Transformasi Strategis Badan Gizi Nasional: 4 Gebrakan Nanik Sudarti Deyang Demi Efisiensi dan Kualitas

Sarah Amalia | RADAR LOKAL
05 Jun 2026, 08:14 WIB
Transformasi Strategis Badan Gizi Nasional: 4 Gebrakan Nanik Sudarti Deyang Demi Efisiensi dan Kualitas

RadarLokal — Langkah baru kini tengah diambil oleh Badan Gizi Nasional (BGN) di bawah kepemimpinan Nanik Sudarti Deyang. Pasca dilantik menggantikan posisi Dadan Hindayana, Nanik langsung tancap gas dengan melakukan konsolidasi internal yang sangat masif. Fokus utamanya bukan lagi sekadar mengejar angka, melainkan memastikan bahwa setiap rupiah dari anggaran negara benar-benar memberikan dampak nyata bagi gizi masyarakat Indonesia tanpa adanya pemborosan yang tidak perlu.

Perubahan nakhoda di tubuh BGN ini membawa filosofi baru dalam eksekusi program Makan Bergizi Gratis (MBG). Jika sebelumnya target kuantitas menjadi prioritas utama, kini di bawah kendali Nanik, kualitas dan efisiensi menjadi panglima. Dalam keterangannya baru-baru ini di Jakarta Pusat, Nanik membeberkan peta jalan atau roadmap yang akan ia tempuh untuk membersihkan institusi tersebut dari inefisiensi masa lalu sekaligus meningkatkan standar operasional di lapangan.

Baca Juga Langkah Strategis Prabowo Benahi Tata Kelola Makan Bergizi Gratis: Menkeu Purbaya Minta Publik Hentikan Polemik
Langkah Strategis Prabowo Benahi Tata Kelola Makan Bergizi Gratis: Menkeu Purbaya Minta Publik Hentikan Polemik

Menekan Anggaran Tanpa Mengurangi Sasaran

Salah satu poin paling krusial yang diangkat oleh Nanik adalah soal efisiensi anggaran. Diketahui bahwa pagu anggaran BGN telah mengalami penyesuaian signifikan, dari yang semula mencapai Rp 335 triliun kini dipangkas menjadi Rp 268 triliun. Angka ini bukanlah angka yang kecil, namun Nanik optimistis bahwa dengan strategi yang tepat, penekanan biaya ini tidak akan mengorbankan jumlah penerima manfaat yang telah direncanakan sebelumnya.

“Kami berharap masih bisa menurunkan lagi beban anggaran tersebut, namun dengan catatan tidak mengurangi sasaran penerima. Efisiensi ini akan menyasar berbagai lini secara komprehensif,” ungkap Nanik. Ia menekankan bahwa langkah pertama yang dilakukan adalah melakukan refocusing terhadap siapa saja yang berhak menerima manfaat. Dengan data yang lebih presisi, diharapkan tidak ada lagi tumpang tindih atau pemberian bantuan yang salah sasaran di lapangan.

Baca Juga Fenomena PHK Awal Tahun 2026: Menilik Data Kemnaker dan Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Pasar Kerja
Fenomena PHK Awal Tahun 2026: Menilik Data Kemnaker dan Upaya Pemerintah Menjaga Stabilitas Pasar Kerja

Gebrakan Pertama: Moratorium SPPG untuk Evaluasi Total

Sebagai bagian dari langkah efisiensi tersebut, Nanik memutuskan untuk memberlakukan moratorium atau penghentian sementara pendaftaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) baru. Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan. BGN ingin memastikan bahwa unit-unit yang sudah ada saat ini benar-benar berjalan sesuai standar yang ditetapkan sebelum menambah beban baru pada birokrasi dan anggaran.

Dengan adanya moratorium ini, BGN memiliki waktu lebih untuk melakukan audit internal terhadap SPPG yang tersebar di berbagai daerah. Manajemen organisasi yang lebih ramping dan terkontrol menjadi target antara sebelum ekspansi lebih lanjut dilakukan. Nanik ingin memastikan bahwa pondasi institusinya kuat terlebih dahulu sebelum membangun struktur yang lebih besar di atasnya.

Baca Juga Update Harga Emas Antam Hari Ini: Stagnan di Level Rp 2,77 Juta Usai Terperosok, Simak Rincian Lengkapnya!
Update Harga Emas Antam Hari Ini: Stagnan di Level Rp 2,77 Juta Usai Terperosok, Simak Rincian Lengkapnya!

Gebrakan Kedua: Standarisasi dan ‘Suspensi’ Dapur yang Tak Layak

Kualitas makanan adalah harga mati dalam program MBG. Nanik menyadari bahwa tanpa pengawasan yang ketat, program ini hanya akan menjadi proyek seremonial belaka. Oleh karena itu, ia mencanangkan pembenahan total terhadap dapur-dapur yang telah beroperasi. Fokusnya meliputi perbaikan infrastruktur dapur hingga pelatihan intensif bagi sumber daya manusia (SDM) yang bertugas mengolah makanan.

Ketegasan Nanik terlihat dari pernyataannya yang tidak segan-segan untuk melakukan suspensi atau penghentian operasional bagi dapur-dapur yang tidak mampu memenuhi standar gizi dan kebersihan. “Bila dapur itu tidak sesuai dengan standar kualitas yang kami tetapkan, kami akan melakukan suspend tanpa kompromi,” tegasnya. Langkah ini diambil demi melindungi keselamatan dan kesehatan para penerima manfaat, terutama anak-anak sekolah yang menjadi target utama program ini.

Baca Juga Menepis Stigma Destruktif: Bos Vale Indonesia Suarakan Pentingnya Tambang bagi Masa Depan Peradaban
Menepis Stigma Destruktif: Bos Vale Indonesia Suarakan Pentingnya Tambang bagi Masa Depan Peradaban

Gebrakan Ketiga: Skema Alternatif untuk Wilayah 3T

Menjangkau daerah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) selalu menjadi tantangan logistik yang luar biasa di Indonesia. Menyadari mahalnya biaya pembangunan infrastruktur baru di pelosok, Nanik memperkenalkan solusi kreatif: memanfaatkan aset yang sudah ada. Alih-alih membangun gedung dapur baru yang memakan biaya besar, BGN akan mengoptimalkan kantin-kantin sekolah yang sudah tersedia di wilayah tersebut.

“Di wilayah 3T, jumlah siswanya seringkali sangat sedikit, ada yang hanya 47 atau 80 orang. Sangat tidak efisien jika kita harus membangun gedung dapur baru dari nol di sana. Kami akan memberdayakan kantin sekolah dengan pengawasan kualitas yang ketat,” jelas Nanik. Dengan cara ini, pembangunan daerah tetap berjalan melalui pemberdayaan ekonomi lokal di sekolah-sekolah tersebut tanpa membebani APBN secara berlebihan.

Baca Juga Kisah Inspiratif Sri Haryadi: Membangun Imperium Dessert Kooe.id dari Sela Waktu WFH hingga Menjadi Binaan Unggulan BRI
Kisah Inspiratif Sri Haryadi: Membangun Imperium Dessert Kooe.id dari Sela Waktu WFH hingga Menjadi Binaan Unggulan BRI

Gebrakan Keempat: Diversifikasi Pendanaan Melalui CSR dan Hibah

Ketergantungan pada APBN merupakan risiko besar bagi keberlanjutan program jangka panjang. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Nanik mulai membuka pintu bagi sumber pendanaan alternatif. Ia melirik potensi besar dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) dari Badan Usaha Milik Negara (BUMN) maupun perusahaan swasta yang berinvestasi di wilayah-wilayah terpencil.

Selain CSR, Nanik juga mengungkapkan adanya peluang hibah dari negara-negara sahabat maupun yayasan internasional yang memiliki kepedulian tinggi terhadap isu stunting dan gizi buruk. “Dulu semuanya direncanakan menggunakan anggaran negara secara penuh. Sekarang kita coba alternatif lain. Sudah ada beberapa yayasan yang menyatakan minatnya untuk membangun dapur melalui skema hibah. Ini sangat membantu meringankan beban negara,” tambahnya.

Kualitas di Atas Kuantitas: Pesan untuk Sang Presiden

Salah satu momen paling menarik dari kepemimpinan Nanik adalah keberaniannya untuk berkomunikasi secara jujur dengan Presiden terkait target ambisius 82 juta penerima manfaat. Dalam pertemuan internal, Nanik secara terbuka menyampaikan bahwa untuk tahun 2026, BGN tidak akan mengejar angka tersebut secara membabi buta. Fokus utama akan dialihkan pada penguatan kualitas hidangan yang diberikan.

“Kami sudah sampaikan ke Bapak Presiden, untuk tahun 2026 mohon izin kami tidak mengejar kuantitas. Kami ingin memperbaiki kualitas terlebih dahulu. Lebih baik memberi makan 50 juta orang dengan gizi yang sempurna dan standar yang terjaga, daripada mengejar 82 juta namun kualitasnya tidak terjamin,” tutur Nanik. Pernyataan ini menunjukkan kedewasaan dalam kepemimpinan yang lebih mementingkan dampak jangka panjang bagi kesehatan masyarakat daripada sekadar pencapaian statistik di atas kertas.

Menyongsong Era Baru Gizi Nasional

Transformasi yang dibawa oleh Nanik Sudarti Deyang di Badan Gizi Nasional memberikan harapan baru di tengah keraguan publik akibat kasus hukum yang menjerat pimpinan sebelumnya. Dengan kombinasi antara efisiensi anggaran, standarisasi kualitas, pemanfaatan aset lokal di daerah 3T, serta diversifikasi pendanaan, BGN kini tampak memiliki arah yang lebih jelas dan terukur.

Tentu saja, tantangan di depan mata masih sangat besar. Mengubah budaya kerja dan memastikan standar kualitas terjaga di ribuan titik dapur di seluruh Indonesia bukanlah perkara mudah. Namun, dengan kepemimpinan yang disiplin terhadap SOP dan keberanian untuk melakukan inovasi finansial, visi Indonesia Emas melalui pemenuhan gizi yang merata tampaknya bukan lagi sekadar impian muluk. Publik kini menanti, sejauh mana gebrakan-gebrakan ini mampu menekan angka stunting dan meningkatkan kecerdasan generasi mendatang secara signifikan.

Sarah Amalia

Sarah Amalia

Analis ekonomi muda yang hobi membedah tren pasar dan strategi UMKM. Pengisi utama kolom Radar Finance.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *