Tragedi Lilin Pengusir Lalat: Anisa Rahma Bagikan Kisah Pilu Rumahnya yang Hangus 80 Persen
RadarLokal — Musibah memang tidak pernah memberikan tanda sebelum bertamu. Kabar duka yang menyelimuti pasangan selebritas Anisa Rahma dan Anandito Dwis akhirnya terungkap ke publik secara mendalam. Setelah sempat terdiam selama satu bulan untuk memulihkan kondisi mental dan fisik, mantan personel Cherrybelle tersebut akhirnya membagikan kronologi memilukan mengenai peristiwa kebakaran hebat yang melahap kediamannya di Bandung.
Peristiwa yang terjadi sekitar sebulan lalu itu menyisakan duka mendalam sekaligus trauma. Betapa tidak, rumah yang selama ini menjadi tempat berteduh dan membangun memori indah, seketika berubah menjadi puing-puing hitam akibat amukan si jago merah. Dalam sebuah kesempatan di Polda Metro Jaya baru-baru ini, Anisa dengan tegar menceritakan bahwa penyebab utama bencana tersebut bermula dari hal yang sangat sederhana: sebuah lilin pengusir lalat.
Kronologi Mencekam di Tengah Malam
Malam itu, suasana rumah tampak tenang seperti biasanya. Ibunda dari Anisa Rahma menyalakan sebuah lilin dengan tujuan sederhana, yakni mengusir lalat yang mengganggu di area meja makan. Penggunaan lilin memang sering menjadi cara tradisional yang dianggap ampuh untuk mengusir serangga. Namun, kelelahan fisik yang luar biasa membuat sang ibu tak sengaja terlelap sebelum sempat memadamkan api kecil tersebut.
“Awalnya memang dari lilin. Mamah memasang lilin untuk mengusir lalat. Mungkin karena kondisi fisik yang sangat capek, akhirnya ketiduran dan lupa kalau lilin itu masih dalam keadaan menyala,” ungkap Anisa Rahma dengan nada suara yang masih terdengar berat menahan kesedihan. Kelalaian kecil yang manusiawi ini ternyata menjadi pemantik bagi musibah yang jauh lebih besar.
Api mulai menjalar sekitar pukul 02.30 dini hari. Saat dunia sedang terlelap dalam mimpi, sang ibu terbangun dan mendapati kenyataan pahit bahwa ruangan sudah dipenuhi dengan asap tebal. Ketika pintu dibuka, kobaran api sudah tidak lagi bisa dikompromi. Lidah api telah menjilat plafon, merambat cepat melalui gorden yang mudah terbakar, hingga menghanguskan seluruh area meja makan dalam hitungan menit.
Detik-Detik Penyelamatan yang Penuh Kepanikan
Anandito Dwis, suami Anisa, menceritakan bagaimana suasana mencekam menyelimuti rumah mereka saat itu. Ia yang baru saja terbangun langsung turun ke lantai bawah setelah mendengar suara kegaduhan. Namun, pemandangan yang ia dapati adalah ruang makan yang sudah berubah menjadi lautan api. Suhu panas yang menyengat membuat siapa pun sulit untuk mendekat, apalagi mencoba menyelamatkan perabotan.
“Seluruh ruang makan sudah penuh api. Saat itu, jujur saja, sudah tidak banyak yang bisa saya lakukan secara manual karena api begitu cepat membesar,” kata Anandito. Dalam situasi darurat kebakaran seperti itu, setiap detik sangatlah berharga. Beruntung, solidaritas warga sekitar Bandung sangat luar biasa. Para tetangga yang menyadari adanya kobaran api segera berhamburan keluar untuk membantu evakuasi keluarga.
Warga tidak hanya membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya, tetapi juga terus mengingatkan keluarga agar segera menjauh dari struktur bangunan yang mulai rapuh. Fokus utama saat itu bukan lagi menyelamatkan harta benda, melainkan nyawa. Anisa menyebutkan bahwa mereka bahkan tidak sempat memikirkan perhiasan atau dokumen penting. Berkat peringatan warga, mereka berhasil mengevakuasi mobil dari garasi dan memastikan seluruh anggota keluarga keluar dengan selamat sebelum api melahap bagian atap.
Dampak Kerusakan: Hanya Menyisakan Satu Kamar Mandi
Kerusakan yang ditimbulkan oleh insiden ini sangat masif. Berdasarkan estimasi, sekitar 80 persen bangunan rumah mengalami kerusakan berat. Area-area vital seperti ruang keluarga, ruang makan, hingga kamar tidur pribadi habis tak bersisa. Bahkan, kasur-kasur yang menjadi tempat istirahat mereka kini hanya tinggal rangka dan abu hitam.
Salah satu fakta yang cukup memprihatinkan adalah kondisi fasilitas di rumah tersebut. Dari total tujuh kamar mandi yang ada di rumah besar itu, hanya satu yang dinyatakan masih layak dan bisa digunakan. Sisanya hancur akibat suhu panas ekstrem dan runtuhan material bangunan. Untuk sementara waktu, Anisa dan keluarganya harus rela mengungsi dan menetap di kediaman orang tua Anandito demi keamanan dan kenyamanan.
Keajaiban di Tengah Puing: Ribuan Al-Quran Tetap Utuh
Di tengah hancurnya sebagian besar isi rumah, Anisa Rahma menceritakan sebuah mukjizat yang membuat hatinya sedikit tenang. Di salah satu sudut rumah, terdapat sebuah ruangan khusus yang digunakan untuk menyimpan Al-Quran. Luar biasanya, ruangan tersebut tidak tersentuh api dengan parah, sehingga sekitar 3.500 mushaf Al-Quran di dalamnya masih dalam kondisi baik dan bisa digunakan kembali.
Hal ini menjadi penguatan iman bagi keluarga Anisa. Meskipun rumah fisik mereka hancur, namun nilai-nilai spiritual yang mereka jaga seolah mendapatkan perlindungan. Ruang Al-Quran inilah yang kini menjadi titik awal proses renovasi mereka. Mereka merasa bahwa keberadaan ribuan kitab suci yang selamat adalah pesan bahwa mereka harus segera bangkit dan memulihkan keadaan.
Proses Renovasi yang Berjalan Lambat dan Tantangan Biaya
Hingga saat ini, progres renovasi bangunan baru menyentuh angka 20 persen. Perbaikan dilakukan secara bertahap mengingat skala kerusakan yang sangat luas dan biaya yang dibutuhkan tidaklah sedikit. Pasangan ini memilih untuk memprioritaskan ruangan-ruangan yang tidak terlalu terdampak agar bisa segera ditempati kembali, meski belum sempurna.
“Keadaan rumah memang masih sangat memprihatinkan. Proyek perbaikannya membutuhkan biaya yang cukup besar, jadi kami harus bijak dalam mengatur keuangan. Kami perbaiki secara bertahap, mulai dari bagian yang paling memungkinkan untuk ditinggali terlebih dahulu,” jelas Anandito. Tantangan renovasi ini tidak hanya soal finansial, tetapi juga soal memastikan struktur bangunan kembali kokoh dan aman dari risiko kebakaran di masa depan.
Kesehatan Anak Menjadi Prioritas Utama
Keputusan Anisa dan Anandito untuk tinggal di rumah mertua juga didasari oleh kekhawatiran terhadap kesehatan anak-anak mereka. Sisa-sisa material kebakaran, debu arang, dan bau asap yang masih menempel di dinding sangat berisiko bagi kesehatan pernapasan balita. Lingkungan rumah yang sedang direnovasi tentu bukan tempat yang ideal untuk tumbuh kembang anak saat ini.
Anisa terus memberikan pengertian kepada buah hatinya mengenai alasan mengapa mereka belum bisa pulang ke rumah sendiri. Dengan gaya bahasa yang sederhana, ia menjelaskan bahwa rumah mereka sedang ‘diobati’ agar bisa kembali cantik. “Kami mengajak anak-anak berdoa setiap hari agar proses perbaikan lancar dan kami bisa punya rumah yang bagus lagi, tempat kami bisa berkumpul seperti semula,” tutup Anisa dengan penuh harapan.
Tragedi ini menjadi pelajaran berharga bagi siapa saja mengenai pentingnya kewaspadaan terhadap alat-alat rumah tangga yang memiliki risiko api. Meskipun berawal dari sebuah lilin kecil, dampaknya bisa melumpuhkan sebuah hunian besar. Kini, dukungan dan doa terus mengalir bagi keluarga Anisa Rahma agar proses pemulihan tempat tinggal mereka dapat berjalan lancar tanpa kendala berarti.