Analisis Tajam Hasto Kristiyanto Terhadap Film Ghost in the Cell: Soroti Karakter ‘Kitabuming’ dan Kritik Satir dari Solo

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
07 Jun 2026, 22:11 WIB
Analisis Tajam Hasto Kristiyanto Terhadap Film Ghost in the Cell: Soroti Karakter 'Kitabuming' dan Kritik Satir dari Sol

RadarLokal — Gelaran peringatan Bulan Bung Karno tahun ini terasa berbeda dan penuh dengan muatan intelektual yang segar. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan (PDIP), Hasto Kristiyanto, baru-baru ini menghadiri acara nonton bareng (nobar) film terbaru karya sutradara kondang Joko Anwar yang berjudul Ghost in the Cell. Kehadiran Hasto dalam acara yang berlangsung di Bioskop Megaria, Jakarta, pada Minggu (7/6/2026) tersebut, bukan sekadar bentuk dukungan terhadap industri kreatif nasional, melainkan juga sebuah upaya untuk membedah pesan-pesan sosial yang tersirat dalam karya sinematik tersebut.

Dalam kesempatan itu, Hasto memberikan apresiasi tinggi terhadap keberanian Joko Anwar dalam menyisipkan kritik sosial yang sangat tajam. Fokus perhatian Hasto tertuju pada salah satu karakter sentral dalam film tersebut, yakni seorang pengusaha bernama Prakasa Kitabuming. Karakter ini digambarkan secara provokatif sebagai sosok yang berasal dari Solo, sebuah detail yang menurut Hasto membawa pesan simbolik yang sangat dalam mengenai realitas sosial dan politik di Indonesia saat ini.

Baca Juga Noda Hitam di Tengah Euforia: Polisi Cianjur Amankan Oknum Bobotoh Pembawa Sajam dan Miras Saat Konvoi Juara
Noda Hitam di Tengah Euforia: Polisi Cianjur Amankan Oknum Bobotoh Pembawa Sajam dan Miras Saat Konvoi Juara

Potret Ketamakan dalam Balutan Sinema

Hasto menilai bahwa Joko Anwar berhasil mengejawantahkan kegelisahan publik melalui karakter Prakasa Kitabuming. Dalam narasi film tersebut, Kitabuming digambarkan sebagai pengusaha yang didorong oleh ketamakan tanpa batas. Bahkan, ketika ia akhirnya dijebloskan ke penjara karena kasus korupsi besar-besaran, sosok ini diceritakan masih mampu menikmati berbagai fasilitas mewah di balik jeruji besi.

“Joko Anwar dengan sangat cerdas menyampaikan bagaimana ada pengusaha yang sangat tamak sehingga ketika dia ditangkap di penjara pun karena kasus korupsi, maka pengusaha yang namanya Prakarsa Kitabuming ini kemudian masih menikmati kemewahan yang luar biasa,” ujar Hasto saat berbincang dengan awak media. Gambaran ini seolah menjadi tamparan keras bagi sistem hukum dan keadilan yang sering kali terlihat tumpul ketika berhadapan dengan narapidana berkerah putih.

Baca Juga Kontroversi Tudingan Amien Rais Terhadap Prabowo dan Teddy: Antara Kebebasan Berpendapat dan Fitnah Digital
Kontroversi Tudingan Amien Rais Terhadap Prabowo dan Teddy: Antara Kebebasan Berpendapat dan Fitnah Digital

Simbolisme Solo dan Nomor Registrasi yang Misterius

Hal yang paling menarik perhatian publik adalah latar belakang karakter tersebut yang disebut berasal dari Solo. Hasto secara khusus menyoroti aspek ini sebagai bentuk kritik sosial yang berani. Tidak hanya asal daerahnya, detail kecil seperti nomor registrasi tahanan Kitabuming, yaitu 21061961, juga dianggap Hasto memiliki makna filosofis dan historis yang sangat kuat.

“Kritik sosialnya, dia berasal dari Solo. Nomor registrasinya 21061961, ini sangat simbolik. Maka ini film yang mencerdaskan,” tegas Hasto. Angka-angka tersebut seakan merujuk pada tanggal-tanggal penting dalam sejarah bangsa, terutama yang berkaitan dengan Bung Karno, mengingat film ini ditonton dalam rangka memperingati jasa-jasa Sang Proklamator. Menurut Hasto, setiap elemen dalam film ini dirancang untuk memancing penonton agar berpikir lebih kritis mengenai kondisi Indonesia saat ini dan masa depan.

Baca Juga Tragedi Asap Hitam di Apartemen Mediterania: Perjuangan Damkar dan Evakuasi Dramatis di Jakarta Barat
Tragedi Asap Hitam di Apartemen Mediterania: Perjuangan Damkar dan Evakuasi Dramatis di Jakarta Barat

Isu Deforestasi dan Kerusakan Lingkungan

Lebih jauh lagi, film Ghost in the Cell tidak hanya berkutat pada isu suap dan korupsi uang semata. Karakter Prakasa Kitabuming juga digambarkan sebagai aktor di balik penggundulan hutan yang masif. Hal ini menambah dimensi moralitas dalam kritik yang disampaikan oleh film tersebut. Eksploitasi sumber daya alam demi keuntungan pribadi merupakan bentuk kejahatan luar biasa yang dampaknya dirasakan oleh seluruh rakyat.

Hasto menekankan bahwa pesan lingkungan ini sangat relevan dengan semangat perlawanan terhadap kapitalisme yang merusak. Ia berharap agar para kader PDIP dan masyarakat luas dapat memetik pelajaran dari gambaran distopia yang ditampilkan dalam film tersebut. Hasto mengingatkan bahwa Indonesia tidak boleh jatuh ke dalam jurang yang sama dengan apa yang digambarkan dalam Ghost in the Cell, di mana kekuasaan dan modal berselingkuh untuk mengorbankan kepentingan publik.

Baca Juga Amukan Si Jago Merah di Satpas SIM Daan Mogot: Pos Jaga Hangus Terbakar, Puluhan Personel Damkar Berjibaku di Lokasi
Amukan Si Jago Merah di Satpas SIM Daan Mogot: Pos Jaga Hangus Terbakar, Puluhan Personel Damkar Berjibaku di Lokasi

Refleksi Nilai-Nilai Bung Karno di Era Modern

Bagi Hasto Kristiyanto, film ini bukan sekadar hiburan visual. Ia melihat adanya benang merah yang kuat antara narasi film tersebut dengan perjuangan Presiden pertama RI, Soekarno. Semangat perlawanan terhadap kapitalisme dan imperialisme, yang menurut Bung Karno terus bermetamorfosis dalam berbagai bentuk baru, tercermin jelas dalam kegelisahan yang diusung oleh film ini.

“Maka ini menggugah kita agar Bulan Bung Karno menyadarkan kita semuanya untuk setia pada nilai-nilai moral, setia pada idealisme, setia pada etika di dalam kehidupan bersama karena kita mencita-citakan sesuatu yang besar,” tutur Hasto dengan penuh semangat. Ia percaya bahwa sinema adalah medium yang sangat efektif untuk melakukan edukasi politik bagi generasi muda, agar mereka tidak buta terhadap ketidakadilan yang terjadi di sekitarnya.

Baca Juga Trump Sebut Gencatan Senjata Iran di Ambang Kolaps: Akankah Operation Freedom Kembali Berlayar?
Trump Sebut Gencatan Senjata Iran di Ambang Kolaps: Akankah Operation Freedom Kembali Berlayar?

Instruksi bagi Kader dan Ajakan Berpikir Kritis

Dalam kunjungannya ke Megaria tersebut, Hasto Kristiyanto bahkan secara terang-terangan menyarankan agar kader-kader partai berlambang banteng tersebut menonton film ini. Menurutnya, pesan-pesan yang ada di dalamnya, mulai dari penamaan karakter hingga detail teknis seperti nomor registrasi tahanan, adalah bahan diskusi yang sangat berharga untuk memperkuat landasan ideologis mereka.

“Nah, Joko Anwar mengingatkan hal itu dan menurut saya ini sangat luar biasa. Teman-teman wartawan bisa melihat berbagai pesan-pesan dari namanya, dari asalnya, dari nomor registrasi tahanannya, itu bisa melihat bagaimana Indonesia tidak boleh terjadi sebagaimana yang ditunjukkan di dalam film Ghost in the Cell tersebut,” pungkasnya. Melalui tontonan ini, Hasto ingin menegaskan bahwa integritas, etika, dan keberpihakan pada lingkungan adalah harga mati bagi setiap calon pemimpin bangsa.

Kesimpulan: Sinema sebagai Cermin Realitas

Peringatan Bulan Bung Karno kali ini berhasil membawa diskursus politik ke ranah yang lebih santai namun berbobot melalui layar perak. Respon Hasto terhadap film Ghost in the Cell menunjukkan bahwa politik tidak selalu harus kaku. Dengan membedah simbolisme karakter ‘Kitabuming’ asal Solo, Hasto telah membuka ruang dialog baru mengenai korupsi, gaya hidup pejabat, dan tanggung jawab terhadap lingkungan hidup.

Film ini menjadi pengingat pahit namun perlu, bahwa perjuangan melawan ketidakadilan masih jauh dari kata usai. Sebagaimana pesan yang sering disampaikan dalam orasi-orasi Bung Karno, rakyat harus tetap waspada terhadap segala bentuk penindasan baru, bahkan yang datang dari dalam sel penjara yang terlihat mewah sekalipun.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *