Langkah Berani Menteri LH Jumhur Hidayat: Menjinakkan El Nino dan Ancaman Karhutla di Indonesia

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
29 Apr 2026, 18:10 WIB
Langkah Berani Menteri LH Jumhur Hidayat: Menjinakkan El Nino dan Ancaman Karhutla di Indonesia

RadarLokal — Dinamika perubahan iklim global yang semakin tidak menentu menuntut langkah konkret dari pemegang kebijakan. Hal inilah yang menjadi prioritas utama Mohammad Jumhur Hidayat sesaat setelah resmi mengemban amanah sebagai Menteri Lingkungan Hidup (LH). Dalam pidato perdananya, ia menegaskan bahwa kementeriannya tidak akan membuang waktu untuk segera terjun ke lapangan guna menghadapi tantangan besar di depan mata: siklus panjang El Nino yang mengancam kedaulatan ekologis Indonesia.

Langkah Cepat di Tengah Ancaman Kemarau Panjang

Bertempat di gedung Kementerian LH, Kuningan, Jakarta Selatan, suasana nampak penuh antusiasme saat Jumhur Hidayat memaparkan visi besarnya. Ia menyadari bahwa jabatan ini bukan sekadar posisi politis, melainkan tanggung jawab besar untuk melindungi sisa-sisa paru-paru dunia yang ada di nusantara. Fokus utamanya saat ini tertuju pada fenomena mitigasi bencana kebakaran hutan yang kerap menjadi momok tahunan.

Baca Juga Ketegasan Hukum di Yordania: Vonis Mati Bagi Pembunuh Tiga Agen Anti-Narkotika dalam Penggerebekan Berdarah
Ketegasan Hukum di Yordania: Vonis Mati Bagi Pembunuh Tiga Agen Anti-Narkotika dalam Penggerebekan Berdarah

Prediksi mengenai siklus El Nino tahun ini memang cukup mengkhawatirkan. Fenomena anomali suhu muka laut ini diprediksi akan berlangsung dalam durasi yang lebih lama dari biasanya. Hal ini tentu berdampak langsung pada tingkat kekeringan di berbagai wilayah di Indonesia, yang pada gilirannya meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) secara drastis.

“Kami akan bekerja ekstra keras. Saya bersama Pak Wamen dan seluruh jajaran didukung oleh semua pihak terkait, harus memastikan bahwa langkah-langkah pencegahan kebakaran hutan dilakukan dengan keseriusan penuh. Kita tidak boleh lagi kecolongan,” tegas Jumhur dengan nada optimis di hadapan para awak media.

Membedah Hambatan Mitigasi yang Selama Ini Terjadi

Jumhur Hidayat tidak datang dengan tangan kosong. Ia mengaku telah mengantongi sejumlah laporan mendalam mengenai kendala-kendala yang selama ini menghambat efektivitas kebakaran hutan di masa lalu. Baginya, banyak rencana bagus yang sudah ada di atas kertas, namun seringkali layu sebelum berkembang karena persoalan teknis maupun birokrasi di lapangan.

Baca Juga Harga BBM Nonsubsidi Meroket: Strategi Presiden Prabowo Lindungi Masyarakat Kecil di Tengah Gejolak Global
Harga BBM Nonsubsidi Meroket: Strategi Presiden Prabowo Lindungi Masyarakat Kecil di Tengah Gejolak Global

“Sebenarnya saya sudah menerima laporan bahwa ada banyak metode dan cara untuk memitigasi ini. Namun, kenyataannya di lapangan seringkali tidak berjalan maksimal karena berbagai alasan tertentu. Itulah sebabnya, dalam situasi saat ini, saya akan memimpin langsung koordinasi ini,” lanjutnya. Jumhur menekankan pentingnya eksekusi yang presisi agar anggaran dan tenaga yang dikeluarkan tidak terbuang sia-sia.

Dengan kepemimpinan baru ini, publik menaruh harapan besar agar koordinasi antar lembaga bisa berjalan lebih sinkron. Jumhur berkomitmen untuk menekan angka kebakaran hutan hingga ke titik terendah, meskipun tantangan cuaca ekstrem berada di depan mata. Ia percaya bahwa dengan manajemen yang baik, dampak El Nino bisa diminimalisir secara signifikan.

Baca Juga Selamat Jalan Sang Prajurit Sejati: Mengenang Jejak Pengabdian Jenderal Ryamizard Ryacudu bagi Indonesia
Selamat Jalan Sang Prajurit Sejati: Mengenang Jejak Pengabdian Jenderal Ryamizard Ryacudu bagi Indonesia

Fokus pada Wilayah Konsesi dan Hutan Masyarakat Adat

Salah satu poin menarik yang ditekankan oleh sang Menteri adalah pengawasan ketat terhadap wilayah konsesi. Perusahaan-perusahaan besar yang memiliki hak kelola hutan akan dipantau lebih intensif. Jumhur menginginkan agar pihak swasta tidak hanya mengambil keuntungan dari alam, tetapi juga bertanggung jawab penuh terhadap kelestarian dan keamanannya dari api.

Namun, perhatian Jumhur tidak berhenti pada korporasi besar saja. Ia menunjukkan sisi humanis dan inklusif dengan menyoroti nasib hutan yang dikelola oleh masyarakat adat. Menurutnya, kelompok masyarakat adat seringkali menjadi garda terdepan namun kurang mendapatkan dukungan teknis maupun edukasi mengenai penanganan api yang modern.

Baca Juga Getaran Tektonik Magnitudo 5,4 Guncang Pegunungan Bintang: Menilik Urgensi Mitigasi di Jantung Papua
Getaran Tektonik Magnitudo 5,4 Guncang Pegunungan Bintang: Menilik Urgensi Mitigasi di Jantung Papua

“Intervensi kita di sini harus lebih serius. Teman-teman di wilayah masyarakat adat mungkin belum sepenuhnya teredukasi mengenai teknik mitigasi kebakaran yang efektif di musim kering yang ekstrem. Oleh karena itu, kita sedang memikirkan dukungan dana khusus,” jelasnya. Langkah ini diambil untuk memastikan bahwa setiap jengkal tanah di Indonesia, baik yang dikelola negara, swasta, maupun rakyat, memiliki perlindungan yang sama terhadap ancaman kebakaran.

Inovasi Infrastruktur Air: Solusi Nyata di Lapangan

Berbicara mengenai teknis lapangan, Jumhur Hidayat mengungkapkan rencana pembangunan infrastruktur air sederhana namun vital. Strategi ini ditujukan terutama untuk wilayah-wilayah yang memiliki akses terbuka (open access) yang rentan terhadap sabotase maupun kelalaian manusia. Pembangunan parit dan pembuatan genangan air atau embung buatan menjadi salah satu solusi yang akan diprioritaskan.

Baca Juga Selamat Jalan Sang Patriot: Mengenang Jenderal Ryamizard Ryacudu yang Kini Berpulang ke Keabadian
Selamat Jalan Sang Patriot: Mengenang Jenderal Ryamizard Ryacudu yang Kini Berpulang ke Keabadian

“Kita butuh ketersediaan air yang cukup di titik-titik rawan. Dengan pembuatan parit dan penampungan air, kita memiliki cadangan saat api mulai terdeteksi. Ini adalah bagian dari strategi lingkungan hidup yang bersifat preventif,” tambahnya. Dana bantuan akan dialokasikan untuk memfasilitasi pembuatan infrastruktur ini secara masif di daerah-daerah zona merah kebakaran.

Selain masalah api, kementerian di bawah komandonya juga akan terus mengembangkan inovasi dalam pengelolaan limbah. Sebagai catatan tambahan, sebelumnya ia sempat mendampingi Presiden dalam meninjau teknologi pengolahan sampah menjadi bahan bangunan seperti genteng di Banyumas. Semangat inovasi inilah yang ingin ia bawa ke dalam skala nasional selama masa jabatannya.

Menjalin Sinergi untuk Masa Depan Hijau Indonesia

Transisi kepemimpinan dari Hanif Faisol kepada Jumhur Hidayat diharapkan menjadi momentum kebangkitan diplomasi iklim Indonesia di mata internasional. Dengan komitmen kuat pada mitigasi El Nino, Indonesia bisa membuktikan diri sebagai negara yang serius dalam menangani isu perubahan iklim dunia. Jumhur meyakini bahwa kerja sama lintas sektoral adalah kunci keberhasilan.

Ia berencana untuk terus menjalin komunikasi dengan kementerian terkait lainnya, seperti Kementerian Kehutanan, Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), serta pemerintah daerah. Sinergi ini diperlukan untuk memastikan data cuaca dapat diterjemahkan menjadi aksi cepat di tingkat tapak. Tidak boleh ada ego sektoral ketika menghadapi bencana yang mengancam kesehatan masyarakat dan kelestarian hayati.

Sebagai penutup, Menteri LH menegaskan bahwa keberhasilan mitigasi ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata, melainkan seluruh elemen bangsa. Dengan pengawasan yang ketat, edukasi yang konsisten, dan dukungan infrastruktur yang memadai, ia optimis Indonesia dapat melewati siklus panjang El Nino dengan kerusakan minimal. Era baru pengelolaan lingkungan hidup di tangan Jumhur Hidayat kini telah dimulai, dengan janji akan aksi nyata yang melampaui sekadar retorika di meja kerja.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *