Kisah Novita di May Day: Perjuangan Driver Ojol Wanita Melawan Potongan Aplikator yang Mencekik
RadarLokal — Di bawah terik matahari yang menyengat kawasan Monas, Jakarta Pusat, ribuan massa berpakaian serikat buruh memadati jalanan. Namun, di antara lautan warna-warni bendera organisasi, terselip warna hijau ikonik yang sudah sangat akrab di mata masyarakat: jaket pengemudi ojek online. Di balik kemudi salah satu motor itu, ada Novita Meliana Pratiwi, seorang wanita tangguh berusia 42 tahun yang memilih meninggalkan aspal sejenak demi menyuarakan keadilan di Hari Buruh Internasional atau May Day.
Novita bukanlah sekadar peserta aksi biasa. Bagi warga Pademangan, Jakarta Utara ini, peringatan May Day tahun ini adalah momentum krusial untuk menumpahkan kegelisahan yang selama ini terpendam di balik senyum ramahnya saat mengantar penumpang. Isu utama yang ia bawa sangat spesifik dan krusial: potongan biaya aplikasi yang dirasa sudah di luar batas kewajaran. Ia mengungkapkan bahwa realita di lapangan jauh lebih pahit daripada sekadar angka persentase yang tertera di layar ponsel.
Jeritan dari Balik Setang: Potongan yang Mencapai 40 Persen
Selama ini, publik mungkin hanya mengetahui bahwa potongan yang diambil oleh perusahaan aplikator ojek online berkisar di angka 20 persen. Namun, pengakuan Novita justru membuka tabir lain yang lebih kelam. Jika dikalkulasikan secara menyeluruh, pendapatan bersih yang diterima pengemudi bisa tergerus hingga hampir separuhnya.
“Kalau dihitung secara total, potongannya itu bisa mencapai kurang lebih 40 persen. Jujur saja, ini sangat berat bagi kami yang mengandalkan hidup sepenuhnya dari jalanan,” ungkap Novita dengan nada bicara yang tenang namun penuh penekanan saat ditemui di tengah aksi. Menurutnya, angka 40 persen tersebut bukan muncul tanpa alasan. Ini adalah akumulasi dari potongan per pesanan yang dikombinasikan dengan berbagai biaya tambahan lainnya yang dibebankan kepada mitra pengemudi.
Ia merinci bahwa selain potongan reguler 20 persen, terdapat skema biaya tambahan yang cukup membebani, seperti biaya per 10 pesanan yang harus disetorkan kembali sebesar Rp 20 ribu. “Jadi bayangkan, setiap order sudah dipotong, lalu setelah menyelesaikan 10 order, kita kena potong lagi. Ini namanya potongan ganda yang membuat kantong kami semakin tipis,” keluh ibu dari beberapa anak tersebut.
Antara Target Harian dan Realita Keuntungan
Bagi Novita dan 10 rekan sejawatnya dari Pademangan yang turut hadir di Monas, menjadi pengemudi ojol bukan lagi sekadar kerja sampingan. Ini adalah mata pencaharian utama. Dalam sehari, Novita menargetkan bisa menyelesaikan 20 hingga 25 pesanan, mulai dari pagi buta hingga sore menjelang petang. Namun, kerja keras itu seringkali tidak berbanding lurus dengan apa yang dibawa pulang ke rumah.
“Kalau kami hanya sanggup menyelesaikan 10 orderan dalam sehari, hitungannya kami malah merugi. Biaya bensin, perawatan motor, dan makan di jalan sudah menghabiskan modal. Jadi, kami dipaksa untuk terus mengejar jumlah orderan yang banyak hanya agar bisa membawa pulang uang yang cukup untuk makan esok hari,” jelasnya. Situasi ini menciptakan tekanan mental dan fisik bagi para pengemudi, terutama bagi mereka yang memiliki tanggung jawab besar di keluarga.
Kondisi ini diperparah dengan fluktuasi jumlah pesanan yang tidak menentu. Di tengah persaingan antar pengemudi yang semakin ketat, mendapatkan 20 orderan bukanlah perkara mudah. Seringkali, mereka harus menunggu berjam-jam di bawah terik matahari atau guyuran hujan hanya untuk mendapatkan satu notifikasi masuk di aplikasi mereka.
Kisah Ibu Rumah Tangga Sekaligus Kepala Keluarga
Narasi perjuangan Novita menjadi semakin emosional ketika ia menceritakan latar belakang keluarganya. Sepeninggal sang suami, Novita resmi menyandang status sebagai tulang punggung keluarga tunggal. Ia berperan ganda; sebagai ibu rumah tangga yang mengurus keperluan anak-anak, sekaligus sebagai sosok ayah yang harus menjamin dapur tetap mengepul.
“Saya ini ibu rumah tangga sekaligus bapak juga buat anak-anak. Sejak suami meninggal, semua beban kebutuhan hidup ada di pundak saya. Itulah mengapa potongan aplikasi yang besar ini sangat terasa dampaknya bagi pendidikan dan gizi anak-anak saya,” tutur Novita dengan mata yang berkaca-kaca. Perjuangan Novita merefleksikan nasib ribuan wanita lainnya di Indonesia yang terjun ke sektor ekonomi gig demi bertahan hidup di tengah kerasnya ekonomi masyarakat urban.
Baginya, setiap rupiah yang dipotong oleh aplikator adalah rupiah yang seharusnya bisa digunakan untuk membayar biaya sekolah atau membeli susu. Oleh karena itu, ia menuntut agar pemerintah segera melakukan intervensi terhadap regulasi potongan aplikasi ini.
Fitur Keselamatan yang Belum Maksimal bagi Pengemudi Wanita
Selain masalah finansial, Novita juga menyoroti aspek keamanan dan kenyamanan bagi pengemudi perempuan. Meskipun perusahaan aplikasi telah meluncurkan fitur ‘Filter Penumpang Perempuan’, dalam praktiknya fitur ini dianggap belum efektif dan seringkali tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Kami sudah mengaktifkan fitur filter penumpang perempuan dengan harapan mendapatkan rasa aman yang lebih. Namun kenyataannya, kami masih sering mendapatkan penumpang laki-laki. Sepertinya sistem filternya belum optimal atau memang ada celah yang membuat fitur itu tidak berfungsi efektif di lapangan,” ujarnya. Isu keselamatan ini menjadi sangat krusial mengingat risiko yang dihadapi pengemudi wanita saat bekerja hingga larut malam.
Keamanan bukan hanya soal perlindungan dari tindak kriminal, tetapi juga kenyamanan psikologis saat berada di jalan. Novita berharap ada perbaikan sistem yang lebih konkret agar para pengemudi wanita bisa bekerja dengan tenang tanpa rasa was-was.
Tuntutan di May Day: Kembalikan Potongan ke Angka 10 Persen
Dalam momentum hari buruh ini, Novita membawa pesan yang jelas kepada pihak aplikator dan pemerintah sebagai regulator. Ia mendesak agar batas maksimal potongan aplikasi ditekan hingga angka 10 persen saja. Angka ini dinilai lebih adil dan memungkinkan para pengemudi untuk memiliki margin keuntungan yang lebih manusiawi.
“Harapan kami simpel, tolong turunkan potongan itu menjadi maksimal 10 persen saja. Hapus juga segala macam biaya tambahan yang tidak masuk akal itu. Kami ingin sejahtera sebagai mitra, bukan justru terbebani oleh sistem yang kami jalankan sendiri,” tegas Novita. Ia menekankan bahwa hubungan ‘kemitraan’ seharusnya saling menguntungkan, bukan justru memberatkan salah satu pihak secara sepihak.
Meskipun hari itu ia memilih untuk ‘off’ atau tidak mengambil pesanan demi mengikuti aksi, Novita berencana untuk kembali menarik setelah rangkaian acara May Day selesai. Baginya, menyuarakan aspirasi adalah investasi jangka panjang, namun mencari nafkah tetaplah kewajiban harian yang tak bisa ditinggalkan.
Kisah Novita adalah representasi dari kegelisahan jutaan pekerja di sektor informal yang terjebak dalam skema kemitraan yang seringkali tidak memberikan perlindungan maksimal. Di momen May Day ini, suara mereka bergema di Monas, berharap ada perubahan nyata dari pemangku kebijakan agar profesi pengemudi ojek online bukan lagi sekadar cara untuk bertahan hidup, melainkan jalan menuju kesejahteraan yang layak.