Insiden Berlin: Detik-detik Eks Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi Disiram Cairan Merah di Tengah Gejolak Politik

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
24 Apr 2026, 12:16 WIB
Insiden Berlin: Detik-detik Eks Putra Mahkota Iran Reza Pahlavi Disiram Cairan Merah di Tengah Gejolak Politik

RadarLokal — Suasana pusat kota Berlin yang biasanya tertib mendadak berubah menjadi tegang ketika sebuah insiden mengejutkan menimpa tokoh oposisi ternama, Reza Pahlavi. Mantan putra mahkota Iran yang kini hidup dalam pengasingan tersebut menjadi sasaran serangan fisik saat tengah melakukan kunjungan diplomatik non-resmi di Jerman. Kejadian yang terekam jelas oleh kamera amatir dan jurnalis ini memperlihatkan momen saat Pahlavi disiram dengan cairan berwarna merah pekat yang diduga kuat merupakan simbolisasi dari pertumpahan darah yang tengah terjadi di tanah airnya.

Peristiwa ini bermula ketika Pahlavi baru saja menyelesaikan agenda konferensi pers yang cukup krusial di Gedung Bundespressekonferenz, sebuah pusat pertemuan pers ternama di Berlin pada Kamis sore waktu setempat. Saat ia melangkah keluar menuju trotoar untuk menyapa para pendukungnya yang telah menunggu dengan setia, seorang pria tak dikenal muncul dari kerumunan dan melancarkan aksi provokatif tersebut. Serangan ini terjadi di tengah-tengah dualisme massa yang hadir; di satu sisi terdapat para loyalis Pahlavi, namun di sisi lain terdapat kelompok penentang yang menyuarakan kritik keras terhadap pengaruh dinasti Pahlavi di masa lalu.

Baca Juga Skandal Korupsi Kuota Haji: Tersangka Asrul Azis Taba Kembali ke RI, KPK Perketat Barikade Hukum
Skandal Korupsi Kuota Haji: Tersangka Asrul Azis Taba Kembali ke RI, KPK Perketat Barikade Hukum

Kronologi Penyerangan di Jantung Kota Berlin

Berdasarkan rekaman video yang beredar luas di media sosial dan laporan yang dihimpun oleh tim RadarLokal, Pahlavi saat itu tampak elegan mengenakan setelan jas lengkap, dikelilingi oleh tim keamanan yang cukup ketat. Namun, kewaspadaan tersebut berhasil ditembus oleh seorang pria yang membawa ransel. Pria tersebut berjalan dengan tenang di belakang Pahlavi sebelum akhirnya melemparkan cairan merah dari jarak dekat.

Cairan yang diyakini sebagai saus tomat atau pewarna merah tersebut mengenai bagian belakang kepala, leher, hingga mengotori jas mahal yang dikenakan oleh sang mantan putra mahkota. Meskipun serangan itu cukup mengejutkan dan mengotori pakaiannya, Reza Pahlavi menunjukkan ketenangan yang luar biasa. Alih-alih panik atau segera dilarikan oleh pengawalnya, pria berusia 65 tahun itu tetap berdiri tegak dan terus melambaikan tangan kepada para pendukungnya seolah tidak ada hal buruk yang terjadi. Sikap tenang ini dipandang oleh banyak pengamat sebagai upaya untuk menunjukkan ketahanan mental di hadapan para penentangnya.

Baca Juga Horor di Laut Somalia: Tanker Minyak Dibajak Kelompok Bersenjata, Sinyal Bahaya Bagi Jalur Perdagangan Dunia
Horor di Laut Somalia: Tanker Minyak Dibajak Kelompok Bersenjata, Sinyal Bahaya Bagi Jalur Perdagangan Dunia

Reaksi Cepat Keamanan dan Identitas Pelaku

Petugas keamanan yang berjaga di lokasi segera bertindak responsif. Hanya dalam hitungan detik setelah cairan tersebut mengenai Pahlavi, pelaku penyerangan berhasil diringkus dan dijatuhkan ke tanah. Polisi Berlin segera mengamankan pria tersebut untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut. Hingga saat ini, identitas resmi maupun motif spesifik di balik aksi penyerangan ini belum diungkapkan secara mendetail kepada publik oleh otoritas Jerman.

Spekulasi yang berkembang di lapangan menyebutkan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk protes terhadap retorika politik Pahlavi belakangan ini. Namun, ada pula yang menduga ini adalah aksi dari simpatisan rezim Teheran yang ingin mempermalukan tokoh oposisi tersebut di panggung internasional. Jerman sendiri memang dikenal sebagai salah satu pusat komunitas diaspora Iran di Eropa, di mana benturan ideologi antar kelompok sering kali memanas di ruang publik.

Baca Juga Ketahanan Energi Indonesia Melesat ke Peringkat Dua Dunia, Melampaui Amerika Serikat dalam Prediksi Krisis 2026
Ketahanan Energi Indonesia Melesat ke Peringkat Dua Dunia, Melampaui Amerika Serikat dalam Prediksi Krisis 2026

Agenda Politik Pahlavi: Seruan Perang dan Kritik Terhadap Barat

Kunjungan Pahlavi ke Jerman kali ini bukanlah sekadar kunjungan biasa. Dalam konferensi pers sebelum insiden terjadi, ia menyampaikan pesan-pesan politik yang sangat tajam. Ia secara terbuka menyerukan agar negara-negara Barat, termasuk Eropa, berhenti bersikap pasif terhadap pemerintahan Iran saat ini. Pahlavi mendorong terbentuknya koalisi internasional yang lebih agresif, bahkan secara eksplisit mendukung langkah-langkah militer yang mungkin dikobarkan oleh Amerika Serikat dan Israel untuk melemahkan kekuasaan di Teheran.

Ia juga tidak segan-segan melontarkan kritik pedas kepada pemerintah Jerman. Pahlavi merasa kecewa karena otoritas Berlin menolak untuk melakukan pertemuan resmi dengannya selama kunjungan tersebut. Baginya, sikap dingin Jerman adalah bentuk pengabaian terhadap aspirasi rakyat Iran yang mendambakan perubahan. “Pertanyaannya bukanlah apakah perubahan akan datang. Perubahan sedang dalam perjalanan,” tegasnya di hadapan awak media dengan nada penuh keyakinan.

Baca Juga Duka Mendalam di Garis Depan: Empat Prajurit Terbaik TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon
Duka Mendalam di Garis Depan: Empat Prajurit Terbaik TNI Gugur dalam Misi Perdamaian UNIFIL di Lebanon

Bayang-Bayang Revolusi 1979 dan Masa Depan Iran

Nama Reza Pahlavi tidak bisa dilepaskan dari sejarah kelam dan kejayaan Iran di masa lalu. Sebagai putra dari Shah terakhir Iran, Mohammad Reza Pahlavi, ia harus meninggalkan negaranya saat revolusi besar meletus pada tahun 1979. Revolusi yang dipimpin oleh Ayatollah Ruhollah Khomeini tersebut mengubah wajah Iran dari monarki sekuler menjadi negara teokrasi yang ketat. Sejak saat itu, Pahlavi hidup dalam pengasingan selama hampir lima dekade.

Selama di Berlin, ia menuduh para pemimpin Eropa hanya menjadi penonton saat ribuan demonstran di Iran kehilangan nyawa dalam unjuk rasa berdarah awal tahun ini. Ia memposisikan dirinya sebagai jembatan bagi masa depan Iran jika suatu saat rezim saat ini runtuh. Namun, ambisinya untuk kembali berkuasa atau setidaknya menjadi pemimpin transisi masih memicu perdebatan sengit di kalangan rakyat Iran sendiri, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri.

Baca Juga Gebrakan BNPP: Bedah 15.000 Rumah di Perbatasan Indonesia, Bukti Keadilan dari Pelosok Negeri
Gebrakan BNPP: Bedah 15.000 Rumah di Perbatasan Indonesia, Bukti Keadilan dari Pelosok Negeri

Dukungan dan Kontroversi di Kalangan Oposisi

Meskipun namanya kembali mencuat seiring dengan meluasnya aksi protes antipemerintah di Iran, dukungan terhadap Pahlavi tidaklah mutlak. Banyak warga Iran, terutama generasi muda, yang mendambakan demokrasi murni tanpa harus kembali ke sistem monarki masa lalu. Di sisi lain, para pendukung fanatiknya melihat Pahlavi sebagai simbol stabilitas dan kemajuan yang pernah dirasakan Iran sebelum tahun 1979.

Keterbukaannya dalam mendukung intervensi militer asing juga menjadi poin kontroversial. Beberapa pihak menilai langkah tersebut berisiko membawa Iran ke dalam konflik berkepanjangan yang justru akan menyengsarakan rakyat sipil. Namun bagi Pahlavi, tekanan diplomasi saja tidak akan cukup untuk menumbangkan kekuasaan teokrasi yang sudah berakar kuat selama puluhan tahun.

Kesimpulan: Sebuah Pesan Merah dari Berlin

Insiden penyiraman cairan merah ini, terlepas dari sifatnya yang provokatif, menjadi pengingat betapa dalamnya polarisasi politik yang menyelimuti isu Iran. Bagi Pahlavi, noda merah di jasnya mungkin hanya sekadar kotoran yang bisa dibersihkan, namun bagi pergerakan oposisi Iran, kejadian di Berlin ini adalah sinyal bahwa perjuangan menuju perubahan masih dipenuhi dengan hambatan, baik dari lawan politik maupun dari kompleksitas sejarah masa lalu.

Dunia kini terus memantau bagaimana langkah Pahlavi selanjutnya setelah kunjungannya di Jerman. Apakah ia akan berhasil menyatukan faksi-faksi oposisi yang terpecah, atau justru insiden seperti di Berlin akan semakin sering terjadi seiring dengan meningkatnya suhu politik global terkait masa depan Republik Islam Iran.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *