HUT ke-219 KAJ: Pramono Anung Ajak Umat Katolik Pelopori Revolusi Pilah Sampah di Jakarta

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
09 Mei 2026, 10:12 WIB
HUT ke-219 KAJ: Pramono Anung Ajak Umat Katolik Pelopori Revolusi Pilah Sampah di Jakarta

RadarLokal — Di tengah dentang lonceng Gereja Katedral yang megah dan suasana khidmat yang menyelimuti jantung ibu kota, sebuah pesan penting mengenai masa depan lingkungan hidup menggema. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang hadir dalam perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-219 Keuskupan Agung Jakarta (KAJ), tidak hanya datang untuk memberikan selamat, tetapi juga membawa misi besar bagi keberlanjutan kota ini.

Dalam sambutannya yang penuh hangat namun sarat akan urgensi, Pramono mengajak seluruh elemen gereja dan umat Katolik untuk menjadi garda terdepan dalam menyukseskan gerakan pilah sampah. Ajakan ini bukan sekadar imbauan rutin, melainkan sebuah seruan darurat mengingat kondisi Jakarta yang tengah berada di titik krusial dalam masalah pembuangan akhir.

Baca Juga Skandal Mark-up Pengadaan BGN: Alasan Kejagung Tak Sita Motor Listrik Senilai Rp 1 Triliun
Skandal Mark-up Pengadaan BGN: Alasan Kejagung Tak Sita Motor Listrik Senilai Rp 1 Triliun

Krisis Bantargebang: Titik Nadir Pengelolaan Sampah Jakarta

Pramono Anung dengan lugas memaparkan fakta pahit yang selama ini menghantui ibu kota. Jakarta, menurutnya, tidak lagi bisa menggantungkan nasibnya pada pola-pola usang dalam menangani limbah. Metode konvensional yang hanya sekadar mengumpulkan, mengangkut, dan menimbun sampah di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang sudah mencapai batas maksimalnya.

“Kondisi di sana sudah sangat mengkhawatirkan. Besok di kawasan Kuningan, kami akan secara resmi memulai acara untuk gerakan pilah sampah dari rumah sesuai dengan instruksi gubernur. Kita harus sadar bahwa pola lama menimbun sampah di Bantargebang sudah tidak mungkin lagi dipertahankan,” tegas Pramono di hadapan para tokoh agama dan jemaat yang memadati Gereja Katedral Jakarta, Sabtu (9/5/2026).

Baca Juga Ketegangan di Al-Aqsha Kembali Memuncak: HNW Desak Langkah Konkret OKI Hadapi Arogansi Zionis
Ketegangan di Al-Aqsha Kembali Memuncak: HNW Desak Langkah Konkret OKI Hadapi Arogansi Zionis

Data yang diungkapkan Gubernur pun cukup mengejutkan. Saat ini, tumpukan sampah di Bantargebang telah melampaui angka 55 juta ton. Ketinggian gunungan sampah tersebut tidak hanya menciptakan masalah estetika dan bau, tetapi juga ancaman keamanan fisik. Fenomena longsor sampah telah terjadi beberapa kali, menandakan bahwa daya tampung lahan tersebut sudah benar-benar habis.

Sinergi Lintas Sektoral dan Peran Strategis Keuskupan

Menyadari bahwa masalah sampah tidak bisa diselesaikan oleh pemerintah sendirian, Pemprov DKI Jakarta mulai mempererat kolaborasi dengan berbagai kementerian. Langkah ini melibatkan Kementerian Lingkungan Hidup serta Kementerian Koordinator Bidang Pangan untuk menciptakan ekosistem pengelolaan sampah mandiri yang dimulai dari unit terkecil, yaitu rumah tangga.

Baca Juga Menlu Sugiono Bertolak ke India: Membawa Misi Strategis Indonesia dalam Pertemuan BRICS FMM 2026
Menlu Sugiono Bertolak ke India: Membawa Misi Strategis Indonesia dalam Pertemuan BRICS FMM 2026

Namun, bagi Pramono, dukungan dari institusi keagamaan seperti Keuskupan Agung Jakarta memiliki nilai strategis yang jauh lebih dalam. Pendekatan berbasis komunitas iman dianggap efektif untuk mengubah perilaku masyarakat secara fundamental. Keuskupan, dengan jaringannya yang luas hingga ke tingkat paroki dan lingkungan, diharapkan mampu memberikan edukasi dan contoh nyata bagi warga ibu kota lainnya.

“Sebagai Gubernur Jakarta, saya sangat memohon dukungan dari Romo dan seluruh jajaran di Keuskupan Agung Jakarta. Gerakan ini membutuhkan keteladanan, dan saya yakin umat Katolik dapat memberikan dampak luas bagi kebersihan dan kesehatan lingkungan di Jakarta,” tuturnya dengan penuh harap.

Transformasi Wilayah: Dari RW Kumuh Menuju Lingkungan Asri

Selain fokus pada limbah, Pramono juga membawa kabar baik mengenai wajah kota Jakarta yang perlahan mulai berubah. Merujuk pada data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS), terdapat penurunan signifikan pada jumlah RW kumuh di Jakarta. Angka yang awalnya berada di 445 RW kumuh, kini berhasil ditekan hingga tersisa 211 RW.

Baca Juga Eksklusif: Menkes Budi Gunadi Temui Prabowo, Bahas Tiga Program ‘Quick Win’ dan Kabar Pergeseran Kursi Menteri
Eksklusif: Menkes Budi Gunadi Temui Prabowo, Bahas Tiga Program ‘Quick Win’ dan Kabar Pergeseran Kursi Menteri

Penurunan ini dipandang sebagai indikator meningkatnya kesadaran kolektif warga dalam menjaga kebersihan lingkungan dan tata ruang kota. Program-program perbaikan lingkungan yang terintegrasi mulai membuahkan hasil, menciptakan ruang hidup yang lebih manusiawi dan sehat bagi penduduk Jakarta.

Pramono menilai bahwa tren positif ini harus dijaga dengan semangat gotong royong. Menurutnya, keberhasilan menata pemukiman kumuh adalah bukti bahwa jika pemerintah dan masyarakat bekerja sama, perubahan besar bukanlah hal yang mustahil untuk dicapai.

Perayaan HUT ke-219 KAJ: Simbol Persatuan dalam Keberagaman

Acara peringatan HUT ke-219 KAJ ini sendiri berlangsung meriah namun tetap khidmat. Tidak hanya dihadiri oleh jemaat internal, acara ini juga menjadi panggung kerukunan antarumat beragama di Jakarta. Kehadiran Menteri Agama Nasaruddin Umar dan Uskup Agung Jakarta, Ignatius Kardinal Suharyo, memberikan sinyal kuat tentang solidaritas lintas iman di Indonesia.

Baca Juga Aspirasi Warga di Balik Mimbar: Kapolda Sumsel Ubah Masjid Ar-Rahman Jadi Ruang Dialog Terbuka
Aspirasi Warga di Balik Mimbar: Kapolda Sumsel Ubah Masjid Ar-Rahman Jadi Ruang Dialog Terbuka

Rangkaian acara diisi dengan berbagai kegiatan positif, mulai dari jalan santai bersama hingga doa lintas agama yang memanjatkan harapan untuk kedamaian dan kesejahteraan bangsa. Perayaan ini membuktikan bahwa lembaga keagamaan seperti KAJ terus konsisten berperan aktif dalam dinamika sosial dan pembangunan di Jakarta selama lebih dari dua abad.

Melalui momentum HUT ini, pesan yang dibawa bukan sekadar perayaan usia, melainkan refleksi tentang bagaimana setiap individu bisa berkontribusi bagi kota. Dengan dukungan penuh dari umat beragama, program lingkungan hidup Jakarta diharapkan dapat berjalan lebih masif, menjadikan Jakarta sebagai kota global yang tidak hanya modern secara infrastruktur, tetapi juga cerdas dalam mengelola sampahnya sendiri.

Membangun Budaya Baru di Ibu Kota

Langkah kecil seperti memisahkan sampah organik dan anorganik di dapur masing-masing warga kini menjadi misi besar yang didorong oleh pemerintah provinsi. Bagi Pramono Anung, inilah saatnya Jakarta melakukan revolusi budaya dalam cara pandang terhadap sampah. Sampah bukan lagi sesuatu yang harus dibuang dan dilupakan, melainkan tanggung jawab yang harus dikelola sejak dini.

Gerakan yang akan dicanangkan di Kuningan tersebut diharapkan menjadi pemantik bagi gerakan serupa di seluruh pelosok Jakarta. Dengan keterlibatan aktif dari institusi seperti Keuskupan Agung Jakarta, visi Jakarta yang lebih bersih, hijau, dan bebas dari bayang-bayang longsor sampah di Bantargebang perlahan-lahan mulai menampakkan titik terang.

Seiring berakhirnya acara di Katedral, pesan Gubernur tetap menggantung di udara: bahwa masa depan Jakarta berada di tangan setiap orang yang mau meluangkan waktu sejenak untuk memilah sampah mereka sendiri. Sebuah langkah sederhana untuk sebuah perubahan besar bagi ibu kota tercinta.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *