Seni Parenting Shandy Sjariff: Menyeimbangkan Ketegasan dan Kehangatan dalam Membesarkan Buah Hati
RadarLokal — Menavigasi peran sebagai orang tua di tengah gemerlap dunia hiburan bukanlah perkara mudah. Namun, aktor kawakan Shandy Sjariff tampaknya telah menemukan formula yang tepat dalam mendidik kedua putrinya. Di balik sosoknya yang kerap menghiasi layar kaca, Shandy ternyata menyimpan prinsip hidup yang kuat, terutama dalam hal pola asuh anak. Ia tidak hanya berperan sebagai figur ayah yang melindungi, tetapi juga sebagai sahabat yang mampu menciptakan suasana menyenangkan bagi keluarganya.
Saat ditemui oleh tim RadarLokal di sela-sela aktivitasnya di Studio Trans TV, kawasan Mampang, Jakarta Selatan, Shandy berbagi perspektif mendalam mengenai bagaimana ia membangun fondasi karakter bagi kedua putrinya. Baginya, hubungan antara ayah dan anak adalah sebuah perjalanan dinamis yang melibatkan kombinasi antara disiplin yang kokoh dan kasih sayang yang tak terbatas. Shandy menyadari bahwa setiap fase pertumbuhan anak membutuhkan pendekatan yang berbeda, namun nilai-nilai dasar harus tetap ditanamkan sejak dini.
Harmoni Antara Disiplin dan Kebahagiaan Keluarga
Bagi Shandy Sjariff, menjadi ayah yang asyik bukan berarti melepaskan kendali atas kedisiplinan. Ia meyakini bahwa anak-anak membutuhkan batasan yang jelas untuk memahami mana yang benar dan mana yang salah. “Disiplin dan lain-lain itu tetap ada, tapi kita juga harus tahu kapan saatnya happy-happy bareng. Kualitas waktu atau quality time itu sangat krusial bagi kami,” ungkap Shandy dengan nada yang hangat namun penuh penekanan.
Pria berusia 45 tahun ini menjelaskan bahwa kedisiplinan bukan berarti menciptakan suasana mencekam di rumah. Sebaliknya, hal itu adalah bentuk parenting anak yang bertujuan untuk membentuk tanggung jawab. Di saat-saat santai, Shandy sering kali meluangkan waktu untuk sekadar bercengkerama atau melakukan aktivitas seru bersama putri-putrinya. Ia ingin anak-anaknya merasa bahwa rumah adalah tempat yang paling nyaman, meskipun di dalamnya terdapat aturan-aturan yang harus dipatuhi demi kebaikan mereka sendiri.
Pendekatan yang dilakukan Shandy ini sejalan dengan konsep disiplin positif, di mana orang tua memberikan batasan tanpa harus menghilangkan rasa percaya diri sang anak. Dengan cara ini, anak-anak tidak hanya patuh karena takut, melainkan karena mereka memahami alasan di balik setiap aturan tersebut. Shandy mengaku bahwa konsistensi adalah kunci utama agar pesan yang ingin ia sampaikan dapat diterima dengan baik oleh anak-anaknya.
Ketegasan Sebagai Wujud Kasih Sayang yang Nyata
Meskipun ia dikenal sebagai sosok yang ramah dan murah senyum, Shandy tidak menampik bahwa dirinya bisa bersikap sangat tegas ketika situasi menuntut. Baginya, ketegasan adalah salah satu instrumen penting dalam mendidik karakter anak agar tidak lembek saat menghadapi realitas kehidupan nantinya. Shandy tidak ragu untuk bersikap keras dalam konteks memberikan teguran yang membangun.
“Sebagai seorang ayah, memang di saat aku butuh untuk lebih tegas atau sedikit lebih keras, ya itu akan aku lakukan. Ini bukan soal marah-marah tanpa alasan, tapi lebih kepada memberikan pemahaman bahwa setiap tindakan memiliki konsekuensi,” tegas Shandy. Ia menambahkan bahwa sikap tegasnya selalu diikuti dengan penjelasan logis agar anak tidak merasa dihakimi secara sepihak.
Dalam kacamata Shandy, seorang ayah harus mampu menjadi pilar kekuatan dalam keluarga. Ketegasan yang ia terapkan adalah bentuk perlindungan agar anak-anaknya tidak salah melangkah. Di era digital yang penuh dengan distraksi seperti sekarang, Shandy merasa tantangan mendidik anak semakin berat, sehingga integritas seorang ayah dalam memberikan arahan menjadi sangat vital.
Prinsip Keadilan: Menghapus Sekat di Antara Dua Putri
Salah satu poin menarik dari pola asuh yang diterapkan oleh Shandy Sjariff adalah komitmennya untuk tidak membeda-bedakan perlakuan terhadap kedua putrinya. Meskipun kedua buah hatinya memiliki perbedaan usia sekitar lima tahun, Shandy berusaha memberikan porsi perhatian, kasih sayang, dan fasilitas yang setara. Baginya, rasa adil adalah kunci untuk mencegah munculnya kecemburuan saudara (sibling rivalry).
“Semua sama. Bentuk kasih sayang, perhatian, hingga apa pun yang mereka butuhkan, sebisa mungkin kami usahakan untuk sama. Jadi tidak ada perbedaan dalam hal-hal tersebut,” jelasnya. Dengan memberikan perlakuan yang adil, Shandy berharap kedua putrinya dapat tumbuh dengan rasa saling mendukung satu sama lain, bukan saling bersaing untuk mendapatkan perhatian orang tua.
Keadilan ini juga tercermin dalam bagaimana Shandy mendengarkan pendapat mereka. Ia memberikan ruang bagi setiap anaknya untuk mengekspresikan keinginan dan perasaan mereka tanpa ada yang merasa dikesampingkan. Pendekatan inklusif ini menciptakan ikatan emosional yang kuat antara Shandy dan putri-putrinya, membangun rasa saling percaya yang menjadi dasar dalam setiap interaksi keluarga.
Diva: Kesaksian Sang Putri Mengenai Sosok Ayah Ideal
Diva, putri sulung Shandy Sjariff, memberikan kesaksian yang memperkuat pernyataan sang ayah. Menurut Diva, ayahnya adalah sosok yang sangat peka terhadap kebutuhan anak-anaknya. Ia tidak melihat ayahnya hanya sebagai sosok otoriter, melainkan sebagai pelindung yang sangat perhatian. Diva merasa bahwa ayahnya selalu berusaha untuk memahami apa yang diinginkan dan dibutuhkan oleh anak-anaknya, baik secara materi maupun dukungan emosional.
“Sebenarnya Papa kalau soal caring atau kepedulian sama anak-anak itu bagus banget. Papa sering perhatiin apa yang jadi kebutuhan atau keinginan kita berdua,” tutur Diva dengan penuh bangga. Namun, Diva juga tidak memungkiri bahwa ia dan adiknya harus siap menerima konsekuensi jika melakukan kesalahan.
“Kalau misalnya ada salah dari aku, ya Papa akan tegas. Beliau akan tegas sama kita berdua tanpa terkecuali,” ungkapnya lagi. Pengakuan dari Diva ini menunjukkan bahwa pola asuh yang diterapkan Shandy berhasil diterima dengan baik oleh anak-anaknya. Mereka memahami bahwa ketegasan ayahnya bukanlah bentuk kebencian, melainkan cara untuk memastikan mereka tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bertanggung jawab.
Menghadapi Tantangan Zaman dengan Kualitas Waktu
Shandy menyadari bahwa di tengah kesibukan sebagai figur publik, waktu adalah komoditas yang paling berharga. Oleh karena itu, ia sangat memprioritaskan kualitas pertemuan dibandingkan kuantitasnya. Setiap ada kesempatan, Shandy akan melepaskan atribut keartisannya dan sepenuhnya menjadi seorang ayah. Baginya, momen-momen kecil seperti makan bersama atau sekadar mengobrol sebelum tidur adalah investasi jangka panjang bagi kesehatan mental anak-anaknya.
Kisah Shandy Sjariff ini menjadi inspirasi bagi banyak orang tua di luar sana bahwa hubungan ayah dan anak yang harmonis memerlukan kerja keras dan kesadaran penuh. Tidak ada orang tua yang sempurna, namun dengan niat tulus untuk terus belajar dan beradaptasi, setiap orang tua bisa menjadi sosok yang diidolakan oleh anak-anaknya sendiri. Shandy membuktikan bahwa menjadi tegas dan menjadi asyik bisa berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan.
Melalui konsistensi dalam memberikan kasih sayang yang adil dan ketegasan yang mendidik, Shandy Sjariff telah meletakkan batu pertama bagi masa depan cerah anak-anaknya. Ia tidak hanya mewariskan nama besar, tetapi yang lebih penting, ia mewariskan karakter dan nilai-nilai moral yang akan terus dibawa oleh putri-putrinya hingga dewasa nanti.