HUT Ke-15 GRIB Jaya: Bamsoet Serukan Urgensi Soliditas Ormas Demi Menjaga Ketahanan Nasional di Tengah Gejolak Global
RadarLokal — Suasana khidmat bercampur semangat membara menyelimuti Istora Senayan, Jakarta, saat ribuan kader Gerakan Rakyat Indonesia Bersatu (GRIB Jaya) berkumpul merayakan hari jadi organisasi mereka yang ke-15. Di tengah riuh rendah perayaan tersebut, hadir sosok tokoh nasional Bambang Soesatyo, atau yang akrab disapa Bamsoet, memberikan orasi yang menggugah kesadaran akan pentingnya peran elemen masyarakat dalam menjaga kedaulatan bangsa.
Anggota DPR RI sekaligus Ketua MPR RI ke-15 tersebut menekankan bahwa dalam lanskap dunia yang semakin dinamis dan penuh ketidakpastian, posisi organisasi kemasyarakatan (ormas) bukan lagi sekadar pelengkap, melainkan pilar utama dalam memperkuat ketahanan nasional. Bamsoet menyoroti bagaimana tekanan global—mulai dari konflik geopolitik yang memanas hingga ancaman siber yang kian canggih—mulai memberikan dampak nyata bagi stabilitas di dalam negeri.
Menakar Tantangan Global dan Dampaknya Bagi Indonesia
Dunia saat ini sedang tidak baik-baik saja. Itulah premis yang mendasari pernyataan Bamsoet di hadapan keluarga besar GRIB Jaya. Mengutip data dari Bank Dunia dan IMF, Bamsoet menjelaskan adanya perlambatan ekonomi global yang masih menjadi hantu bagi banyak negara berkembang. Gejolak di kawasan Indo-Pasifik pun turut memicu ketidakstabilan pada rantai pasok pangan dan energi dunia, yang secara langsung berpotensi mengganggu stabilitas nasional.
“Ormas harus bertransformasi menjadi kekuatan moral dan sosial yang memperkuat fondasi kebangsaan kita. Di saat dunia dihantam ketidakpastian geopolitik dan tekanan ekonomi, bangsa ini membutuhkan perekat yang kuat. Soliditas seluruh elemen masyarakat adalah kunci agar Indonesia tetap tegak berdiri menghadapi terjangan badai global,” tutur Bamsoet dengan nada tegas.
Eksistensi ormas seperti GRIB Jaya diharapkan mampu menjadi garda terdepan dalam menyosialisasikan pentingnya menjaga kerukunan. Bamsoet mengingatkan bahwa tantangan masa kini jauh lebih kompleks dibandingkan masa lalu. Jika dahulu ancaman bersifat fisik dan konvensional, kini serangan terhadap kedaulatan negara bisa menyusup melalui jalur digital yang tidak terlihat namun mematikan.
Transformasi Ancaman: Dari Perang Fisik Menuju Perang Informasi
Sebagai Ketua DPR RI ke-20 dan politisi senior Partai Golkar, Bamsoet sangat memahami bahwa ancaman terhadap negara kini telah bergeser ke ranah nir-militer. Perang informasi, manipulasi opini publik melalui media sosial, hingga infiltrasi ideologi transnasional yang merusak tatanan Pancasila kini menjadi tantangan nyata. Hal ini menuntut kesiapan masyarakat sipil untuk lebih cerdas dalam mengonsumsi informasi.
Bamsoet memberikan catatan khusus mengenai maraknya hoaks yang sering kali sengaja diembuskan untuk memicu konflik horizontal, terutama pada momentum politik. Tanpa adanya literasi digital yang memadai, masyarakat akan sangat mudah diadu domba oleh pihak-pihak yang menginginkan perpecahan di bumi pertiwi.
“Kita tidak bisa hanya berpangku tangan dan menyerahkan semua urusan keamanan kepada aparat negara. Aparat tentu bekerja maksimal, namun partisipasi aktif dari tokoh agama, komunitas pemuda, akademisi, dan khususnya ormas sangat dibutuhkan sebagai benteng pertahanan pertama dalam melawan provokasi dan fitnah,” tambahnya di hadapan para hadirin.
Sinergi Keamanan dan Ekonomi: Dua Sisi Mata Uang
Salah satu poin krusial yang disampaikan Bamsoet adalah korelasi antara stabilitas keamanan dengan kemajuan ekonomi. Sebagai tokoh yang memiliki jaringan luas di dunia usaha, ia menilai bahwa tidak akan ada pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan tanpa adanya jaminan keamanan dan ketertiban masyarakat. Ketika sebuah wilayah dilanda konflik atau ketidakstabilan sosial, para investor akan menarik diri, dan lapangan kerja akan sulit tercipta.
Oleh karena itu, penguatan ketahanan nasional harus dilakukan secara holistik. Bamsoet mendukung penuh langkah pemerintah dalam memperkuat aspek keamanan maritim, ketahanan energi, hingga keamanan siber. Namun, semua infrastruktur tersebut akan sia-sia jika tidak didukung oleh modal sosial berupa solidaritas masyarakat yang kuat.
“Negara ini terlalu besar untuk dikelola oleh pemerintah sendirian. Kita butuh kolaborasi lintas sektor. Ormas memiliki akar yang kuat hingga ke level terbawah masyarakat. Jaringan inilah yang harus dioptimalkan untuk menjaga stabilitas sosial dan mempererat rasa persaudaraan antar sesama anak bangsa,” jelasnya.
Menjaga Kebhinekaan Sebagai Kekuatan Utama
Menutup orasinya, Bamsoet yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Umum Pemuda Pancasila dan Kepala Badan Bela Negara FKPPI ini, mengingatkan kembali akan warisan luhur para pendiri bangsa, yakni Bhinneka Tunggal Ika. Dengan lebih dari 1.300 kelompok etnis dan ratusan bahasa daerah, keberagaman Indonesia adalah anugerah sekaligus tantangan.
Keberagaman tersebut akan menjadi kekuatan raksasa jika dirawat dengan nilai-nilai toleransi dan gotong royong. Sebaliknya, jika isu SARA (Suku, Agama, Ras, dan Antar-golongan) terus dieksploitasi untuk kepentingan politik sesaat, maka keberagaman tersebut justru bisa menjadi titik lemah yang menghancurkan bangsa dari dalam.
“Jangan biarkan ruang publik kita dipenuhi oleh kebencian. GRIB Jaya dan ormas lainnya harus hadir sebagai penyejuk, sebagai katalisator persatuan. Pancasila bukan hanya hafalan, tapi harus menjadi fondasi dalam setiap tindakan kita bermasyarakat. Mari kita jaga Negara Kesatuan Republik Indonesia dengan sepenuh hati, tanpa memberi ruang sedikit pun bagi mereka yang ingin memecah belah kita,” pungkas Bamsoet dengan optimisme tinggi.
Perayaan HUT ke-15 GRIB Jaya ini pun menjadi momentum refleksi bagi seluruh anggota organisasi untuk terus meningkatkan kualitas diri dan kontribusi nyata bagi masyarakat. Di bawah arahan tokoh-tokoh berpengalaman seperti Bamsoet, diharapkan ormas di Indonesia semakin profesional dan berorientasi pada kemajuan bangsa di tengah persaingan global yang kian ketat.