Tragedi Mencekam di Tasikmalaya: Kurir Ekspedisi Nekat Siram Air Keras ke Sembilan Pegawai Konveksi

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
05 Mei 2026, 02:28 WIB
Tragedi Mencekam di Tasikmalaya: Kurir Ekspedisi Nekat Siram Air Keras ke Sembilan Pegawai Konveksi

RadarLokal — Suasana tenang di Desa Gunajaya, Kecamatan Manonjaya, Kabupaten Tasikmalaya, mendadak berubah menjadi horor yang memilukan. Sebuah insiden brutal terjadi ketika seorang pria yang berprofesi sebagai sopir ekspedisi nekat melakukan aksi penyiraman air keras terhadap sembilan orang pegawai konveksi. Kejadian yang berlangsung begitu cepat ini menyisakan trauma mendalam dan luka fisik yang cukup serius bagi para korban.

Kronologi Mencekam di Senin Malam

Peristiwa berdarah ini terjadi pada Senin malam, 4 Mei 2026, sekitar pukul 19.00 WIB. Saat itu, aktivitas di rumah produksi konveksi tersebut masih berlangsung seperti biasa. Para pegawai sedang sibuk menyelesaikan target pekerjaan mereka sebelum akhirnya seorang pria tak dikenal datang membawa petaka. Pelaku yang belakangan diketahui bekerja sebagai kurir ekspedisi muncul dengan penampilan yang mencurigakan.

Baca Juga Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Diduga Terima Aliran Dana Miliaran Per Hari
Skandal Korupsi Makan Bergizi Gratis: Eks Kepala BGN Dadan Hindayana Jadi Tersangka, Diduga Terima Aliran Dana Miliaran Per Hari

Saksi mata menyebutkan bahwa pelaku datang menggunakan helm dan mengenakan jas hujan, seolah-olah ingin menyembunyikan identitasnya atau mungkin melindungi dirinya sendiri dari percikan cairan kimia yang dibawanya. Sambil menenteng sebuah botol plastik berwarna putih, pelaku berteriak-teriak histeris, menciptakan suasana mencekam bagi siapa saja yang berada di lokasi kejadian. Informasi mengenai kriminalitas di Tasikmalaya ini pun langsung menyebar cepat di kalangan warga sekitar.

Aksi Brutal di Balik Jas Hujan

Tanpa banyak bicara setelah teriakan-teriakannya, pelaku langsung menyiramkan cairan kimia yang diduga kuat sebagai air keras ke arah para pegawai secara acak. Abdul Holik, salah satu korban yang kini tengah menjalani perawatan intensif, menceritakan detik-detik mengerikan tersebut. Saat kejadian, ia sedang merapikan hasil produksi di dalam rumah konveksi.

Baca Juga Waspada Terorisme Digital 4.0: Kapolri Ungkap Ancaman AI dan Strategi ‘Salad Bar Ideology’ di Rakernis Densus 88
Waspada Terorisme Digital 4.0: Kapolri Ungkap Ancaman AI dan Strategi ‘Salad Bar Ideology’ di Rakernis Densus 88

“Si pelaku datang sudah langsung teriak-teriak, dia pakai helm dan jas hujan. Tangannya memegang botol warna putih. Tanpa peringatan, dia langsung menyiramkan isi botol itu ke arah kami yang ada di situ,” ujar Abdul Holik saat ditemui di RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya. Aksi membabi buta ini membuat para pegawai kocar-kacir menyelamatkan diri, namun sayangnya, sembilan orang tidak sempat menghindar dari paparan zat berbahaya tersebut.

Kondisi Korban dan Penanganan Medis Darurat

Dampak dari serangan ini sangat fatal. Dari sembilan orang yang terkena siraman, enam di antaranya menderita luka bakar kimia yang sangat serius. Cairan tersebut mengenai wajah, tangan, dan bagian tubuh lainnya, menyebabkan kerusakan jaringan kulit yang cukup parah. Keenam korban kritis tersebut segera dilarikan ke RSUD dr Soekardjo Tasikmalaya untuk mendapatkan perawatan spesialis.

Baca Juga Skandal Korupsi Nikel Sultra: Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Duduk di Kursi Pesakitan
Skandal Korupsi Nikel Sultra: Mantan Ketua Ombudsman Hery Susanto Segera Duduk di Kursi Pesakitan

Sementara itu, tiga korban lainnya yang mengalami luka relatif lebih ringan dibawa ke Puskesmas Cibeureum untuk mendapatkan pertolongan pertama. Penanganan medis yang cepat sangat krusial dalam kasus penyiraman air keras karena sifat cairan tersebut yang terus merusak jaringan kulit selama belum dinetralkan secara sempurna. Pihak rumah sakit terus berupaya meminimalisir dampak cacat permanen yang mungkin timbul akibat zat korosif tersebut.

Langkah Cepat Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota

Pihak kepolisian yang mendapatkan laporan dari warga segera bergerak cepat menuju lokasi kejadian. Tak butuh waktu lama bagi petugas untuk mengamankan pelaku yang masih berada di sekitar area tersebut. Selain menangkap tersangka, polisi juga fokus membantu proses evakuasi para korban agar segera mendapatkan bantuan medis. Penangkapan ini diharapkan dapat meredam keresahan masyarakat terkait isu keamanan lingkungan kerja di wilayah tersebut.

Baca Juga Tragedi Maut di Perlintasan Bangkok: Antara Kelalaian dan Kemacetan Parah yang Merenggut Nyawa
Tragedi Maut di Perlintasan Bangkok: Antara Kelalaian dan Kemacetan Parah yang Merenggut Nyawa

Kasus ini kini ditangani sepenuhnya oleh Satreskrim Polres Tasikmalaya Kota. Petugas telah melakukan olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) untuk mengumpulkan barang bukti, termasuk botol plastik putih yang digunakan pelaku dan sisa-sisa cairan yang tercecer di lantai konveksi. Polisi juga tengah mendalami motif di balik aksi nekat sang kurir ini, apakah ada dendam pribadi atau masalah lain yang melatarbelakanginya.

Dampak Psikologis dan Trauma bagi Pekerja Konveksi

Selain luka fisik, serangan ini meninggalkan trauma psikologis yang sangat berat bagi para pegawai yang selamat maupun yang menjadi korban. Lingkungan kerja yang seharusnya menjadi tempat yang aman untuk mencari nafkah, seketika berubah menjadi lokasi tragedi yang mengerikan. Banyak dari rekan korban yang kini merasa ketakutan untuk kembali bekerja.

Baca Juga Visi Progresif Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo: Mengatur Penempatan Jabatan Sipil dengan Prinsip Resiprokal dan Transparansi
Visi Progresif Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo: Mengatur Penempatan Jabatan Sipil dengan Prinsip Resiprokal dan Transparansi

RadarLokal memantau bahwa kejadian seperti ini memerlukan perhatian serius dari berbagai pihak, bukan hanya aparat penegak hukum, tetapi juga penyedia jasa layanan kesehatan mental bagi para penyintas. Serangan menggunakan zat kimia sering kali meninggalkan bekas yang tidak hanya terlihat secara fisik, tetapi juga merusak mental korbannya karena sifat serangannya yang bersifat merusak penampilan dan fungsi tubuh secara permanen.

Tinjauan Hukum Terhadap Pelaku Penyiraman Air Keras

Secara hukum, pelaku penyiraman air keras dapat dijerat dengan pasal berlapis dalam Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP). Mengingat korbannya mencapai sembilan orang dengan luka berat, pelaku terancam hukuman penjara yang sangat lama. Penganiayaan berat yang direncanakan memiliki konsekuensi hukum yang tidak main-main di Indonesia.

Masyarakat Tasikmalaya kini berharap agar proses hukum berjalan dengan transparan dan pelaku mendapatkan hukuman setimpal. Kasus ini menjadi pengingat keras bagi para pelaku usaha untuk lebih selektif dalam menerima tamu atau orang asing ke dalam area produksi, serta pentingnya pengawasan keamanan di lingkungan industri rumahan.

Harapan Keluarga Korban

Keluarga dari para korban yang kini terbaring lemah di rumah sakit hanya bisa pasrah sembari berharap mukjizat untuk kesembuhan anggota keluarga mereka. Biaya pengobatan yang tidak sedikit juga menjadi beban tambahan bagi mereka. Beberapa pihak berharap ada dukungan dari pemerintah daerah maupun pemilik usaha konveksi untuk meringankan beban finansial para korban selama masa pemulihan.

Tragedi di Manonjaya ini menjadi catatan kelam dalam sejarah kriminalitas di Tasikmalaya pada tahun 2026. RadarLokal akan terus mengawal perkembangan kasus ini hingga fakta-fakta di balik motif pelaku terungkap sepenuhnya di meja hijau. Keamanan publik harus tetap menjadi prioritas utama agar kejadian serupa tidak terulang kembali di masa depan.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *