Israel Lumpuhkan Komando Hamas: Mohammed Odeh Tewas dalam Operasi Militer Strategis di Gaza
RadarLokal — Kabar mengejutkan kembali berhembus dari jantung konflik Timur Tengah yang tak kunjung reda. Di tengah upaya diplomasi global yang berupaya meredam bara peperangan, militer Israel mengklaim telah berhasil melumpuhkan salah satu sosok paling sentral dalam struktur kekuatan lawan. Mohammed Odeh, yang baru saja menjabat sebagai pucuk pimpinan sayap bersenjata Hamas, dilaporkan tewas dalam sebuah operasi militer presisi yang dilancarkan di wilayah Gaza.
Laporan yang dihimpun tim redaksi dari berbagai sumber internasional pada Kamis (28/5/2026), menyebutkan bahwa serangan tersebut terjadi di saat wilayah tersebut sebenarnya tengah berada dalam periode gencatan senjata yang sangat rapuh. Namun, realitas di lapangan menunjukkan hal yang kontras; militer Israel tampaknya terus bergerak secara sistematis untuk memburu tokoh-tokoh kunci yang dianggap sebagai otak di balik perlawanan Palestina.
Sosok Mohammed Odeh dalam Struktur Al-Qassam
Mohammed Odeh bukanlah nama sembarangan di lingkaran internal Brigade Ezzedine Al-Qassam. Ia naik ke puncak pimpinan setelah organisasi tersebut kehilangan banyak komandan puncaknya dalam beberapa bulan terakhir. Israel mengonfirmasi bahwa Odeh adalah kepala sayap militer keempat yang berhasil mereka eliminasi sejak meletusnya perang Gaza pada Oktober 2023 silam.
Pengangkatan Odeh sendiri tergolong sangat baru. Ia mengambil alih komando Brigade Ezzedine Al-Qassam pada pertengahan Mei, tepatnya setelah pembunuhan pendahulunya, Ezzedine al-Haddad, yang tewas dalam serangan serupa pada 15 Mei. Penunjukan Odeh diharapkan dapat menjaga stabilitas operasional Hamas di tengah tekanan militer yang luar biasa. Namun, takdir berkata lain; masa jabatannya berakhir secara tragis dalam hitungan minggu.
Badan keamanan domestik Israel, Shin Bet, bersama dengan IDF (Israel Defense Forces) merilis pernyataan bersama yang menegaskan bahwa Odeh telah lama berada dalam radar pantauan mereka. Intelegen Israel memetakan pergerakan Odeh secara intensif sebelum akhirnya memutuskan untuk meluncurkan serangan mematikan pada Selasa malam yang lalu.
Tragedi di Tengah Suasana Idul Adha
Operasi militer yang merenggut nyawa Odeh terjadi bertepatan dengan momen perayaan Idul Adha, sebuah waktu yang seharusnya sakral dan penuh kedamaian bagi warga Muslim di seluruh dunia. Namun, bagi masyarakat di Gaza, hari raya kali ini kembali diwarnai dengan suara ledakan rudal dan kepulan asap hitam yang membubung ke langit.
Dalam pernyataan resminya, sayap bersenjata Hamas mengonfirmasi syahidnya Odeh. Mereka menyebut serangan itu sebagai “operasi pembunuhan pengecut” yang tidak hanya menargetkan personel militer, tetapi juga warga sipil. Laporan yang diverifikasi oleh pejabat setempat menyatakan bahwa serangan tersebut menghancurkan tempat tinggal Odeh, yang mengakibatkan dirinya tewas bersama dengan istri dan anak-anaknya.
Detail yang memilukan terungkap dari pernyataan keluarga. Bassem Abu Odeh, sepupu almarhum, mengisahkan bagaimana Mohammed dan keluarganya sedang bersiap untuk menyambut hari raya. “Mereka siap menyambut Idul Adha dengan penuh suka cita, namun Zionis memilih untuk menyambut mereka dengan rudal,” ungkapnya dengan nada emosional kepada koresponden lapangan. Tiga anak Odeh, termasuk dua putra yang sudah dewasa dan seorang putri yang masih di bawah umur, turut menjadi korban dalam insiden tersebut.
Suasana Haru di Pemakaman Kota Gaza
Prosesi pemakaman Mohammed Odeh dan anggota keluarganya pada Rabu waktu setempat berubah menjadi ajang unjuk solidaritas dan kemarahan publik. Ratusan pelayat memadati jalanan Kota Gaza, membawa jenazah yang dibungkus kain kafan menuju masjid untuk disalatkan. Sebagai simbol perlawanan yang tak kunjung padam, sebuah senapan serbu AK-47 diletakkan di atas jenazah Odeh selama prosesi tersebut.
Gema takbir dan yel-yel perlawanan terdengar riuh di tengah kerumunan. Bagi warga Gaza, Odeh bukan sekadar pemimpin militer, melainkan simbol keteguhan di bawah blokade dan bombardir yang tak henti. Konflik Palestina yang terus berkecamuk ini tampaknya semakin memperdalam luka sejarah dan memicu siklus kekerasan yang sulit diputus.
Strategi Israel: Memenggal Kepala Perlawanan
Sejak peristiwa tragis Oktober 2023, Israel secara terbuka mengadopsi strategi “penargetan sistematis” terhadap para pemimpin Hamas. Kebijakan ini bertujuan untuk merusak rantai komando musuh dan menciptakan kekosongan kepemimpinan yang diharapkan dapat melemahkan efektivitas serangan balasan Hamas.
Penghancuran target-target bernilai tinggi seperti Odeh dipandang oleh Tel Aviv sebagai keberhasilan taktis yang signifikan. Namun, para analis politik internasional memperingatkan bahwa strategi ini seringkali seperti memotong kepala hidra; ketika satu pemimpin jatuh, pemimpin lain akan muncul dengan determinasi yang mungkin lebih kuat. Situasi Timur Tengah saat ini berada pada titik nadir, di mana setiap serangan balasan hanya akan memicu eskalasi yang lebih besar di masa depan.
Meskipun Israel mengklaim serangan ini sebagai langkah pertahanan diri dan upaya untuk melumpuhkan terorisme, kecaman internasional terus mengalir, terutama terkait jatuhnya korban dari kalangan perempuan dan anak-anak. Gencatan senjata yang sering didengungkan di meja perundingan tampak seperti ilusi ketika dihadapkan pada realitas rudal yang masih aktif meluncur di udara Gaza.
Masa Depan Gencatan Senjata dan Eskalasi Wilayah
Tewasnya Mohammed Odeh tentu akan membawa dampak besar pada jalannya negosiasi gencatan senjata yang sedang berlangsung. Hamas kemungkinan besar akan melakukan reposisi strategi, dan ada kekhawatiran akan adanya serangan balasan yang lebih masif sebagai bentuk balas dendam atas kematian panglima mereka.
Di sisi lain, komunitas internasional terus mendesak agar kedua belah pihak menahan diri. Namun, dengan hilangnya figur-figur moderat dan semakin dominannya sayap militer yang merasa tersudut, jalan menuju perdamaian sejati tampaknya masih sangat panjang dan berliku. Dunia kini menanti, apakah kematian Odeh akan menjadi titik balik menuju redanya konflik, atau justru menjadi pemicu bagi babak baru peperangan yang lebih mematikan di tanah Gaza.
RadarLokal akan terus memantau perkembangan situasi ini secara mendalam untuk memberikan informasi terkini bagi Anda, seiring dengan dinamika yang terus berubah di kawasan yang penuh gejolak tersebut.