi Pemerintah Kota Bekasi. Revitalisasi pasar bukan hanya soal membangun gedung baru, melainkan juga tentang manajemen limbah, jaminan keamanan, dan kenyamanan bagi pedagang maupun pembeli. Tanpa adanya tindakan tegas untuk membersihkan sampah dan memperbaiki infrastruktur yang rusak, pasar ini akan terus menjadi beban lingkungan daripada aset ekonomi.
Melihat kondisi bangunan yang sudah nyaris roboh di beberapa bagian, diperlukan evaluasi struktural yang menyeluruh. Apakah bangunan ini masih layak dipertahankan atau harus diruntuhkan untuk dibangun ulang dengan konsep yang lebih modern dan bersih. Selain itu, penanganan masalah lingkungan hidup terkait tumpukan sampah yang membusuk harus segera dilakukan sebelum menimbulkan wabah penyakit bagi siswa-siswi di SD Padurenan I yang lokasinya bertetangga langsung.
Pasar Padurenan Baru adalah cermin dari tantangan besar yang dihadapi pasar tradisional dalam berkompetisi dengan ritel modern dan pola belanja masyarakat yang berubah. Namun, mengubah pasar menjadi tempat sampah bukanlah solusi. Diperlukan tangan dingin dan kebijakan yang berpihak pada pedagang kecil agar pasar ini kembali pulih, bersih, dan menjadi tempat kebanggaan warga Bekasi seperti sedia kala.