Sentilan Tajam Bos Epic Games: Harga Steam Deck Melejit Demi Koleksi Kapal Pesiar Gabe Newell?

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
02 Jun 2026, 12:13 WIB
Sentilan Tajam Bos Epic Games: Harga Steam Deck Melejit Demi Koleksi Kapal Pesiar Gabe Newell?

RadarLokal — Jagat industri hiburan digital kembali diguncang oleh drama antara dua raksasa teknologi. Perseteruan dingin yang sudah lama terjalin antara Epic Games dan Valve kini memasuki babak baru yang lebih personal dan sarat akan sarkasme. Kali ini, pemicunya adalah lonjakan harga drastis pada perangkat Steam Deck, yang memancing komentar pedas dari sang CEO Epic Games, Tim Sweeney.

Kenaikan harga yang diumumkan secara mendadak pada akhir Mei 2026 ini tidak hanya mengejutkan para gamer, tetapi juga memicu spekulasi liar mengenai alasan di balik kebijakan tersebut. Sweeney, yang dikenal tidak pernah ragu melontarkan kritik di media sosial, mengaitkan kebijakan ekonomi Valve ini dengan gaya hidup mewah sang pendirinya, Gabe Newell, yang memiliki kegemaran mengoleksi kapal pesiar super mewah (megayacht).

Baca Juga Bedah Tuntas Asus ExpertBook Ultra: Evolusi Intel Panther Lake dalam Balutan Bodi Super Tangguh
Bedah Tuntas Asus ExpertBook Ultra: Evolusi Intel Panther Lake dalam Balutan Bodi Super Tangguh

Lonjakan Harga Steam Deck yang Mengejutkan Pasar

Pada tanggal 27 Mei 2026, para penggemar konsol handheld dikejutkan dengan pengumuman resmi dari Valve mengenai penyesuaian harga lini produk unggulan mereka. Varian Steam Deck dengan ruang penyimpanan 1TB, yang selama ini menjadi primadona bagi gamer hardcore, mengalami kenaikan harga yang sangat signifikan.

Harga eceran yang semula berada di angka USD 649 atau sekitar Rp 11,5 juta, meroket tajam menjadi USD 949 atau setara dengan Rp 16,8 juta. Kenaikan sebesar USD 300 (sekitar Rp 5,3 juta) ini dianggap tidak wajar oleh banyak pihak, mengingat usia perangkat yang sudah cukup lama di pasaran. Meskipun Valve berdalih bahwa krisis komponen, terutama kelangkaan chip RAM berkualitas tinggi, menjadi penyebab utama, publik tetap merasa keberatan dengan kebijakan tersebut.

Baca Juga Dominasi Apple di Indonesia 2026: Lonjakan Pertumbuhan Dua Digit dan Fenomena iPhone 17 yang Tak Terbendung
Dominasi Apple di Indonesia 2026: Lonjakan Pertumbuhan Dua Digit dan Fenomena iPhone 17 yang Tak Terbendung

Sarkasme Tim Sweeney di Media Sosial

Hanya berselang sehari setelah pengumuman kenaikan harga tersebut, Tim Sweeney melalui akun pribadinya di platform X (sebelumnya Twitter) memberikan tanggapan yang menggigit. Alih-alih memberikan simpati sebagai sesama pelaku industri, Sweeney justru menggunakan kesempatan ini untuk menyindir Gabe Newell dengan nada satir yang sangat kental.

“Sepertinya semua orang terlalu keras dalam memberikan penilaian. Kita harus memahami bahwa telah terjadi peningkatan biaya komponen yang sangat signifikan,” tulis Sweeney mengawali cuitannya dengan nada yang seolah-olah membela. Namun, ia melanjutkan dengan kalimat penutup yang menusuk: “Biaya tersebut pada akhirnya didanai oleh pengeluaran pelanggan Steam, terutama karena tren ekonomi global yang menciptakan gangguan serius dalam rantai pasokan komponen untuk Megayacht.”

Baca Juga Di Balik Lensa: 10 Foto yang Tampak Normal Namun Menyimpan Tragedi Kelam yang Memilukan
Di Balik Lensa: 10 Foto yang Tampak Normal Namun Menyimpan Tragedi Kelam yang Memilukan

Referensi mengenai “Megayacht” ini bukanlah sebuah kebetulan. Sweeney dengan cerdik menghubungkan antara uang yang dikeluarkan konsumen untuk membeli konsol gaming dengan hobi mahal sang Bos Valve yang memang dikenal sebagai kolektor kapal pesiar kelas dunia.

Armada Megah di Balik Layar Steam

Berdasarkan investigasi dan laporan dari berbagai sumber maritim seperti Premier Boating, kekayaan Gabe Newell memang tidak hanya tersimpan dalam bentuk aset digital. Hingga saat ini, Newell dikabarkan memiliki setidaknya enam kapal pesiar mewah dengan nilai total yang menembus angka USD 1 miliar atau lebih dari Rp 15 triliun.

Koleksi paling spektakuler milik Newell adalah ‘Leviathan’. Kapal pesiar ini memiliki panjang mencapai 111 meter dan dibangun oleh galangan kapal ternama, Oceanco. Leviathan, yang baru saja diserahkan pada tahun 2025 lalu, diperkirakan menelan biaya pembuatan antara USD 350 juta hingga USD 500 juta. Di dalam kapal ini, fasilitasnya menyerupai kota kecil terapung, mulai dari laboratorium sains mutakhir, rumah sakit pribadi, fasilitas spa kelas atas, hingga pusat penyelaman profesional.

Baca Juga Adu Dimensi Galaxy Z Fold Wide vs Huawei Pura X Max: Siapa Jawara Tipis di Era Ponsel Lipat?
Adu Dimensi Galaxy Z Fold Wide vs Huawei Pura X Max: Siapa Jawara Tipis di Era Ponsel Lipat?

Selain Leviathan, Newell juga memiliki ‘Tranquility’, sebuah yacht sepanjang 91 meter senilai USD 250 juta yang kabarnya tengah dimodifikasi menjadi kapal pendukung untuk Leviathan. Jangan lupakan juga ‘Rocinante’, kapal pesiar Lürssen sepanjang 79 meter yang bernilai USD 100 juta. Bagi Sweeney, kenaikan harga perangkat gaming di tengah inflasi global ini seolah menjadi subsidi tidak langsung bagi operasional armada laut mewah tersebut.

Reaksi Netizen: Senjata Makan Tuan bagi Epic Games?

Meskipun sindiran Sweeney terdengar menghibur bagi sebagian orang, tidak sedikit netizen yang justru menyerang balik bos Epic Games tersebut. Komunitas gaming di media sosial mengingatkan Sweeney bahwa perusahaannya sendiri masih memiliki banyak pekerjaan rumah yang belum terselesaikan, terutama terkait performa platform distribusi mereka.

Baca Juga Menanti Kehadiran Vivo X300 FE di Indonesia: Si Mungil Berdaya Monster yang Bikin Penasaran
Menanti Kehadiran Vivo X300 FE di Indonesia: Si Mungil Berdaya Monster yang Bikin Penasaran

Salah satu komentar yang mendapatkan banyak dukungan datang dari pengguna bernama 404oops. “Daripada sibuk mengejek Gaben, alangkah baiknya jika Anda menginvestasikan uang Anda untuk membangun launcher yang tidak berjalan seperti sampah dan tidak meminta login setiap beberapa detik,” tulisnya pedas. Kritik ini merujuk pada keluhan klasik pengguna Epic Games Store (EGS) yang merasa platform tersebut masih jauh tertinggal dalam hal fitur dan stabilitas jika dibandingkan dengan Steam.

Perseteruan ini seolah menegaskan bahwa dalam industri gaming, perang tidak hanya terjadi di dalam layar, tetapi juga di meja dewan direksi dan media sosial. Di satu sisi, Valve dikritik karena harga perangkat kerasnya yang kian tidak terjangkau, sementara di sisi lain, Epic Games masih berjuang memenangkan hati pengguna melalui kualitas layanan platform mereka.

Masa Depan Handheld Gaming di Tengah Gejolak Ekonomi

Fenomena kenaikan harga Steam Deck ini memicu kekhawatiran bahwa era PC genggam murah mungkin akan segera berakhir. Jika sebelumnya Steam Deck dianggap sebagai penyelamat bagi gamer dengan anggaran terbatas yang ingin mencicipi performa PC dalam genggaman, kini harga terbarunya mulai mendekati harga laptop gaming kelas menengah.

Namun, bagi para kolektor dan penggemar setia, nama besar Valve dan ekosistem Steam yang solid tetap menjadi daya tarik utama yang sulit digoyahkan, terlepas dari berapa banyak kapal pesiar yang dimiliki oleh bosnya. Sementara bagi Tim Sweeney, sindiran ini mungkin hanyalah satu peluru dalam perang panjang untuk merebut dominasi pasar distribusi game digital dari tangan Gabe Newell.

Bagaimana menurut Anda? Apakah kenaikan harga ini memang murni karena kendala teknis dan ekonomi, ataukah ada benarnya sentilan sarkas dari Bos Epic Games tersebut? Yang pasti, persaingan antara kedua raksasa ini akan terus menjadi bumbu menarik dalam perkembangan industri teknologi game di masa depan.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *