Estafet Budaya di Tangan Generasi Z: Mandra Ungkap Kebanggaan Atas Geliat Seni Betawi yang Kian Modern

Nadia Safira | RADAR LOKAL
21 Jun 2026, 22:12 WIB
Estafet Budaya di Tangan Generasi Z: Mandra Ungkap Kebanggaan Atas Geliat Seni Betawi yang Kian Modern

RadarLokal — Di tengah kepungan tren global dan arus modernisasi yang tak terbendung, sebuah harapan besar muncul dari lorong-lorong sanggar seni di Jakarta. Seniman legendaris, Mandra, baru-baru ini berbagi pandangannya yang penuh optimisme mengenai masa depan seni Betawi. Sosok yang telah mendedikasikan hidupnya untuk panggung hiburan ini mengaku terkesan dengan bagaimana anak-anak muda zaman sekarang mulai mengambil alih kendali dalam melestarikan warisan leluhur mereka.

Mandra melihat adanya pergeseran paradigma yang signifikan. Jika dahulu kesenian tradisional seringkali dianggap sebagai ranah eksklusif bagi kalangan sepuh atau orang tua, kini realitanya justru berbalik. Di berbagai sudut kota, geliat anak muda yang mendalami tari-tarian hingga musik etnik Jakarta semakin menunjukkan taringnya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa budaya tradisional tidak akan pernah lekang oleh waktu selama ada tangan-tangan kreatif yang bersedia merawatnya.

Baca Juga Eksklusif: Fariz RM Tegaskan Langkah Hukum Terkait Pelanggaran Hak Cipta Lagu ‘Di Antara Kata’ di Polda Metro Jaya
Eksklusif: Fariz RM Tegaskan Langkah Hukum Terkait Pelanggaran Hak Cipta Lagu ‘Di Antara Kata’ di Polda Metro Jaya

Sebuah Optimisme di Tengah Gempuran Zaman

Ditemui di sela-sela kegiatannya di Studio Trans 7, kawasan Warung Buncit, Jakarta Selatan, Mandra tampak bersemangat menceritakan pengamatannya. Baginya, melihat anak muda yang terampil memainkan instrumen musik Betawi atau meliuk dalam gerakan tari tradisional adalah sebuah kepuasan batin yang tak ternilai harganya. Ia menilai bahwa regenerasi pelaku seni ini merupakan kabar paling menggembirakan bagi keberlangsungan identitas Jakarta.

“Ya, kalau saya jelas saya terima ini dengan sangat positif. Bahkan seperti yang saya bilang tadi, pengembangan-pengembangan seni budaya Betawi ini sekarang justru dilakukan oleh mereka yang jauh lebih muda. Dahulu, mungkin orang berpikir ini hanya urusannya orang-orang sepuh, tapi sekarang saya bisa membuktikan sendiri,” ujar Mandra dengan nada bangga pada hari Minggu (21/6/2026).

Baca Juga Sarwendah Buka Suara: Bantah Keras Isu Persulit Ruben Onsu Temui Buah Hati Pasca Perceraian
Sarwendah Buka Suara: Bantah Keras Isu Persulit Ruben Onsu Temui Buah Hati Pasca Perceraian

Menurutnya, generasi muda saat ini memiliki keunggulan kompetitif yang tidak dimiliki generasi sebelumnya, yakni akses terhadap teknologi dan informasi. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengemas kesenian tradisional dengan sentuhan yang lebih segar, canggih, dan relevan dengan audiens masa kini. Kreativitas tanpa batas inilah yang membuat seni Betawi tetap eksis dan bahkan naik kelas di mata publik luas.

Kecerdasan dan Keterampilan di Usia Dini

Salah satu hal yang paling membuat Mandra terperangah adalah batasan usia para pelaku seni yang semakin muda. Ia mengamati bahwa minat terhadap pelestarian budaya kini sudah tertanam sejak usia sekolah dasar. Banyak anak-anak yang memiliki kecerdasan kinestetik dan musikal yang luar biasa dalam menyerap ilmu-ilmu seni tradisional yang tergolong rumit.

Baca Juga Mengenal April DA7: Kisah Haru di Balik Boneka Penawar Luka dan Perjuangan Menjemput Masa Kecil yang Hilang
Mengenal April DA7: Kisah Haru di Balik Boneka Penawar Luka dan Perjuangan Menjemput Masa Kecil yang Hilang

“Animo untuk menjadi penari saja, contohnya, itu tidak sedikit sekarang. Kita bisa melihat anak-anak yang usianya baru menginjak 10 tahun saja sudah mampu menunjukkan keterampilan yang luar biasa. Mereka sangat cerdas dalam menangkap gerakan dan irama. Ini adalah potensi yang sangat besar bagi kita semua,” lanjutnya. Mandra menilai kecepatan belajar anak muda sekarang dalam menguasai detail-detail seni Betawi menunjukkan bahwa mereka memiliki gairah yang kuat terhadap akar budayanya.

Fenomena ini juga mematahkan stigma bahwa anak muda hanya tertarik pada budaya populer dari luar negeri. Dengan pendekatan yang tepat, kreativitas anak muda terbukti mampu menghidupkan kembali roh kesenian yang hampir redup, menjadikannya lebih dinamis dan memiliki daya saing yang tinggi di panggung nasional maupun internasional.

Baca Juga Drama Dugaan Penganiayaan ART Hera: Kenzy Taulany Jadi Saksi Bisu Tangisan Sang Asisten di Balik Pintu
Drama Dugaan Penganiayaan ART Hera: Kenzy Taulany Jadi Saksi Bisu Tangisan Sang Asisten di Balik Pintu

Filosofi Parenting Mandra: Biarkan Hati yang Memilih

Meskipun memiliki kecintaan yang mendalam terhadap dunia seni, Mandra tetap memegang teguh prinsip kebebasan bagi keluarganya. Sebagai seorang ayah, ia mengaku tidak pernah memaksakan kehendak agar anak-anaknya mengikuti jejaknya menjadi seorang seniman profesional. Baginya, seni adalah panggilan jiwa yang harus muncul secara organik dari dalam diri seseorang.

“Kalau saya pribadi, tidak pernah menekankan atau mewajibkan anak-anak untuk terjun ke dunia seni. Terutama untuk anak-anak saya yang masih kecil, biarlah mereka tumbuh secara alami. Sementara untuk yang sudah kuliah, saya rasa mereka sudah punya pandangan sendiri. Apa yang mereka lihat dan mereka yakini, itulah yang harus mereka pegang teguh,” jelasnya secara mendalam.

Baca Juga Menelusuri Luka Mendalam dalam Single Terbaru ILIR7 ‘Seandainya Tercipta Untukku’: Sebuah Ode Bagi Hati yang Tak Bisa Memiliki
Menelusuri Luka Mendalam dalam Single Terbaru ILIR7 ‘Seandainya Tercipta Untukku’: Sebuah Ode Bagi Hati yang Tak Bisa Memiliki

Mandra percaya bahwa paksaan hanya akan mematikan kreativitas. Sebuah karya seni yang lahir dari tekanan tidak akan memiliki “nyawa” yang sama dengan karya yang lahir dari ketulusan. Oleh karena itu, ia lebih memilih menjadi role model daripada seorang instruktur yang otoriter di dalam rumah. Ia yakin, jika bibit cinta terhadap budaya sudah ada, maka tanpa diminta pun sang anak akan kembali ke akarnya.

Seni Betawi: Muncul dari Ketulusan Hati

Menutup perbincangannya, sosok Mandra menekankan satu poin krusial mengenai esensi dari seorang seniman. Menurutnya, kecintaan terhadap budaya bukanlah sesuatu yang bisa diinstalasi secara instan, melainkan sebuah proses panjang yang melibatkan rasa dan empati. Budaya adalah refleksi dari identitas diri yang tidak bisa ditawar.

“Seperti yang tadi saya katakan, masalah ini (mencintai budaya) biasanya munculnya dari hati. Dari hati sendiri. Kita tidak perlu memaksa atau melakukan hal-hal yang sifatnya intimidatif kepada generasi muda. Saya tidak ada gaya seperti itu. Biarkan mereka menemukan keindahannya sendiri dalam seni Betawi,” pungkas pria yang dikenal lewat karakternya yang ikonik tersebut.

Harapan besar kini tertumpu pada pundak para pemuda. Dengan dukungan dari para senior seperti Mandra dan keterbukaan akses informasi, seni Betawi diharapkan tidak hanya menjadi catatan sejarah dalam buku-buku sekolah, tetapi tetap menjadi denyut nadi kehidupan masyarakat Jakarta yang modern namun tetap berakar pada tradisi. Melalui tangan-tangan kreatif anak muda, wajah Jakarta akan terus bersinar dengan warna-warni budaya yang tak pernah pudar.

Kisah sukses regenerasi ini menjadi pengingat bagi kita semua bahwa warisan terbaik yang bisa kita berikan kepada generasi mendatang bukanlah materi semata, melainkan rasa bangga akan jati diri bangsa. Dan di tangan anak muda yang “canggih” inilah, Mandra menitipkan masa depan seni Betawi yang ia cintai sepenuh hati.

Nadia Safira

Nadia Safira

Content creator yang memiliki radar tajam terhadap isu viral dan gaya hidup. Menjaga konten Radar Hot tetap segar dan menghibur.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *