Mencekam! KRL Duri-Tangerang Mogok Total: Suara Ledakan, Kabin Gelap Gulita, hingga Solidaritas Penumpang Saat Berbuka

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
26 Mei 2026, 22:16 WIB
Mencekam! KRL Duri-Tangerang Mogok Total: Suara Ledakan, Kabin Gelap Gulita, hingga Solidaritas Penumpang Saat Berbuka

RadarLokal Sore yang seharusnya menjadi rutinitas perjalanan pulang yang tenang bagi para pejuang komuter mendadak berubah menjadi situasi mencekam pada Selasa (26/5/2026). KRL Commuter Line relasi Duri-Tangerang mengalami gangguan teknis parah yang menyebabkan rangkaian kereta terhenti total di tengah perlintasan. Insiden ini tidak hanya menyisakan rasa lelah, tetapi juga trauma bagi ratusan penumpang yang terjebak di dalam gerbong yang panas dan gelap gulita.

Detik-detik Suara Ledakan di Balik Macetnya KRL

Kejadian bermula tepat pukul 17.05 WIB. Saat itu, kereta sedang melaju di jalur hulu petak jalan antara Stasiun Duri dan Stasiun Rawabuaya. Menurut kesaksian sejumlah penumpang, tidak ada tanda-tanda awal gangguan kereta hingga tiba-tiba terdengar suara benturan keras yang memicu kepanikan.

Baca Juga Tragedi Sumur Berdarah di Chad: 42 Nyawa Melayang Akibat Sengketa Sumber Air yang Kian Memanas
Tragedi Sumur Berdarah di Chad: 42 Nyawa Melayang Akibat Sengketa Sumber Air yang Kian Memanas

Lidiah (29), salah satu penumpang yang berada di gerbong khusus wanita tepat di belakang kabin masinis, menceritakan pengalaman mengerikannya. Ia mengaku mendengar suara ledakan sebanyak tiga kali sebelum akhirnya kereta benar-benar mati total. “Sebelum berhenti total ini sempat ada bunyi ledakan gitu 3 kali, kemungkinan korsleting listrik atau ada komponen yang meledak di atas,” kenang Lidiah saat memberikan keterangan kepada tim RadarLokal.

Suara ledakan tersebut seketika diikuti dengan matinya seluruh sistem kelistrikan di dalam rangkaian kereta. Lampu-lampu padam, dan yang paling membuat penumpang gelisah adalah matinya sistem pendingin udara atau AC. Dalam hitungan menit, suhu di dalam gerbong yang penuh sesak itu pun meningkat drastis.

Baca Juga Ketua KPK Setyo Budiyanto Ungkap Ironi Biaya Mahal Penjara Koruptor: Negara Harus Menanggung Makan dan Pakaian Mereka
Ketua KPK Setyo Budiyanto Ungkap Ironi Biaya Mahal Penjara Koruptor: Negara Harus Menanggung Makan dan Pakaian Mereka

Suasana Kabin: Antara Sesak Napas dan Upaya Bertahan Hidup

Kondisi di dalam gerbong segera berubah menjadi kacau namun terkendali. Tanpa AC, sirkulasi udara menjadi sangat buruk. Penumpang mulai merasa sesak napas karena oksigen yang terbatas di ruang tertutup. Beberapa penumpang pria di gerbong lain terlihat berupaya membuka jendela darurat demi mendapatkan hembusan angin dari luar.

“Keadaan gerbongnya pas mogok jadi gelap, AC pun mati jadi lumayan pada panik karena agak sesak. Orang-orang berusaha untuk buka jendela keretanya,” tambah Lidiah. Kepanikan sempat menjalar, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi kesehatan tertentu. Namun, informasi yang terus diberikan oleh petugas dari balik pintu masinis sedikit banyak menenangkan warga yang terjebak di KRL Commuter Line tersebut.

Baca Juga Akurasi Data Jadi Kunci: Wamendagri Dorong Percepatan Sensus Orang Asli Papua demi Keadilan Otsus
Akurasi Data Jadi Kunci: Wamendagri Dorong Percepatan Sensus Orang Asli Papua demi Keadilan Otsus

Momen Haru: Solidaritas Berbuka Puasa di Tengah Kegelapan

Satu hal yang menarik dan menyentuh hati di tengah insiden ini adalah munculnya rasa solidaritas antarpenumpang. Mengingat insiden terjadi menjelang waktu magrib, banyak penumpang yang tengah menjalankan ibadah puasa terpaksa harus membatalkan puasa mereka di dalam kereta yang mogok.

Tanpa meja makan atau kenyamanan rumah, para penumpang di gerbong wanita saling berbagi bekal. Mereka yang membawa air mineral atau makanan kecil dengan sukarela membagikannya kepada sesama penumpang yang membutuhkan untuk membatalkan puasa. Di tengah kegelapan dan panas yang menyengat, momen berbagi ini menjadi pemandangan yang menyejukkan hati.

“Kondisinya di gerbong wanita juga banyak yang dalam keadaan puasa, jadi kita sharing makanan dan minuman untuk batalin puasa bersama dalam kondisi gelap-gelapan,” tutur Lidiah dengan nada haru. Solidaritas ini menunjukkan bahwa di tengah krisis transportasi publik, sisi kemanusiaan tetap menjadi prioritas utama bagi warga Jakarta dan sekitarnya.

Baca Juga Aksi Premanisme di Stasiun Bogor Berujung Amuk Massa: Nasib Pria Pemalak Ojol dan Perusak Gitar Pengamen
Aksi Premanisme di Stasiun Bogor Berujung Amuk Massa: Nasib Pria Pemalak Ojol dan Perusak Gitar Pengamen

Penanganan Teknis dan Evakuasi yang Memakan Waktu

Setelah hampir dua jam terjebak dalam ketidakpastian, secercah harapan muncul sekitar pukul 18.57 WIB. Petugas menginformasikan bahwa rangkaian kereta yang mogok tersebut akan dievakuasi dengan cara digandeng atau didorong oleh unit KRL lainnya. Proses ini memang memakan waktu cukup lama karena prosedur keselamatan yang ketat agar tidak menimbulkan gangguan tambahan pada jalur Listrik Aliran Atas (LAA).

Lidiah menjelaskan bahwa informasi di gerbongnya cukup jelas karena posisinya yang dekat dengan masinis. “Kita lebih jelas mendapatkan informasinya, seperti info kalau kereta bakalan didorong dengan kereta lain, terus ini didorong bisa sampai stasiun mana saja,” ujarnya. Akhirnya, seluruh penumpang berhasil dievakuasi dan diturunkan di Stasiun Bojong Indah untuk kemudian melanjutkan perjalanan menggunakan rangkaian kereta lain atau moda transportasi alternatif.

Baca Juga Komitmen Berani Menteri PU Dody Hanggodo: Bongkar Tuntas Skandal Korupsi Rp 16 Miliar Tanpa Ada yang Ditutupi
Komitmen Berani Menteri PU Dody Hanggodo: Bongkar Tuntas Skandal Korupsi Rp 16 Miliar Tanpa Ada yang Ditutupi

Penjelasan KAI Commuter Terkait Gangguan LAA

Menanggapi insiden yang viral ini, pihak KAI Commuter melalui Manager Public Relations, Leza Arlan, menyampaikan permohonan maaf secara resmi kepada seluruh pengguna jasa. Gangguan pada rangkaian Commuter Line No. 1978A ini diidentifikasi sebagai masalah pada sarana yang berdampak langsung pada sistem kelistrikan jalur tersebut.

“KAI Commuter menyampaikan permohonan maaf atas adanya gangguan sarana pada perjalanan Commuter Line No. 1978A relasi Duri-Tangerang. Gangguan tersebut berdampak pada Listrik Aliran Atas (LAA) yang harus dipadamkan demi alasan keamanan, sehingga jalur hulu Duri-Rawabuaya sempat belum dapat dilalui,” jelas Leza dalam pernyataan resminya.

Petugas teknis di lapangan bekerja cepat untuk memulihkan aliran listrik. Berdasarkan data resmi, Listrik Aliran Atas berhasil dinyalakan kembali pada pukul 17.56 WIB. Namun, rangkaian yang mengalami kerusakan tetap harus ditarik menggunakan Commuter Line No. 1980A menuju jalur tiga Stasiun Rawabuaya untuk pemeriksaan lebih mendalam oleh tim mekanik.

Dampak Berantai pada Jadwal Perjalanan

Gangguan pada lintas Brown Line (Duri-Tangerang) ini praktis mengacaukan jadwal perjalanan di sepanjang jalur tersebut. Banyak penumpang yang terpaksa beralih menggunakan KA Bandara yang sempat memberikan kebijakan refund atau kompensasi tertentu bagi mereka yang terdampak. Antrean panjang juga terlihat di stasiun-stasiun penghubung karena penumpukan penumpang yang menunggu kepastian jadwal.

Insiden ini kembali menjadi pengingat pentingnya perawatan rutin dan pembaruan sarana pada sistem infrastruktur kereta api kita. Meskipun gangguan teknis bisa terjadi kapan saja, kesiapan prosedur darurat dan kecepatan evakuasi tetap menjadi standar yang harus terus ditingkatkan demi kenyamanan dan keselamatan penumpang.

Kini, operasional KRL Duri-Tangerang dilaporkan telah kembali normal. Namun, kisah keberanian dan solidaritas para penumpang di tengah kegelapan gerbong 1978A akan terus diingat sebagai sisi lain dari kerasnya perjuangan komuter di ibu kota.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *