Penghormatan Terakhir Sang Jenderal Rumput: Jejak Pengabdian Ryamizard Ryacudu untuk Pertahanan Indonesia
RadarLokal — Langit Jakarta seolah ikut merunduk dalam suasana duka yang mendalam saat kabar duka menyelimuti markas besar militer dan seluruh pelosok negeri. Indonesia kembali kehilangan salah satu putra terbaiknya, seorang prajurit tangguh yang menghabiskan seluruh garis hidupnya untuk menjaga kedaulatan tanah air. Mantan Menteri Pertahanan Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Ryamizard Ryacudu, telah berpulang ke hadirat Yang Maha Kuasa, meninggalkan warisan pemikiran dan ketegasan yang sulit tergantikan dalam sejarah militer kontemporer kita.
Ryamizard Ryacudu mengembuskan napas terakhirnya pada usia 76 tahun, sebuah rentang usia yang dipenuhi dengan pengabdian tanpa batas. Beliau wafat pada Minggu (31/5) sore saat sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. Kepergian sang jenderal yang dikenal dengan julukan “Jenderal Rumput” ini memicu gelombang belasungkawa dari berbagai kalangan, mulai dari rekan sejawat di dunia militer, kolega pemerintahan, hingga masyarakat luas yang mengenalnya sebagai sosok yang rendah hati namun berprinsip baja.
Sosok Jenderal Rumput yang Visioner
Sepanjang hayatnya, Ryamizard bukanlah sekadar figur di balik meja. Beliau dikenal sebagai perwira lapangan yang sangat memahami denyut nadi prajurit di tingkat paling bawah. Itulah sebabnya julukan “Jenderal Rumput” melekat kuat padanya—sebuah simbol kedekatan dengan akar rumput dan pemahaman mendalam atas realitas di lapangan. Karir militernya yang cemerlang membawanya menduduki kursi Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) pada periode 2002-2005, sebuah masa di mana stabilitas nasional sedang diuji pasca-reformasi.
Pengabdiannya kemudian berlanjut ke ranah politik praktis saat Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, mempercayakan kursi Menteri Pertahanan kepadanya untuk periode 2014-2019. Dalam pandangan Jokowi, Ryamizard adalah sosok militer yang unik—memiliki pemikiran demokratis namun tetap memegang teguh nilai-nilai visioner dalam pertahanan negara. Selama masa jabatannya, beliau sangat gencar mengampanyekan program “Bela Negara”, sebuah inisiatif untuk menanamkan jiwa patriotisme kepada seluruh lapisan warga sipil agar memiliki tanggung jawab kolektif dalam menjaga keutuhan NKRI.
Upacara Persemayaman Penuh Khidmat di Kementerian Pertahanan
Sebagai bentuk penghormatan setinggi-tingginya, jenazah sang jenderal terlebih dahulu disemayamkan di Kantor Kementerian Pertahanan (Kemhan) RI, Jakarta Pusat. Di gedung yang pernah menjadi saksi bisu berbagai kebijakan strategis yang ia telurkan, kini menjadi tempat perpisahan sementara bagi rekan-rekannya. Presiden Prabowo Subianto hadir secara langsung dalam upacara persemayaman dan pelepasan jenazah tersebut pada Senin (1/6).
Suasana di Aula Bhinneka Tunggal Ika terasa begitu menyesakkan dada saat Presiden Prabowo tiba sekitar pukul 08.25 WIB. Prabowo, yang memiliki ikatan persahabatan panjang dengan almarhum sejak masa taruna, tampak berdiri mematung di hadapan peti jenazah yang dibalut kain Merah Putih. Dalam keheningan yang mencekam, Prabowo memberikan hormat terakhirnya—sebuah penghormatan dari seorang kawan sekaligus rekan seperjuangan yang memahami betul beratnya beban yang pernah dipanggul oleh Ryamizard demi bangsa ini.
Upacara persemayaman ini dipimpin oleh Wakil Menteri Pertahanan Donny Ermawan yang bertindak sebagai inspektur upacara. Dengan suara yang bergetar namun tegas, Wamenhan menyatakan bahwa negara secara resmi menerima jenazah almarhum untuk kemudian diantarkan ke peristirahatan terakhir. “Atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia, menerima jenazah almarhum Jenderal TNI Purnawirawan Dr (HC) Ryamizard Ryacudu. Selanjutnya, jenazah akan saya berangkatkan ke tempat pemakamannya di Taman Makam Pahlawan Nasional Utama Kalibata secara militer,” tegas Donny dalam prosesi tersebut.
Langkah Terakhir Menuju TMP Kalibata
Iring-iringan mobil jenazah yang dikawal ketat oleh Polisi Militer mulai bergerak meninggalkan komplek Kemhan sekitar pukul 11.15 WIB. Sepanjang perjalanan menuju Jakarta Selatan, masyarakat sesekali terlihat memberikan hormat di pinggir jalan, seolah menyadari bahwa seorang pahlawan besar sedang melintas menuju keabadian. Tujuan akhir adalah Taman Makam Pahlawan (TMP) Nasional Utama Kalibata, tempat di mana para kesatria bangsa beristirahat dengan tenang.
Setibanya di TMP Kalibata, upacara pemakaman militer yang sakral segera dimulai tepat pukul 11.40 WIB. Kali ini, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin bertindak sebagai inspektur upacara dalam Apel Persada. Di bawah terik matahari yang menyengat namun dilingkupi suasana hening, Sjafrie membacakan teks persada yang menggugah jiwa. “Saya Menteri Pertahanan Republik Indonesia atas nama negara, bangsa, dan Tentara Nasional Indonesia, dengan ini mempersembahkan ke persada Ibu Pertiwi jiwa dan raga serta jasa-jasa almarhum,” ucapnya dengan penuh wibawa.
Prosesi penurunan jenazah ke liang lahat diiringi dengan tembakan salvo yang memecah kesunyian, simbol penghormatan militer tertinggi bagi seorang perwira tinggi. Bendera Merah Putih yang sebelumnya menutupi peti jenazah kemudian dilipat dengan rapi oleh petugas dan diserahkan kepada pihak keluarga sebagai kenang-kenangan atas jasa almarhum yang tiada tara.
Kehadiran Para Tokoh Bangsa
Pemakaman Jenderal Ryamizard Ryacudu menjadi titik temu bagi banyak tokoh nasional dan pejabat tinggi negara. Hal ini menunjukkan betapa luasnya jaringan pengaruh dan rasa hormat yang dimiliki almarhum semasa hidupnya. Di barisan depan, tampak hadir Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto dan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, yang menunjukkan soliditas antara TNI dan Polri dalam memberikan penghormatan terakhir.
Tak ketinggalan, hadir pula Ketua Dewan Ekonomi Nasional Luhut Binsar Pandjaitan, Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal Maruli Simanjuntak, KSAL Laksamana Muhammad Ali, serta KSAU Marsekal Mohamad Tonny Harjono. Kehadiran para kepala staf angkatan ini menegaskan bahwa Ryamizard adalah sosok bapak bagi seluruh matra di TNI. Selain itu, terlihat pula tokoh-tokoh seperti Letjen TNI (Purn) Lodewijk F Paulus, Jimly Asshiddiqie, dan sejumlah perwira tinggi aktif lainnya yang ingin memberikan salam perpisahan terakhir.
Salah satu momen mengharukan adalah ketika Ibas Yudhoyono mengenang almarhum sebagai sosok yang terus berproses dan tidak pernah berhenti belajar meski sudah mencapai puncak karir. Begitu pula dengan Jimly Asshiddiqie yang berharap agar nilai-nilai keteladanan yang ditinggalkan Ryamizard dapat menjadi kompas moral bagi generasi penerus TNI di masa depan.
Warisan yang Takkan Padam
Meskipun raga Jenderal Ryamizard kini telah bersatu dengan tanah pertiwi yang amat dicintainya, namun pemikiran dan semangatnya dipastikan akan tetap hidup. Beliau meninggalkan sebuah standar tinggi tentang bagaimana seorang militer harus bersikap di tengah dinamika demokrasi: tetap tegak lurus pada konstitusi, namun tidak pernah melupakan akar sejarah dan kepentingan rakyat jelata.
Dedikasinya dalam memperkuat pertahanan maritim, mengembangkan industri pertahanan dalam negeri, hingga penguatan diplomasi pertahanan di kawasan ASEAN menjadi catatan emas dalam buku sejarah Indonesia. Selamat jalan, Jenderal Rumput. Terima kasih atas setiap peluh dan pemikiran yang telah engkau sumbangkan untuk kedaulatan NKRI. Tugasmu telah usai, dan kini biarlah sejarah yang mencatat namamu dengan tinta emas di sanubari rakyat Indonesia.