Hati-Hati! Modus Penipuan Berkedok Tebak Gambar dan Nonton Drama China Mulai Menjamur, Ini Daftarnya

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
27 Mei 2026, 14:12 WIB
Hati-Hati! Modus Penipuan Berkedok Tebak Gambar dan Nonton Drama China Mulai Menjamur, Ini Daftarnya

RadarLokal Era digital yang semakin canggih layaknya pisau bermata dua. Di satu sisi, teknologi menawarkan kemudahan akses informasi dan hiburan, namun di sisi lain, ia menjadi ladang subur bagi para pelaku kejahatan siber untuk menyemai benih penipuan. Jika dahulu penipuan sering kali berbentuk panggilan telepon misterius atau pesan singkat hadiah palsu, kini modusnya telah bermutasi menjadi aktivitas harian yang tampak sangat lumrah, mulai dari menebak gambar hingga sekadar menonton drama China.

Tim redaksi RadarLokal mencermati fenomena yang semakin meresahkan ini. Para penipu kini tidak lagi terang-terangan meminta uang di awal dengan paksaan, melainkan menggunakan pendekatan psikologis yang halus. Mereka membungkus skema investasi ilegal dengan kedok tugas-tugas ringan yang bisa dilakukan sambil bersantai di rumah. Hal ini membuat masyarakat sering kali tidak sadar bahwa mereka sedang masuk ke dalam jeratan skema Ponzi yang berbahaya.

Baca Juga Menhub Tolak Usulan Geser Gerbong Wanita KRL ke Tengah: Alasan Keamanan dan Efektivitas Jadi Kunci
Menhub Tolak Usulan Geser Gerbong Wanita KRL ke Tengah: Alasan Keamanan dan Efektivitas Jadi Kunci

Satgas PASTI Ungkap Lima Entitas Berbahaya

Kabar terbaru yang dihimpun menunjukkan ketegasan otoritas dalam melindungi masyarakat. Satuan Tugas Pemberantasan Aktivitas Keuangan Ilegal atau yang dikenal sebagai Satgas PASTI, baru-baru ini mengambil langkah drastis pada Mei 2026. Mereka secara resmi menghentikan operasional lima entitas yang terindikasi kuat melakukan praktik penipuan dan investasi tanpa izin. Kelima entitas tersebut adalah CANTVR, YUDIA, Appeninc, VID, dan Sensenowai.

Menurut pantauan RadarLokal, langkah pemblokiran ini bukan tanpa alasan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) melalui kanal resminya menegaskan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan tingkat tinggi. Modus yang dijalankan kelima entitas ini sangat rapi, memanfaatkan tren digital dan hobi masyarakat untuk menjaring korban sebanyak mungkin. Janji keuntungan yang tidak masuk akal menjadi senjata utama mereka dalam memikat calon korban yang mendambakan pendapatan pasif secara instan.

Baca Juga Strategi Baru Pemerintah Melalui PT DSI: Misi Mengembalikan Kejayaan Rupiah ke Level Rp 16.900
Strategi Baru Pemerintah Melalui PT DSI: Misi Mengembalikan Kejayaan Rupiah ke Level Rp 16.900

Bedah Modus: Dari Saham Fiktif hingga Tugas Tebak Gambar

Mari kita bedah satu per satu bagaimana entitas-entitas ini beroperasi. Pertama, kita melihat entitas bernama CANTVR. Berdasarkan investigasi lapangan, CANTVR menggunakan kedok investasi saham. Mereka menawarkan berbagai tingkat keanggotaan (membership) dengan janji keuntungan yang semakin besar seiring dengan tingginya level anggota. Yang lebih mengerikan, mereka juga menawarkan alokasi saham IPO fiktif. Para anggota diminta menyetorkan sejumlah dana yang diklaim sebagai jaminan pembelian saham perdana, padahal uang tersebut hanya mengalir ke kantong para pelaku.

Selanjutnya, ada Appeninc yang menyasar mereka yang gemar bermain game sederhana. Modusnya tergolong unik namun licik, yaitu pengerjaan tugas menebak gambar. Korban diberikan tugas-tugas harian yang sangat mudah, seolah-olah mereka sedang bekerja secara profesional. Namun, untuk mencairkan hasil dari tugas tersebut, korban biasanya diwajibkan untuk melakukan deposit dalam jumlah tertentu terlebih dahulu.

Baca Juga Menanti Nahkoda Baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia: Strategi Hilirisasi dan Transparansi Tata Kelola SDA
Menanti Nahkoda Baru PT Danantara Sumberdaya Indonesia: Strategi Hilirisasi dan Transparansi Tata Kelola SDA

Sementara itu, entitas VID menggunakan strategi yang berbeda. Mereka menawarkan imbalan uang hanya dengan menonton iklan. Tak berhenti di situ, VID juga merambah ke penawaran pembiayaan proyek yang ternyata sepenuhnya fiktif. Modus menonton iklan ini sangat efektif menjaring kalangan anak muda dan ibu rumah tangga yang memiliki banyak waktu luang di depan layar gawai.

Fenomena Drama China dan Jeratan Copy Trading

Salah satu yang paling menarik perhatian RadarLokal adalah modus yang dijalankan oleh YUDIA. Memanfaatkan popularitas drama China (Drachin) yang tengah naik daun di Indonesia, YUDIA menawarkan tugas harian berupa menonton film drama tersebut. Tidak hanya itu, mereka bahkan berani menawarkan skema pembelian hak cipta film drama China. Korban diyakinkan bahwa dengan membeli hak cipta tersebut, mereka akan mendapatkan bagi hasil dari penayangan film, sebuah tawaran yang sangat menggiurkan bagi para penggemar fanatik.

Baca Juga Megaproyek PLTS 100 GW: Menakar Peta Jalan Kedaulatan Energi Hijau di Era Pemerintahan Prabowo
Megaproyek PLTS 100 GW: Menakar Peta Jalan Kedaulatan Energi Hijau di Era Pemerintahan Prabowo

Terakhir, ada Sensenowai yang bermain di ranah kripto. Menggunakan aplikasi bernama Wapex, mereka menawarkan fitur copy trading. Di sini, korban diiming-imingi bisa mendapatkan profit konsisten dengan cara meniru strategi perdagangan dari para ahli. Kenyataannya, aplikasi tersebut hanyalah alat manipulatif untuk menyedot dana masyarakat di bawah kendali penuh operator ilegal.

Ciri Khas Penipuan: Deposit dan Member Get Member

Meski memiliki kedok yang berbeda-beda, RadarLokal menemukan satu pola merah yang sama dari kelima entitas ini. Mayoritas dari mereka mewajibkan anggotanya untuk melakukan deposit dana di awal. Selain itu, mereka sangat gencar mempromosikan skema Member Get Member. Artinya, anggota lama akan mendapatkan bonus tambahan jika berhasil merekrut orang baru untuk bergabung dan menyetorkan uang.

Baca Juga Dolar AS Kian Perkasa, Pengusaha Mal Jakarta Mulai Was-was Akibat Penurunan Pengunjung
Dolar AS Kian Perkasa, Pengusaha Mal Jakarta Mulai Was-was Akibat Penurunan Pengunjung

“Ini adalah ciri khas dari skema piramida atau Ponzi. Pendapatan yang diberikan kepada anggota lama sebenarnya berasal dari uang anggota baru, bukan dari hasil usaha yang sah,” ujar seorang analis keamanan finansial kepada RadarLokal. Keberlangsungan bisnis semacam ini sepenuhnya bergantung pada aliran anggota baru, dan ketika pertumbuhan tersebut berhenti, sistem akan runtuh dan membawa lari uang para investor.

Legalitas yang Diabaikan: Bahaya Menanti

Hasil investigasi mendalam mengungkap bahwa kegiatan operasional CANTVR, YUDIA, Appeninc, VID, dan Sensenowai sama sekali tidak memiliki legalitas yang sah di Indonesia. Izin yang mereka miliki dari Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM tidak sesuai dengan aktivitas bisnis yang mereka jalankan di lapangan. Mereka sering kali menyalahgunakan izin perdagangan umum untuk menghimpun dana masyarakat secara ilegal.

Selain itu, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga mengonfirmasi bahwa entitas-entitas ini tidak terdaftar sebagai Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE). Hal ini berarti aplikasi dan situs web yang mereka gunakan beroperasi secara liar tanpa pengawasan standar keamanan data dan perlindungan konsumen. Sebagai tindak lanjut, Satgas PASTI telah berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk memblokir seluruh akses URL dan aplikasi terkait guna memutus rantai korban baru.

Tips Menghindari Investasi Bodong dari RadarLokal

Melihat maraknya modus penipuan ini, RadarLokal merangkum beberapa langkah preventif yang bisa Anda lakukan agar tidak terjebak dalam lingkaran setan investasi bodong:

  • Prinsip 2L (Legal dan Logis): Pastikan perusahaan memiliki izin dari otoritas yang berwenang (OJK, Bappebti, atau BI). Selain itu, pertimbangkan apakah janji keuntungan yang diberikan masuk akal atau terlalu tinggi dibandingkan bunga bank normal.
  • Waspadai Tugas Berbayar: Jika Anda diminta membayar sejumlah uang (deposit) untuk bisa mengerjakan tugas yang dijanjikan menghasilkan uang, itu adalah sinyal merah besar.
  • Cek Rekam Jejak Digital: Lakukan riset mandiri melalui mesin pencari dengan mengetikkan nama entitas tersebut. Biasanya, korban-korban sebelumnya akan memberikan testimoni di forum-forum diskusi atau media sosial.
  • Jangan Tergiur Skema Referral: Jika fokus utama perusahaan adalah menyuruh Anda mencari orang baru daripada menjual produk atau jasa yang nyata, segera tinggalkan.

Kejahatan finansial di dunia digital akan terus berkembang seiring dengan tren yang ada. Hari ini mungkin tebak gambar dan drama China, besok bisa jadi modus yang lebih canggih lagi. Kunci utamanya adalah literasi keuangan dan kewaspadaan. Ingatlah bahwa tidak ada jalan pintas menuju kekayaan yang instan tanpa risiko yang terukur. Tetaplah cerdas dalam mengelola aset Anda dan jangan biarkan jerih payah Anda hilang dalam sekejap karena tawaran yang tampak manis di permukaan namun pahit di akhir.

RadarLokal akan terus mengawal perkembangan kasus ini dan memberikan informasi terbaru mengenai entitas-entitas mencurigakan lainnya. Pastikan Anda selalu mendapatkan informasi dari sumber yang tepercaya agar terhindar dari berbagai potensi kerugian di masa depan.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *