Inovasi Ketahanan Pangan di Lapas Garut: Saat Warga Binaan Menjadi Pahlawan Pangan Mandiri

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
15 Mei 2026, 00:14 WIB
Inovasi Ketahanan Pangan di Lapas Garut: Saat Warga Binaan Menjadi Pahlawan Pangan Mandiri

RadarLokal — Langkah nyata menuju kedaulatan pangan nasional kini tidak hanya datang dari sektor agraris konvensional, melainkan juga dari balik jeruji besi. Sekretaris Jenderal Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan (Kemenimipas), Asep Kurnia, baru-baru ini melakukan kunjungan kerja yang cukup menyita perhatian ke Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Garut. Kunjungan ini bukan sekadar seremoni rutin, melainkan sebuah bentuk apresiasi terhadap keberhasilan implementasi program ketahanan pangan yang dinilai sangat inspiratif dan bisa menjadi percontohan nasional.

Didampingi oleh Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan (Kakanwil Ditjenpas) Jawa Barat, Kusnali, Asep Kurnia meninjau langsung bagaimana roda ekonomi dan pembinaan berputar di dalam Lapas. Fokus utama dalam peninjauan ini adalah melihat sejauh mana warga binaan diberdayakan untuk menjadi individu yang produktif dan mandiri, selaras dengan visi besar kementerian dalam memperkuat ketahanan pangan di Indonesia melalui tangan-tangan warga binaan.

Baca Juga Terobosan Ekonomi: Fraksi Golkar Dorong Obligasi Daerah Sebagai ‘Napas Baru’ Pembangunan Nasional
Terobosan Ekonomi: Fraksi Golkar Dorong Obligasi Daerah Sebagai ‘Napas Baru’ Pembangunan Nasional

Revolusi Pakan Mandiri: Kunci Keberhasilan Peternakan Lapas Garut

Salah satu aspek yang paling mencuri perhatian rombongan Kemenimipas adalah sektor peternakan ayam petelur. Berbeda dengan peternakan pada umumnya yang sangat bergantung pada pasokan pakan pabrikan yang harganya fluktuatif, Lapas Garut telah melangkah lebih maju dengan memproduksi pakan ayam secara mandiri. Inovasi ini dianggap sebagai terobosan besar karena mampu menekan biaya operasional sekaligus memberikan keahlian teknis tingkat tinggi kepada warga binaan.

Asep Kurnia menyampaikan kekagumannya terhadap kemandirian ini. Ia mencatat bahwa pakan ayam yang digunakan sepenuhnya merupakan hasil olahan warga binaan yang telah mendapatkan pelatihan khusus. “Ada yang sangat menonjol di sini, yaitu peternakan ayam petelur di mana pakannya tidak dibeli dari luar. Semuanya hasil racikan dan buatan warga binaan Lapas Garut sendiri,” ungkapnya saat memberikan keterangan resmi di sela-sela kunjungan tersebut.

Baca Juga Gebrakan Besar Polda Sumsel: Bongkar Jaringan Penyelundupan 82.000 KL Solar di Perairan Banyuasin
Gebrakan Besar Polda Sumsel: Bongkar Jaringan Penyelundupan 82.000 KL Solar di Perairan Banyuasin

Produksi pakan mandiri ini melibatkan penggunaan bahan-bahan lokal yang diolah secara presisi untuk memenuhi kebutuhan nutrisi unggas. Dengan adanya ahli dari kalangan warga binaan sendiri, kualitas pakan yang dihasilkan tidak kalah dengan standar industri. Hal ini membuktikan bahwa pembinaan di Lapas Garut telah mencapai level profesionalisme yang membanggakan.

Kualitas Telur Premium dan Kejutan “Kuning Ganda”

Dalam kunjungannya ke area kandang, Sekjen Asep Kurnia sempat melakukan pengecekan kualitas produk secara langsung. Sebuah momen menarik terjadi ketika ia mengambil dan mencoba memecahkan telur hasil produksi warga binaan. Ia terkejut menemukan telur dengan kualitas yang sangat baik, bahkan menemukan telur dengan dua kuning telur (double yolk) yang menandakan kesehatan dan nutrisi ayam terjaga dengan sangat optimal.

Baca Juga Jakarta Tak Tidur: Arus Lalu Lintas Tol Dalam Kota dan Jagorawi Mengular Jelang Libur Panjang
Jakarta Tak Tidur: Arus Lalu Lintas Tol Dalam Kota dan Jagorawi Mengular Jelang Libur Panjang

“Saat saya turun ke kandang dan mengambil telur, Alhamdulillah terlihat ada satu telur yang isinya kuningnya dua. Begitu saya pecahkan lagi, hasilnya sangat segar, ukurannya pun sangat pas—tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil. Rasanya pun nikmat saat dikonsumsi,” kenang Asep dengan nada antusias. Kejadian ini menjadi simbol kecil dari kesuksesan besar manajemen peternakan di dalam Lapas yang dikelola dengan hati dan dedikasi.

Kualitas telur yang konsisten ini tidak hanya mencerminkan keberhasilan teknis, tetapi juga menunjukkan bahwa lingkungan pembinaan di dalam Lapas sangat mendukung produktivitas. Telur-telur ini nantinya tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan internal Lapas, tetapi juga berpotensi untuk dipasarkan, sehingga berkontribusi pada sirkulasi ekonomi di wilayah Garut.

Baca Juga Skandal Penipuan WO Marwah di Jakarta Timur: 58 Calon Pengantin Gigit Jari, Kerugian Tembus Rp 2,6 Miliar
Skandal Penipuan WO Marwah di Jakarta Timur: 58 Calon Pengantin Gigit Jari, Kerugian Tembus Rp 2,6 Miliar

Kepemimpinan Kalapas Garut Sebagai Role Model Nasional

Keberhasilan sebuah institusi tentu tidak lepas dari sosok pemimpin di baliknya. Dalam hal ini, Asep Kurnia memberikan pujian setinggi langit kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Garut. Menurutnya, kepemimpinan yang peduli dan penuh dedikasi menjadi kunci utama mengapa program ketahanan pangan di tempat ini bisa berjalan lebih maksimal dibandingkan tempat lain.

“Kalapas di sini sangat luar biasa, sangat care, dan penuh dengan dedikasi. Saya berani katakan bahwa Pak Kalapas merupakan salah satu role model di jajaran pemasyarakatan yang patut dijadikan rujukan,” tegas Asep. Ia bahkan menyatakan sering merekomendasikan kepala lapas dari daerah lain untuk datang dan belajar langsung ke Garut mengenai manajemen ketahanan pangan.

Baca Juga Trump Kehabisan Kesabaran: Ancaman ‘Berjuang Sendirian’ Bagi Netanyahu di Tengah Bara Konflik Israel-Iran
Trump Kehabisan Kesabaran: Ancaman ‘Berjuang Sendirian’ Bagi Netanyahu di Tengah Bara Konflik Israel-Iran

Mengelola ketahanan pangan di lingkungan terbatas seperti Lapas bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan manajemen yang rapi, pengawasan yang ketat, namun tetap humanis. Lapas Garut dianggap telah berhasil menyeimbangkan antara pelaksanaan Tugas dan Fungsi (Tusi) menjaga keamanan serta ketertiban dengan upaya pemberdayaan manusia yang maksimal.

Membangun Bekal Masa Depan Melalui Sistem Premi

Program pembinaan di Lapas Garut tidak hanya soal menghasilkan produk fisik, tetapi juga membangun martabat dan harapan bagi warga binaan. Setiap warga binaan yang terlibat dalam proyek ketahanan pangan ini berhak mendapatkan premi atau upah atas kerja keras mereka. Hal ini menjadi motivasi tambahan sekaligus sarana belajar manajemen keuangan pribadi bagi mereka.

Asep Kurnia menjelaskan bahwa melalui kegiatan ini, warga binaan mendapatkan dua keuntungan sekaligus. Pertama, mereka memperoleh keahlian teknis (hard skill) yang bisa digunakan untuk mencari kerja atau berwirausaha setelah bebas nanti. Kedua, mereka memiliki tabungan atau penghasilan kecil yang bisa menjadi bekal awal saat kembali ke masyarakat.

“Tujuannya jelas, agar saat mereka keluar nanti, mereka tidak hanya membawa tangan kosong. Mereka punya keahlian, punya sedikit modal dari premi yang dikumpulkan, dan yang terpenting, mereka punya kepercayaan diri untuk menjadi anggota masyarakat yang berguna,” tambah Asep dengan optimis.

Harmonisasi Keamanan dan Produktivitas

Selain aspek ekonomi dan pembinaan, Lapas Garut juga dipuji karena mampu menjaga stabilitas keamanan di tengah padatnya aktivitas produktif. Biasanya, aktivitas luar ruangan yang melibatkan banyak warga binaan memiliki risiko keamanan tersendiri. Namun, manajemen Lapas Garut terbukti mampu menjalankan operasional harian dengan sangat tertib.

Integrasi antara program pembinaan kemandirian dengan protokol keamanan yang ketat menjadikan Lapas ini sebagai prototipe ideal lapas masa depan. Program ketahanan pangan tidak dianggap sebagai beban tambahan, melainkan sebagai bagian integral dari strategi menjaga kondusivitas Lapas melalui kesibukan yang positif bagi para penghuninya.

Kesimpulan: Menuju Lapas yang Mandiri dan Berdaya

Kunjungan Sekjen Kemenimipas ke Lapas Garut ini menjadi pengingat bagi seluruh jajaran pemasyarakatan di Indonesia bahwa keterbatasan ruang bukanlah penghalang untuk berinovasi. Dengan kreativitas, komitmen kepemimpinan yang kuat, dan metode pembinaan yang tepat, sebuah Lapas bisa bertransformasi menjadi pusat produksi pangan yang mandiri.

Program pakan mandiri dan peternakan ayam petelur di Garut adalah bukti nyata bahwa warga binaan memiliki potensi besar untuk berkontribusi bagi negara. Ke depannya, diharapkan model seperti di Garut ini dapat direplikasi secara luas di seluruh Indonesia, menjadikan sistem pemasyarakatan tidak hanya sebagai tempat pembinaan moral, tetapi juga sebagai pilar pendukung ketahanan pangan nasional yang tangguh.

Melalui langkah-langkah konkret ini, Kemenimipas menunjukkan komitmennya untuk mengubah paradigma lama pemasyarakatan menjadi institusi yang lebih produktif, manusiawi, dan berdampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat luas.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *