Geger Fitur AI Sony Xperia 1 VIII: Alih-alih Estetik, Hasil Kamera Malah Panen Hujatan dan Meme Kocak

Kevin Wijaya | RADAR LOKAL
16 Mei 2026, 20:18 WIB
Geger Fitur AI Sony Xperia 1 VIII: Alih-alih Estetik, Hasil Kamera Malah Panen Hujatan dan Meme Kocak

RadarLokal — Era kecerdasan buatan atau teknologi AI memang tengah merajai jagat teknologi mobile saat ini. Hampir semua produsen smartphone berlomba-lomba menyuntikkan kecerdasan buatan ke dalam perangkat mereka, terutama pada sektor fotografi. Namun, langkah terbaru Sony melalui seri flagship mereka, Sony Xperia 1 VIII, tampaknya menemui jalan terjal yang tak terduga. Bukannya mendapatkan pujian selangit karena inovasinya, fitur terbaru yang dinamakan AI Camera Assistant ini justru menjadi bumerang bagi perusahaan asal Jepang tersebut.

Belakangan ini, jagat media sosial, khususnya X (sebelumnya Twitter), diramaikan oleh gelombang kritik yang dikemas dalam bentuk meme kocak. Netizen dari berbagai belahan dunia tampaknya sepakat bahwa hasil pemrosesan gambar dari AI Sony kali ini jauh dari kata memuaskan. Alih-alih memberikan sentuhan magis yang membuat foto terlihat lebih hidup, fitur tersebut dinilai justru merusak esensi dari objek foto aslinya dengan pencahayaan yang berlebihan dan hilangnya detail yang krusial.

Baca Juga Alarm Bahaya Digital: Minimnya Adopsi 5G Bayangi Ambisi Indonesia Emas 2045
Alarm Bahaya Digital: Minimnya Adopsi 5G Bayangi Ambisi Indonesia Emas 2045

Awal Mula Kontroversi AI Camera Assistant Sony

Kejadian ini bermula saat Sony mulai memamerkan kemampuan AI Camera Assistant pada Xperia 1 VIII. Dalam materi promosinya, Sony menjanjikan pengoptimalan gambar secara otomatis yang mampu menyesuaikan cahaya dan warna agar terlihat lebih profesional. Namun, saat hasil tangkapannya beredar luas, reaksi publik justru berbanding terbalik. Banyak pengguna yang merasa bahwa kamera smartphone ini melakukan pemrosesan yang terlalu agresif.

Salah satu keluhan utama yang paling sering disuarakan adalah efek overexposed yang sangat parah. Objek yang difoto seringkali kehilangan tekstur alaminya karena AI mencoba untuk menerangi area gelap secara berlebihan. Akibatnya, warna menjadi terlihat pucat atau washed out, dan detail halus yang biasanya menjadi kekuatan sensor kamera Sony justru hilang tak berbekas. Bagi para penggemar fotografi purist yang selama ini memuja Sony karena reproduksi warnanya yang natural, ini adalah sebuah langkah mundur yang mengecewakan.

Baca Juga Skandal ‘AlphaRaccoon’: Insinyur Senior Google Didakwa Lakukan Insider Trading Senilai Rp 21 Miliar di Polymarket
Skandal ‘AlphaRaccoon’: Insinyur Senior Google Didakwa Lakukan Insider Trading Senilai Rp 21 Miliar di Polymarket

Badai Meme: Kreativitas Netizen yang Menyentil

Netizen memang dikenal sangat kreatif dalam merespon sebuah kegagalan produk. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk menciptakan berbagai meme yang menyindir performa AI Sony Xperia 1 VIII. Salah satu meme yang paling viral adalah perbandingan foto burung. Pada foto asli, detail bulu dan warna burung terlihat sangat tajam dan kaya. Namun, di versi simulasi AI Camera Assistant, burung tersebut berubah menjadi objek putih terang yang nyaris kehilangan bentuk aslinya karena paparan cahaya yang terlalu tinggi.

Tak berhenti di situ, dunia otomotif pun ikut terseret. Sebuah akun penggemar Tesla mengunggah meme yang menunjukkan mobil listrik tersebut dalam kondisi normal dibandingkan dengan hasil olahan AI Sony. Mobil yang seharusnya memiliki warna solid dan refleksi cahaya yang elegan, berubah menjadi tampak kusam dan kehilangan dimensi visualnya. Netizen memberikan komentar sarkastik bahwa AI tersebut seolah-olah memberikan filter “kabut putih” pada setiap jepretan.

Baca Juga 9 Fakta Krusial Registrasi Nomor HP Baru Wajib Verifikasi Wajah Mulai 1 Juli 2026: Era Baru Keamanan Digital Indonesia
9 Fakta Krusial Registrasi Nomor HP Baru Wajib Verifikasi Wajah Mulai 1 Juli 2026: Era Baru Keamanan Digital Indonesia

Dari Michael Jackson hingga Barack Obama

Sindiran netizen semakin menjadi-jadi ketika mereka mulai menggunakan tokoh-tokoh terkenal sebagai bahan meme. Salah satu yang paling menarik perhatian adalah meme yang melibatkan mendiang Michael Jackson. Netizen menyindir bahwa AI Sony mampu mengubah wajah seseorang menjadi sangat pucat, halus tanpa pori-pori, dan tidak natural, persis seperti perubahan penampilan sang raja pop tersebut. Ini merupakan kritik tajam terhadap algoritma skin smoothing yang dianggap terlalu berlebihan oleh banyak orang.

Bahkan foto mantan Presiden Amerika Serikat, Barack Obama, tidak luput dari tangan kreatif warga internet. Foto Obama yang aslinya memiliki kontras yang baik, diubah menjadi foto yang sangat terang hingga gradasi warna kulitnya hilang. Pesan yang ingin disampaikan netizen sangat jelas: AI Sony tidak memahami konteks pencahayaan dan justru meratakan (flattening) semua elemen dalam gambar. Fenomena ini memicu diskusi luas mengenai seberapa jauh kecerdasan buatan boleh mengintervensi estetika sebuah foto.

Baca Juga Sumatra Gelap Gulita: Ribuan BTS Tumbang Akibat Blackout, RadarLokal Bedah Dampak Krisis Digital Terkini
Sumatra Gelap Gulita: Ribuan BTS Tumbang Akibat Blackout, RadarLokal Bedah Dampak Krisis Digital Terkini

Kritik dari Tech Reviewer Kenamaan

Kegaduhan ini juga menarik perhatian para pengamat teknologi dan tech reviewer profesional. Nama besar seperti Marques Brownlee (MKBHD) bahkan ikut terseret dalam pusaran meme. Dalam sebuah gambar parodi, MKBHD digambarkan sedang mereview sebuah mobil, namun hasil tangkapan layarnya dibuat sangat overexposed hingga mobil tersebut nyaris tak terlihat. Ini merupakan sindiran bahwa bahkan di tangan seorang profesional sekalipun, jika software dasarnya bermasalah, hasilnya akan tetap buruk.

Para ahli berpendapat bahwa masalah utama Sony terletak pada algoritma yang kurang matang dalam menangani rentang dinamis (dynamic range). AI tersebut tampaknya diprogram untuk selalu berusaha menerangkan area yang dianggap gelap, tanpa mempertimbangkan apakah area tersebut memang seharusnya gelap untuk menciptakan kedalaman foto. Alhasil, foto-foto kuliner atau makanan yang biasanya terlihat menggugah selera dengan tekstur berminyak atau warna warni sayuran, justru berubah menjadi tampak hambar dan berkabut dalam jepretan Xperia 1 VIII.

Baca Juga Mengenal Svalbard Global Seed Vault: Menelusuri Benteng Terakhir Kemanusiaan di Ujung Dunia
Mengenal Svalbard Global Seed Vault: Menelusuri Benteng Terakhir Kemanusiaan di Ujung Dunia

Ironi di Balik Nama Besar Sony Alpha

Yang membuat situasi ini terasa sangat ironis adalah fakta bahwa Sony adalah pemimpin pasar dalam industri sensor kamera melalui divisi Alpha mereka. Kamera mirrorless Sony dikenal sebagai standar emas bagi fotografer profesional di seluruh dunia. Selama bertahun-tahun, lini Xperia selalu membanggakan diri sebagai smartphone bagi para fotografer karena mempertahankan kontrol manual dan hasil yang jujur tanpa banyak manipulasi perangkat lunak.

Namun, dengan hadirnya AI Camera Assistant yang menuai hujatan ini, Sony seolah sedang mengalami krisis identitas. Di satu sisi, mereka ingin mengikuti tren computational photography yang dipopulerkan oleh Google Pixel dan iPhone. Di sisi lain, mereka tampaknya belum berhasil menyamai kecanggihan algoritma kompetitornya yang mampu mempercantik foto tanpa membuatnya terlihat palsu.

Harapan dan Masa Depan Update Perangkat Lunak

Meskipun saat ini menjadi bahan tertawaan, banyak pihak yang berharap Sony segera mengambil tindakan. Sebagai perusahaan teknologi raksasa, Sony memiliki kemampuan untuk memperbaiki masalah ini melalui pembaruan perangkat lunak (software update). Masalah algoritma AI biasanya dapat disetel ulang (fine-tuning) agar tidak terlalu agresif dalam melakukan pemrosesan gambar.

Komunitas pengguna Xperia berharap Sony mendengarkan masukan dari para netizen ini. Meme-meme tersebut, meski terkesan mengejek, sebenarnya adalah bentuk feedback jujur dari konsumen yang menginginkan kualitas terbaik dari perangkat flagship yang mereka beli dengan harga mahal. Jika Sony mampu memperbaiki masalah eksposur dan detail ini, Xperia 1 VIII tetap memiliki potensi besar untuk menjadi salah satu smartphone flagship terbaik tahun ini berkat spesifikasi hardware-nya yang memang mumpuni.

Kejadian ini menjadi pelajaran berharga bagi seluruh vendor smartphone bahwa teknologi AI bukanlah segalanya. AI harus berfungsi sebagai asisten yang meningkatkan kualitas, bukan sebagai penguasa yang justru mendikte dan merusak realitas visual yang ditangkap oleh lensa kamera. Untuk saat ini, Sony tampaknya harus rela menjadi pusat perhatian di panggung media sosial dengan cara yang mungkin tidak mereka bayangkan sebelumnya.

Kevin Wijaya

Kevin Wijaya

Tech enthusiast yang selalu terdepan dalam mencoba gadget terbaru. Mengulas sisi menarik dunia digital di Radar Inet.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *