Strategi Danantara Memperkuat BUMN Hijau: Menakar Peluang IPO Denera dan Masa Depan Waste to Energy Indonesia

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
11 Mei 2026, 20:11 WIB
Strategi Danantara Memperkuat BUMN Hijau: Menakar Peluang IPO Denera dan Masa Depan Waste to Energy Indonesia

RadarLokal — Gelombang transformasi di tubuh Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini memasuki babak baru yang lebih progresif dan berorientasi pada keberlanjutan. Badan Pengelola Investasi (BPI) Daya Anagata Nusantara, atau yang lebih dikenal dengan sebutan Danantara, tengah mempersiapkan sebuah langkah strategis yang diprediksi akan mengubah peta industri energi terbarukan di tanah air. Fokus utama mereka saat ini adalah membawa unit usaha baru di sektor pengolahan sampah menjadi energi (Waste to Energy/WtE), yaitu PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera), untuk melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Rencana besar ini bukan sekadar mengejar status perusahaan publik, melainkan sebuah misi untuk mengukuhkan posisi Indonesia dalam kancah investasi hijau global. Danantara melihat potensi luar biasa dari pengelolaan limbah yang selama ini menjadi persoalan pelik di kota-kota besar, untuk kemudian dikonversi menjadi aset ekonomi yang bernilai tinggi melalui teknologi mutakhir.

Baca Juga Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan Saat Masih Aktif Bekerja: Panduan Lengkap Syarat 10% dan 30% JHT
Cara Mencairkan BPJS Ketenagakerjaan Saat Masih Aktif Bekerja: Panduan Lengkap Syarat 10% dan 30% JHT

Visi Besar di Balik Melantainya Denera di Bursa

Langkah untuk melakukan Initial Public Offering (IPO) bagi PT Daya Energi Bersih Nusantara (Denera) telah dikonfirmasi oleh Chief Investment Officer (CIO) BPI Danantara, Pandu Sjahrir. Dalam sebuah kesempatan di Gedung Bursa Efek Indonesia, ia memaparkan bahwa peluang Denera untuk menjadi perusahaan terbuka sangat lebar. Hal ini didorong oleh antusiasme pasar terhadap sektor energi bersih yang terus meningkat setiap tahunnya.

Pandu menjelaskan bahwa rencana melantai di bursa ini bukan merupakan target jangka pendek yang terburu-buru. Danantara sangat memperhatikan aspek fundamental perusahaan, terutama dari sisi arus kas (cashflow). Diproyeksikan, pada tahun 2028 mendatang, proyek-proyek yang dikelola oleh Denera sudah mulai menghasilkan pendapatan yang stabil, sehingga menjadi waktu yang ideal untuk menawarkan sahamnya kepada publik.

Baca Juga Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi
Update Harga Pangan 2026: Minyak Goreng dan Bawang Merah Merangkak Naik, Cabai Rawit Masih Bertahan di Level Tinggi

“Keinginan kita nantinya, setelah ada cashflow yang mumpuni—yang kita harapkan selesai dan stabil pada tahun 2028—kita akan mendorong Denera menjadi perusahaan Tbk di sini, di Bursa Efek Indonesia,” ujar Pandu dengan nada optimis. Pernyataan ini sekaligus menjadi sinyal bagi para investor bahwa pemerintah serius dalam membangun ekosistem BUMN yang transparan dan akuntabel melalui mekanisme pasar modal.

Nilai Investasi Fantastis: Mengubah Sampah Menjadi Emas

Tidak main-main, skala proyek yang akan ditangani oleh Denera mencakup angka yang fantastis. Danantara dilaporkan tengah menggodok sekitar 33 proyek Waste to Energy yang tersebar di berbagai titik strategis. Total nilai investasi yang dikelola mencapai US$ 5 miliar, atau jika dikonversikan ke dalam mata uang rupiah menembus angka Rp 87,07 triliun dengan asumsi kurs yang berlaku.

Baca Juga Pilar Ekonomi Nasional: Bagaimana Transformasi BUMN Menopang Pertumbuhan RI Hingga 5,61 Persen
Pilar Ekonomi Nasional: Bagaimana Transformasi BUMN Menopang Pertumbuhan RI Hingga 5,61 Persen

Besarnya nilai investasi ini mencerminkan betapa masifnya infrastruktur yang akan dibangun. Proyek-proyek ini tidak hanya dikerjakan secara mandiri, melainkan melalui kolaborasi strategis antara BUMN dengan sektor swasta, baik dari dalam negeri maupun mitra internasional. Sinergi ini diperlukan untuk memastikan transfer teknologi dan manajerial berjalan dengan optimal, mengingat teknologi WtE memerlukan presisi tinggi dan biaya operasional yang tidak sedikit.

Dengan portofolio sebanyak itu, Denera digadang-gadang akan bertransformasi menjadi salah satu pengelola fasilitas pengolahan sampah menjadi energi terbesar di dunia. Ambisi ini bukan tanpa alasan; Indonesia dengan jumlah populasi yang besar menghasilkan volume sampah harian yang sangat masif, yang jika dikelola dengan benar, dapat menjadi sumber energi listrik yang andal bagi masyarakat.

Baca Juga Waskita Karya Kebut Pembangunan Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan, Target Tuntas Juni 2026
Waskita Karya Kebut Pembangunan Sekolah Rakyat di Sulawesi Selatan, Target Tuntas Juni 2026

Mekanisme Kerja dan Struktur Kepemilikan Denera

Sebagai entitas yang baru dibentuk pada 1 April 2026, PT Daya Energi Bersih Nusantara memiliki mandat khusus untuk menggarap fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL). Model bisnis yang diterapkan oleh Danantara untuk Denera tergolong cukup unik dan inklusif. Denera akan berperan sebagai pengelola utama dengan porsi kepemilikan saham sebesar 30% pada setiap fasilitas PSEL yang dibangun.

Sementara itu, porsi mayoritas sebesar 70% akan dialokasikan bagi mitra strategis yang bekerja sama dalam proyek tersebut. Skema ini dirancang untuk menarik minat investor global agar mau menanamkan modalnya di Indonesia, sekaligus memastikan bahwa kontrol strategis dan keberpihakan pada kepentingan nasional tetap terjaga melalui peran Denera sebagai representasi negara.

Baca Juga Diplomasi Teknologi di Beijing: Langkah Strategis Donald Trump Bersama Elon Musk dan Jensen Huang
Diplomasi Teknologi di Beijing: Langkah Strategis Donald Trump Bersama Elon Musk dan Jensen Huang

Kehadiran Denera juga diharapkan mampu memperbaiki mata rantai pengelolaan sampah di Indonesia yang selama ini dinilai kurang efisien. Perusahaan ini akan mengintervensi proses mulai dari tahap hulu, yakni pengumpulan sampah, hingga ke tahap hilir melalui berbagai skema depo pengolahan. Beberapa skema yang akan diimplementasikan antara lain:

  • Depo Pengolahan Sampah Reduce (DPSR): Fokus pada pengurangan volume sampah dari sumbernya.
  • Depo Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (DPS3R): Menekankan pada prinsip daur ulang dan penggunaan kembali material yang masih bernilai.
  • Depo Pengolahan Sampah Terpadu (DPST): Pusat pengolahan akhir yang mengintegrasikan berbagai teknologi untuk menghasilkan energi listrik.

Menuju Kemandirian Energi dan Kelestarian Lingkungan

Di balik angka-angka ekonomi dan target bursa, misi yang diemban Danantara melalui Denera memiliki dimensi sosial dan lingkungan yang mendalam. Masalah sampah di Indonesia, terutama di wilayah perkotaan yang sering mengalami krisis lahan Tempat Pembuangan Akhir (TPA), membutuhkan solusi radikal. Waste to Energy adalah jawaban yang mampu menyelesaikan dua masalah sekaligus: membersihkan lingkungan dari tumpukan sampah dan menambah pasokan listrik nasional dari sumber non-fosil.

Pemanfaatan sampah sebagai bahan bakar pembangkit listrik juga sejalan dengan komitmen pemerintah Indonesia untuk mencapai target Net Zero Emission. Dengan mengurangi ketergantungan pada batu bara dan beralih ke sumber energi yang lebih ramah lingkungan, Indonesia dapat meningkatkan citranya di mata dunia sebagai negara yang berkomitmen penuh terhadap isu perubahan iklim.

Pandu Sjahrir menegaskan bahwa jika proses ini berjalan lancar, Denera akan menjadi katalisator positif bagi pasar modal Indonesia. Kehadiran perusahaan berbasis lingkungan di BEI akan memperkaya pilihan instrumen investasi bagi masyarakat yang mulai sadar akan pentingnya aspek Environmental, Social, and Governance (ESG) dalam berinvestasi.

Tantangan dan Harapan di Masa Depan

Tentu saja, perjalanan menuju tahun 2028 bukan tanpa tantangan. Pembangunan 33 proyek WtE memerlukan koordinasi lintas sektoral yang intens, mulai dari perizinan lahan, kesepakatan harga jual listrik dengan PLN, hingga edukasi masyarakat mengenai pemilahan sampah di tingkat rumah tangga. Konsistensi kebijakan pemerintah dan stabilitas ekonomi akan menjadi kunci utama kesuksesan proyek-proyek di bawah naungan Denera.

Masyarakat dan calon investor kini menaruh harapan besar pada Danantara untuk mampu menakhodai transisi ini dengan baik. Jika Denera berhasil melantai di bursa dan membuktikan profitabilitasnya, maka hal ini akan menjadi bukti bahwa energi bersih bukan sekadar jargon politik, melainkan peluang bisnis nyata yang mampu menopang kedaulatan ekonomi bangsa di masa depan.

Dengan dukungan pendanaan yang kuat dan visi yang jelas, PT Daya Energi Bersih Nusantara siap membawa Indonesia menuju era baru pengelolaan sampah modern. Kita semua menantikan bagaimana transformasi sampah menjadi energi ini akan berlanjut, dan bagaimana Denera akan bersinar di papan perdagangan saham dalam beberapa tahun ke depan.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *