Belajar dari Kegagalan, Revand Narya Pasang Standar Tinggi: Syarat Pasangan Harus di Bawah 30 Tahun?

Nadia Safira | RADAR LOKAL
27 Apr 2026, 00:13 WIB
Belajar dari Kegagalan, Revand Narya Pasang Standar Tinggi: Syarat Pasangan Harus di Bawah 30 Tahun?

RadarLokal — Mengarungi bahtera rumah tangga yang kemudian harus karam di tengah jalan bukanlah perkara mudah bagi siapapun, termasuk bagi seorang publik figur. Aktor tampan Revand Narya kini tengah menjalani fase baru dalam hidupnya sebagai seorang duda. Namun, alih-alih terburu-buru mencari pengganti untuk mengisi kekosongan hati, bintang yang dikenal lewat berbagai peran di layar kaca ini justru memilih untuk menarik rem tangan dan melakukan introspeksi mendalam.

Ditemui di kawasan Studio TransTV, Mampang Prapatan, Jakarta Selatan, pada Minggu (26/4/2026), Revand tampak lebih bugar dan tenang. Ternyata, rahasia di balik penampilannya yang prima adalah rutinitas barunya dalam menekuni olahraga Brazilian Jiu-Jitsu. Olahraga bela diri ini tampaknya bukan sekadar aktivitas fisik baginya, melainkan cara untuk melatih kedisiplinan dan ketenangan mental di tengah badai kehidupan pasca perceraian artis yang sempat menyita perhatian publik.

Baca Juga Perjuangan Fahmi Bo: Antara Kursi Roda, Asa Kembali Berakting, dan Ikhtiar di Jalur Kuliner
Perjuangan Fahmi Bo: Antara Kursi Roda, Asa Kembali Berakting, dan Ikhtiar di Jalur Kuliner

Trauma Masa Lalu dan Standar Baru yang Tinggi

Bagi Revand, kegagalan masa lalu adalah guru yang paling berharga namun juga paling keras. Ia mengakui secara blak-blakan bahwa dirinya kini jauh lebih selektif. Tidak ada lagi kata kompromi untuk hal-hal prinsipil. Ketakutan akan mengulangi kesalahan yang sama membuatnya memasang barikade yang cukup tinggi bagi siapapun wanita yang mencoba mendekat.

“Aku nggak mau gagal lagi. Jadi, sekarang kriterianya berat, aku harus milih-milih,” ungkap Revand dengan nada serius namun tetap tenang. Keputusan untuk menetapkan kriteria pasangan yang ketat ini bukan tanpa alasan. Ia ingin memastikan bahwa hubungan selanjutnya—jika memang ada—memiliki pondasi yang jauh lebih kokoh dibandingkan sebelumnya. Ia tidak ingin terjebak dalam euforia romansa sesaat yang tidak memiliki visi jangka panjang.

Baca Juga Rencana Pernikahan Irma Darmawangsa: Dari Berburu Wedding Organizer Hingga Jadi Bintang Tamu di Mini Wedding Expo 2026
Rencana Pernikahan Irma Darmawangsa: Dari Berburu Wedding Organizer Hingga Jadi Bintang Tamu di Mini Wedding Expo 2026

Syarat Usia: Mengapa Harus di Bawah 30 Tahun?

Salah satu pernyataan Revand yang cukup mengejutkan adalah spesifikasi usia calon pendampingnya kelak. Ia secara terang-terangan menyebutkan bahwa dirinya menginginkan pasangan yang berusia di bawah 30 tahun. Sebuah pernyataan yang mungkin terdengar kontroversial bagi sebagian orang, namun bagi Revand, ini adalah bagian dari preferensi pribadinya setelah belajar dari pengalaman.

“Harus di bawah 30, biar lebih muda dari sebelumnya,” selorohnya sembari menyunggingkan senyum tipis. Meski diucapkan dengan nada bercanda, ada kesan bahwa Revand menginginkan semangat baru dan cara pandang yang mungkin lebih segar dalam menjalani hubungan ke depan. Baginya, perbedaan usia bisa menjadi dinamika tersendiri yang ia harapkan dapat membawa pengaruh positif dalam hidupnya yang sekarang sudah lebih matang.

Baca Juga Fahmi Bo Bangkit: Mengintip Warung ‘Icip Icip’ di Tengah Perjuangan Sembuh, Ajak Raffi Ahmad Cicipi Acar Buntut Sapi
Fahmi Bo Bangkit: Mengintip Warung ‘Icip Icip’ di Tengah Perjuangan Sembuh, Ajak Raffi Ahmad Cicipi Acar Buntut Sapi

Pelajaran dari Kesunyian: Bahaya Komunikasi yang Tertutup

Menariknya, Revand tidak hanya menyalahkan keadaan atau pihak lain atas kegagalan rumah tangganya. Ia melakukan pembedahan terhadap karakternya sendiri. Ia menyadari bahwa sikapnya yang cenderung tertutup dan pendiam di masa lalu justru menjadi duri dalam daging bagi hubungannya sendiri. Ia menggambarkan kebiasaan memendam masalah sebagai sebuah ancaman laten yang sangat berbahaya.

“Harus bisa saling terbuka sama pasangan, jangan dipendam lah ibaratnya. Kalau dipendam kayak bom waktu yang tiba-tiba meledak. Kalau sudah meledak, nggak bisa diperbaiki lagi,” ungkapnya secara reflektif. Penjelasan ini memberikan gambaran betapa pentingnya komunikasi sehat dalam sebuah hubungan. Tanpa adanya keterbukaan, setiap permasalahan kecil akan menumpuk dan menjadi residu emosional yang siap menghancurkan struktur hubungan kapan saja.

Baca Juga Vonis Berat Ammar Zoni: Kekecewaan Mendalam Dokter Kamelia dan Misteri di Balik Jeruji Salemba
Vonis Berat Ammar Zoni: Kekecewaan Mendalam Dokter Kamelia dan Misteri di Balik Jeruji Salemba

K-Drama dan Sisi Melankolis Sang Aktor Saat Kesepian

Meskipun kini ia terlihat sibuk dengan olahraga ekstrem dan pekerjaan, Revand tetaplah manusia biasa yang bisa merasakan sepi. Terutama saat ia kembali ke rumah dan menyadari tidak ada lagi hiruk-pikuk anak-anak di sekitarnya. Untuk mengatasi rasa hampa tersebut, Revand memiliki cara unik yang mungkin tidak disangka-sangka oleh banyak orang: menonton drama Korea.

Bagi seorang aktor FTV yang biasa berakting sedih, menonton drakor menjadi pelampiasan emosi yang jujur. “Ya nonton drakor, supaya kalau sedih jadi ikut-ikutan nangis,” katanya sambil tertawa. Aktivitas ini tampaknya menjadi katarsis baginya, cara untuk melepaskan beban perasaan tanpa harus terlihat rapuh di depan orang lain. Ini menunjukkan sisi humanis Revand yang berusaha berdamai dengan kesepian melalui cara yang sederhana.

Baca Juga Vonis 7 Tahun Ammar Zoni: Titik Nadir Sang Aktor dalam Pusaran Gelap Narkoba
Vonis 7 Tahun Ammar Zoni: Titik Nadir Sang Aktor dalam Pusaran Gelap Narkoba

Kedewasaan Pasca Perceraian dan Urusan Hak Asuh Anak

Satu hal yang patut dicontoh dari Revand Narya adalah kedewasaannya dalam menjalin hubungan dengan sang mantan istri. Meskipun asmara mereka telah berakhir, tanggung jawab sebagai orang tua tetap menjadi prioritas utama. Revand memastikan bahwa komunikasi mereka tetap terjaga dengan baik, meskipun hanya sebatas urusan pendidikan dan kebutuhan buah hati.

Ia pun tidak segan memberikan apresiasi kepada mantan istrinya yang sangat kooperatif terkait waktu bertemu dengan anak. “Hak asuh memang sama ibunya, tapi dia tidak melarang. Mau kapan pun mau ketemu anak-anak, boleh. 24 jam boleh,” jelas Revand. Hubungan yang harmonis pasca perceraian ini sangat krusial bagi tumbuh kembang mental anak-anak, dan Revand sangat bersyukur atas kelapangan dada sang mantan pasangan.

Menata Masa Depan dengan Pasrah yang Aktif

Menutup perbincangan, Revand menegaskan bahwa saat ini fokus utamanya bukanlah mencari pendamping secara obsesif. Ia lebih memilih untuk memperkaya diri, baik secara materi, mental, maupun spiritual. Ia ingin memperbaiki segala kekurangan yang ia miliki sebelum nantinya benar-benar siap untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius jika Tuhan mengizinkan.

Ia menyadari bahwa manusia hanya bisa berencana, namun takdir adalah hak prerogatif Sang Pencipta. “Planning kadang-kadang nggak sesuai sama nasib. Kita pengennya nikah sekali seumur hidup sampai kakek-nenek, tapi ternyata nasib beda, ya harus bisa menerima keadaan,” pungkasnya bijak. Sikap penerimaan ini menunjukkan bahwa Revand telah mencapai tahap acceptance dalam proses pemulihan dirinya, menjadikannya pribadi yang lebih tangguh menghadapi masa depan.

Kisah Revand Narya ini menjadi pengingat bagi banyak orang bahwa kegagalan bukanlah akhir dari segalanya. Justru dari puing-puing kegagalan itulah, seseorang bisa membangun kembali sebuah bangunan kehidupan yang lebih megah dan kokoh, selama ia mau belajar, terbuka, dan terus memperbaiki diri.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *