Pesona Mahkota Binokasih di Bogor: Merayakan Milangkala Tatar Sunda dengan Kemegahan Budaya yang Memukau
RadarLokal — Kota Bogor baru saja menjadi saksi bisu sebuah peristiwa bersejarah yang menggetarkan sanubari masyarakat Jawa Barat. Gemuruh tabuhan kendang, warna-warni kostum tradisional, dan atmosfer kesakralan menyatu dalam sebuah perhelatan akbar bertajuk Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda. Acara yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat ini bukan sekadar parade biasa, melainkan sebuah manifestasi penghormatan mendalam terhadap akar peradaban tanah Pasundan.
Ribuan warga dari berbagai penjuru memadati trotoar, balkon gedung, hingga jembatan penyeberangan demi menyaksikan iring-iringan yang memukau. Antusiasme ini membuktikan bahwa di tengah gempuran modernitas, kecintaan terhadap identitas lokal tetap tumbuh subur di hati masyarakat. Kemeriahan ini kian terasa spesial karena dihadiri langsung oleh sejumlah tokoh penting, termasuk Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, serta deretan Kepala Daerah dari berbagai wilayah di Jawa Barat yang hadir memberikan dukungan penuh bagi pelestarian budaya.
Jejak Megah Peradaban di Jantung Kota Hujan
Rangkaian kirab ini menampilkan kekayaan intelektual dan seni dari 27 kabupaten dan kota di Jawa Barat. Tidak hanya itu, tamu kehormatan dari provinsi tetangga seperti Jakarta, Banten, dan Jawa Tengah turut mengirimkan delegasi seni mereka, menjadikan acara ini sebagai jembatan persaudaraan antarwilayah. Tercatat ada lebih dari 30 kelompok kesenian yang unjuk gigi, masing-masing membawa karakteristik unik yang menjadi ciri khas daerah asalnya.
Titik mula pawai berada di lokasi yang sangat simbolis, yakni Museum Pajajaran di Jalan Batutulis. Kawasan ini dikenal sebagai situs sejarah yang kental dengan aura Kerajaan Pajajaran masa lampau. Dari sana, iring-iringan bergerak perlahan melintasi Jalan MP Sidik dan berakhir di kawasan kuliner legendaris, Jalan Surya Kencana. Jarak tempuh sekitar 3,5 kilometer tersebut seolah menjadi lorong waktu yang membawa penonton kembali ke masa kejayaan leluhur.
Mahkota Binokasih: Simbol Kembalinya Sang Pusaka
Puncak dari segala perhatian pada malam itu tertuju pada kereta kencana yang membawa Mahkota Binokasih. Sebagai simbol kekuasaan dan kedaulatan kerajaan di Jawa Barat, kehadiran mahkota pusaka ini memberikan kesan magis sekaligus agung. Mahkota tersebut diarak dengan protokol ketat, melambangkan betapa berharganya warisan sejarah yang harus dijaga oleh generasi penerus. Bagi banyak warga, melihat langsung Mahkota Binokasih adalah pengalaman spiritual yang mengingatkan mereka pada kejayaan sejarah Sunda di masa lalu.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim, dalam keterangannya menekankan bahwa kirab ini merupakan bagian integral dari perayaan hari lahir atau milangkala peradaban Sunda. Ia menyebutkan bahwa Kota Bogor dipilih bukan tanpa alasan. Sebagai bekas pusat pemerintahan Pakuan Pajajaran, Bogor memiliki keterikatan batin yang sangat kuat dengan nilai-nilai filosofis yang diwariskan oleh Sri Baduga Maharaja.
Filosofi Kepemimpinan dan Warisan Leluhur
“Ini adalah sebuah rangkaian kegiatan yang penuh makna. Kita sedang berbicara tentang bagaimana menghargai hasil karya dan warisan para leluhur kita,” ujar Dedie A Rachim saat ditemui tim RadarLokal seusai acara. Menurutnya, Bogor adalah tempat di mana nilai-nilai kepemimpinan masa lalu masih bisa dirasakan hingga hari ini. Ia mengajak masyarakat untuk memetik pelajaran dari sejarah untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Dedie juga menambahkan bahwa identitas sebuah bangsa ditentukan oleh kemampuannya merawat ingatan kolektif. Dengan menghadirkan simbol-simbol seperti Mahkota Binokasih di tengah publik, pemerintah ingin memastikan bahwa narasi sejarah tidak hanya tersimpan di dalam buku-buku sekolah, tetapi juga hidup di ruang publik dan menjadi kebanggaan bersama bagi warga yang merindukan wisata budaya yang berkualitas.
Satu Darah, Satu Tradisi: Reuni Wilayah Bogor Raya
Senada dengan Wali Kota, Bupati Bogor Rudy Susmanto menyampaikan rasa bangganya atas terselenggaranya acara ini. Baginya, momen kepulangan Mahkota Binokasih ke Bogor adalah simbol persatuan. Ia mengingatkan kembali bahwa secara historis, wilayah Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok adalah satu kesatuan sebelum akhirnya berkembang menjadi daerah otonom masing-masing melalui proses pemekaran.
“Kami merasa terhormat dengan kehadiran Gubernur, Raja Sumedang, serta para tokoh adat dan budayawan. Malam ini, Mahkota Binokasih pulang kembali ke rumahnya di Bogor. Ini adalah pengingat bahwa meskipun kita kini terbagi secara administratif, akar budaya kita tetap satu,” ungkap Rudy dengan nada emosional. Kehadiran para tokoh adat ini memberikan legitimasi budaya yang kuat terhadap acara Milangkala Tatar Sunda tersebut.
Komitmen Nyata: Pembentukan Dinas Kebudayaan
Rudy Susmanto juga menegaskan bahwa komitmen Pemerintah Kabupaten Bogor terhadap kebudayaan tidak hanya berhenti pada seremoni pawai semata. Sebagai langkah konkret, Pemkab Bogor telah mengambil kebijakan strategis dengan membentuk dinas baru yang khusus menangani urusan kebudayaan, yakni Dinas Kebudayaan Kabupaten Bogor.
Pembentukan dinas ini bertujuan untuk mempercepat proses inventarisasi dan pelestarian berbagai cagar budaya, baik yang berbentuk fisik (benda) maupun yang bersifat tak benda seperti tradisi lisan, adat istiadat, dan seni pertunjukan. “Kita ingin bangsa ini maju dan modern, namun Jawa Barat, khususnya Bogor, tidak boleh meninggalkan jati dirinya sebagai orang Sunda. Dinas Kebudayaan adalah wadah bagi kami untuk memastikan seluruh situs sejarah tetap terjaga dan relevan bagi generasi mendatang,” tambahnya.
Harapan untuk Masa Depan Pariwisata Jawa Barat
Acara pawai budaya ini diharapkan dapat menjadi katalisator bagi kebangkitan sektor pariwisata di Jawa Barat pasca berbagai tantangan global. Dengan mengemas tradisi dalam pertunjukan yang menarik dan profesional, pemerintah optimis bahwa Jawa Barat dapat menjadi destinasi wisata budaya unggulan yang mampu bersaing di tingkat internasional.
Kesuksesan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Bogor malam itu meninggalkan kesan mendalam bagi setiap mata yang memandang. Di bawah sinar lampu kota dan sorak-sorai penonton, Mahkota Binokasih seolah berbisik bahwa kejayaan sebuah peradaban tidak akan pernah pudar selama rakyatnya masih menjunjung tinggi nilai-nilai luhur yang dititipkan oleh para pendahulu mereka. Jawa Barat telah membuktikan bahwa kemajuan zaman dan kelestarian tradisi dapat berjalan beriringan dalam harmoni yang indah.
Sebagai penutup, acara ini juga menjadi momentum bagi masyarakat untuk lebih peduli terhadap keamanan dan ketertiban di ruang publik, mengingat banyaknya kerumunan yang terjadi. Pemerintah mengimbau warga untuk tetap waspada dan saling menjaga satu sama lain agar setiap perayaan budaya dapat berjalan dengan lancar tanpa kendala berarti. Mari kita terus dukung upaya pemerintah daerah dalam menjaga kekayaan nusantara demi anak cucu kita di masa depan.