Jejak Abadi Sang Pejuang Buruh: Presiden Prabowo Resmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
16 Mei 2026, 10:15 WIB
Jejak Abadi Sang Pejuang Buruh: Presiden Prabowo Resmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk

RadarLokal — Matahari bersinar cerah di langit Nganjuk saat sebuah babak baru dalam sejarah perjuangan hak asasi manusia dan ketenagakerjaan di Indonesia tertulis dengan tinta emas. Pada Sabtu, 16 Mei 2026, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, secara resmi meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah yang berlokasi di tanah kelahiran sang pejuang buruh, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Peresmian ini bukan sekadar seremoni protokoler, melainkan simbol rekonsiliasi sejarah dan penghormatan tertinggi negara terhadap keberanian seorang perempuan yang gugur demi keadilan rekan-rekannya.

Langkah Nyata Menghargai Sejarah Perjuangan Buruh

Presiden Prabowo Subianto tiba di lokasi dengan pengawalan ketat namun tetap menunjukkan kedekatan dengan rakyat. Sebelum melakukan prosesi peresmian, Presiden menyempatkan diri untuk menyapa keluarga besar Marsinah yang hadir dengan rona haru di wajah mereka. Suasana khidmat menyelimuti saat orang nomor satu di Indonesia tersebut melangkah masuk ke dalam area museum, didampingi oleh Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (KSPSI), Andi Gani Nena Wea, yang merupakan sosok kunci di balik inisiasi pembangunan tempat bersejarah ini.

Baca Juga Waspada! Jakarta Terancam Cuaca Ekstrem 13-17 Mei, RadarLokal Bedah Langkah Antisipasinya
Waspada! Jakarta Terancam Cuaca Ekstrem 13-17 Mei, RadarLokal Bedah Langkah Antisipasinya

Dalam pidato peresmiannya, Presiden Prabowo menekankan pentingnya mengingat sejarah agar bangsa ini tidak kehilangan jati dirinya. “Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, pada pagi hari ini Sabtu, 16 Mei 2026, saya Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, dengan ini meresmikan Museum Ibu Marsinah dan Rumah Singgah di Kabupaten Nganjuk, Provinsi Jawa Timur,” ujar Presiden dengan suara tegas namun bergetar penuh rasa hormat. Penandatanganan prasasti yang dilakukan setelahnya menjadi bukti otentik bahwa negara kini berdiri tegak di belakang nilai-nilai perjuangan yang dulu disuarakan oleh Marsinah.

Kehadiran Presiden Prabowo di Nganjuk juga didampingi oleh Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Keduanya melihat secara langsung bagaimana museum ini dirancang untuk menjadi pusat edukasi sekaligus refleksi bagi generasi muda tentang pentingnya menegakkan hak asasi manusia di lingkungan kerja.

Baca Juga Gebrakan Besar Modernisasi TNI: Presiden Prabowo Resmi Serahkan Jet Tempur Rafale dan Rudal Canggih Meteor untuk Perkuat Langit Nusantara
Gebrakan Besar Modernisasi TNI: Presiden Prabowo Resmi Serahkan Jet Tempur Rafale dan Rudal Canggih Meteor untuk Perkuat Langit Nusantara

Menyusuri Lorong Waktu: Isi Museum Ibu Marsinah

Museum ini bukan sekadar bangunan mati, melainkan sebuah narasi visual yang disusun dengan sangat apik. Terbagi menjadi beberapa segmen, pengunjung akan diajak menyelami perjalanan hidup Marsinah dari masa kecilnya yang sederhana hingga menjadi ikon perlawanan buruh. Di salah satu sudut, terdapat segmen biografi yang menampilkan sisi personal Marsinah sebagai seorang perempuan desa yang memiliki visi besar melampaui zamannya.

Salah satu bagian yang paling menyentuh perasaan adalah keberadaan barang-barang pribadi peninggalan Marsinah. Mulai dari pakaian yang pernah ia kenakan, tas yang menemani hari-harinya bekerja, hingga kliping koran asli dari dekade 90-an yang merekam jejak kasus pembunuhan serta proses pengadilannya yang penuh kontroversi. Benda-benda ini seolah berbicara tentang getirnya perjuangan di masa lalu.

Baca Juga Langkah Tegas Presiden Prabowo Kawal Kualitas Makan Bergizi Gratis: Larang Telur Dadar hingga Soroti Potongan Ayam
Langkah Tegas Presiden Prabowo Kawal Kualitas Makan Bergizi Gratis: Larang Telur Dadar hingga Soroti Potongan Ayam

Tak hanya itu, museum ini juga menghadirkan diorama yang menggambarkan realita pahit kondisi buruh Indonesia pada tahun 1990-an. Pengunjung bisa melihat gambaran situasi pabrik kala itu dan bagaimana tekanan yang dihadapi para pekerja. Segmen solidaritas buruh menunjukkan bahwa Marsinah tidak hanya berteriak menuntut hak, tetapi ia bertindak nyata, mengorganisir massa, dan berani mengambil risiko tertinggi demi kesejahteraan bersama.

Tragedi, Keadilan, dan Gelar Pahlawan Nasional

Narasi museum berlanjut ke bagian yang menceritakan tragedi Mei 1993. Di sini, dikisahkan bagaimana Marsinah berdiri di garis terdepan untuk menuntut kenaikan upah dan perbaikan kondisi kerja di Sidoarjo. Tragedi hilangnya nyawa Marsinah digambarkan sebagai titik balik yang memicu gelombang simpati internasional dan tekanan bagi perbaikan regulasi ketenagakerjaan di Indonesia.

Baca Juga Tragedi Maut Bus ALS di Musi Rawas Utara: Menelusuri Jejak Investigasi KNKT dan Izin Operasional yang Terabaikan
Tragedi Maut Bus ALS di Musi Rawas Utara: Menelusuri Jejak Investigasi KNKT dan Izin Operasional yang Terabaikan

Momen yang paling membanggakan adalah replika penganugerahan gelar Pahlawan Nasional. Perlu diingat bahwa pada Senin, 10 November 2025, Presiden Prabowo secara resmi menyematkan gelar Pahlawan Nasional Indonesia kepada Marsinah di Istana Negara. Langkah ini mengakhiri penantian panjang selama puluhan tahun agar dedikasi Marsinah diakui secara konstitusional sebagai bentuk pengabdian kepada bangsa.

Kini, nama Marsinah tidak lagi hanya terpatri dalam buku-buku sejarah alternatif atau selebaran demonstrasi, tetapi telah sejajar dengan para pejuang kemerdekaan lainnya. Museum ini memperkuat statusnya sebagai ikon abadi bagi siapa saja yang memperjuangkan keadilan sosial.

Membangun Tanpa APBN: Wujud Solidaritas Buruh

Ada fakta menarik sekaligus membanggakan di balik berdirinya bangunan megah ini. Andi Gani Nena Wea mengungkapkan bahwa Museum Ibu Marsinah dibangun sepenuhnya tanpa menggunakan dana APBN. Dana pembangunan berasal dari iuran sukarela para buruh dari berbagai penjuru tanah air. Hal ini membuktikan bahwa semangat solidaritas yang dulu digaungkan Marsinah masih hidup subur di hati para pekerja saat ini.

Baca Juga Aksi Heroik Aiptu Dulyani: Tolak Suap dan Tegakkan Integritas di Jalur Puncak Bogor
Aksi Heroik Aiptu Dulyani: Tolak Suap dan Tegakkan Integritas di Jalur Puncak Bogor

Proses pembangunan ini juga mendapatkan dukungan moral dan teknis dari Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo yang bertindak sebagai penasihat, serta tentu saja dengan izin dan keterlibatan aktif dari keluarga besar Marsinah di Nganjuk. Salah satu artefak paling sakral yang dipamerkan adalah baju terakhir yang dipakai oleh Marsinah sebelum ia menghilang, sebuah pengingat fisik yang sangat kuat tentang pengorbanannya.

Fasilitas Rumah Singgah bagi Para Peziarah

Selain fungsi museum sebagai tempat penyimpanan benda bersejarah, kompleks ini juga dilengkapi dengan fasilitas Rumah Singgah. Andi Gani menjelaskan bahwa Rumah Singgah ini diperuntukkan bagi para buruh atau masyarakat umum yang datang dari luar kota untuk berziarah ke makam Marsinah. Fasilitas ini diberikan secara cuma-cuma sebagai bentuk pelayanan terhadap sesama pejuang hak pekerja.

Peresmian ini dihadiri oleh sekitar 7.000 buruh yang datang menggunakan bus dari berbagai daerah seperti Surabaya, Mojokerto, Jombang, hingga Jakarta. Tidak hanya tokoh nasional, acara ini juga dihadiri oleh tamu internasional seperti Sekjen ITUC (Konfederasi Serikat Buruh Internasional), Shoya Yoshida, yang memberikan apresiasi tinggi terhadap komitmen pemerintah Indonesia dalam memuliakan sejarah buruh. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, serta jajaran pimpinan MPR dan DPD RI juga tampak hadir memberikan penghormatan.

Harapan dan Akses bagi Masyarakat Umum

Museum Ibu Marsinah direncanakan akan dibuka secara resmi untuk publik tujuh hari setelah acara peresmian ini. Yang menggembirakan, masyarakat tidak akan dipungut biaya sepeser pun untuk masuk ke dalam museum. Kebijakan ini diambil agar nilai-nilai perjuangan Marsinah bisa diakses oleh semua lapisan masyarakat tanpa hambatan ekonomi.

Dengan adanya museum ini, diharapkan Kabupaten Nganjuk tidak hanya dikenal sebagai daerah agraris, tetapi juga sebagai destinasi wisata sejarah dan edukasi ketenagakerjaan. Bagi para pekerja, tempat ini adalah pengingat bahwa hak-hak yang mereka nikmati hari ini adalah buah dari darah dan air mata para pendahulu seperti Marsinah.

Presiden Prabowo menutup kunjungannya dengan pesan kuat bahwa pemerintah akan terus berkomitmen dalam melindungi hak-hak pekerja dan memastikan bahwa tidak ada lagi “Marsinah-Marsinah” lain yang harus menjadi korban ketidakadilan di masa depan. Peresmian museum ini adalah langkah besar Indonesia menuju bangsa yang lebih menghargai kemanusiaan dan martabat para pekerjanya.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *