Tragedi Kali Cikaret: Detik-Detik Masjid Nurul Hikmah Bogor Ambruk Tergerus Longsor Tebing 6 Meter

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
04 Mei 2026, 02:11 WIB
Tragedi Kali Cikaret: Detik-Detik Masjid Nurul Hikmah Bogor Ambruk Tergerus Longsor Tebing 6 Meter

RadarLokal — Langit di atas Kota Bogor kembali menunjukkan intensitasnya yang tinggi, membawa duka bagi warga di bantaran sungai. Sebuah peristiwa memilukan terjadi di Kelurahan Pasir Jaya, Kecamatan Bogor Barat, di mana kekokohan bangunan suci harus menyerah pada kekuatan alam. Tebing setinggi enam meter yang menjadi tumpuan bangunan Masjid Nurul Hikmah dilaporkan ambruk akibat tergerus arus deras Kali Cikaret yang meluap setelah hujan lebat mengguyur wilayah tersebut.

Insiden ini menambah daftar panjang rentetan bencana alam yang menghantui wilayah Bogor saat musim penghujan tiba. Kejadian yang berlangsung pada Minggu malam tersebut tidak hanya merusak fasilitas ibadah, tetapi juga menciptakan rasa was-was yang mendalam bagi penduduk sekitar yang tinggal di area rawan longsor.

Baca Juga Ambisi Besar Donald Trump: Strategi Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan Upaya Pengambilalihan Kuba
Ambisi Besar Donald Trump: Strategi Kapal Induk USS Abraham Lincoln dan Upaya Pengambilalihan Kuba

Kronologi Kejadian: Saat Tanah Tak Lagi Mampu Menopang

Peristiwa ini bermula ketika hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah Bogor Barat sejak sore hari. Aliran Kali Cikaret yang biasanya tenang, berubah menjadi arus yang sangat destruktif. Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Bogor, Dimas Tiko Prahafi Sasongko, mengonfirmasi bahwa laporan mengenai longsor di Bogor ini diterima pihaknya sekitar pukul 18.50 WIB.

“Telah terjadi tebing longsor yang cukup masif di Kelurahan Pasir Jaya. Lokasi spesifiknya berada di pinggiran Kali Cikaret. Dampak paling signifikan adalah ambruknya seluruh bangunan Masjid Nurul Hikmah yang ikut terbawa arus sungai yang sedang meluap,” ujar Dimas Tiko dalam keterangannya kepada tim redaksi.

Baca Juga Duka Mendalam di Balik Tragedi Kereta Bekasi: Mengenal Sosok Nurlaela, Guru Berdedikasi yang Berpulang Terlalu Cepat
Duka Mendalam di Balik Tragedi Kereta Bekasi: Mengenal Sosok Nurlaela, Guru Berdedikasi yang Berpulang Terlalu Cepat

Secara teknis, longsor tersebut memiliki dimensi yang cukup lebar, yakni sekitar 10 meter dengan ketinggian tebing mencapai 6 meter. Struktur tanah yang labil, ditambah dengan hantaman debit air sungai yang meningkat drastis, menjadi kombinasi maut yang meruntuhkan fondasi bangunan di atasnya. Masjid yang selama ini menjadi pusat kegiatan keagamaan warga setempat kini rata dengan tanah, menyisakan puing-puing yang terseret aliran air.

Dampak Luas: Ancaman Bagi Pemukiman Warga

Dampak dari cuaca ekstrem ini ternyata tidak hanya berhenti pada rusaknya bangunan masjid. Tim reaksi cepat yang diterjunkan ke lokasi menemukan bahwa stabilitas tanah di sekitar titik longsor telah sangat terganggu. Hal ini secara langsung mengancam keselamatan rumah warga yang berada di zona bahaya tersebut.

Baca Juga Jakarta Selatan Terpungung Genangan: Jalan Swadarma dan Ciledug Raya Terendam Banjir Hingga 70 CM
Jakarta Selatan Terpungung Genangan: Jalan Swadarma dan Ciledug Raya Terendam Banjir Hingga 70 CM

Satu rumah warga dilaporkan berada dalam kondisi yang sangat mengkhawatirkan. Mengingat potensi longsor susulan yang masih sangat tinggi, pihak berwenang segera mengambil tindakan preventif untuk menyelamatkan nyawa. Penghuni rumah yang terdampak dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggal mereka demi keamanan.

“Ada satu unit rumah warga yang posisinya sudah sangat dekat dengan bibir longsoran. Demi keselamatan, kami telah mengevakuasi para penghuninya. Untuk sementara, mereka mengungsi ke kediaman kerabat, tepatnya di rumah adik dan orang tua mereka,” tambah Dimas. Langkah evakuasi ini menjadi sangat krusial mengingat karakteristik tanah di wilayah Pasir Jaya yang masih rentan bergerak jika kembali diguyur hujan.

Masalah Berlanjut: Aliran Kali Cimanglid Tersumbat

Ternyata, musibah di Minggu malam itu tidak hanya terjadi di satu titik. Di lokasi lain yang masih berada dalam lingkup geografis Kota Bogor, tepatnya di Kampung Babakan Sumantri, Kelurahan Pasir Kuda, dilaporkan terjadi banjir akibat luapan sungai. Penyebab utamanya adalah sebuah pohon bambu berukuran besar yang tumbang dan menutup total aliran Kali Cimanglid.

Baca Juga Dinamika Revisi UU Pemilu: DPR RI Garap Skema Ambang Batas Parlemen dan Inovasi Merger Partai Politik
Dinamika Revisi UU Pemilu: DPR RI Garap Skema Ambang Batas Parlemen dan Inovasi Merger Partai Politik

Pohon yang tumbang tersebut bertindak layaknya bendungan alami yang menahan laju air. Akibatnya, air sungai tidak memiliki jalur keluar dan meluap ke pemukiman penduduk. Sebanyak enam rumah warga dilaporkan terendam banjir dengan ketinggian air yang bervariasi, memaksa warga untuk berjibaku menyelamatkan harta benda mereka di tengah kegelapan malam.

Respon cepat kembali ditunjukkan oleh BPBD Kota Bogor. Tim di lapangan segera melakukan asesmen dan proses pemotongan pohon bambu menggunakan gergaji mesin. Proses ini memakan waktu beberapa jam karena posisi pohon yang sulit dijangkau di tengah arus air yang masih cukup kuat.

Upaya Penanganan dan Pemulihan Pasca Bencana

Beruntung, banjir di Pasir Kuda tidak berlangsung lama. Setelah sumbatan pohon berhasil dibersihkan dan hujan mulai reda, debit air di Kali Cimanglid berangsur-angsur normal. Namun, pekerjaan belum usai. Sisa-sisa lumpur dan sampah yang dibawa banjir masih menumpuk di dalam rumah-rumah warga.

Baca Juga Siasat Licin ‘Boy’ Terbongkar: Menyingkap Tabir Peredaran Obat Keras Ilegal Berkedok Toko Plastik di Kalideres
Siasat Licin ‘Boy’ Terbongkar: Menyingkap Tabir Peredaran Obat Keras Ilegal Berkedok Toko Plastik di Kalideres

“Hingga malam tadi, petugas kami bersama warga bahu-mambahu membersihkan sisa material banjir. Proses pemotongan pohon sudah tuntas, dan warga kini sedang berupaya membersihkan kediaman masing-masing agar bisa kembali ditempati dengan layak,” jelas pihak BPBD.

Sementara itu, untuk kasus masjid ambruk di Pasir Jaya, penanganan memerlukan koordinasi lebih lanjut lintas instansi. Mengingat kerusakan yang bersifat permanen pada infrastruktur, diperlukan perencanaan matang terkait relokasi atau pembangunan kembali masjid di lokasi yang lebih aman, jauh dari zona bahaya abrasi sungai.

Pentingnya Kewaspadaan dan Mitigasi Berkelanjutan

Tragedi yang menimpa Masjid Nurul Hikmah menjadi pengingat keras bagi seluruh pemangku kepentingan mengenai pentingnya tata ruang yang berbasis mitigasi bencana. Wilayah pinggiran sungai, terutama yang memiliki tebing curam, memerlukan perhatian khusus dalam hal penguatan struktur atau pemberian batas jarak aman bangunan (garis sempadan sungai).

Masyarakat dihimbau untuk tetap waspada, terutama saat hujan turun dengan durasi lebih dari dua jam. Tanda-tanda alam seperti retakan pada tanah, pohon yang mulai miring, atau air sungai yang berubah menjadi keruh secara tiba-tiba, harus segera dilaporkan kepada pihak berwenang. Kesigapan dalam melaporkan potensi bahaya dapat mencegah timbulnya korban jiwa di masa mendatang.

Kota Bogor, yang secara geografis berada di dataran tinggi dengan curah hujan yang sering dijuluki ‘Kota Hujan’, memang memiliki risiko bencana hidrometeorologi yang tinggi. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, petugas lapangan, dan masyarakat menjadi kunci utama dalam meminimalisir dampak kerugian dari setiap fenomena alam yang terjadi.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *