Trump vs Inggris: Ancaman Tarif Impor Tinggi dan Babak Baru Ketegangan Pajak Digital Global

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
26 Apr 2026, 16:53 WIB
Trump vs Inggris: Ancaman Tarif Impor Tinggi dan Babak Baru Ketegangan Pajak Digital Global

RadarLokal — Ketegangan diplomatik antara dua sekutu lama, Amerika Serikat dan Inggris, kembali memanas setelah Donald Trump melontarkan ancaman serius terkait kebijakan ekonomi lintas samudra. Dalam sebuah manuver yang diprediksi akan mengubah peta perdagangan internasional, Presiden AS Donald Trump secara terang-terangan mengancam akan memberlakukan tarif impor yang sangat tinggi terhadap produk-produk asal Inggris. Langkah agresif ini diambil sebagai bentuk balasan atas kebijakan Pajak Layanan Digital (Digital Services Tax/DST) yang diterapkan oleh London terhadap raksasa teknologi asal Amerika Serikat.

Sejak tahun 2020, Inggris telah secara konsisten memungut pajak dari perusahaan-perusahaan teknologi besar yang mengeruk keuntungan dari data dan interaksi pengguna di wilayah kedaulatan mereka. Namun, bagi Trump, kebijakan ini dianggap sebagai bentuk diskriminasi yang secara tidak adil menyasar inovasi dan dominasi ekonomi Amerika di sektor digital. Melalui pernyataan resminya di Ruang Oval, Trump memberikan sinyal kuat bahwa masa depan kerja sama ekonomi kedua negara kini berada di ujung tanduk jika Inggris tidak segera mencabut aturan tersebut.

Baca Juga KKP Gandeng Brimob Perketat Mutu Ikan: Langkah Berani Pastikan Produk Perikanan Indonesia Bebas Kontaminasi Radioaktif
KKP Gandeng Brimob Perketat Mutu Ikan: Langkah Berani Pastikan Produk Perikanan Indonesia Bebas Kontaminasi Radioaktif

Sinyal Perang Dagang dari Ruang Oval

Berbicara dengan nada tegas yang menjadi ciri khasnya, Donald Trump mengkritik keras pendekatan pemerintah Inggris yang menurutnya hanya mencari keuntungan instan dari keberhasilan perusahaan-perusahaan Amerika. Ia memandang pajak digital tersebut bukan sebagai kebijakan fiskal yang adil, melainkan sebagai bentuk perampasan keuntungan terhadap perusahaan-perusahaan seperti Google, Meta, dan Apple.

“Kami sudah memantau hal itu dalam waktu yang cukup lama. Kami memiliki kemampuan untuk membalasnya dengan sangat mudah, salah satunya dengan mengenakan tarif besar bagi produk-produk Inggris. Jadi, sebaiknya mereka mulai berhati-hati dalam melangkah,” ujar Trump dalam sesi wawancara yang dikutip oleh berbagai media internasional. Meskipun belum merinci besaran persentase tarif yang akan dikenakan, ancaman ini diprediksi akan menyasar sektor-sektor krusial Inggris, mulai dari otomotif hingga produk konsumen kelas atas.

Baca Juga Menilik Masa Depan Bobibos: Inovasi Bahan Bakar Lokal yang Kini Masuk Meja Pengujian Lemigas
Menilik Masa Depan Bobibos: Inovasi Bahan Bakar Lokal yang Kini Masuk Meja Pengujian Lemigas

Ancaman ini menciptakan kegaduhan di pasar ekonomi global. Para analis menilai bahwa jika Trump benar-benar mengeksekusi ancaman tarif ini, maka dunia mungkin akan menyaksikan babak baru perang dagang yang tidak hanya melibatkan tarif barang fisik, tetapi juga kedaulatan data dan pajak digital.

Mengenal Pajak Digital: Mengapa Inggris Bersikeras?

Kebijakan Pajak Layanan Digital Inggris sebenarnya bukanlah hal baru. Aturan ini memungut pajak sebesar 2% dari pendapatan yang dihasilkan melalui mesin pencari, platform media sosial, dan pasar daring (online marketplace) yang memperoleh nilai dari basis pengguna di Inggris. Pemerintah Inggris berargumen bahwa model bisnis digital saat ini memungkinkan perusahaan multinasional untuk mencatatkan keuntungan besar di satu negara tanpa memiliki kehadiran fisik yang signifikan secara pajak.

Baca Juga Badai PHK di Toba Pulp Lestari: Dampak Nyata Pencabutan Izin Hutan Akibat Bencana Ekologis di Sumatera
Badai PHK di Toba Pulp Lestari: Dampak Nyata Pencabutan Izin Hutan Akibat Bencana Ekologis di Sumatera

Bagi London, pajak ini adalah instrumen keadilan pajak di era modern. Di bawah kepemimpinan Partai Buruh saat ini, pajak digital dipandang sebagai sumber pendapatan negara yang sangat vital. Data menunjukkan bahwa pajak ini berhasil menyumbang setidaknya £800 juta ke kas negara Inggris pada tahun fiskal 2024-2025. Jumlah ini dianggap sangat signifikan di tengah upaya Inggris untuk memulihkan kondisi keuangan negara pasca-pandemi dan dinamika ekonomi domestik lainnya.

Pemerintah Inggris menekankan bahwa pajak tersebut dirancang untuk memastikan bahwa perusahaan teknologi besar memberikan kontribusi yang proporsional terhadap layanan publik di negara tempat mereka beroperasi. Namun, argumen kedaulatan fiskal ini berbenturan keras dengan kebijakan proteksionisme ekonomi yang diusung oleh Trump dengan slogan “America First”.

Baca Juga Strategi Belanja Cerdas di Transmart Full Day Sale: AC Polytron 1 PK Kini Turun Harga Hingga Rp 1,3 Juta!
Strategi Belanja Cerdas di Transmart Full Day Sale: AC Polytron 1 PK Kini Turun Harga Hingga Rp 1,3 Juta!

Raksasa Teknologi di Pusaran Konflik

Tidak bisa dipungkiri bahwa target utama dari pajak digital ini adalah para pemain besar di Silicon Valley. Perusahaan-perusahaan di bawah naungan Alphabet (Google), Meta (Facebook/Instagram), dan Apple menjadi subjek utama yang terdampak. Selama bertahun-tahun, perusahaan-perusahaan ini dituduh menggunakan struktur pajak yang kompleks untuk meminimalkan kewajiban pajak mereka di luar Amerika Serikat.

Inggris bukanlah satu-satunya negara yang mencoba mengejar pajak dari sektor ini, namun posisi Inggris sebagai mitra dagang utama AS membuat langkah ini menjadi sangat sensitif. Trump melihat bahwa setiap dolar yang dibayarkan sebagai pajak digital kepada pemerintah asing adalah dolar yang seharusnya tetap berada di ekosistem ekonomi Amerika Serikat atau setidaknya tidak dipungut secara sepihak.

Baca Juga Ketegasan Purbaya Yudhi Sadewa: Sanksi Nonjob Menanti Pejabat Kemenkeu yang Tak Serius Amankan Kas Negara
Ketegasan Purbaya Yudhi Sadewa: Sanksi Nonjob Menanti Pejabat Kemenkeu yang Tak Serius Amankan Kas Negara

Bagi industri teknologi modern, ketegangan ini menambah ketidakpastian operasional. Jika perang tarif pecah, biaya operasional perusahaan teknologi mungkin akan meningkat, atau sebaliknya, konsumen di Inggris mungkin akan merasakan dampak dari retaliasi AS dalam bentuk harga barang-barang impor yang melonjak tajam.

Dilema Diplomasi dan Perjanjian Dagang yang Rapuh

Satu hal yang menarik untuk dicermati adalah bagaimana ancaman ini muncul setelah adanya kesepakatan dagang antara AS dan Inggris pada Mei tahun lalu. Pada saat itu, kedua belah pihak seolah-olah telah menemukan jalan tengah untuk tetap mempertahankan pajak digital hingga konsensus global melalui OECD tercapai. Namun, Trump menyatakan bahwa kesepakatan tersebut dapat diubah sewaktu-waktu.

“Jika mereka tidak mencabut pajak itu, kami kemungkinan besar akan memberlakukan tarif besar pada Inggris,” tegas Trump kembali. Pernyataan ini menunjukkan bahwa diplomasi ekonomi di era Trump bersifat sangat transaksional. Perjanjian yang sudah ditandatangani tidak lagi dianggap sakral jika dianggap merugikan kepentingan nasional AS menurut sudut pandangnya.

Di sisi lain, Inggris berada dalam posisi sulit. Menghapus pajak digital berarti kehilangan pendapatan ratusan juta poundsterling dan bisa dianggap sebagai tindakan tunduk pada tekanan asing. Namun, mempertahankan pajak tersebut berisiko memicu perang dagang yang dapat melumpuhkan sektor ekspor mereka ke Amerika Serikat, yang merupakan salah satu pasar terbesar Inggris.

Dampak Luas Bagi Konsumen dan Pasar

Jika Trump benar-benar memberlakukan tarif impor tinggi, dampaknya akan dirasakan langsung oleh masyarakat luas. Barang-barang populer asal Inggris seperti wiski Scotch, produk fashion mewah, hingga komponen otomotif akan menjadi jauh lebih mahal di pasar Amerika. Sebaliknya, langkah retaliasi dari Inggris bisa menyasar produk-produk pertanian atau teknologi asal AS, menciptakan lingkaran setan inflasi yang merugikan kedua belah pihak.

Ketidakpastian ini juga mempengaruhi investasi asing. Investor cenderung menghindari pasar yang terlibat dalam sengketa perdagangan yang tidak menentu. RadarLokal mencatat bahwa fluktuasi mata uang Poundsterling terhadap Dollar seringkali menjadi indikator pertama dari kecemasan pasar terhadap retorika-retorika politik seperti ini.

Menuju Konsensus Global atau Perpecahan?

Sebenarnya, ada upaya internasional melalui Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) untuk menciptakan sistem pajak global yang lebih adil bagi perusahaan digital. Namun, proses ini berjalan lambat dan penuh dengan perdebatan teknis. Ketidaksabaran Trump dan ketegasan Inggris dalam mempertahankan pajak domestik mereka menunjukkan bahwa konsensus global masih jauh dari kenyataan.

Para pengamat ekonomi berpendapat bahwa ancaman Trump ini bisa jadi merupakan taktik negosiasi untuk memaksa Inggris—dan negara Eropa lainnya—untuk melunakkan aturan mereka sebelum aturan global benar-benar diterapkan. Namun, dengan karakter Trump yang sulit ditebak, ancaman ini tidak bisa dianggap sekadar gertakan sambal.

Kini, bola panas berada di tangan pemerintah Inggris. Apakah mereka akan memilih untuk melakukan negosiasi ulang demi menghindari tarif impor, atau tetap teguh pada kebijakan pajak digital mereka sebagai bentuk kedaulatan ekonomi? Satu yang pasti, hubungan “spesial” antara London dan Washington sedang diuji dalam level yang belum pernah terjadi sebelumnya di era ekonomi digital ini.

RadarLokal akan terus memantau perkembangan situasi ini, mengingat dampaknya yang sangat luas bagi stabilitas ekonomi global dan potensi pengaruhnya terhadap kebijakan fiskal di negara-negara lain, termasuk potensi penyesuaian kebijakan di kawasan Asia.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *