Menatap Masa Depan: Mengapa Mengenal Diri Sendiri Adalah Kunci Kepemimpinan Menurut Lestari Moerdijat

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
01 Jun 2026, 10:25 WIB
Menatap Masa Depan: Mengapa Mengenal Diri Sendiri Adalah Kunci Kepemimpinan Menurut Lestari Moerdijat

RadarLokal — Di tengah hiruk-pikuk arus informasi yang nyaris tak terbendung dan tuntutan zaman yang serba cepat, sebuah pesan reflektif menggema bagi generasi muda Indonesia. Tantangan terbesar bagi calon pemimpin masa depan ternyata bukanlah persaingan global atau kemajuan teknologi semata, melainkan kemampuan untuk menaklukkan diri sendiri. Hal inilah yang menjadi sorotan utama Wakil Ketua MPR RI, Lestari Moerdijat, dalam sebuah diskusi mendalam mengenai arah baru kepemimpinan anak muda di tanah air.

Lestari Moerdijat, yang akrab disapa Rerie, menegaskan bahwa penguasaan dan pengenalan terhadap jati diri merupakan fondasi yang tidak bisa ditawar bagi siapa pun yang bercita-cita membawa perubahan. Menurutnya, perjalanan besar untuk mengubah wajah bangsa di masa depan harus diawali dengan satu langkah paling fundamental: memahami siapa kita sebenarnya dan apa yang menjadi nilai-nilai dasar dalam hidup kita.

Baca Juga Kedok ‘Akses Orang Dalam’ Terbongkar: Pria Sumenep Kuras Ratusan Juta dengan Janji Jadi Polisi dan PNS
Kedok ‘Akses Orang Dalam’ Terbongkar: Pria Sumenep Kuras Ratusan Juta dengan Janji Jadi Polisi dan PNS

Memahami Akar Sebelum Melangkah Jauh

Dalam agenda karantina daring Duta Siswa Kabupaten/Kota Se-Indonesia 2026 yang diselenggarakan oleh Komite Seleksi Nasional Yayasan Duta Siswa Indonesia, Rerie membagikan perspektif yang sangat kontemplatif. Ia berargumen bahwa banyak orang ingin mengubah dunia, namun seringkali lupa untuk menata rumah internal mereka sendiri, yakni pikiran dan karakter diri.

“Perjalanan mengenal diri sendiri itu dimulai sejak dini. Kalau kita mau mengubah masa depan, maka kita harus belajar memahami diri sendiri,” ujar Rerie dengan nada optimis di hadapan para siswa berprestasi dari seluruh penjuru negeri. Pesan ini bukan sekadar retorika, melainkan sebuah peringatan bahwa tanpa pemahaman diri yang kuat, seorang pemimpin akan mudah terombang-ambing oleh kepentingan sesaat atau tekanan lingkungan.

Baca Juga Skandal Korupsi Kuota Haji: Tersangka Asrul Azis Taba Kembali ke RI, KPK Perketat Barikade Hukum
Skandal Korupsi Kuota Haji: Tersangka Asrul Azis Taba Kembali ke RI, KPK Perketat Barikade Hukum

Filosofi Pemimpin yang ‘Selesai’ dengan Dirinya

Satu poin menarik yang ditekankan oleh Rerie adalah konsep tentang pemimpin yang paripurna. Dalam dunia politik dan sosial, kita sering melihat pemimpin yang masih terjebak dalam ego pribadi atau konflik batin yang belum tuntas. Rerie percaya bahwa kualitas seorang pemimpin masa depan ditentukan oleh sejauh mana ia telah menyelesaikan urusan dengan dirinya sendiri.

“Pemimpin yang paripurna adalah pemimpin yang sudah selesai dengan dirinya sendiri. Sudah selesai dengan dirinya sendiri berarti memahami dirinya, kekurangannya, kelebihannya, serta motivasi terdalamnya,” tegas Rerie. Ketika seorang pemimpin tidak lagi mencari validasi eksternal atau sekadar mengejar status, ia akan mampu mengambil keputusan yang objektif dan berorientasi pada kepentingan publik secara tulus.

Baca Juga Refleksi 30 Tahun Otonomi Daerah: Wamen Bima Arya Tekankan Transformasi Budaya Efisiensi dan Penyelarasan Asta Cita
Refleksi 30 Tahun Otonomi Daerah: Wamen Bima Arya Tekankan Transformasi Budaya Efisiensi dan Penyelarasan Asta Cita

Kritik Terhadap Budaya Serba Instan dan Distraksi Digital

Sebagai Anggota Komisi X DPR RI, Rerie juga menyoroti fenomena sosial yang sedang melanda generasi Z dan milenial. Ia mengkritik kecenderungan anak muda saat ini yang bergerak terlalu terburu-buru. Budaya scrolling tanpa henti di media sosial, obsesi untuk menjadi viral secara instan, serta reaksi cepat tanpa pertimbangan matang menjadi hambatan besar dalam proses pembangunan karakter.

“Banyak anak pintar, tetapi tidak fokus. Dan gampang sekali terdistraksi,” ungkapnya. Di era di mana perhatian adalah komoditas mahal, kemampuan untuk tetap fokus dan reflektif menjadi barang langka. Rerie mengajak para duta siswa untuk berani ‘berhenti sejenak’. Berhenti di sini bukan berarti menyerah, melainkan memberi ruang bagi pikiran untuk mencerna realitas sebelum bereaksi secara impulsif.

Baca Juga Eksklusif: Menkes Budi Gunadi Temui Prabowo, Bahas Tiga Program ‘Quick Win’ dan Kabar Pergeseran Kursi Menteri
Eksklusif: Menkes Budi Gunadi Temui Prabowo, Bahas Tiga Program ‘Quick Win’ dan Kabar Pergeseran Kursi Menteri

Mengadopsi Teori U: Dari Melihat Hingga Bertindak

Untuk memberikan kerangka kerja yang aplikatif, Rerie memperkenalkan konsep Theory U yang digagas oleh Otto Scharmer dari MIT. Teori manajemen ini menekankan pentingnya proses mendalam sebelum sebuah aksi dilakukan. Dalam konteks kepemimpinan, proses ini melibatkan tahapan melihat (observing), mendengar dengan empati, dan memahami konteks secara utuh.

Setelah tahap pengamatan tersebut, seseorang perlu masuk ke dalam fase perenungan (presencing) untuk mencerna semua informasi. Baru setelah itu, langkah nyata atau inovasi bisa diciptakan. Pola ini mencegah lahirnya kebijakan yang bersifat reaktif dan dangkal. Rerie mengingatkan bahwa masalah yang tampak di permukaan seringkali hanyalah gejala, sementara penyebab aslinya tersembunyi jauh di bawah permukaan.

Baca Juga Perburuan Tanpa Henti: Israel Targetkan Mohammed Odeh, Nakhoda Baru Sayap Militer Hamas di Gaza
Perburuan Tanpa Henti: Israel Targetkan Mohammed Odeh, Nakhoda Baru Sayap Militer Hamas di Gaza

Analogi Gunung Es dalam Penyelesaian Masalah

Menggunakan metafora gunung es, Rerie menjelaskan bahwa apa yang terlihat secara kasat mata biasanya hanya sebagian kecil dari realitas. “Karena, apa yang terlihat di atas itu biasanya hanya sedikit. Yang sebenarnya justru ada di bawah dan tersembunyi,” jelas politisi dari Partai NasDem tersebut. Pendidikan Indonesia ke depan diharapkan mampu mencetak individu yang mampu menggali hingga ke akar masalah.

Pemimpin sejati, menurutnya, tidak akan puas dengan solusi instan atau sekadar ‘menambal sulam’ persoalan. Mereka harus memiliki keberanian untuk menyelam lebih dalam, memetakan kompleksitas masalah, dan berani menghadapi ketidaknyamanan dalam mencari kebenaran. Kemampuan analisis mendalam inilah yang membedakan antara seorang manajer dan seorang visioner.

Membangun Peta Empati untuk Kebijakan yang Adil

Salah satu instrumen penting yang ditawarkan Rerie adalah pengembangan ‘peta empati’. Dengan memahami diri sendiri, seseorang secara otomatis akan lebih mudah memahami perasaan dan posisi orang lain. Hal ini sangat krusial ketika seseorang memegang otoritas atau kewenangan publik.

“Sehingga ketika mengambil keputusan, ketika kalian bertindak, ketika memiliki kewenangan untuk mengambil kebijakan, kalian memiliki kemampuan untuk melihat dari berbagai sudut pandang,” tutur Rerie. Kebijakan yang lahir dari peta empati yang kuat akan lebih manusiawi dan mampu menyentuh kebutuhan masyarakat yang paling dasar, bukan sekadar angka-angka di atas kertas statistik.

Pesan untuk Duta Siswa: Berani Berubah dan Memimpin

Menutup sesi yang inspiratif tersebut, Rerie memberikan suntikan semangat kepada para peserta karantina. Ia berharap agar para duta siswa tidak takut untuk melakukan eksperimen dalam hidup mereka, berani mencoba hal baru, dan yang terpenting adalah berani untuk memimpin perubahan dari unit terkecil.

Perubahan masa depan bangsa berada di pundak mereka yang hari ini mau duduk tenang, mengenali detak jantung cita-citanya, dan memahami peran apa yang ingin mereka ambil dalam sejarah. “Mulai dari sekarang, para calon pemimpin sudah harus mampu mengenali dirinya, mampu memahami dirinya, dan kemudian menyiapkan dirinya untuk bertindak,” pungkas Rerie.

Melalui pesan ini, Lestari Moerdijat seolah ingin mengingatkan kita semua bahwa kepemimpinan bukanlah soal jabatan atau kursi kekuasaan, melainkan soal tanggung jawab moral yang dimulai dari penaklukan ego dan pencarian makna diri yang mendalam.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *