Perburuan Tanpa Henti: Israel Targetkan Mohammed Odeh, Nakhoda Baru Sayap Militer Hamas di Gaza

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
27 Mei 2026, 02:11 WIB
Perburuan Tanpa Henti: Israel Targetkan Mohammed Odeh, Nakhoda Baru Sayap Militer Hamas di Gaza

RadarLokal — Ketegangan di Jalur Gaza kembali mencapai titik didih baru setelah militer Israel mengumumkan operasi penargetan terhadap Mohammed Odeh, sosok yang baru saja didapuk sebagai pucuk pimpinan sayap militer Hamas. Langkah ini menjadi babak terbaru dalam strategi dekapitasi kepemimpinan yang terus digencarkan oleh Tel Aviv guna melumpuhkan kekuatan militer kelompok perlawanan tersebut di tengah berkecamuknya konflik Gaza yang kian mematikan.

Target Baru di Tengah Reruntuhan: Siapa Mohammed Odeh?

Mohammed Odeh bukanlah nama baru dalam struktur internal Hamas, namun profilnya mendadak mencuat ke permukaan internasional setelah militer Israel (IDF) secara spesifik membidik keberadaannya. Berdasarkan informasi yang dihimpun, Odeh merupakan suksesor dari Ezzedine Al-Haddad, mantan komandan Brigade Ezzedine Al-Qassam yang dilaporkan tewas dalam serangan udara awal Mei lalu. Kecepatan transisi kepemimpinan di tubuh Hamas ini menunjukkan betapa dinamisnya struktur organisasi mereka di tengah tekanan militer Israel yang luar biasa.

Baca Juga Ketegangan di Ujung Tanduk: Donald Trump Beri Isyarat Tolak Proposal Damai 14 Poin dari Iran
Ketegangan di Ujung Tanduk: Donald Trump Beri Isyarat Tolak Proposal Damai 14 Poin dari Iran

Dalam pernyataan bersama yang dirilis pada Rabu (27/5/2026), Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Menteri Pertahanan Israel Katz menegaskan bahwa Odeh adalah target utama dalam serangan udara yang dilancarkan di wilayah Gaza pada Selasa kemarin. Sebelum menduduki kursi komando tertinggi militer, Odeh menjabat sebagai kepala intelijen Hamas. Rekam jejaknya inilah yang membuatnya dianggap sebagai salah satu arsitek utama di balik operasi lintas batas pada 7 Oktober silam.

Detail Serangan di Lingkungan Rimal

Operasi militer yang menargetkan Odeh berlangsung di lingkungan Rimal, sebuah kawasan di barat Kota Gaza yang kini sebagian besar telah luluh lantak. Badan pertahanan sipil Gaza, yang bernaung di bawah otoritas setempat, melaporkan bahwa serangan udara tersebut tidak hanya menyasar target militer, tetapi juga membawa dampak tragis bagi warga sipil. Dilaporkan seorang wanita tewas dalam insiden tersebut, menambah panjang daftar korban jiwa dari kalangan non-kombatan dalam perang Timur Tengah ini.

Baca Juga Tensi Memanas Jelang Piala Dunia 2026: Iran Tuding Amerika Serikat Sabotase Delegasi Lewat Jalur Visa
Tensi Memanas Jelang Piala Dunia 2026: Iran Tuding Amerika Serikat Sabotase Delegasi Lewat Jalur Visa

Pemerintah Israel mengklaim bahwa penargetan ini dilakukan dengan presisi tinggi di bawah arahan langsung dari eselon tertinggi pemerintahan. Bagi Israel, mengeliminasi Odeh bukan sekadar soal balas dendam atas peristiwa 7 Oktober, melainkan upaya strategis untuk memutus rantai komando dan kontrol intelijen yang selama ini dikelola oleh Odeh. “Odeh bertanggung jawab atas pembunuhan, penculikan, dan cedera sejumlah warga sipil Israel dan tentara IDF,” tegas pernyataan resmi dari kantor Netanyahu.

Strategi Dekapitasi: Menargetkan Otak Operasi

Upaya untuk melenyapkan Mohammed Odeh merupakan bagian dari pola yang lebih besar dalam kampanye militer Israel. Sejak pecahnya perang, Israel telah secara sistematis memburu para pemimpin kunci Hamas. Nama-nama besar seperti Yahya Sinwar, yang dianggap sebagai dalang utama serangan 7 Oktober, dan Mohammed Deif, komandan legendaris yang telah lama menjadi buronan nomor satu, diklaim telah berhasil dilenyapkan oleh pihak keamanan Israel.

Baca Juga Fenomena Kerbau Albino ‘Donald Trump’ di Bangladesh: Kisah Keajaiban di Balik Pembatalan Kurban Idul Adha
Fenomena Kerbau Albino ‘Donald Trump’ di Bangladesh: Kisah Keajaiban di Balik Pembatalan Kurban Idul Adha

Tak hanya di Gaza, jangkauan operasi Israel juga meluas ke luar perbatasan. Pembunuhan Ismail Haniyeh, mantan kepala politik Hamas, serta operasi yang menargetkan agen-agen Hamas di Lebanon, menunjukkan bahwa Israel tidak akan membiarkan ada celah keamanan bagi musuh-musuhnya. Intelijen Mossad dan IDF bekerja sama erat untuk memetakan setiap pergerakan pemimpin militan, termasuk para petinggi Hizbullah yang didukung Iran, seperti mendiang Hassan Nasrallah.

Dampak Kemanusiaan yang Mengiris Hati

Di balik narasi perburuan pemimpin militer ini, terdapat realitas kelam yang dihadapi oleh jutaan warga Gaza. Kementerian Kesehatan setempat melaporkan bahwa jumlah korban tewas telah melampaui angka 72.803 jiwa sejak dimulainya agresi balasan Israel. Angka ini, yang dianggap kredibel oleh Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), mencerminkan skala kehancuran yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah modern wilayah tersebut.

Baca Juga Misi Damai Prabowo di KTT ASEAN: Menjahit Stabilitas Thailand-Kamboja dan Solusi Myanmar
Misi Damai Prabowo di KTT ASEAN: Menjahit Stabilitas Thailand-Kamboja dan Solusi Myanmar

Kota-kota di Gaza kini berubah menjadi pemakaman massal bagi ribuan nyawa yang tak berdosa. Serangan ke lingkungan Rimal, yang dulunya merupakan pusat komersial dan residensial kelas atas di Gaza, menjadi bukti nyata bahwa tidak ada tempat yang benar-benar aman bagi warga sipil. Krisis kemanusiaan ini terus memicu tekanan internasional terhadap Israel agar segera melakukan gencatan senjata, namun Tel Aviv tetap bersikukuh bahwa perdamaian Gaza hanya bisa dicapai jika Hamas telah benar-benar dilumpuhkan secara militer.

Eskalasi Regional dan Keterlibatan Aktor Global

Target terhadap Mohammed Odeh juga memberikan sinyal kepada aktor-aktor regional lainnya, terutama Iran dan sekutunya. Konflik ini telah berkembang menjadi perang proksi yang melibatkan banyak pihak. AS, sebagai sekutu utama Israel, terus melancarkan serangan yang mereka sebut sebagai tindakan “bela diri” terhadap posisi-posisi yang berafiliasi dengan Iran di kawasan tersebut, sementara negosiasi di balik layar terus diupayakan untuk mencegah perang terbuka yang lebih luas.

Baca Juga Tragedi Gandamekar: Kisah Pilu Rano dan Enam Rumah Keluarga yang Ludes Dilalap Api
Tragedi Gandamekar: Kisah Pilu Rano dan Enam Rumah Keluarga yang Ludes Dilalap Api

Kehadiran Mohammed Odeh sebagai pemimpin baru di tengah perang menunjukkan bahwa Hamas masih memiliki kemampuan untuk melakukan regenerasi kepemimpinan, meskipun terus-menerus digempur. Namun, dengan intelijen Israel yang kini semakin fokus pada unit-unit kecil dan komandan lapangan, tantangan bagi sayap militer Hamas menjadi semakin berat. Pertanyaannya kini bukan lagi siapa yang memimpin, melainkan berapa lama struktur organisasi tersebut dapat bertahan di bawah pengepungan total.

Masa Depan Konflik: Apakah Penghancuran Pemimpin Cukup?

Sejarah konflik di Timur Tengah menunjukkan bahwa pembunuhan pemimpin seringkali hanya melahirkan pemimpin baru yang lebih radikal atau taktis. Meskipun Israel berhasil melenyapkan nakhoda-nakhoda utama seperti Odeh atau Haddad, ideologi dan motivasi di balik perlawanan Hamas tampaknya masih mengakar kuat di sebagian masyarakat Gaza. Tanpa adanya solusi politik yang komprehensif, operasi militer secanggih apa pun mungkin hanya akan menjadi siklus kekerasan yang tak berujung.

Dunia kini memantau dengan cemas apakah serangan terbaru yang menargetkan Mohammed Odeh ini akan mempercepat berakhirnya perang atau justru memicu gelombang pembalasan baru yang lebih mematikan. Di tengah debu reruntuhan Rimal dan duka keluarga korban, masa depan Gaza masih menggantung di antara ujung laras senjata dan meja perundingan yang hingga kini belum membuahkan hasil nyata.

Melalui liputan mendalam ini, RadarLokal akan terus memantau perkembangan situasi di lapangan dan memberikan informasi terkini mengenai dinamika keamanan global yang berdampak langsung pada stabilitas kawasan kita. Keamanan dan kemanusiaan harus tetap menjadi prioritas utama di tengah keriuhan strategi perang yang semakin kompleks.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *