Kesaksian Memilukan Relawan Flotilla: Komisi I DPR Desak Pemerintah Berikan Pendampingan Psikologis Total Bagi 9 WNI

Dimas Pratama | RADAR LOKAL
23 Mei 2026, 06:11 WIB
Kesaksian Memilukan Relawan Flotilla: Komisi I DPR Desak Pemerintah Berikan Pendampingan Psikologis Total Bagi 9 WNI

RadarLokal — Peristiwa memilukan yang menimpa sembilan warga negara Indonesia (WNI) saat menjalankan misi kemanusiaan di perairan internasional kembali memicu gelombang keprihatinan nasional. Para relawan yang tergabung dalam Global Sumud Flotilla 2026 dilaporkan mengalami serangkaian tindakan kekerasan fisik dan intimidasi selama masa penangkapan oleh otoritas keamanan Israel. Menanggapi situasi darurat ini, Komisi I DPR RI bergerak cepat dengan melayangkan desakan keras kepada pemerintah agar tidak hanya fokus pada proses repatriasi, tetapi juga memberikan perhatian serius pada aspek kesehatan mental para korban.

Kekejaman di Luar Batas: Kesaksian Rahendro Herubowo

Salah satu momen paling menggetarkan dalam insiden ini muncul dari kesaksian langsung Rahendro Herubowo, yang akrab disapa Heru. Sebagai seorang jurnalis sekaligus relawan yang berada di garda terdepan misi kemanusiaan tersebut, Heru menceritakan pengalaman traumatisnya saat berhadapan dengan tentara Israel. Dalam video singkat yang dirilis oleh Global Peace Convoy Indonesia (GPCI), Heru mengungkapkan bahwa dirinya tidak hanya ditahan, tetapi juga mendapatkan perlakuan kasar yang melampaui batas kewajaran.

Baca Juga Kabar Bahagia dari Gunung Puntang: Mahasiswa ITB yang Hilang Ditemukan Selamat Setelah Pencarian Intensif
Kabar Bahagia dari Gunung Puntang: Mahasiswa ITB yang Hilang Ditemukan Selamat Setelah Pencarian Intensif

“Saya mengalami kekerasan fisik secara langsung. Saya ditendang mungkin sekitar tiga sampai empat kali di bagian depan, kemudian bagian punggung saya diinjak dengan keras, dan yang paling menyakitkan adalah saat saya disetrum,” kenang Heru dengan nada bicara yang masih menyiratkan rasa sakit. Dampak dari kekerasan tersebut masih ia rasakan hingga saat ini. Heru mengaku sering mengalami nyeri hebat di bagian pinggang dan dada, terutama ketika ia mencoba mengambil napas dalam, batuk, atau sekadar mengangkat tangan.

Kekerasan yang dialami Heru dan rekan-rekannya menunjukkan risiko besar yang harus dihadapi oleh para pejuang hak asasi manusia di wilayah konflik. Luka fisik mungkin bisa sembuh dalam hitungan minggu, namun luka batin dan trauma akibat penindasan tersebut memerlukan waktu yang jauh lebih lama untuk pulih sepenuhnya.

Baca Juga Skandal Oknum Dosen UIN Jambi: Kronologi Penggerebekan di Kamar Kos Hingga Pencopotan Jabatan Wakil Dekan
Skandal Oknum Dosen UIN Jambi: Kronologi Penggerebekan di Kamar Kos Hingga Pencopotan Jabatan Wakil Dekan

Suara Lantang dari Senayan: Desakan Komisi I DPR RI

Wakil Ketua Komisi I DPR RI, Dave Laksono, secara tegas mengecam aksi kekerasan yang dilakukan oleh pihak Israel. Dalam pernyataannya kepada media, Dave menekankan bahwa keselamatan warga negara Indonesia di luar negeri adalah prioritas mutlak yang tidak bisa ditawar. Ia memahami betul bahwa tekanan fisik dan psikologis yang dialami oleh kesembilan WNI tersebut sangatlah berat.

“Kami sangat mengecam aksi kekerasan ini. Pengalaman ditangkap dan disiksa meninggalkan jejak trauma yang mendalam. Oleh karena itu, kami di Komisi I DPR RI mendorong pemerintah untuk segera memberikan pendampingan psikologis yang menyeluruh dan komprehensif bagi mereka setibanya di tanah air,” ujar Dave dengan penuh penekanan.

Baca Juga Drama Penangkapan Komplotan Begal Bersenjata: Aksi Koboi di RS Duren Sawit Berakhir di Tangan Polisi
Drama Penangkapan Komplotan Begal Bersenjata: Aksi Koboi di RS Duren Sawit Berakhir di Tangan Polisi

Menurut Dave, pendampingan ini tidak boleh dilakukan setengah-setengah. Ia menggarisbawahi perlunya dukungan emosional dari para ahli, konseling profesional, serta program pemulihan sosial yang terstruktur. Tujuannya jelas: membantu para relawan mengatasi trauma, memulihkan rasa aman yang sempat hilang, dan membangkitkan kembali kepercayaan diri mereka agar bisa kembali berkontribusi bagi masyarakat luas.

Urgensi Pemulihan Psikologis di Tengah Trauma Konflik

Mengapa pendampingan psikologis menjadi poin krusial dalam kasus ini? Dalam dunia psikologi klinis, individu yang mengalami penangkapan paksa dan penyiksaan seringkali mengalami gangguan stres pascatrauma atau PTSD. Gejala ini bisa muncul dalam bentuk mimpi buruk, kecemasan berlebihan, hingga penarikan diri dari lingkungan sosial. Tanpa intervensi yang tepat, trauma ini dapat menghambat produktivitas dan kualitas hidup para korban di masa depan.

Baca Juga Tragedi Gadis Tangguh di Tol BORR Bogor: Kisah Perjuangan AA yang Berakhir Tragis di Tangan Teman Sendiri
Tragedi Gadis Tangguh di Tol BORR Bogor: Kisah Perjuangan AA yang Berakhir Tragis di Tangan Teman Sendiri

Pemerintah, melalui kementerian terkait, diharapkan mampu menyediakan fasilitas rehabilitasi yang memadai. Program pemulihan ini harus mencakup evaluasi medis menyeluruh, seperti yang diinginkan oleh Heru yang berencana melakukan pemeriksaan lanjutan di Rumah Sakit Indonesia. Langkah ini penting untuk memastikan tidak ada cedera internal yang terlewatkan akibat aksi penyetruman dan tendangan yang dialami para relawan.

Diplomasi Konsisten dan Perlindungan WNI

Selain fokus pada aspek kesehatan korban, Dave Laksono juga menyoroti pentingnya diplomasi Indonesia di kancah internasional. Keberhasilan pembebasan sembilan WNI ini merupakan hasil dari upaya diplomatik yang konsisten dan kerja sama dengan berbagai mitra internasional. Namun, kejadian ini juga menjadi pengingat bahwa perlindungan terhadap warga negara yang menjalankan misi kemanusiaan harus terus diperkuat melalui kerangka hukum internasional yang lebih tegas.

Baca Juga Misi Kemanusiaan Kapolda Sumsel di Lahat: Memastikan Kehadiran Polri Memberi Manfaat Nyata bagi Masyarakat
Misi Kemanusiaan Kapolda Sumsel di Lahat: Memastikan Kehadiran Polri Memberi Manfaat Nyata bagi Masyarakat

“Indonesia harus terus memperkuat perannya dalam menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan di tingkat global. Melalui dukungan sistem pemulihan yang kuat bagi warga negaranya, kita menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia tidak akan membiarkan rakyatnya berjuang sendirian saat mereka membela kebenaran di luar sana,” tambah Dave.

Mengenal Misi Global Sumud Flotilla 2026

Global Sumud Flotilla bukanlah sekadar iring-iringan kapal biasa. Ini adalah simbol perlawanan damai dan solidaritas dunia terhadap krisis kemanusiaan yang berkepanjangan. Para relawan yang ikut serta, termasuk sembilan WNI tersebut, membawa bantuan logistik, obat-obatan, dan pesan perdamaian bagi mereka yang terisolasi di wilayah konflik Israel-Palestina.

Keberanian para relawan ini seringkali dianggap sebagai ancaman oleh pihak-pihak tertentu, sehingga penangkapan dan intimidasi kerap menjadi risiko yang harus mereka ambil. Namun, semangat “Sumud” atau keteguhan hati yang mereka usung justru semakin menguat di tengah tekanan. Masyarakat Indonesia memberikan apresiasi yang luar biasa atas keberanian mereka, dan kini saatnya negara memberikan perlindungan terbaik sebagai bentuk balas budi atas jasa kemanusiaan mereka.

Langkah Selanjutnya: Kepulangan dan Harapan

Kabar kepulangan para relawan ini disambut dengan rasa syukur dan kelegaan yang luar biasa oleh pihak keluarga serta seluruh rakyat Indonesia. Kabar terbaru menyebutkan bahwa mereka diperkirakan akan segera mendarat di tanah air dalam waktu dekat. Proses penyambutan diharapkan berlangsung dengan khidmat namun tetap memperhatikan kondisi kesehatan para relawan yang mungkin masih dalam keadaan lemah.

Pemerintah, melalui Kantor Staf Presiden (KSP) dan Kementerian Luar Negeri, terus memantau perkembangan terakhir untuk memastikan proses kepulangan berjalan lancar tanpa kendala birokrasi yang rumit. Setibanya di Indonesia, pemeriksaan kesehatan total baik secara fisik maupun mental harus menjadi agenda pertama yang dilakukan sebelum mereka kembali ke pelukan keluarga masing-masing.

Dengan adanya dukungan penuh dari DPR dan pemerintah, diharapkan para pahlawan kemanusiaan ini dapat segera bangkit dari masa-masa sulit mereka. Kasus ini menjadi pelajaran berharga bagi bangsa Indonesia untuk terus memperkuat sistem perlindungan WNI di luar negeri, sekaligus menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang tetap teguh berdiri di atas prinsip-prinsip kemanusiaan dan keadilan bagi seluruh bangsa.

Dimas Pratama

Dimas Pratama

Jurnalis lapangan senior dengan pengalaman lebih dari 10 tahun. Fokus pada isu sosial dan kebijakan publik di Radar News.

Lihat semua artikel →

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *